
Pagi hari.
Khanza yang sedang berada di kamar mandi, wanita itu tengah menunggu hasil test pack yang disarankan oleh mamanya. Harap-harap cemas, dengan setia ia duduk di kloset. Sesekali ia melirik ke arah test pack itu, namun pandangannya cukup jauh sehingga ia tak bisa melihatnya.
Waktu sudah melebihi dua menit, bahkan itu sudah cukup mengetahui hasilnya. Walau bagaimana pun ia harus siap dengan hasilnya, hamil atau tidak hamil ia harus siap.
Baru saja ia akan mengambil hasil test pack itu, tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar di telinganya.
"Sayang, kamu lagi apa sih? Lama sekali! Putra sudah bangun, dia haus," ucap Rubby yang berdiri berada di depan pintu kamar mandi itu.
"Bentar, Mas." Khanza mengambil test pack itu dan memasukkan ke dalam saku piamanya bahkan tanpa melihatnya. Ia keluar sembari mengikat rambut panjangnya, hingga muncullah ia di depan suaminya.
"Ngapain sih? Lama banget di dalam?" tanya Rubby kembali.
"Sakit perut," jawab asal sang istri.
Khanza berjalan menghampiri Putra yang tengah menangis.
"Cup, cup ... Maafkan Mama ya, menunggumu lama." Khanza meraih tubuh mungil itu, dan langsung memberikan asi padanya.
"Kamu gak ngantor, Mas?"
Rubby menggeleng dan ikut duduk di sampingnya. Sang istri pun menoleh ke arahnya.
"Kenapa gak kerja?" tanyanya kembali.
"Mau ajak kamu ke Dokter, Mas ingin tahu hasilnya. Siapa tahu dugaanku benar, soalnya kamu kaya orang ngidam."
Tanpa membalas ucapan suaminya, Khanza merogoh benda kecil yang sempat ia simpan dalam sakunya. Tanpa ba, bi, bu, ia langsung memberikan benda itu pada suaminya.
"Kamu saja yang lihat," kata Khanza.
"Apanya yang dilihat?" Rubby tengah menatap ponselnya.
"Ini." Khanza menyodorkan benda persegi itu.
Rubby pun menoleh, terdiam sekejap sembari menatap benda itu. Perlahan, ia pun mengambilnya. Garis dua, Pria itu mengucek-ucek kedua matanya, takut ada yang salah dengan penglihatannya.
"Sayang, Mas gak salah lihat 'kan?" tanyanya. "Coba deh kamu lihat!" Rubby pun memperlihatkan hasil test pack itu.
"Positif, Mas." Lalu, apa gunanya dengan KB itu? Pikirnya.
"Kamu gak seneng?" tanya Rubby, karena ia melihat tak ada raut bahagia di wajah istrinya.
"Seneng, Mas. Aku terima kehadirannya, dia 'kan anakku juga."
"Tapi ekspresimu biasa saja." Wajah Rubby pun tampak murung melihat ekspresi istrinya itu.
"Lalu aku harus bagaimana, Mas? Jingkrak-jingkrak, gitu?"
"Ya, gak gitu juga."
"Aku ikut seneng, Mas. Kamu jangan punya pemikiran kalau aku tidak menginginkannya, aku inginnya ada jarak. Tapi, ya sudahlah. Mungkin Tuhan sudah mempercayakannya padaku," jelas Khanza pada suaminya.
__ADS_1
"Terimakasih sudah mengandung anak-anakku." Rubby memeluk sang istri dengan anaknya yang tengah menyusui. "Putra mau punya adek, kamu jangan rewel ya, sayang," sambungnya pada Putra, ia mengelus kepala anaknya dengan lembut hingga balita itu memejamkan matanya, ia tertidur kembali.
"Kita ke Dokter ya? Mas gak mau tahu usia kandungannya."
Khanza pun mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Karena Putra sudah tidur, ia pun membaringkan anaknya di tempat tidurnya. Menyelimutinya hingga anaknya itu semakin terlelap karena kehangatan yang dihasilkan dari selemut itu.
"Aku mandi dulu ya, Mas. Nanti aku hubungi Mama untuk mengasuh Putra."
"Za, aku takut Mama mengambil alih Putra dari kita. Mama kemarin bilang, kalau kamu hamil, Mama akan mengambil asuh Putra."
"Bukan mengambil, Mas. Dia hanya ingin membantuku mengurus Putra, kamu jangan punya pemikiran bahwa Mama akan mengambil Putra dari kita. Dia sayang sama aku, Mas. Tidak ingin aku kerepotan."
"Tapi 'kan kita bisa pakai jasa baby siter, sayang."
"Aku lebih cocok Mama yang membantuku, Mas 'kan tahu aku sama Mama gak gampang percaya sama orang."
Rubby pun akhirnya pasrah, kalau sang istri sudah berucap seperti itu, ia tak bisa membantah.
Khanza pun tak lagi membahas itu, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi dan berpakaian, ia dan suaminya bersiap-siap pergi ke dokter.
***
Rubby dan Khanza sudah berada di rumah sakit. Wanita itu tengah berbaring di branker, tengah menjalani pemeriksaan sang dokter.
"Nyonya, coba lihat layar itu," kata dokter.
Khanza pun melihatnya, tapi ia tak cukup mengerti.
"Berapa usianya, Dok?" tanya Rubby.
