Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 19


__ADS_3

Khanza juga memeluk ibunya.


"Ma, maafin Khanza ya? Jasa Mama tidak akan aku lupakan."


Seketika di masjid itu jadi mengharu biru. Rubby pun ikut meneteskan air matanya. Khanza masih sangat butuh kasih sayang orang tuanya. Namun, ia telah memisahkan Khanza dengan orang tuanya.


Tapi Rubby tak melarang jika Khanza ingin bermain atau bermalam di rumah orang tuanya. Setelah acara perpisahan selesai, Khanza akhirnya pergi dan ikut bersama Rubby. Sedangkan Bayu, ia masih ada tugas dari Rubby.


Bayu menghampiri kedua orang tua Khanza, dan memberikan amplop cokelat yang berisi uang.


"Pak Seno, ini ada titipan dari Tuan Rubby. Semoga Bapak mau menerimanya," kata Bayu.


Awalnya Seno menolak, ia ikhlas merawat Khanza. Namun Bayu memaksa, akhirnya Seno pun menerimanya.


"Terimakasih," ucap Seno. Bayu mengangguk lalu pergi dari masjid, ia kembali ke kantor karena di kantor banyak kerjaan. Ia mengalah demi tuannya, padahal ia juga harus mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahannya sendiri.


Sedangkan Rubby, pria itu langsung mengajak Khanza ke seseuatu tempat yang di mana ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk melancarkan acara malam pertamanya. Ia ingin ini menjadi momen untuk mereka berdua yang tak bisa mereka lupakan dalam sejarah di hidupnya. Khanza belum tahu kemana ia akan pergi bersama suaminya.


"Kita mau kemana?" tanya Khanza ketika ia menyadari bahwa ini bukan jalan menuju apartemen.


"Kesesuatu tempat, kamu pasti suka," jawab Rubby.


Khanza mengerutkan kedua alisnya semakin was-was saja perasaannya. Di dalam mobil, Rubby tak henti-hentinya memainkan jari-jari milik Khanza. Dari mulai membolak-balik tangannya, dan beberapa kali ia mencium punggung tangan Khanza. Sampai membuat otak Khanza traveling ke mana-mana.


Khanza terus menggeleng-geleng kepalanya menepis isi dari dalam otaknya.


"Tidak! Tidak ..."


"Kamu kenapa? Kepalamu pusing?" tabak Rubby.


Pikiran Khanza pun akhirnya buyar.


"Enggak," jawab Khanza singkat.

__ADS_1


"Sini." Rubby menarik kepala Khanza dengan lembut untuk bersandar di bahunya.


Khanza pun mendaratkan kepalanya.


"Apa masih jauh?" tanya Khanza.


"Iya, kamu tiduran saja. Nanti saya bangunkan kalau sudah sampai."


Tadinya ia tidak mengantuk, namun beberapa menit kemudian, Khanza menguap terus. Pada akhirnya, ia tertidur dengan sendirinya.


Ketika Khanza tidur, tiba-tiba ponsel milik Rubby bergetar karena memang hanya menggunakan getaran tanpa suara.


Drrt, drrt, drrt ...


Rubby pun melihat ID pemanggil, alisnya mengkerut. Tumben sekali dia menghubunginya, pikir Rubby. Namun Rubby tak mengangkatnya, ia sengaja tidak mengangkatnya, biar istrinya itu berpikir.


Ya, yang menghubungi Rubby adalah Jihan, apa wanita itu memiliki kontak batin pada Rubby yang sudah mengkhianatinya. Lalu, bagaimana ini? Apa yang akan dilakukan Rubby sekarang?


Sebenarnya hati Rubby juga gelisah sudah beberapa hari tidak ada kabar dari Jihan, walau bagaimana pun Jihan masih istrinya. Tak mudah memang melupakan semuanya, apa lagi rumah tangga yang dijalani Rubby dan Jihan tidaklah sebentar. Hati Rubby mulai berkecamuk.


Pria itu pun terkesiap dari lamunannya, dilihatnya Khanza yang masih terlelap. Tak tega membangunkan istrinya, akhirnya Rubby pun menggendong tubuh mungil itu turun dari mobil. Rubby langsung saja membawa Khanza masuk ke dalam vila.


Rubby mengajak Khanza ke vila keluarganya. Ia membopongnya ke dalam kamar vila itu. Vila yang cukup bagus dengan pemandangan yang indah. Vila itu terletak tidak jauh dari bibir pantai, deru ombaknya masih terderang ke sana.


