
Setelah kepergian Jihan, Laras dan suaminya menemui putra dan menantunya di kamar. Karena kamar tidak tertutup dengan sempurna, mereka pun mendengar percakapan anak dan menantunya itu.
Betapa baiknya Khanza, ia rela berbagi suami. Kebanyakan istri muda itu egois, bahkan tidak mengizinkan suaminya untuk tidak menemui istri pertamanya. Tapi tidak dengan Khanza.
Laras dan suaminya menjadi terharu menyaksikan dua insan yang kini sedang dilanda masalah itu. Laras juga tidak menyalahkan adanya orang ketiga dalam rumah tangga anaknya.
"Pa, bagaimana ini? Mama tidak mau ikut campur urusan mereka," ucap Laras pada suaminya.
"Iya, Ma. Sebaiknya kita tidak perlu ikut campur. Sepertinya Khanza lebih dewasa di sini. Papa yakin mereka bisa mengatasi masalah mereka sendiri."
Akhirnya, Anggoro dan istrinya pun pergi dari sana. Mereka tak ingin mengganggu Khanza yang sedang membujuk suaminya agar pulang ke rumah istri pertamanya.
"Ayolah, Mas ... Kalau Mas menghindar terus, masalah gak akan selesai. Kalau Mas yakin dengan hati Mas, Mas ikuti saja apa kata hatimu. Jangan dijadikan beban, jika Mas masih mencintai Mbak Jihan pun aku siap mundur."
"Tidak ... Mas tidak akan membiarkan kamu pergi dari hidupku, Khanza. Kamu kebahagiaanku sekarang." Rubby memeluk Khanza, pria itu tidak mau berpisah dengan istri keduanya.
"Makanya, Mas temui Mbak Jihan. Keputusan ada di tanganmu."
Akhirnya, Rubby putuskan ia akan pulang ke rumah utama malam ini.
***
Rubby dan Khanza berjalan menuruni anak tangga, mereka mengintip terlebih dulu sebelum benar-benar turun. Mengendap-ngendap bak seperti maling yang takut ketahuan si pemilik rumah.
Hingga Rubby dan Khanza sudah melewati anak tangga, lalu mereka melihat bi Nani. Rubby langsung saja memanggilnya.
"Bi, sini!" Rubby memanggil sembari melambaikankan tangannya kepada bi Nani.
Bi Nani pun menghampiri, dalam hati bi Nani kini ia mengerti. Khanza itu ternyata istri kedua dari anak majikannya itu.
"Iya, Tuan. Ada apa?"
"Jihan masih ada apa sudah pulang, Bi?" tanya Rubby.
"Sepertinya sudah pulang, Tuan. Mobilnya juga sudah tidak ada," jelas Bi Nani.
"Ya sudah, Bi. Terimakasih," ucap Rubby kembali.
Dan bi Nani pun undur diri setelah diintrogasi oleh Rubby. Rubby pun bernapas lega, ia dan istrinya jadi lebih leluasa untuk bergerak. Rubby dan Khanza pun mencari kedua orang tuanya. Tapi di mana mereka? Batang hidungnya saja tidak terlihat.
Tak lama kemudian, yang dicari-cari muncul dari arah belakang mereka. Tapi hanya sang mama saja yang bertemu dengan mereka.
"Rubby," panggil sang mama.
__ADS_1
Rubby dan Khanza pun membalikkan tubuhnya kebelakang. Hingga posisi mereka kininsaling berhadapan.
"Ma, Jihan sudah pulang 'kan?" tanya Rubby.
"Iya, dia sudah pulang," jawab mama.
"Ma, beri aku solusi coba, Ma! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku pusing, Ma," keluh Rubby.
"Duh ... Jangan minta solusi sama Mama deh, Mama gak mau ikut pusing. Kalau gak mau pusing ya jangan punya istri dua, Rubby! Siapa suruh nikah lagi? Kamu pikir gampang ngatur waktu! Sudah ah, itu urusanmu. Mama gak mau ikut campur."
Setelah iti, mama pun pergi tanpa ada solusi kepada anaknya. Sedangkan Rubby pun jadi tak bersemangat. Mau tak mau, ia menuruti apa kata istrinya.
"Ya sudah, Za. Mas pulang dulu malam ini, kamu gak apa-apakan Mas tinggal?"
"Iya, Mas ... Kamu selesaikan dulu saja urusanmu dengan Mbak Jihan."
Karena hari sudah semakin larut, Rubby putuskan pulang sekarang. Rubby dan Khanza kembali ke kamar, setibanya di sana, Rubby langsung memeluk Khanza dengan erat, seolah tidak ingin berpisah aoa lagi kembali meninggalkan Khanza di setiap malamnya.
