Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 59


__ADS_3

Hazel termenung di tengahnya kegelapan, karena lampu disetiap ruangan sudah dimatikan. Hazel masih belum beranjak, ia tetap setia di tempatnya. Ketika Hazel sendirian, tiba-tiba ada yang menghampirinya dan menepuk bahunya.


"Pa, Papa kenapa masih di sini?" tanya Khanza. Khanza terbangun karena haus, ia tak sengaja melihat sang papa tengah duduk di ruang tamu sendirian.


Hazel mendongakkan wajahnya ke arah anaknya, Hazel tersenyum miris menerima nasibnya. Lalu, ia menarik tangan anaknya untuk duduk bersamanya hanya untuk sekedar menemaninya.


"Apa Papa tidak pantas mendapatkan maaf dari Mamamu?" tanya Hazel pada putri semata wayangnya.


"Apa maksud Papa? Kesalahan apa yang Papa lakukan sampai Mama tidak memaafkan Papa?" Di sini Khanza tidak mengerti apa yang sudah terjadi di antara kedua orang tuanya. Apa lagi selama ini ia tidak tinggal bersama mereka.


"Papa melakukan kesalahan yang patal," jawab Hazel. "Za, kamu mau 'kan bantu Papa?"


"Bantu apa?"


"Sebentar lagi Mamamu ulang tahun, Papa mau bikin kejutan buat Mamamu." Hazel mempunyai ide agar ia mendapatkan maaf dari istrinya itu dan meminta bantuan pada putrinya. Hazel yakin ini pasti berhasil meluluhkan hati Zira kembali.


"Tapi aku lihat Mama biasa saja, bahkan sikap Mama baik sama Papa." Khanza masih penasaran kesalahan apa yang dilakukan papanya itu.


Sementara Hazel, ia terlalu malu untuk mengatakan kesalahannya pada putrinya. Ia juga takut putrinya membencinya, karena hilangnya Khanza berawal dari perselingkuhannya dengan Rosa.


"Kesalahan apa yang Papa lakukan?" tanya Khanza kembali untuk yang kedua kalinya.


Hazel menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu mengeluarkannya secara perlahan melalui hidungnya. Hazel menatap wajah putrinya, walau di sana terlihat gelap namun tak menghalangi pandangannya karena masih ada cahaya dari lampu luar.


"Hilangnya kamu itu berawal dari Papa, Papa yang membuat kamu terpisah dengan Mamamu." Hazel begitu menyesal, ia khilaf, Hazel tergoda oleh perempuan yang bernama Rosa. Dulu Rosa bukan seorang pela*ur, dia wanita biasa. Entah kenapa dia menjadi wanita malam.


"Maksud Papa?" Khanza semakin bingung. Ada yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya.


"Papa pernah selingkuh dengan wanita yang kemarin menculikmu." Bagaimana pun, Hazel harus jujur pada putrinya agar Khanza mau membantunya.


Khanza begitu terkejut mendengar penuturan sang papa. Bagaimana bisa papanya itu selingkuh dengan wanita rendah seperti Rosa? Bukankah Zira jauh lebih cantik dan berwibawa.


"Papa minta kamu jangan ikut marah seperti Mamamu, Papa minta dukungan darimu, Za. Kamu tidak maukan melihat Papa sama Mama berpisah?"


Khanza kecewa pada papanya, tapi ia akan lebih kecewa jika orang tuanya berpisah. Sebisa mungkin Khanza pasti menyatukan kembali hati mamanya, dan menerima papanya itu.

__ADS_1


"Nanti aku coba bantu, tapi sekarang Papa tidur ya? Ini sudah malam. Papa juga harus jaga kesehatan, ayo aku antar Papa ke kamar Mama," ajak Khanza.


Khanza menuntun papanya bak anak kecil yang sedang digiring. Setibanya di depan pintu kamar, Hazel tidak yakin kalau istrinya akan menerimanya di dalam sana.


Klek


Pintu dibuka oleh Khanza, untung pintu kamar itu tidak dikunci jadi mempermudah mereka untuk masuk ke dalam sana.


"Za, sepertinya Mamamu sudah tidur. Papa tidur di kamar sebelah saja," ucap Hazel yang masih berada di ambang pintu.


Khanza menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin lagi orang tuanya tidur dengan kamar terpisah. Khanza tidak menggubris ucapan papanya itu, ia malah menarik tangan papanya agar cepat masuk ke kamar.


