
"Mawar, kamu kenapa bengong?" tanya Dion yang masih dengan nada bicaranya terdengar lembut, tidak seperti sebelum Mawar pergi dari kantornya waktu kemarin.
"Ah, iya. Maaf," kata Mawar. Mawar segera membuatkan kopi untuk Dion, Mawar juga tidak perlu keluar dari ruangan itu. Karena ruangan yang digunakan Dion cukup lengkap, bahkan sampai ada kamar pribadi di sana. Dion merenov ruangan itu seperti apartemen.
Karena pria itu terkadang bermalam di sana.
Mawar kembali ke ruang kerja Dion, ia membawa kopi dan meletakan kopi tersebut di atas meja kerja atasannya itu. Dion sedari tadi memperhatikan Mawar, sampai gadis itu menyadarinya. Karena Dion terang-terangan bukan curi-curi pandang.
"Mawar terlihat cantik sekali hari ini," batin Dion. Pria itu sampai menyangga dagunya dengan kedua tangannya sambil memperhatikan gadis itu. Sepertinya, Mawar sudah berhasil menarik hati Dion.
Mawar menajamkan matanya melihat ke arah Dion, Dion terlihat melamun menatap ke arahnya sembari tersenyum.
"Kenapa pria itu? Kesambet jin dari mana?" batin Mawar. Karena Mawar jarang melihat Dion tersenyum sendiri.
Dion meraih cangkir, dan langsung menyeruput kopi itu. Sudah tahu Mawar baru saja meletakan kopi tersebut, sudah dipastikan kopi itu masih panas bahkan asap dari kopi masih mengepul. Pas Dion menyeruput kopi itu, disaat itu pula Dion memuntahkannya karena kepanasan. Mulut dan lidahnya terasa terbakar.
Reflek, Mawar langsung menghampiri pria itu.
"Mas, hati-hati. Kopinya 'kan masih panas." Mawar menyentuh bibir Dion, gadis itu ingin mengecek mulut Dion yang terbakar. Tapi yang terjadi, mereka malah saling tatap. Tatapan keduanya terkunci.
Dion menyentuh tangan Mawar, adegan itu seperti di film-film. Mawar dan Dion terbawa suasana, Dion mengecup tangan Mawar. Mawar pun tersadar akan hal itu, gadis itu langsung menarik tangannya dari genggaman Dion. Mawar jadi salah tingkah, wajahnya terasa panas karena saking terkejutnya wanita itu. Jantungnya sudah hampir copot, dag, dig, dug, tak menentu.
Mawar menyelipkan rambutnya sendiri ke belekang telinga, gadis itu hendak menjauh dari Dion. Tapi sayang, Dion tak membiarkan itu terjadi. Perjaka tua itu langsung menarik lengan Mawar, dan gadis itu pun terjatuh tepat di pangkuan Dion.
Tatapan itu terjadi kembali. Keduanya begitu int*m dengan posisi mereka.
Jantung Mawar semakin berdebar, ada apa dengan pria itu? Apa yang akan dilakukan pria itu? Pikir Mawar. Karena Dion memajukan wajahnya ke arah wajah Mawar.
Mawar seperti memiliki magnet, bibirnya yang berwarna menjadi pusat perhatian pria matang itu. Bibir mungil Mawar begitu memikat hati Dion, ingin sekali pria itu mengecup bibir Mawar. Wajah Dion semakin mendekat, miring ke arah kanan, pria itu sudah siap mendaratkan bibirnya di bibir Mawar.
Hingga keduanya langsung menjauh dari posisi mereka, bahkan Mawar langsung turun dari pangkuan Dion.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu kalian," ucap Dimas sekretaris Dion. Pria itu juga jadi tak enak hati pada atasannya itu. Dimas langsung keluar dari ruangan Dion.
Pria itu menggerutu.
"Mau begituan kenapa gak dikunci," ucap Dimas sebelum pria itu keluar dari ruangan yang di tempati Dion yang ada Mawar di sana. Walau Dimas mengucapkan itu dengan pelan, tapi cukup terdengar di pendengaran Mawar dan Dion.
"Ish, bodoh-bodoh. Buat malu saja!" rutuk Mawar sembari memukul-mukul kepalanya sindiri.
Bahkan Dion saja langsung membuka laptopnya, mengalihkan kecanggungan yang melanda. Karena Dion pernah berpacaran, jadi kejadian itu tidak terlalu membuatnya salah tingkah. Kalau Mawar kebalikannya, gadis itu belum pengalaman dalam urusan cinta.
