Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 15


__ADS_3

"Tuan kenapa? Kok, malah bengong?" tanya Khanza setibanya di dalam mobil.


Namun Rubby tak merespons, pria itu berjibaku dalam pemikirannya.


"Tuan ..." Khanza mengguncangkan tubuh Rubby. Rubby pun terkesiap, melirik ke arah Khanza sekilas. Lalu, ia menyalakan mobil dan mobil langsung melaju.


Jiuusss ....


Mobil itu melesat membelah jalan ibu kota yang begitu ramai dengan kendaraan. Tak ada percakapan diantara Rubby dan Khanza, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Khanza diam karena Rubby mendiamkannya, kenapa pria itu? Pikir Khanza. Sedangkan Rubby, belum menikah, ia sudah berpikir jauh. Khanza masih muda tentu banyak laki-laki yang akan mekiriknya nanti jika usia Rubby semakin bertambah. Melihat pria kecil tadi saja, Rubby sudah cemburu.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di butik ternama di kota itu. Khanza sudah tidak asing lagi dengan butik itu, karena butik itu cukup terkena. Hampir setiap hari ia melintas ke sana, sewaktu sekolah dulu.


Namun baru kali ini ia akan masuk ke dalam sana, dan membeli baju di sana yang tak pernah ada dalam benaknya sekali pun. Khanza terpaku akan seisi butik itu, baju-bajunya sangat bagus. Gadis itu menangkup pipi dengan mulut menganga.


Tak percaya ia menjadi tamu di sana. Sepertinya Rubby memang sudah mempersiapkan ini, lihat ... Pengunjung yang lain tidak terlihat satu orang pun. Rubby membooking tempat itu khusus untuk Khanza.


Walau pernikahannya sederhana, tapi ia mau ini menjadi momen yang tak terlupakan bagi gadis kecil itu. Khanza masih terdiam mematung di dekat pintu, Rubby meraih tangan Khanza.


"Ayo ...," ajak Rubby. "Kamu pilih baju mana yang kamu inginkan." Rubby menuntun Khanza ke dalam sana.


"Siang, Tuan," sambut pegawai itu dengan senyum ramah. "Silahkan, Nona. Dipilih bajunya," ucap pegawai itu lagi, namun kali ini pada Khanza.


Khanza memindai seluruh baju yang terpajang di sana. Namun, tak ada baju yang ia lirik. Bukan bajunya jelek. Khanza hanya merasa tidak pantas jika ia memakai baju keluaran butik itu. Bukan baju kaleng-kaleng yang tersedia di sana. Barang branded, limitide edision.


"Ayo pilih, Khanza. Baju mana yang kamu suka," ucap Rubby yang berdiri di samping Khanza.


Khanza menggelengkan kepalanya, ia merasa itu tak cocok dengannya.


Tak lama dari situ, datang manager butik menghampiri Rubby.


"Siang, Tuan. Mau cari baju model seperti apa?" tanya manager itu.

__ADS_1


"Carikan kebaya yang bagus untuknya," jawab Rubby sembari melirik ke arah Khanza.


Manager itu mengangguk, lalu mengajak Khanza untuk mencoba kebaya yang di maksud Rubby. Seperti anak ayam yang nurut pada induknya, Khanza mengekor dari belakang. Sedangkan Rubby, pria itu hanya menunggu.


Manager yang bernama Mira itu menyuruh Khanza membuka baju dan menyuruhnya lagi mencoba kabaya. Khanza terlihat sangat cantik setelah memakai kebaya yang berwarna putih, model bajunya memperlihatkan bagian atas dadanya. Baju itu melekat sempurna di tubuh mungil itu.


Khanza keluar, ia memperlihatkan baju itu pada Rubby. Rubby yang tadinya sedang memainkan poselnya, langsung menghentikannya kala mendengar derap langkah yang tak asing lagi baginya. Rubby melihat ke arah Khanza, hanya satu kata yang keluar dari mukut Rubby.


"Cantik."


Sedangkan Khanza, ia menutup bagian dadanya yang sedikit terbuka. Ia malu tak terkira. Pria mesum itu pasti suka dengan baju ini, pikir Khanza. Khanza masih menunduk malu.