Sayang, aksi mereka diketahui oleh Zira, karena aksi mereka menimbulkan suara dan mengganggu tidur Zira. Disaat Zira terbangun, Hazel dengan cepat bersembunyi di balik pintu, hingga yang dilihat Zira hanya ada Khanza.


"Ada apa, Za? Ngapain kamu di sini?" tanya Zira dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mama, iniloh, Ma." Khanza hendak menarik lengan sang papa tapi papanya malah tidak ada, kemana papanya itu? Pikir Khanza.


"Apa, apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Zira lagi.


Khanza menggeleng, kedatangannya kemari bukan untuk meminta sesuatu. Apa lagi berniat mengganggu mamanya tidur.


"Aku ke sini antar Papa, Papa mau tidur di sini bersama Mama. Mama maukan tidur sama Papa?" pinta Khanza.


"Ish ... Lalu Papanya mana?" Zira tak habis pikir kalau suaminya itu meminta bantuan pada putrinya, kalau sudah begini Zira tidak bisa menolak.


"Pa ... Papa jangan sembunyi, Mama mau kok tidur sama Papa," kata Khanza pada papanya itu yang kini entah bersembunyi di mana.


Tak lama, Hazel muncul. Sebenarnya ia merasa tak enak pada Zira karena sudah mengganggu tidurnya. Tapi kalau tidak begini mana bisa ia tidur bersama istrinya.


Karena Hazel sudah ada, Zira menyuruh Khanza kembali ke kamarnya.


"Tidurlah, kasian suamimu sendirian," kata Zira pada Khanza. Akhirnya Khanza pun berlalu meninggalkan kedua orang tuanya.


Kini tinggal Hazel dan Zira. Zira tak mengeluarkan suara, ia malah beranjak kembali ke atas kasur untuk tidur. Sementara Hazel, ia masih berdiri diam di tempat karena Zira tak mengajaknya untuk tidur.

__ADS_1


Zira sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu ia melihat ke arah Hazel, suaminya masih diam di sana. Zira menghembuskan napasnya, akhirnya ia pun mengeluarkan suaranya.


"Kamu gak ngantuk, Pa?" tanya Zira. "Sudah malam, cepatlah tidur."


Akhirnya, Hazel pun menyusul Zira ke atas kasur. Ia masih duduk di tepi ranjang.


"Tidur saja duluan," ucap Hazel sembari mengusap pucuk rambut istrinya. Setelah itu, ia pun beranjak dari tempatnya, bergegas mengganti baju terlebih dulu dan mencuci wajahnya sebelum tidur.


Setelah itu selesai, Hazel pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Zira. Ia melihat istrinya sudah tidur, bahkan suara dengkuran halus terdengar di pendengarannya.


Hazel memeluk Zira dari belakang, karena posisi Zira meringkuk dan membelakanginya. Akhirnya, Hazel kembali tidur dengan istrinya dalam satu ranjang. Walau masih hanya tidur dan tidak melakukan apa-apa, Hazel sudah merasa bersyukur. Ini semua berkat Khanza.


***


Di kamar lain, Khanza yang baru masuk ke kamarnya mendapati suaminya yang terjaga dari tidurnya.


"Kamu bangun, Mas. Ini masih malam, tidurlah lagi," kata Khanza seraya beranjak ke atas kasur.


"Kamu dari mana saja, lama sekali?" tanya Rubby.


"Ada urusan sebentar, Mas. Aku kasihan sama Papa, ternyata selama ini Papa sama Mama tidur terpisah." Khanza merasa suaminya perlu tahu akan hal ini, agar nanti bisa ikut membantu acara ulang tahun mamanya yang sudah direncanakan papanya.


Rubby merubahkan posisinya menjadi duduk, pasalnya ia tak percaya kalau mertuanya tidur terpisah. Ada masalah apa sampai mereka tidur terpisah? Padahal setahu Rubby mereka terlihat sangat romantis, mereka tidak menunjukkan masalahnya di depan publik. Ini bisa dijadikan contoh yang baik bagi Rubby jika kelak ada masalah dengan istrinya.


"Mas," panggil Khanza.


"Apa?" jawab Rubby.


"Aku gak percaya, wanita secantik Mama bisa dikhianati."


"Lalu?" kata Rubby.


"Apa Mas akan setia padaku? Mbak Jihan yang menurutku sempurna saja, kamu bisa berpaling darinya." Khanza takut kalau suaminya akan berpaling darinya.


"Mas ..."

__ADS_1


"Ssttt." Rubby membekap mulut Khanza dengan mulutnya. Ia tidak ingin pembicaraannya jadi ngelantur ke mana-mana.


Bersambung.


__ADS_2