
"Bicara apa, Mas?" Hati Jihan sudah gemetar, ia takut suaminya meninggalkannya.
"Maafkan, Mas." Rubby menjeda ucapannya terlebih dulu, ia menghirup oksigen sebanyak-banyak sebelum ia melanjutan percakapannya dengan Jihan.
Rubby meraih tangan istrinya dan menggenggamnya begitu erat. Tatapan mereka saling beradu, Jihan sedang menunggu ucapan Rubby. Ia harap-harap cemas, hatinya sudah dag, dig, dug tak karuan.
"Apa, Mas?" desak Jihan.
Rubby begitu berat dengan ini, tapi ia tak bisa membagi cintanya.
"Kamu berhak bahagia, Jihan. Maaf, Mas tidak bisa lagi membahagiankanmu," lirih Rubby.
Perlahan, Jihan melepaskan pegangan tangan suaminya. Belum Rubby mengucapkan talak, Jihan sudah tahu apa maksud dari suaminya.
Jihan pun menggelengkan kepalanya sembari menangis.
"Gak, Mas! Kamu kebahgaiaanku. Tidak ada yang bisa membahagianku selain dirimu!" Tangis Jihan pecah, bahkan ia tersungkur di lutut suaminya.
"Maafkan aku, Mas ... Tidak bisakah kamu memaafkanku," ucap Jihan yang terus menangis. "Aku tahu aku salah, tapi tolong ... Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku gak bisa hidup tanpamu, Mas." Seketika tubuh Jihan melemas, tubuhnya ambruk di hadapan Rubby.
Rubby yang panik langsung mengangkat tubuh Jihan dan membawanya ke tempat tidur. Rubby terus menepuk-nepuk pipi istrinya, namun Jihan tak kunjung sadar.
Wanita itu terlalu shock. Mata Jihan sembab, dan Rubby tahu itu. Kini Rubby bimbang, kenapa begitu sulit melepas Jihan, apa lagi istrinya itu mulai berubah.
Rubby harus tetap menetapkan hatinya. Ia tidak boleh goyah, Jihan seperti ini hanya sementara. Lambat laun, Jihan pasti menerima kenyataan bahwa cinta memang tidak bisa dipaksan. Pikir Rubby.
Satu jam kemudian, Jihan pun sadar. Rubby yang masih menemaninya langsung menghampirinya dan membantu Jihan untuk duduk.
Namun bagi Jihan, perlakuan Rubby itu hanya sebatas rasa kasihan. Jihan pun kembali menangis, ia menekuk kedua kakinya dan menelusupkan wajahnya dikedua lututnya.
__ADS_1
Rubby mengusap sudut matanya sendiri, ia pun ikut menangis melihat kondisi Jihan. Setidaknya, Jihan sudah mengisi hari-harinya selama lima tahun terakhir. Memang tidak mudah bagi mereka untuk mengakhiri semuanya, apa lagi bagi Jihan. Wanita itu masih sangat mencintai suaminya.
Tapi, Tuhan berkehendak lain. Takdir yang membuat mereka harus berpisah. Sebenarnya, mereka masih bisa bersama. Tapi sekarang ada Khanza yang menemani keseharian Rubby. Ia tak mungkin menyakiti istri kecilnya.
Egois memang, tapi itulah kenyataannya. Rubby tidak bisa lagi bersama Jihan. karena sudah membuat Jihan terluka, Rubby menghampiri Jihan dan mendekatkan diri ia ikut duduk di samping Jihan yang masih berstatus istrinya, karena Rubby belum mengucapkan talak. Rubby menarik tubuh Jihan ke dalam pelukkannya.
"Sudah ... Jangan menangis terus," ucap Rubby.
Jihan mendongakkan wajahnya ke arah suaminya.
"Mungkin bagimu mudah untuk melupakan semuanya, Mas. Aku pasti kesulitan tanpamu." Jihan menyandarkan kepalanya di dada bidang Rubby. Entah berapa kali ia menangis dalam satu malam?
Hidup Jihan sudah hancur berkeping-keping. Kini hanya tinggal penyesalan yang ia rasakan.
"Jihan?" panggil Rubby.
"Iya, Mas." Walau Jihan sedang kacau ia masih bisa merespon.
"Aku yang harusnya minta maaf, salahku terlalu banyak sampai Mas memutuskan untuk pergi dariku," lirih Jihan.