"Kembar, Dok? Bukankah kembar itu biasanya keturunan?" tanya Khanza. Karena ia merasa tak memiliki keturunan kembar.
"Iya, memang. Mungkin dari kalian ada yang memiliki turunan itu," kata dokter lagi.
"Aku tidak ada, Mas. Apa keluargamu ada yang kembar?" tanya Khanza.
"Papa. Papa kembar, tapi kembarannya meninggal sewaktu masih bayi," jelas Rubby.
Khanza pun akhirnya mengerti sembari manggut-manggut. Karena pemeriksaanya sudah selesai, dan hasilnya cukup memuaskan bagi mereka. Mereka kembali pulang dan akan memebritahukan kabar gembira ini pada keluarganya masing-masing.
***
Rubby dan Khanza mengundang seluruh keluarganya untuk makan malam di rumahnya.
Dion dan Bayu pun ikut serta dalam acara itu, hanya para istri mereka yang tak ikut hadir karena habis melahirkan, apa lagi Jihan. Wanita itu harus banyak istirahat.
Mereka semua sudah kumpul di rumah Rubby, Dion dan Bayu saling berbisik.
"Ada acara apa sih, sampai Rubby mengajak kita makan malam?" bisik Dion.
"Kenapa tanya padaku? Kamu 'kan keluarganya, harusnya kamu yang lebih tahu," bisik Bayu kembali. Bayu sendiri tidak tahu, karena sang bos tidak memberitahukan ini sebelumnya.
Makan malam pun dimulai. Rubby belum mengumumkan kebahagiaannya, rencananya selesai makan baru ia akan mengatakannya. Tak lama makan pun selesai.
__ADS_1
Rubby mulai berucap akan niatnya.
"Sebelumnya saya terimakasih pada kalian, terimakasih sudah berkumpul di sini," ujar Rubby, ia menjeda ucapannya. Bahkan Zira dan Laras pun begitu penasaran, padahal harusnya Zira tahu akan hal ini. Rubby dan Khanza sengaja tidak mengatakan hasil test pack yang disarankan olehnya.
"Ayo dong, By. Jangan buat Mama sama yang lainnya penasaran," kata mama Laras.
"Putra aka memiliki adik, bahkan kembar," ucap Rubby dengan raut bahagia di wajahnya.
Laras, Zira, dan yang lainnya ikut bahagia. Itu artinya, Zira ada kesempatan untuk mengurus sang cucu. Cucu yang ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.
Malam pun semakin larut, satu persatu meninggalkan kediaman Rubby. Kini hanya menyisakan Zira dan Hazel di sana. Zira menagih janji Khanza, yang mengatakan bahwa ia mengizinkan sang mama untuk mengasuh Putra jika kelak ia sudah melahirkan.
Karena sudah mendapatkan lampu hijau, Zira dan Hazel pun pulang ke rumah.
***
"Kamu yakin tidak akan memakai jasa baby siter? Mas masih mampu menggaji baby siternya, sayang ... Mau satu, dua, atau sepuluh? Mas masih sanggup!"
"Bukan masalah sanggup atau tidak sanggupnya, Mas. Aku takut, sudahlah, jangan bahas itu. Mereka juga belum lahir."
Khanza pun akhirnya pergi menuju kamarnya, mengistirahatkan tubuhnya di sana. Sebelumnya ia mengganti bajunya terlebih dulu.
Keesokan harinya.
Hari ke hari, munggu ke minggu, bulan ke bulan. Hingga waktu begitu cepat berlalu, yang ditunggu-tunggu akhirnya sampai. Sampai di mana Khanza akan melahirkan anaknya.
"Mas, aku takut." Khanza meremas tangan suaminya, ini pertama kalinya ia berada di ruang operasi.
"Jangan takut, Mas disini menemanimu," ucap Rubby, ia mencoba menenangkan istrinya. Beberapa kali ia memberikan kecupan di keningnya.
Para dokter pun sudah siap dengan tugasnya, Khanza pun diberikan suntik melalui punggungnya, ia meminta pada dokter untuk tidak membiusnya secara total.
Ia ingin menyaksikan kedua anaknya lahir, mendengar tangisan mereka.
Beberapa menit kemudian, sakit tidak terasanya. Rubby dan Khanza pun mendengar tangisan.
Tangisan bayi yang begitu nyaring, dua menit kemudian, disusul dengan tangisan kembali. Suster sibuk membersihkan kedua anak mereka.
"Mas, anak kita." Khanza menangis bahagia.
"Selamat ya, Tuan, Nyonya. Mereka tampan dan cantik," ucap dokter.
Seketika, dua bibir itu tersenyum mendengar tampan dan cantik, itu artinya bayi mereka sepasang. Lengkap sudah kebahagiaan mereka.
Beberapa jam kemudian, Khanza sudah di pindahkan ke ruang vviv. Keluarga sudah menunggu di sana. Dion, Bayu dan para istri mereka pun ikut hadir menjenguk.
Hingga suasana begitu ramai. Canda tawa menyelimuti kebahagiaan mereka.
Rubby memegang ucapannya, bahwa ia tidak menggap Khanza sebagai rahim pengganti istrinya yang terdahulu.
"Terimakasih, Mas. Terimakasih karena kamu sudah membuktikan ucapanmu.
"Aku sudah bilang kamu BUKAN RAHIM PENGGANTI."
__ADS_1
TAMAT.