Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 65


__ADS_3

Semua mata karyawan tertuju pada istri baru bosnya. Khanza yang merasa jadi tontonan menjadi sedikit kikuk, pasalnya yang mereka tahu kalau Khanza hanya seorang wanita biasa. Namun setelah kedua orang tuanya memperkenalkan dirinya di hadapan publik, yang dulunya suka nyinyir kini menjadi baik padanya.


"Mas, karyawanmu kenapa melihat ke arah kita terus sih?" tanya Khanza sedikit risih.


"Karena kamu manis dan kamu juga istriku," jawab Rubby dengan bangganya.


Ketika Rubby bilang seperti itu, ekpresi Khanza malah membulatkan matanya dengan jengah. Suaminya itu bukan cuma mesum, dia juga pintar menggombal. Dulu, seingat Khanza seorang Rubby itu pria dingin. Dia ingat betul bagaimana pertama mereka bertemu.


Mereka terus melangkah sampai pada akhirnya, Rubby dan Khanza sampai di parkiran. Setelah melewati perjalan tadi, Khanza kini bisa bernapas lega. Ia tak lagi jadi pusat perhatian keryawan suaminya.


Rubby membukakan pintu mobil untuk mempermudah Khanza masuk ke dalam sana, disusul oleh Rubby sendiri. Di dalam mobil, Rubby begitu antusias. Ini kedua kalinya ia memeriksakan kandungan sang istri.


Akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit, karena sudah kenal dengan dokter yang dulu pernah datang ke sana. Rubby mendaptar via online, jadi mereka langsung masuk dan tidak perlu menunggu antrian.


"Silahkan duduk," kata dokter yang bernapa Evi. Dokter itu terlihat ramah kepada Khanza calon ibu muda tersebut.


Khanza pun memberikan senyum manisnya membalas sapaan dokter Evi. Dokter Evi menyuruh suster untuk membantu pasiennya untuk naik ke atas branker. Suster itu pun meletakan Gel di perut Khanza setelah Khanza berhasil merebahkan tubuhnya di sana. Gel itu terasa dingin di perutnya.


Dokter mulai memeriksa kandungan Khanza, hingga di layar monitor itu nampak sebuah gambar seorang bayi, walau tidak jelas tapi Khanza dan Rubby tahu karena dokter memberi mereka arahan. Untuk saat ini kondisi janin yang di kandung Khanza sangat baik dan sehat bahkan usianya sudah menginjak empat bulan.


Rubby begitu bahagia. Tapi sayang, mereka belum tahu jenis kelamin si janin. Dokter pun selesai dengan aktivitasnya. Khanza turun dari branker dibantu oleh Rubby.


"Kandungannya sehat, kalau bisa rutin periksanya ya?" pinta dokter. Karena dari data, seharusnya Khanza sudah empat kali datang untuk memeriksakan kandungannya.


Pasutri itu pun mengangguk, setelah itu mereka pamit undur diri.


"Terimakasih, Dokter," kata Rubby dan Khanza secara bersamaan.


***


"Sayang, kamu mau kemana dulu?" tanya Rubby yang kini sudah ada di dalam mobil.


"Pulang, Mas. Aku mau lihat rumah baru kita," jawab Khanza.

__ADS_1


"Baiklah, kita kesana sekarang."


Mobil pun langsung melaju ke komplek kawasan elit.


"Mas bahagia gak punya istri sepertiku?" tanya Khanza tiba-tiba.


"Tentu, Mas sangat bahagia. Apa lagi kamu tidak menunda kehamilanmu, kamu istri idaman, Khanza." Rubby meraih tangan istrinya lalu mengecupnya.


Ketika dalam perjalanan, Khanza tak sengaja melihat mantan istri suaminya, sehingga Khanza meminta Rubby berhenti secara mendadak.


Ciiiittt


Mobil pun berhenti.


"Ada apa, Za ...?" tanya Rubby.


"Itu Mbak Jihan, Mas." Khanza menunjuk ke arah gerombolan karyawan yang hendak meliput Jihan. Pasalnya, Jihan baru menampakkan diri pasca bercerai dengan Rubby.