Rubby merebahkan tubuh Khanza di kasur yang begitu sangat empuk dan nyaman. Kelopak bunga yang sudah bertebaran di atas kasur sampai di sudut kamar, hingga bunga mawar itu begitu tercium aromanya.


Khanza sampai tak terganggu dari tidurnya, gadis itu begitu nyenyak. Rubby memandang wajah Khanza dengan intens, dari mulai kening, kelopak mata, hidung, dan yang terakhir di bibir Khanza. Ia mengusap lembut bibir itu, bibir yang sudah menjadi candu baginya.


Tidak ingin menganggu tidur istrinya, ia pun beranjak. Ia akan membersihkan tubuhnya terlebih dulu, karena hari semakin siang. Ketika Rubby akan masuk ke dalam kamar mandi, ponsel Rubby kembali bergetar. Namun kali ini ia tak mengetahuinya.


Di tempat lain.


Jihan, istri pertama Rubby nampak cemas tak biasa suaminya itu mengabaikan dirinya.

__ADS_1


"Apa Mas Rubby masih marah ya?" tanya Jihan sendiri sembari menatap layar yang masih terhubung memanggil nama suaminya. Sudah empat hari ini ia tidak berkomunikasi dengan suaminya.


Jihan pergi ke sebuah pulau yang terletak di Bali. Mungkin karena susah signal membuat handponenya selalu tidak aktif karena ia pergi ke pelosok. Melakukan pemotretan untuk majalah dewasa.


Bahkan Jihan sudah mengemas barang-barangnya, sudah dipastikan bahwa ia akan segera kembali ke tanah air. Ia juga sudah berjanji bahwa ini pemotretannya yang terakhir, setelah ini ia akan fokus dengan rumah tangganya. Mungkin ia akan fakum dari dunia modelnya.


Tapi Rubby begitu susah di hubungi.


***


Khanza mengerejapkan matanya, ia terbangun dari tidurnya. Gadis itu terbangun karena mendengar deru ombak. Penasaran, gadis itu pun beranjak dari tempat tidur. Khanza begitu terkejut ketika melihat kelopak bunga mawar yang bertebaran di mana-mana.


Siapa saja yang melihatnya akan merasa takjub. Rubby mempersiapkan ini dengan matang, Rubby benar-benar mengulang masa pengantin barunya. Khanza mulai turun dari kasur, dan berjalan ke arah jendela.


Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia melihat pemandangan yang begitu sangat indah.


"Indah sekali," kata Khanza sendiri.


Di belakang Khanza sudah ada Rubby yang baru saja keluar dari kamar mandi, pria itu hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang. Rambutnya masih basah, roti sobek itu terpangpang jelas. Perlahan ia menghampiri Khanza, dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Jelas, itu membuat Khanza terkejut. Reflek, Khanza langsung membalikkan tubuhnya. Hingga posisi mereka saling berhadapan, tatapan mereka saling mengunci. Terdiam sejenak.


Rubby mulai melepaskan aksesoris yang masih melekat di tubuh Khanza. Rambut yang masih tersanggul, satu persatu ia melepaskan aksesoris yang menempel di rambut Khanza. Hingga akhirnya sudah terlepas semua. Posisi mereka masih saling berhadapan.


Khanza melihat tubuh Rubby yang tak terhalang dengan sehelai benang pun. Roti sobek itu sangat nampak jelas di mata Khanza, gadis itu merasa sangat malu. Apa lagi tidak ada jarak diantara mereka.


Perlahan, Rubby membuka kancing kebaya yang di gunakan Khanza. Gadis itu bagai terkena hipnotis, hanya diam mematung. Beberapa menit kemudian, ketika Rubby hampir selesai membuka kancinnya, Khanza terkesiap.


Dengan cepat, ia manahan tangan Rubby.


"Aku mau mandi," kata Khanza, ia mencoba mengulur waktu. Jujur, Khanza sangat takut.


Ia juga mendengar, katanya malam pertama pasti sakit. Khanza langsung merasa takut, takut itu terjadi hari ini, sudah dipastikan kata sah sudah terucap. Jelas, malam pertama akan ia rasakan malam ini.

__ADS_1


Rubby, akhirnya melepaskan Khanza. Ia membiarkan istrinya itu mandi terlebih dulu. Ketika Khanza sudah menghilang dari pandangannya, ia menyuruh orang di vila untuk menyiapkan makanan untuk mereka.


Bersambung.


__ADS_2