
"Bagaimana sayang dengan hasilnya?" tanya Laras pada Mawar yang baru saja tiba.
Mawar awalnya menunjukkan ekspresi biasa saja, lambat kemudian ... Wanita itu langsung memperlihatkan hadil USG-nya dengan ceria dan mata berbinar.
"Wah ... Selamat ya, Mawar," sahut Khanza, karena ia pun memperhatikan dari awal kedatangannya karena ia pun penasaran akan hasilnya.
"Aku juga ingin memiliki bayi tampan seperti anakmu, Za," jawab Mawar. "Apa sudah diberi nama?" tanya Mawar kembali.
Khanza mengangguk.
"Namanya Putra Pratama Anggoro," Rubby ikut menjawab pertanyaan Mawar.
"Nama yang bagus," ujar Mawar.
"Kamu kenapa, Yon? Kok, murung? Harusnya kamu bahagia dong," kata Rubby melihat ekpresi Dion.
"Aku bahagia sekali, By. Masa istri hamil gak bahagia sih!" Pertanyaan keponakannya itu ada-ada saja. "Kalau kamu tahu apa yang aku pikirkan, kamu juga pasti ikut berpikir siapa anak yang di kandung mantan istrimu."
"Kamu masih kepikiran Mbak Jihan ya, Mas?" tanya Mawar. Pertanyaan Mawar membuat semua orang yang berada di sana melihat ke arah Dion, karena mereka tahu bahwa Dion sempat mencintai wanita itu.
Apa lagi Bayu, matanya langsung membulat sempurna. Kebetulan pria itu ada di sana karena ia sedang meminta tanda tangan pada bos-nya.
Laras jadi salah paham pada Dion, ia kira Dion masih mencintai wanita itu.
"Ngapain kamu masih mikirin wanita itu? Kamu itu sudah punya istri, jangan sia-siakan istri yang sedang hamil," celetuk Laras.
"Apa sih, Mbak. Pikirannya gitu banget sama ipar! Aku gak sengaja bertemu dengannya tadi, iyakan, sayang?" Dion menoleh ke arah istrinya.
"Hmm, Mbak Jihan hamil. Usia kandungannya sama sepertiku," jawab Mawar.
"Syukurlah kalau dia hamil," celetuk Rubby. "Sudah waktunya dia hamil, iyakan?"
"Yang jadi masalahnya, siapa ayah dari anak itu? Bukankah dia belum menikah lagi?" ucap Laras.
"Itu urusan dia, Ma ... Kita tidak perlu ikut campur," timpal Anggoro.
Jira dan suaminya hanya mendengarkan saja, karena mereka tidak tahu siapa yang sedang mereka bicarakan. Jira dan Hazel asyik menimang cucu mereka.
"Hamil, apa anak itu anakku?" batin Bayu. Bayu cepat-cepat minta tanda tangan Rubby, ia ingin menyusul Jihan siapa tahu wanita itu masih berada di sini. Sudah lama ia mencarinya tapi tak kunjung bertemu, karena Jihan sudah tidak lagi tinggal di rumahnya yang dulu.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya minta tanda tangannya sekarang, saya harus segera pergi," kata Bayu pada Rubby.
"Kenapa buru-buru sekali? Di kantorkan tidak terlalu sibuk." Ujar Rubby sembari menandatangani berkas yang disodorkan oleh Bayu.
"Ada urusan," jawabnya. Setelah itu, Bayu pun pergi dengan tergesa.
***
"Di mana kamu, Jihan?" Bayu frustrasi, apa lagi ketika ia tahu wanita itu kini sedang hamil. Tidak ada perasaan untuknya memang, tapi wanita itu pasti butuh dirinya. Butuh ayah dari calon anaknya.
"Kenapa kamu tidak memberitahukanku, Jihan," teriak Bayu di dalam mobil sembari memukul stir mobilnya. Bayu juga berpikir, Jihan seperti itu karena ia pasti membencinya. Benci karena sudah memperkosanya.
Bayu menjalankan mobilnya, ia ingin mencari Jihan. Tapi ia tidak tahu harus mencarinya kemana. Otaknya buntu tidak bisa berpikir sama sekali. Ia terus menelusuri jalan, hingga tenggorokannya merasa kering karena haus.
Ia pun menepikan mobilnya tepat di cafe sederhana yang berada di pinggir jalan.
"Mau pesan apa, Tuan?" tanya pelayan itu.
"Es jeruk saja."
Si pelayan pun pergi, Bayu menunggu pesanannya datang.