"Sebenarnya Mas berat meninggalkanmu, Za," ucap Rubby yang posisinya masih memeluk Khanza.
Perlahan Khanza pun melepaskan pelukkannya.
"Sudahlah, Mas ... Aku juga gak mau terus dihantui merasa bersalah sama Mbak Jihan, kasian dia mencarimu."
Rubby kini bersiap-siap akan pulang, setelah merasa sudah rapi dengan baju yang ia kenakan baru Rubby benar-benar pergi. Khanza mengantar suaminya ke depan rumah. Sesampainya di sana, Rubby mencium kening istri kecilnya.
"Mas pergi ya?" Diangguki oleh Khanza.
"Hati-hati, Mas." Khanza mencium punggung tangan suaminya terlebih dulu.
Rubby semakin berat meninggalkan Khanza, ia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari Jihan. Rubby mengusap lembut pucuk rambut Khanza ketika Khanza mencium tangannya.
Kini, Rubby sudah berada di dalam mobil. Khanza melambaikan tangan kearah mobil suaminya, dan Rubby pun berlalu. Khanza kembali masuk ke dalam rumah setelah Rubby benar-benar sudah tidak terlihat.
***
Satu jam kemudian, Rubby sampai di kediamannya.
Sementara Jihan yang ada di dalam ia rumah mendengar suara mesin mobil masuk kepekalangan garasi. Dengan cepat ia menemuinya, yang ia yakini bahwa itu mobil suaminya.
Rubby turun dari mobil, disaat itu pula Jihan memanggilnya.
"Mas," panggil Jihan. Wanita itu menyambut kedatangan suaminya.
__ADS_1
Lihat, apa yang wanita itu lakukan? Tidak ada angin tidak ada hujan, Jihan mencium punggung tangan suaminya.
"Apa kamu sudah berubah, Jihan? Kenapa sikapmu menghangat setelah ini terjadi?"
Rubby pun bersikap biasa, ia tak ingin kepancing, bisa saja ini hanya karena Jihan takut kehilangannya. Rubby pun masuk ke dalam rumah, Jihan menggelayut manja pada Rubby.
"Mas, kamu sudah makan belum?" tanya Jihan.
Rubby menggelengkan kepalanya, ia memang belum makan sejak pulang tadi.
"Aku siapkan makanan dulu untukmu." Tanpa mendengar jawaban dari Rubby, Jihan langsung bergegas ke dapur. Ia langsung masak, membuatkan makanan kesukaan suaminya.
Sementara Rubby, ia langsung ke kamar. Setibanya di sana, ia malah termenung sendirian. Duduk di sofa, ia sandarkan kepalanya, menatap langit-langit kamar. Lama dalam posisi seperti itu sampai tak terasa Rubby pun tertidur dengan sendirinya entah cape atau memang mengantuk.
Satu jam kemudian, Jihan datang dengan sebuah nampan yang ia bawa. Jihan sampai repot-repot membawakan makanan ke kamar, biasanya juga Jihan tidak pernah memperlakukan Rubby seperti ini.
Jihan meletakan nampan terlebih dulu, setelah itu baru ia menghampiri suaminya. Dilihatnya sang suami tengah tertidur pulas, Jihan menatap wajah itu lekat-lekat.
Mengusap pipi Rubby dengan lembut, sampai si empunya terbangun.
"Za ... Jangan menggoda, Mas," celetuk Rubby tanpa sadar.
Jihan langsung terdiam ketika suaminya menyebut nama lain.
Sadar sudah salah ucap, Rubby langsung membuka matanya. Ia melihat Jihan di sampingnya, mata wanita itu sudah menggenang. Berkedip sekali saja, sudah dipastikan air mata itu pasti terjatuh dengan sendirinya.
Tidak ingin merusak momen, Jihan langsung mengusap sudut matanya, menghapus air mata yang akan terjatuh.
"Makanannya sudah siap, Mas. Ayo makan dulu." Jihan beranjak dari tempat duduknya, ia mengambil nampan yang sempat ia bawa tadi.
Setelah itu, ia kembali duduk di samping Rubby.
"Aku suapin, Mas." Jihan yang hampir mendaratkan sendok di mulut suaminya tertahan oleh Rubby.
Rubby menghentikan tangan Jihan yang hendak menyuapinya.
"Mas mau kita bicara, Jihan."
Bersambung.
...----------------...
Selamat pagi penggemar BUKAN RAHIM PENGGANTI?
__ADS_1
Semoga kalian sehat ya? Othor minta dukungannya dari kalian. Jangan lupa like dan komen ya, jangan lupa vote juga. Terimakasih 🙏🙏🙏