Rubby pun melihat ke arah yang ditunjuk Khanza. Ketika Rubby melihat Jihan, Khanza justru melihat ekpresi suaminya. Apa suaminya itu sudah tidak lagi memiliki perasaan pada wanita cantik itu? Dilihat dari ekpresi Rubby, ia biasa saja melihatnya, bahkan Rubby tidak lama memandang mantan istrinya itu.


Bagi Rubby, masa depannya adalah Khanza dan calon anaknya. Karena Khanza sedang menatap suaminya, Rubby pun memalingkan wajahnya. Yang tadinya melihat ke arah Jihan, kini ia melihat ke arah istrinya, ia dan Khanza pun saling tatap. Begitu banyak cinta diantara mereka berdua.


"Apa, Mas ... Ngelihatin apa?" tanya Khanza malu-malu. Rubby menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Melihat wajah Khanza semakin hari semakin bersinar, mungkin efek dari kehamilannya, Dan Rubby semakin suka.


Karena di luar banyak orang yang sedang mewawancara Jihan, saking banyaknya, orang-orang sampai berdesakan mengenai mobil yang ditumpangi Khanza dan Rubby.


Hingga pada akhirnya, mata Jihan tertuju ke arah mobil. Ia melihat mantan suaminya di sana, Rubby pun melihat ke arah Jihan.


Tak lama dari situ, Jihan pun langsung pergi menghindari awak media. Disaat itu pula, Rubby menundukkan wajahnya, ia takut para wartawan itu melihatnya dan malah mengorek informasi kepadanya masalah percerain yang terjadi padanya juga Jihan.


"Mereka sudah tidak ada, Mas," kata Khanza.


Rubby pun mengangkat wajahnya kembali. Rubby langsung saja menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Tempat yang ditujunya sekarang adalah kediaman barunya.

__ADS_1


Sementara Jihan.


Wanita itu berhasil menghindari para wartawan, disaat itu pula, ia menabrak seseorang, seorang pria yang ia kenal.


"Dion," kata Jihan.


Setelah Jihan resmi bercerai, tadinya Dion akan langsung melamar Jihan di hari itu juga. Tapi Jihan lebih dulu menutup pintu hatinya untuk pria lain. Dan itu membuat Dion benar-benar patah hati.


Dion putuskan untuk kembali ke kota kembang, ia tak memaksa Jihan untuk menerimanya. Tapi Dion ingin tetap menjalin persahabatan bersama Jihan, karena sedari dulu mereka memang sudah berteman semenjak sekolah.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Jihan kembali.


Dion malah terdiam, pria itu tidak menyangka akan bertemu Jihan di sini. Belum Dion menjawab, seorang gadis datang menghampiri Dion.


"Mas, sepertinya ini cocok," kata seorang gadis yang bernama Mawar. Mawar adalah asisten Dion, gadis itu masih magang. Dion tidak ingin dipanggil bapak atau tuan jika di luar kantor. Jadi Mawar memanggilnya dengan sebutan mas.


Dan sepertinya, di sini Jihan salah paham. Ia kira Dion sudah menemukan wanita yang akan dijadikan istri oleh Dion. Jihan merasa minder, usianya kini tidak muda lagi.


Melihat gadis yang bersama Dion nampak cantik dan segar, begitu juga dengan mantan suaminya yang memiliki istri daun muda.


Akhirnya, Jihan putuskan untuk pamit dari hadapan Dion dan gadis itu yang Jihan kira adalah kekasih dari Dion.


"Maaf ya, Dion. Sepertinya aku harus pergi." Jihan pun berlalu dari hadapan Dion.


Dion sendiri merasa terpaku, ia tidak bisa mencegah kepergian Jihan. Hatinya terlalu sakit, ia takut Jihan menolaknya kembali.


Jihan pergi menelusuri jalan, ia sengaja tidak membawa mobil. Wanita itu hanya ingin mencari suasana baru, tapi apa yang ia dapat? Ia malah bertemu dengan mantan suaminya dan kembali bertemu Dion.


Semua lelaki dianggap palsu oleh Jihan, Jihan ingat betul apa yang diucapkan Dion, pria itu berkata akan menunggunya sampai Jihan siap kembali menjalin kasih dengan seorang pria.


Tanpa disadari, Jihan menitikkan air matanya, ia pun memilih menghentikan langkahnya. Dan tiba-tiba ada seseorang yang menarik lengannya sampai tubuh Jihan terjerembab di pelukkan seseorang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2