Akhirnya, Mawar memilih pergi dari ruang kerja Dion. Mawar pergi ke dapur yang ada di ruangan itu, ingat bahwa ia sendiri belum sarapan. Kejadian barusan membuat jantungnya berdisko.
Mawar sudah ada di dapur, bingung mau membuat apa. Karena hanya ada nasi dan telur di sana, akhirnya Mawar membuat nasi goreng sekalian untuk makan siang Dion. Mawar meracik bumbu dengan menumbuk bumbu tersebut, lalu mulai menggorengnya. Aroma bumbu menyeruak di penciuman Dion.
Dion pun terpancing dengan aroma itu, pria itu bergegas melihat Mawar yang ada di dapur. Dion melihat punggung Mawar yang sedang berdiri di depan kompor. Menghampiri Mawar lebih dekat, dan itu membuat Mawar terkejut akan kedatangan Dion yang tiba-tiba.
"Mas membutuhkan sesuatu?" tanya Mawar, gadis itu mengalihkan pusat perhatian Dion yang kini terus menatap wajahnya.
Bukannya menjawab, Dion malah memberikan pertanyaan pada Mawar.
Apa Mawar melakukan kesalahan lagi sehingga gadis itu berpikir, bahwa Dion akan kembali marah padanya.
"Saya hanya buat nasi goreng, maaf Mas," ucap Mawar. Mawar menunduk, ia sudah siap menerima kemarahan dari Dion. Tapi Dion tak kunjung marah, lalu Mawar mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Dion.
"Cepat selesaikan masaknya, saya juga lapar," kata Dion.
Mawar bernapas lega, ternyata pria itu tidak marah.
"Iya." Mawar kembali fokus pada penggorengannya, dengan cepat ia menyelesaikan semuanya.
Dion kembali ke ruang kerjanya, karena jam sudah menunjukkan puluk sebelas, sudah mendekati jam makan makan siang. Dion duduk di sofa yang tersedia di sana, sofa berukuran yang hanya muat untuk dua orang.
__ADS_1
Tap, tap, tap
Langkah Mawar terdengar di pendengaran Dion, pria itu memposisikan duduknya. Memberi ruang untuk Mawar agar gadis itu duduk di sampingnya. Tapi sayang, Mawar tidak duduk di tempat yang sudah disiapkan oleh Dion. Gadis itu malah menarik kursi untuknya duduk.
"Ngapin kamu tarik kursi itu?" Wajah Dion terlihat geram. "Duduk di sini," titah Dion. Pria itu menepuk sofa menyuruh Mawar untuk duduk di sana.
Takut atasannya marah, Mawar menuruti perintah pria itu. Tempatnya begitu sempit sampai tidak ada jarak di antara mereka.
Dion meraih laptop miliknya dan meletakkannya di pangkuannya. Ia sengaja melakukan itu karena ia memiliki rencana agar Mawar mau menyuapinya.
"Mas, katanya laper. Kok, malah kerja," ucap Mawar.
"Ya kamu lakuin sesuatu dong, gimana caranya saya bisa makan sambil menyelesaikan pekerjaan saya."
Apa yang harus dilakukan Mawar? Gadis itu bingung sendiri. Apa ia harus menyuapinya? Pikir Mawar.
"Jadi asisten saya itu harus pintar," celetuk Dion.
Mawar yang merasa tertantang pun memberanikan diri untuk menyuapi pria tua itu.
"Aaa ..." Mawar menyodorkan sendok ke arah mulut pria itu, Dion langsung membuka mulutnya sendiri.
Pria itu tersenyum dalam hati, Dion sudah yakin kalau Mawar akan melakukan ini.
"Kamu gak makan?" tanya Dion.
Sedari tadi, Mawar terus menyuapinya. Bahkan ia menahan rasa laparnya sendiri, demi apa? demi Dion, Mawar rela demi pria itu menahan rasa laparnya.
Dion pun tidak bisa makan sendiri, ia melatakkan laptopnya di atas meja. Lalu meraih piring yang di pegang oleh Mawar. Pria itu menyuapi gadis itu.
"Kamu juga harus makan." Ucap Dion sembari mengulurkan tangannya .
__ADS_1
Hingga keduanya makan bersama saling suap-suapan.
Bersambung.