
Irama musik menggema di dalam club, Rubby dan Wira sudah berada di dalam sana. Wira terbawa suasana, pria itu lupa akan tujuannya datang ke sana. Hingga Rubby menarik baju bagian belakang pundak Wira.
"Tujuan kita bukan untuk bersenang-senang!" geram Rubby pada sahabatnya itu.
"Sorry, bro. Kebawa alur," jawab Wira sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kita cari wanita dulu, cari informasi mengenai ibunya Khanza. Siapa nama mertuamu?" tanya Wira kemudian.
Rubby menepuk keningnya sendiri, kenapa ia lupa tak menanyakan nama ibunya Khanza pada Seno.
"Jangan bilang kalau kamu tidak tahu nama mertuamu?" kata Wira.
"Kita cari saja wanita yang berkuasa di sini, mereka pasti pada kenal 'kan?" ujar Rubby.
"Ah ... Baiklah, aku yang bekerja untuk ini." Mata Wira mulai mencari mangsa, hingga tatapannya menangkap sesosok perempuan yang terlihat sangat aduhai di mata para lelaki hidung belang sepertinya.
Wira menghampiri wanita tersebut, bahkan ia melambaikan tangannya ke arah wanita itu. Perempuan bertubuh aduhai itu menghampiri Wira, dengan genitnya ia mengigit bibir bawahnya mencoba menggoda Wira.
"Siapa namamu?" tanya Wira setelah perempuan itu tepat di hadapannya. Karena posisi Wira sedang duduk, wanita itu langsung mendaratkan tubuhnya di pangkuan Wira.
"Namaku Meli," bisik wanita penggoda itu tepat di telinga Wira sembari mengigit kecil telinganya.
Sedangkan Rubby yang melihatnya, ia langsung bergidik ngeri. Tidak disangka ia memiliki teman playboy cap kampak seperti Wira.
Wira kembali melambaikan tangannya, namun kali ini ia arahkan ke arah Rubby. Rubby pun akhirnya mendekat dan ikut duduk bersama Wira dan perempuan yang belum ia ketahui namanya itu.
"Gimana? Sudah ada informasi?" tanya Rubby, ia tak suka bertele-tele. Apa lagi menyangkut keselamatan Khanza.
"Santai dong, bro. Jangan bikin curiga di sini, lihat ..." Tunjuk Wira ke arah beberapa pria bertubuh besar. Sudah dipastikan kalau mereka berulah di sana pasti babak belur. Wira tahu betul tempat ini.
Tidak mau basa-basi, Rubby langsung mengeluarkan uang segepok dan menyodorkan ke arah wanita yang kini masih di pangkuan Wira. Meli melihat Rubby mengeluarkan sebuah amplop, wanita itu langsung pindah tempat. Ia kira pria yang menyodorkan uang padanya akan mengajaknya untuk berkencan malam ini.
Nyatanya tidak, Rubby langsung menggeserkan tubuhnya sedikit menjauh dari wanita itu, sampai Meli terheran dibuatnya.
"Sudah, duduk manis di situ saja!" Rubby tidak suka wanita itu dekat-dekat dengannya.
__ADS_1
Kalau tidak dibutuhkan untuk apa uang ini diberikan padanya, pikir Meli.
"Jadi gini, kami minta kerja sama denganmu," kata Wira. "Siapa yang berkuasa di club ini?" tanya Wira pada Meli.
"Kalian polisi?" duga Meli.
"Bukan ... Kami sedang mencari seseorang di sini, saya harap kamu bisa membantu kami," jelas Wira.
"Yang berkuasa di sini Mami Rosa, tapi dia sedang tidak ada," jawab Meli.
"Di mana wanita itu?" desak Rubby.
Meli menggelengkan kepalanya, sepertinya tidak mudah bagi Rubby mengorek informasi mengenai mami Rosa. Pada akhirnya, Rubby kembali mengeluarkan uang yang ada di dalam dompetnya. Ia memberikan uang itu pada Meli.
Tentu, Meli tidak menolak. Ia langsung mengambilnya, dan membisikan sesuatu pada Rubby.
Rubby melihat ke arah Wira, dan kini mereka saling tatap.
"Wanita itu ada di dalam," bisik Rubby pada Wira sambil mengarahkan matanya ke arah pria bertubuh besar itu. Bagaimana caranya agar Rubby bisa masuk ke dalam sana? Pria sebanyak itu bukan tandingannya.
