
"Ma, kayaknya kita harus cepet-cepet nikahin Dion sama Mawar deh," ucap Anggoro pada istrinya.
Laras mengernyitkan keningnya, datang-datang langsung mengatakan itu. Memangnya apa yang sudah terjadi di antara mereka? Apa jangan-jangan suaminya itu sudah memperogoki Dion dan Mawar? Pikir Laras. Kalau memang begitu, ini tidak bisa didiamkan.
"Lalu, mana Dion-nya, Pa? Bukankah seharusnya mereka ada di sini," kata Laras.
"Dion sakit, Ma. Dia gak bisa kesini, seharian aja dia di kamar terus bersama Mawar."
Laras semakin penasaran, sakit apa adik iparnya itu? Mungkin pria itu hanya akal-akalan saja, pikirnya lagi.
Acara tujuh bulanan Khanza akan segera dimulai, dengan mengadakan pengajian serta mengumpulkan anak yatim. Mereka berbagi pada anak yatim itu.
Sedangkan Laras, wanita paruh baya itu semakin gelisah dengan keadaan Dion dan Mawar hanya berdua saja di rumah. Tak lama kemudian, acara tujuh bulanan pun selesai. Laras langsung pamit kepada anak dan menantunya.
Bahkan Rubby dan Khanza pun tahu kenapa mamanya itu ingin segera pulang ke rumah. "Ayok, Pa. Kita harus cepat-cepat sampai di rumah!" Laras dibuat jantungan dengan adik iparnya itu, ia takut Dion dan Mawar sudah melakukan hubungan terlarang.
Akhirnya mereka pun sampai di kediamannya sendiri. Laras tidak menghiraukan panggilan suaminya terhadapnya.
"Ma, pelan-pelan. Nanti Mama kesandung atau jatuh bagaimana?" Anggoro sedikit khawatir karena istrinya itu berjalan menuju rumah dengan tergesa-gesa.
Wanita paruh baya itu mencari keberadaan Dion dan Mawar. Laras mendengar suara dari arah dapur, ia pun langsung menghampirinya. Dilihatnya punggung Mawar yang sedang membelakanginya, gadis itu sedang asyik dengan wajan yang berada di atas kompor.
"Mawar, sedang apa kamu di sini?" tanya Laras tiba-tiba dan itu membuat Mawar langsung menoleh ke sumber suara.
"Tante, Tante sudah pulang?" tanya Mawar.
"Hmm," jawab Laras singkat.
"Mas Dion sakit, aku coba buatkan bubur untuknya," kata Mawar.
"Dion sakit apa? Bukankah semalam dia baik-baik saja?"
"Tekanan darahnya rendah, tadi sempet manggil dokter kemari," jelas Mawar.
__ADS_1
Sedikit khawatir dengan adik iparnya, Laras pun menemui Dion. "Mawar, Tante temui Dion dulu kalau begitu." Diangguki oleh Mawar, karena bubur yang sedang ia masak belum selesai.
Klek, pintu kamar yang di tempati Dion terbuka. Laras langsung menerobos masuk ke dalam sana, dilihatnya Dion sedang terduduk. Wajahnya terlihat pucat.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Laras pada Dion.
"Sudah mendingan, Mbak," jawab Dion. "Maaf, gak bisa ikut acara tujuh bulanan Khanza," sesal Dion kemudian.
"Hmm, tidak apa-apa. Kesehatanmu juga pentin," jawab Laras. "Yon, Tante mau kamu cepat-cepat menikah," sambung Laras.
"Menikah? Kenapa buru-buru sekali?" sahut Mawar yang baru saja tiba di kamar itu. Tak lupa gadis itu membawakan bubur hasil buatannya sendiri.
"Loh, kenapa memangnya? Lebih cepat lebih baik 'kan. Biar Dion ada yang ngurus, Mawar."
Akhirnya Mawar tak lagi dapat berkata, tadinya ia tidak ingin terlalu buru-buru. Tapi ya sudahlah, gadis itu pun pasrah.
Dan rencananya, Laras akan segera menyiapkan pernikahan Dion dan Mawar dalam waktu dekat ini. Sepasang kekasih itu pun tidak akan kembali ke Bandung sebelum menikah.
Nenek serta saudara Mawar akan dijemput untuk menghadiri pernikahan mereka di kota Jakarta.
Waktu begitu cepat berlalu, kini tiba saatnya pernikahan Dion dan Mawar. Pesta yang diselenggarakan di hotel berbintang lima itu cukup ramai oleh tamu-tamu yang hadir. Dari mulai rekan bisnis sampai kolega penting ikut hadir menyaksikan pernikahan Dion dan Mawar.