Mereka bicara dari hati ke hati, Jihan yang mulai menyadari bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan. Apa Jihan akan merelakan suaminya pergi dari hidupnya dan menerima kenyataan bahwa suaminya itu akan hidup bersama wanita lain? Hanya Jihan yang tahu.
Lama dalam posisi itu, membuat Jihan tertidur. Wanita itu mungkin merasa lelah, lelah karena beberapa hark terakhir ini banyak pikiran yang menggerotinya.
Rubby melihat ke arah wajah Jihan, dilihatnya wanita itu sudah tidur. Rubby pun mulai merubahkan posisinya, kini ia membaringkan tubuh Jihan kembali di kasur. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Jihan yang ramping itu.
Rubby pun mulai pergi dari kamar yang selama ini menjadi saksi bisu disetiap malamnya. Sebelum Rubby benar-benar keluar, ia membalikkan tubuhnya dan melihat kesekeliling kamar dari ambang pintu.
Banyak kisah di kamar ini, canda tawa sering ia lalui bersama Jihan sebelum istrinya itu menjadi model. Akhirnya Rubby pun keluar dan menutup pintu. Pria itu pergi ke ruang kerja.
__ADS_1
Rubby membuka laptopnya, ia melihat kembali poto-poto kenangan manis bersama Jihan. Senyumnya tersimpul, namun senyum itu hanya sesaat. Ia tak ingin mengingat masa manisnya bersama Jihan, ia pun menutup laptopnya kembali.
Kini, Rubby beranjak. Ia berjalan ke arah jendela, lalu melihat ke arah luar. Merasa gerah, Rubby membuka jendelanya sedikit agar udara masuk menerpa tubuhnya. Lama berdiri di dekat jendela sampai ia melamun, ponsel miliknya bergetar membuyarkan lamunannya.
Rubby pun merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celananya. Dilihatnya ID di layar, tertulis nama Dion di sana.
"Ada apa, Om?" tanya Rubby. Rubby memanggil Dion om hanya kadang-kadang saja. Bahkan Dion saja tidak suka dipanggil om, karena kesannya sudah tua. Pikir Dion.
"Kamu di mana?" tanya Dion basa-basi.
"Di rumah, kenapa memangnya?" tanya Ribby balik.
"Gak apa-apa, hanya sekedar ingin tahu saja." Padahal Dion berharap Jihan yang mengangkat telepon darinya, berhubung Dion tidak memiliki nomor Jihan jadi ia menghungi Rubby.
"Kalau ada yang penting, kita ketemu di kantor saja besok," kata Rubby. Rubby sedang tidak mood hari ini, ia pun menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari omnya itu. Lantas, ia pun pergi.
Sementara Dion, pria itu mendengus kesal. Karena sambungan sudah terputus, Dion kembali menatap layar ponselnya.
Dilihatnya poto-poto Jihan yang tersimpan di galeri ponselnya. Karena Jihan seorang model, mudah bagi Dion memiliki potret Jihan. Sudah sejak lama Dion memendam perasaan pada istri keponakannya itu. Bahkan sebelum Rubby kenal dengan Jihan, Dion lebih dulu kenal dengan wanita itu. Belum Dion mengungkapkan perasaannya pada Jihan, hati Jihan sudah tertutup untuk pria lain.
Jihan lebih dulu mencintai Rubby ketibang Dion. Karena Dion lamban dalam urusan cinta. Jihan satu sekolah dengan Dion sewaktu SMA, tak lama, Rubby pun sekolah di sekolahan yang sama dengan Dion. Mereka beda kelas, Dion dan Jihan satu kelas, sedangkan Rubby adik kelas mereka.
Dion jadi mengenang masa lalunya dengan Jihan. Awalnya Dion tersenyum memandangi wajah Jihan yang terpang-pang di layar ponselnya, lambat laun senyum itu hilang seketika. Andai Dion memiliki kesempatan untuk mendapatkan Jihan, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Bahkan Dion berharap Rubby berpisah dengan istrinya, walau itu mustahil. Pikir Dion. Dion tidak tahu saja kalau pernikahan Rubby kini sedang ada diujung tanduk. Sadar akan pemikirannya yang jelek, Dion pun menggelengkan kepalanya.
***
Khanza terus membolak-balikkan tubuhnya, ia tak dapat tidur malam ini. Ia terus memikirkan Rubby, sedang apa pria itu?
__ADS_1
Karena posisi Khanza meringkuk, tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang. Sontak membuat Khanza terkejut, dan ....
Bersambung.