Suara pintu mobil tertutup. Bayu yang mendengar langsung menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang perempuan yang wajah dan lekuk tubuhnya begitu tertutup dengan rapi tak lupa kacamata yang melekat di matanya.
"Mbak sudah pulang?" tanya pelayan yang mengantarkan minuman pada Bayu
"Hmm," jawab singkat wanita yang membuat Bayu penasaran akan wujudnya. Jihan sendiri tidak tahu ada Bayu di sana, karena ia berjalan lurua tanpa menoleh kiri, kanan.
"Siapa?" tanya Bayu pada si pelayan itu yang sedang meletakkan minumannya.
"Oh, itu pemilik cafe ini, Tuan," jawab si pelayan yang tak lain adalah Anan.
Bayu terus mengarahkan pandangnya ke arah wanita yang tertutup itu, andai ia tahu. Bayu pasti langsung menemuinya, tapi sayang Bayu tidak mengenal Jihan. Karena ia tidak terlalu dekat dengannya sehingga ia tidak menyadari seperti Dion.
***
Jihan membuka kacamata serta kain yang menjadi penutup tubuhnya, merebahkan tubuhnya di kasur yang kini menjadi tempat tidurnya di sana. Menatap langit-langit sembari mengusap perutanya yang masih rata.
"Mama akan membesarkanmu, nak. Mama janji akan menjadi Mama sekaligus Papa."
__ADS_1
Jihan tidak akan meminta pertanggung jawaban dari Bayu, apa lagi yang ia tahu Bayu itu pria beristri. Ia tahu bagaimana kehilangan sosok suami. Ia tidak ingin membuat wanita lain merasakan apa yang ia rasakan.
Perjalanan hidupnya membuat Jihan menjadi wanita yang lebih baik lagi. Mungkin dulu ia menolak hadirnya anak dalam hidupnya. Tapi sekarang, ia malah mendapatkan anak tanpa adanya seorang suami di sisinya. Jihan merasa ini benar-benar karma untuknya.
Sementara di luar, tepatnya di cafe. Entah kenapa hari ini ramai pengunjung, tidak dari biasanya. Sampai kedua karyawan Jihan kewalahan. Inginnya Mira meminta bantuan pada bosnya itu untuk menjadi kasir sebentar, tapi Mira tidak enak karena wanita itu baru saja tiba.
Jihan pun bangkit dari tidurnya, ia turun ke bawah melihat kondisi cafe. Jihan muncul dari balik pintu, ketika ia keluar, ia melihat sosok pria yang duduk tengah membelakangi arahnya. Ia hapal punggung itu, pria yang sudah menjamahnya.
"Mbak," panggil Mira. Baru mau minta tolong, bosnya langsung kembali ke dalam. "Mbak Jihan kenapa?" tanya Mira pada dirinya sendiri.
Bayu yang mendengar nama Jihan langsung menoleh ke arah belakang, mengedarkan pandangannya. Tidak ada Jihan yang ia kenal di sana. Nama Jihan banyak, pikirnya kemudian. Karena haus sudah hilang, ia pun pergi dari cafe setelah membayar minumannya.
Bayu masuk ke dalam mobilnya, sedangkan Jihan, ia mengintip dari lantai atas lewat jendela. Melihat Bayu pergi dari sana. Ia pun bernapas lega.
Karena Bayu sudah tidak ada, Jihan kembali menemui karyawannya ikut membantu. Walau masih terasa mual tapi ia tahan. Ini rezeki bagi calon buah hatinya, semoga cafe-nya tambah laris manis.
Ketika Jihan sedang membantu karyawannya, ia tak sengaja menemukan ponsel.
"Handpone siapa?" Jihan memperhatikan ponsel tersebut, tak lama ponsel itu berdering dan muncul nama Rubby di layar itu. Jihan terkejut melihat ID pemanggil.
"Jadi, ini milik Bayu," ucapnya sendiri. Ia berjalan menemui Mira dan mengabaikan ponsel yang terus berdering.
"Mira, kamu simpan ini. Jika pemiliknya datang kemari kamu kasih ini ke dia."
"Iya, Mbak."
Tiba-tiba, Jihan kembali mual. Ia buru-buru masuk ke dalam toilet dan memuntahkan semua isi dalam perutnya.
Sementara Bayu, ia menyadari ponselnya yang ketinggalan. Ia pun memutar balik arah, ia kembali ke cafe itu.
***
"Tuan cari ini?" ucap Mira pada seorang pria yang tak lain adalah Bayu.
"Iya." Bayu mengambil ponselnya.
Hoek, hoek ...
Bayu mendengar suara itu dari arah toilet.
__ADS_1
Bersambung.