Pengantin pria tengah duduk dan berhadapan dengan om-nya Mawar sebagai wali dipernikahan mereka. Pengantin wanita belum datang, mungkin belum selesai bermake up. Tak lama kemudiam, pengantin wanita pun datang, melangkah dengan anggun menghampiri meja yang sudah ada Dion di sana.
Dion tersenyum melihat calon istrinya itu, Mawar begitu cantik bak bidadari. Didampingi oleh sang nenek, nenek pun ikut hadir sebagai saksi di sana.
Nenek mengusap sudut matanya, menghapus air matanya yang tak terasa terjatuh dengan sendirinya. Ia tak menyangka cucu kecilnya itu akan menikah, pergi dengan suaminya kelak dan meninggalkannya.
Karena semuanya sudah berkumpul, acara ijab kobul pun akan segera dilaksanan. Dion menghirup udara sebanyak-banyaknya, dengan sekali tarik napas pria itu berhasil mengucapkan janji suci pernikahannya pada Mawar.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah," jawab saksi yang ikut hadir di sana.
__ADS_1
Khanza dan Rubby pun tersenyum melihat Dion dan Mawar kini sudah resmi menjadi suami istri.
Pesta langsung digelar hari ini juga. Tamu-tamu mulai berdatangan. Bayu, Jihan, serta istri Bayu pun hadir di sana.
Jihan melihat Bayu dari kejauhan, pria itu sendirian. Lalu, di mana istrinya? Hingga matanya tertuju pada seorang wanita yang tengah berdiri dengan seorang laki-laki. Ya, Alisia wanita itu. Wanita itu hadir bersama laki-laki yang mungkin tamu Dion.
Terlihat pria itu bukan pria sembarangan.
Bayu yang belum mengetahui keberadaan Alisia, pria itu berbincang dengan tamu yang lain. Mencoba menghilangkan rasa kejenuhannya karena datang tanpa pasangan.
merasa haus, Bayu melangkahkan kakinya. Disaat itu pula kakinya terhenti melihat Alisia bersama laki-laki lain. Talak saja belum terucap dari bibirnya, tapi Alisia begitu tega meninggalkannya.
Bayu menyadari akan dirinya yang tak sempurna, tapi sebisa mungkin ia mengobati dirinya. Bahakn minggu yang lalu pun ia sudah menjalani terapi untuk kesembuhannya. Tapi sepulang dari luar Negri, Bayu dikejutkan akan sikap Alisia yang berubah drastis.
Bahkan wanita itu sudah berjanji akan mendampinginya dan selalu mendukungnya demi kesembuhannya.
"Aku memeng lelaki tak berdaya!" batin Bayu. Walau hatinya sakit, Bayu tetap berjalan melewati tubuh Alisia. Bahkan Alisia sendiri melihatnya yang masih berstatus istrinya.
Bayu bukan lelaki lemah yang bisa begitu saja menerima kekalahannya. Ia hanya tidak ingin membuat kekacauan di pesta Dion, Dion merupakan salah satu atasannya juga. Ia harus bisa menjaga sikap sebagai bawahan.
Jihan terlihat kebingungan, kenapa Bayu membiarkan istrinya bersama laki-laki lain? Ia terus mengikuti kemana Bayu pergi, hingga pria itu menghentikan langkahnya di tempat yang agak sepi dari tamu yang hadir.
Pria itu terlihat kusut, sangat kusut.
Jihan menghamipirnya, dan ikut berdiri di sampingnya.
"Dikhianati memang sakit," ucap Jihan tiba-tiba.
Bayu melihat ke arah Jihan, menatapnya dari samping. Hidup mereka senasib, sama dikhianati oleh orang yang mereka cintai. Hanya saja cerita mereka jauh beda.
Jihan dikhianati karena kesalahannya sendiri. Tapi Bayu, pria itu tak berdaya. Sehingga orang yang paling ia cintai tak bisa menerima kekurangannya dan Bayu menyadari itu.
Itu sebabnya ia tak bisa mencegah Alisia bersama laki-laki lain. Ia juga ingin melihat Alisia bahagia. Bayu hanya tidak terima akan janji yang dijanjikan oleh Alisia, bahwa wanita itu akan menunggu sampai ia sembuh.
__ADS_1
Namun kenyataannya, Alisia membutuhkan kehangatan dari seorang laki-laki yang tak bisa diberikan olehnya.
Bersambung