Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 101


__ADS_3

Keesokan harinya.


Kota Bandung dengan sejuta keindahan bunga-bunganya di sana. Tempatnya yang asri membuat para penghuni di sana nampak mulai menjalankan aktivitasnya kembali di pagi ini. Ada yang tengah bersiap ke kantor, ada juga yang bersiap ke kebun teh sebagai pemetik di sana.


Hingga Bayu pun terbangun dengan suara yang ditimbulkan dari ponselnya. Pria itu mengerejapkan matanya, ia langsung merogoh ponselnya yang ada di dalam saku. Tak memperhatikan Jihan yang sudah lebih dulu terbangun darinya. Ia langsung saja menerima panggilan itu dan beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, Tua," jawabnya pada panggilan itu.


"Hari ini kamu meeting dengan Pak Abraham, beliau mengirim email semalam, dia akan mulai kerja sama dengan perusahaan cabang mulai hati ini," kata Rubby di sebrang sana.


"Itu artinya, aku harus meninggalkan Jihan," batin Bayu seraya menoleh ke arah istrinya, dan ternyata ia melihat, wanita itu tengah menatap ke arahnya pula. Bayu langsung menghampirinya dan mengabaikan percakapan melalui sambungan telepon itu.


"Kamu sudah bangun? Apa perutmu masih sakit? Apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Bayu bertubi-tubi.


"Aku gak apa-apa, Mas. Perutku juga sudah tidak sakit, malah aku pengen pulang."


Sementara ponsel yang di pegang Bayu masih menyala dan terhubung pada Rubby.


"Dokter? Apa Jihan sakit? Apa jangan-jangan ada masalah dengan kandungannya?" Rubby sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Mas, bukankah kamu sedang menerima telepon," kata Jihan.


"Ah, iya. Tuan Rubby menghubungiku, aku terima telepon dulu, ya?" Bayu mengecup kening Jihan terlebih dulu sebelum ia menerima kembali sambungan itu. Setelah itu, baru ia bicara pada Rubby.


"Maaf, Tuan. Tadi sedikit terganggu, rencana meeting dilangsungkan jam berapa?"


Bukannya menjawab, Rubby malah menanyakan keadaan Jihan. "Jihan sakit apa? Apa kalian berada di rumah sakit sekarang?"


"Iya, Jihan mengalami pendarahan. Tapi tidak ada masalah dengan kandungannya, semuanya baik-baik saja, Tuan."


"Sudah kalau begitu, kamu temani saja Jihan. Untuk urusan kantor, biar saya sendiri yang kesana."


"Tapi-."


"Tidak ada tapi-tapian, kasian jika kamu meninggalkannya. Saya kesana sekarang juga." Rubby tidak tahu kalau Bayu sudah menikah tadi malam, yang ia tahu, Bayu akan menikahi Jihan setelah urusannya selesai.

__ADS_1


***


Kediaman Rubby.


"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Khanza melihat Rubby yang sudah rapi dengan setelan jasnya, bukankah sekarang ia tidak akan ke kantor? Itu janjinya tadi malam.


"Mas harus ke Bandung, menyusul Bayu. Dia tidak bisa meeting karena Jihan sakit, semalam dia dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan."


Khanza mengerutkan keningnya, wanita itu berpikir, kenapa ada Jihan di sana? Apa hubungannya dengan Bayu? Karena Khanza belum tahu bahwa anak yang di kandung Jihan adalah anak Bayu.


"Bisa kamu jelaskan, kenapa ada Mbak Jihan di sana?"


"Oh iya, Mas lupa tidak memberitahukanmu soal ini. Sebenarnya, Jihan hamil oleh Bayu dan dia mengajak Jihan ke Bandung karena akan menikahinya di sana."


Khanza membulatkan matanya tidak percaya, bagaimana itu bisa terjadi? Tapi sudahlah, itu bukan urusannya. Tapi, suaminya nanti akan bertemu kembali dengan mantan istrinya itu. Apa tidak akan ada rasa canggung di antara mereka? Bawahan menikahi mantan istri bos-nya.


