
Dua hari sesudah kejadian Dion dan Mawar menjalin hubungan.
Di kediaman Rubby.
Di sana terlihat begitu ramai, karena Khanza akan menyelenggarakan acara tujuh bulanan.
"Za, sebaiknya kamu istirahat saja. Jangan ikut-ikutan," kata Zira.
"Aku bosan Ma jika tidak melakukan apa-apa," jawab Khanza.
"Ya sudah, jangan mengerjakan yang berat-berat," kata Zira lagi.
Karena di rumah Khanza sedang membuat kue untuk menyambut para tamu, sebagian pesan, sebagiannya lagi buat sendiri. Karena Khanza yang menginginkannya, semua asisten Zira dikerahkan di rumah Rubby.
Rumah Khanza juga didekor begitu indah. Semuanya telah disiapkan oleh Rubby, ia ingin momen ini berkesan dalam hidupnya. Menyambut kelahiran si jabang bayi yang sangat dinantikan olehnya.
Wajah Khanza yang bersinar membuatnya jadi pusat perhatian orang di sana. Bumil itu terlihat sangat cantik sekali, terlihat wajahnya yang berseri-seri, ia begitu bahagia menjadi istri Rubby Anggoro.
Rubby menghampiri istrinya yang sedang ikut berkumpul bersama sang para asisten di sana. Khanza yang begitu ramah pada semua orang, Rubby sendiri menjadi bangga akan sikap istri kecilnya itu.
"Mas," sapa Khanza ketika sang suami menghampirinya.
"Kamu sedang apa?" tanya Rubby.
Khanza hanya tersenyum manis menanggapi ucapan suaminya. Rubby mendekatkan diri pada sang istri, lalu meraih tangannya membantu bumil itu beranjak dari tempatnya.
"Sudah, kamu jangan di sini. Mending kita ke depan," ajak Rubby.
Khanza dan Rubby pun akhirnya ke depan rumahnya, Khanza yang belum tahu akan kondisi rumahnya, kini ia melihatnya begitu takjub. Benarkah semua ini? Khanza merasa ini mimpi, walau ia tak merasakan pesta pernikahan tapi terbayar dengan acara syukuran yang diselenggarakan hari esok.
"Terimakasih, Mas," ucap Khanza yang telah menyiapkan semuanya.
"Hmm," jawab Rubby singkat.
***
Di tempat lain.
Dion yang baru pertama kali diajak Mawar ke rumahnya, Mawar akan mengenalkan Dion pada neneknya. Tapi sayang, sang nenek sedang pergi ke pasar. Jadi Dion terpaksa menunggu nenek Mawar pulang dari sana.
__ADS_1
Karena ini hari Sabtu, jadi Dion dan Mawar pun libur dari kantor. Ia datang kemari bukan hanya sekedar meminta restu, Dion berencana mengajak Mawar ke rumah Rubby yang akan mengadakan acara tujuh bulanan.
"Mawar, Nenek masih lama ya?" tanya Dion. Pria itu sudah deg-degan, karena akan bertemu dengan nenek sang kekasih. Dari rumor gosip yang ada, nenek terdengar angkuh. Itu membuat Dion sedikit cemas, takut nenek Mawar tidak merestui hubungannya.
"Tunggu sebentar lagi, Nenek pasti cepat kembali. Aku sudah bilang pada Nenek, akan ada tamu hari ini." Mawar belum menceritakan perihal hubungannya dengan Dion. Mawar ingin Dion sendiri yang meminta izin pada neneknya.
Tak lama, terdengar suara motor di luar sana. Sang nenek yang baru sampai di depan rumahnya langsung disambut oleh Mawar, sementara Dion, pria itu menunggunya di luar.
Nenek turun dari motor Khalid, Khalid yang mengantar neneknya ke pasar. Sang nenek melihat mobil mewah terparkir di pekalangan rumahnya. Lalu sang nenek melihat ke arah Mawar, wanita tua itu meminta penjelasan dari cucunya mengenai mobil itu.
Mawar melingkarkan tangannya di tangan sang nenek. Lalu mengajaknya ke dalam rumah, disusul oleh Khalid dari luar membawakan keranjang belanjaan neneknya.
"Siapa dia, Mawar?" tanya nenek ketika ia melihat pria asing tengah duduk di rumahnya.
Dion yang mendengar suara langsung berdiri dari posisinya, dan menyimpan ponsel yang sempat ia mainkan ke dalam saku celananya.
"Dia Mas Dion, Nen," jawab Mawar.
"Dion atasanmu itu?" bisik nenek di telinga cucunya. Diangguki oleh Mawar.