Rubby pun beranjak dari duduknya, pria itu menghampiri Khanza. Rubby meraih dagu gadis itu, ia ingin melihat wajah manis Khanza. Tak hanya itu, Rubby melepaskan tangan Khanza yang masih melekat di dadanya.


"Jangan ditutup, itu tidak terlalu terbuka," ucap Rubby setelah berhasil menurunkan tangan gadis itu.


"Malu," kata Khanza.


"Kenapa mesti malu, saya sudah melihatnya, bahkan semuanya." Rubby tersenyum nakal.


"Bagaimana, Tuan. Apa bajunya sudah cocok?" tanya Mira.


Rubby mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu suka 'kan dengan baju ini?" tanya Rubby. "Saya ingin, kamu terlihat cantik besok. Dan momen ini akan menjadi sejarah bagimu," ucapnya lagi.


"Terserah Tuan saja," jawab Khanza dengan polos.


"Saya pilih baju ini," ujar Rubby pada Mira, diangguki oleh Mira sendiri.


Khanza kembali mengikuti Mira untuk melepaskan baju itu, selesai membuka baju dan mengganti dengan baju yang lain Khanza kembali. Tapi ia tak melihat Rubby di sana.


"Kemana dia?" tanya Khanza sendiri.

__ADS_1


Khanza pun mencari keberadaan Rubby, hingga pada akhirnya. Khanza melihat keberadaan Rubby. Namun matanya terbelalak ketika melihat Rubby berada di tempat pakaian wanita, apa lagi tempat terlarang bagi para lelaki.


"Ishh ... Ngapain pria itu di sana?"


Khanza menghampiri Rubby lebih dekat, ingin tahu sedang apa pria itu.


Rubby sedang memilih-milih baju tidur wanita, tak tanggung-tanggung. Pria itu mengambil beberapa daleman dan baju-baju ****si yang akan ia berikan pada Khanza dan menyuruh Khanza memakainya di malam pertamanya nanti.


Rubby belum menyadari akan kehadiran Khanza di belakangnya. Pria itu senyum-senyum sendiri, sudah membayangkan malam pertama dengan Khanza. Pasti lucu, pikir Rubby.


"Ehem ..." Deheman Khanza membuyarkan pikiran mesum pria itu.


"Sedang apa Tuan di sini? Itu juga, untuk apa baju kekurangan bahan itu?" Khanza menyebut baju itu kekurangahn bahan saking tidak sukanya.


Rubby menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia malu sendiri ketika gadis kecil itu memperegokinya. Tadinya ia ingin memberikan sureprise pada Khanza. Tapi sayang, sepertinya Khanza tidak suka dengan baju itu. Lebih tepatnya bukan tidak suka, Khanza tidak tahu kegunaan baju keramat itu.


"Dasar mesum! Sudah tua masih memikirkan begituan," maki Khanza dalam hati pada pria itu.


Rubby pun meletakkan baju keramat itu kembali pada tempatnya. Dan Khanza pun langsung tersenyum, Khanza bernapas lega Rubby tidak jadi membelinya. Tapi sayang, ketika Khanza berjalan membelakangi Rubby. Rubby menyempatkan meraih baju itu lagi, namun kali ini tidak diketahui oleh Khanza.


Rubby membayar semua baju itu, setelah itu ia menemui Khanza yang duduk di sofa sedang menunggunya.


Mereka pun keluar dari butik, dan sekarang mereka akan mengunjungi mal terbesar di sana. Khanza belum tahu kemana lagi Rubby akan membawanya, Mereka pun masuk mobil, mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Khanza melihat jalan sekitar, kali ini ia bersuara.


"Kita akan kemana lagi?" tanya Khanza.


"Beli cincin," jawab Rubby tanpa menoleh ke arah Khanza. Pria itu fokus pada kemudinya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di mal. Rubby orangnya tidak bertele-tele, ia langsung mengunjungi toko perhiasan. Memilih cincin yang cocok untuk Khanza, hingga pada akhirnya ia menemukan cincin yang sangat pas di jari Khanza.


Khanza masih belum percaya akan hal ini. Jadi istri dari pria yang sudah beristri.

__ADS_1


Berasambung.


__ADS_2