"Baiklah, sayang. Mas berangkat sekarang ya? Tuan Abraham sangat penting, dia pemilik perusahaan terbesar di Bandung. Ini kesempatan bagi, Mas. Beliau mengajak kerja sama dengan kantor cabang di sana." Rubby mengecup kening istrinya lalu menghampiri Putra yang masih terlelap dari tidurnya.


"Papa pergi dulu ya, sayang. Papa langsung pulang setelah urusan di sana selesai," bisiknya di telinga mungil itu.


"Mas kembali hari ini juga, entah sore atau malam sampai rumah. Kamu mau oleh-oleh apa, sayang?"


"Mas, sudah!" Khanza melepaskan ciumannya, ia tidak ingin suaminya terbawa oleh *****. "Kamu masih puasa, Mas."


Seketika, Rubby menghela napasnya berat, sebenarnya ia sudah tidak tahan. Rasanya kepalanya sakit sampai ke ubun-ubun menahan hasrat yang terus bergejolak jika berada di samping istrinya.


"Kamu sendiri yang mancing, Mas. Lihat, dia sudah berdiri tegak. Mas gak yakin bisa konsen di jalan." Tunjuknya ke arah senjatanya dengan menundukkan wajahnya.


"Ish ... Sudah sana berangkat, katanya itu penting. Nanti kamu terlambat."


"Tanggung jawab dulu!"


"Tanggung jawab apa? Aku 'kan gak ngelakuin apa-apa. Aku hanya mencium, Mas sendiri yang memperdalamnya." Khanza tidak terima akan hal itu, lagian mau melakukan seperti apa? 40 hari saja belum, masa iya mau melakukan itu.


"Cara lain, sayang! Mas gak bisa pergi jika dia terus memberontak," keluh Rubby yang tetep kekeh ingin mengeluarkan bisa-nya.

__ADS_1


"Cara apa, Mas?"


Rubby segera mengambil ponselnya yang ada di dalam sakunya, lalu menunjukkan vidio pada Khanza. Khanza sendiri tidak percaya bahwa suaminya memiliki vidio seperti itu.


"Mas ...," protes Khanza, sejak kapan suaminya itu memiliki vidio itu?


"Dion ... Aku dapat itu darinya. Ayolah, Mas yakin kamu bisa." Rubby menarik tangan Khanza dan menuntunnya ke kamar mandi.


"Lakukan sekarang, Mas tidak punya banyak waktu!"


Dengan ragu, Khanza melakukan itu. Ia meniru gaya seperti yang ada di dalam vidio tersebut, mual memang. Tapi gimana lagi? Sepertinya hanya dengan cara ini ia bisa membantu suaminya dari penderitaannya.


"Terus sayang, sebentar lagi," ucap Rubby sedikit ngos-ngosan.


Khanza sendiri sudah merasa mual, ini pertama kali ia melakukannya. Menggunakan mulut sebagai pemuas sang suami.


Hingga menit berikutnya, Rubby mengerang. Kini telornya sudah pecah, ada perasaan lega pada dirinya.


"Terimakasih, sayang." Rubby membenarkan celananya.


Sedangkan Khanza, ia langsung membersihkan wajahnya akibat semburan itu. Setelah bersih ia mengeringkannya dengan handuk. Melihat ke arah suaminya yang masih berdiri di belakangnya dengan wajah berbinar. Tidak seperti hari-hari yang lalu, muram tak bercahaya.


Rubby memeluknya dari belakang, Khanza pun membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.


"Kalau sudah begini, Mas bisa pergi dengan tenang," bisiknya.


"Ya sudah, Mas pergi sekarang saja. Aku gak mau di suruh tanggung jawab lagi!" cetus Khanza.


"Hmm, jangan marah. Kamu harus pintar dalam segala hal, sayang," bisiknya kembali sampai bulu kuduk Khanza berdiri karena merinding.


***


"Mas berangkat sekarang," pamit Rubby yang sudah berada di luar. Khanza mengantarnya sampai depan rumahnya.


"Papa pergi dulu ya, sayang," ucap Rubby pada Putra yang ikut mengantarnya karena ia sudah terbangun dari tidurnya, untung terbangun saat ia sudah selesai tadi bersama istrinya.

__ADS_1


Akhirnya, Rubby pun menuju kota Bandung dengan hati yang berbunga-bunga.


Bersambung.


__ADS_2