Dion yang masih beridiri dihampiri oleh nenek Mawar lebih dekat. Nenek melihat Dion dari ujung kaki sampai ujung kepala, nenek melihat pria itu sudah sangat dewasa sekali.
"Oh iya, Mas. Kenalin, ini Khalid sepupuku," kata Mawar langsung memperkenalkan Dion pada Khalid. Khalid pun mengulurkan tangannya pada Dion, wajah Dion sudah pamiliar di mata Khalid, karena pria itu sering melihat wajahnya terpangpang di layar ponsel milik Mawar.
Setelah berkenalan, Khalid pergi ke dapur. Sementara sang nenek, wanita itu langsung melucurkan pertanyaan dari mulutnya.
"Apa tujuanmu datang kemari?" tanya nenek tanpa basa-basi.
"Kedatangan saya kemari ingin meminta restu pada Nenek," jawab Dion. Ia tidak ingin bertele-tele mengenai hubungannya dengan Mawar. "Saya ingin segera menghalalkan hubungan kami," sambung Dion kembali.
Nenek tidak langsung percaya akan pria itu.
"Kamu mau menikahi Mawar? Mau dijadikan istri yang kebarapa cucu saya?"
Dion nampak terkejut dengan pertanyaan sang nenek. Mentang-mentang sudah berumur, nenek Mawar sampai menduga kalau Dion sudah berkeluarga.
"Nenek, Mas Dion belum menikah, Nek," sahut Mawar.
"Kamu diam saja, Nenek tidak mau kamu tertipu oleh laki-laki ini," ucap nenek. Nenek mendelikkan matanya ke arah Dion.
__ADS_1
Tidak terima dengan ucapan nenek Mawar, Dion langsung mengeluarkan KTP-nya. Pria itu menunjukkan statusnya pada sang nenek.
"Ini bukti bahwa saya belum berkeluarga. Saya sungguh-sungguh ingin menikahi Mawar, Nek. Kalau Nenek masih belum percaya, Nenek bisa ikut hari ini ke Jakarta. Kedatangan saya kemari bukan sekedar miminta restu dari Nenek." Dion menjeda ucapannya sebentar karena sang nenek langsung berucap.
"Selain restu, apa lagi yang kamu inginkan?" tanya Nenek.
"Izin, saya akan mengajak Mawar bertemu dengan keluarga saya, Nek. Di sana sedang mengadakan acara, dan saya ingi Mawar ikut."
Nenek Mawar melihat ke arah cucunya, ia juga ingin cucunya itu bahagia dengan pilihannya. Wajah Mawar terlihat mengiba, ia berharap sang nenek merestui hubungannya dan mengizinkannya pergi bersama Dion.
"Nenek restui saja hubungan mereka," timpal Khalid. Khalid memang tidak mengenal Dion, tapi pria itu cukup dikenal di Bandung, karena perusahaan yang dikelola Dion cukup besar. Bahkan teman-teman Khalid sebagian bekerja di perusahaan itu.
"Apa kamu bisa menjamin kalau pria ini, pria baik-baik?" tanya nenek pada Khalid mengenai Dion. Dion merasa tersindir dengan ucapan neneknya Mawar. Tapi pria itu tidak marah, karena Dion mengerti, nenek mana yang ingin cucunya tersakiti?
"Khalid yakin, Dion pria baik-baik." Khalid sangat membantu hubungan Mawar dan Dion, Mawar tidak percaya, sepupunya yang sering membuatnya kesal itu bisa berbuat demikian.
Karena bujukan Khalid, nenek pun akhirnya merestui hubungan Mawar dan Dion, dan mengizinkan Dion mengajak Mawar ke kota.
"Terimakasih, Nek." Mawar memeluk neneknya itu dengan kasih sayang.
"Nenek mau kamu bahagia, Mawar." Nenek pun membalas pelukkan cucunya.
Karena sudah mendapatkan restu, Dion dan Mawar pun langsung berangkat hari ini ke kota. Ia akan mengikuti acara syukuran yang akan diselenggarakan hari esok di kediaman keponakannya itu.
***
Dion terus saja mencium tangan Mawar dikala sedang menyetir.
"Mas," panggil Mawar.
Dion pun menoleh sekilas.
"Apa?" jawab Dion.
"Kok, aku jadi deg-degan ya?"
"Santai saja, Mbak Laras 'kan sudah merestui kamu sebagai calon iparnya. Dia menyukaimu, Mawar, jadi tidak perlu takut dia pasti seneng mendengar hubungan kita."
Bersambung.
__ADS_1