Di dalam ruangan yang gelap seorang perempuan diikat, dengan mulut yang disumpal dengan kain. Wanita itu baru tersadar. Ya, wanita itu adalah Khanza.
Khanza membuka matanya secara perlahan, tatapannya melihat sesosok wanita yang terlihat sangat glamore. Irama musik dari luar terdengar jelas di pendengaran Khanza.
"Di mana ini?" Khanza tak mengenali tempat ini. Karena wanita itu mulai mendekat Khanza mulai ketakutan, bahkan wanita itu mencengkram kedua pipinya dengan satu tangan dan tangan satunya lagi mulai membuka sumpalan kain yang ada di mulut Khanza
"Selama belasan tahun akhirnya kita bertemu juga," kata wanita itu sembari menyeringai penuh arti.
"Mama," ucap Khanza tiba-tiba.
Mendengar Khanza memanggilnya mama, wanita itu langsung terbahak. Sedangkan Khanza ia malah bingung di sini, kalau wanita itu mamanya kenapa orang itu menyakitinya dengan cara mengikatnya seperti ini.
"Ma, ini Khanza! Apa Mama lupa pada anak yang Mama buang lima belas tahun yang lalu?" Khanza mencoba mengingatkan wanita itu dengan kejadian dimasa lalunya.
__ADS_1
Wantia itu kembali terbahak, kemudian tawa itu hilang. Kini ia memiliki ide agar dendamnya terbalaskan kepada seseorang yang telah menjadikan sebagai wanita hina seperti sekarang. Sekarang saatnya ia membalaskan dendam yang selama ini pendam.
Dulu, ia menculik anak gadis berusia tiga tahun dan berharap anak itu mati, tapi nyatanya tidak. Anak itu kini tumbuh menjadi wanita manis, kalau ia jadikan wanita itu sebagai wanita penghibur pasti akan menjadi primadona di sini. Tak peduli dengan status Khanza yang sudah menikah.
Ya, Rosa tahu Khanza sudah menikah. Kejadian kemarin membuat Rosa tahu siapa wanita yang terlibat pertengkaran dengan pengusaha dan model cantik yang bernama Jihan itu. Yaitu adalah Khanza. Anak gadis yang ia buang lima belas tahun silam. Dari situ, Rosa memata-matai Khanza. Hingga kini ia mendapatkan Khanza dengan tangannya sendiri.
"Ma, lepaska Khanza!" Khanza memohon pada wanita yang ia anggap sebagai ibu kandungnya.
"Baiklah, saya akan membebaskanmu. Namun dengan satu syarat."
"Apa syaratnya, Ma?"
"Puaskan pelanggan di sini," kata Rosa dengan tatapan tajam sampai Khanza takut melihatnya.
"Tidak, Ma! Aku gak mau menjadi wanita hina." Khanza sudah menangis karena takut. "Aku sudah menikah, Ma. Bahkan aku sedang mengandung anak dari Mas Rubby." Khanza begitu memohon.
"Hamil, wanita itu hamil?" Rosa jadi teringat bagaimana dulu sewaktu ia hamil dan diperlakukan dengan kasar karena hanya ketahuan selingkuh dengan suami yang menjadi ibunya Khanza.
Rosa adalah wanita simpanan dari ayahnya Khanza. Rosa memang sengaja menculik Khanza untuk membalaskan dendamnya, ia sakit hati oleh ibunya Khanza. Karena Rosa pernah berada dititik yang dialami Khanza sekarang, wanita itu memberi ruang untuk Khanza malam ini.
Ia membiarkan Khanza malam ini, dan mulai besok, Khanza akan mengalami apa yang dialaminya sewaktu dulu. Rasa sakit yang ditorehkan ibunya Khanza begitu membekas di hati Rosa.
Rosa keluar dari persembunyiannya, para pengawal langsung membukakan pintu untuknya.
"Jaga ruangan ini, pastikan tidak ada yang masuk ke dalam!" titah Rosa pada anak buahnya.
Wira yang melihat seseorang keluar dari ruangan yang diintainya langsung memberi kode pada Rubby. Wira menyikut tangan Rubby agar pria itu menoleh ke arahnya.
Rubby mengangkat wajahnya seraya bertanya. "Ada apa?"
Wira menunjuk ruangan tadi menggunakan wajahnya, Rubby pun akhirnya melihat seseorang keluar dari dalam sana.
"Apa mungkin istrimu ada di dalam sana?" tanya Wira.
__ADS_1
"Kita harus selidiki ini, jangan sampai wanita itu tahu tujuan kita," kata Rubby.
Bersambung.