Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 46


__ADS_3

Rubby membantu Khanza turun dari branker, ia akan menuju ruangan obygin sesuai arahan dari dokter.


"Mas, aku deg-degan." Khanza menyentuh dadanya yang bergemuruh. Ini juga pertama kali bagi Khanza berada di rumah sakit dalam keadaan pingsan.


"Ada Mas di sini, kamu jangan takut." Rubby pun merangkul Khanza dan keluar dari ruangan.


Disaat Rubby melewati ruangan Jihan, ia melihat pintu kamar itu terbuka, tadinya Rubby tak berniat untuk mampir, namun karena mendengar sesuatu di dalam sana, ia pun menghampirinya lebih dulu.


"Kamu tunggu dulu sebentar di sini, ya?" ucap Rubby pada Khanza. Rubby menyuruh Khanza duduk di kursi tunggu.


Sedangkan Rubby ia pun akhirnya masuk ke dalam, setibanya di dalam ia begitu terkejut melihat pemandangan di dalam sana. Ia melihat Jihan tengah berpelukan dengan Dion.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Rubby.


Dion dan Jihan terperanjat kaget. Jihan langsung melepaskan diri dari tubuh Dion.


"Ini tidak yang seperti kamu bayangkan, Mas," jelas Jihan dengan raut wajah yang kusut, wanita itu matanya sembab menangisi suaminya yang lebih memilih wanita baru dalam hidupnya.


Rubby sendiri tak menyangka, ia melihat dengan kepala matanya sendiri. Apa jangan-jangan istrinya itu sering berpelukan dengan lelaki lain juga di lokasi pemotretan? Jihan juga sering diantar jemput oleh seorang laki-laki, bukan?


"Mas ...," lirih Jihan.


Rubby tidak menggubrisnya, bahkan Rubby langsung pergi meninggal Jihan dan Dion. Rubby bukan cemburi, ia hanya tak habis pikir. Ngomongnya tidak ingin bercerai, buktinya istrinya itu tak menolak mendapatkan pelukan dari laki-laki lain.


Rubby keluar dari ruangan dengan wajah masam, ternyata diam-diam Dion ada hati pada istrinya itu. Rubby akhirnya kembali menemui Khanza.


"Kamu kenapa, Mas? Kok, wajahnya ditekuk begitu?" Karena penasaran, Khanza melengokan wajahnya ke dalam ruang rawat Jihan. Pantas suaminya itu masam, ternyata ada Dion didalam sana. Apa Rubby cemburu? Pikir Khanza.


"Za, ayok kita temui Dokter kandungan sekarang?" aja Rubby.


Khanza kembali mendekatkan diri ke arah suaminya, ia juga melingkarkan tangannya ke tangan Rubby. Semoga rasa cemburu yang berkobar di diri suaminya itu meredam, Khanza jadi salah paham di sini. Tapi ia tak menunjukkan rasa ketidaksukaanya pada suaminya.


Khanza mulai tahu sipat suaminya, ia harus mengembalikan mood Rubby dengan caranya sendiri.


"Mas, aku seneng kalau aku hamil," kata Khanza. Tak lama dari situ Khanza kembali berucap. "Itu artinya ... Kamu cukup perkasa, Mas," bisik Khanza, meski malu ia tetap ucapkan itu.

__ADS_1


Rubby menggelengkan kepalanya, istrinya itu bisa saja membuatnya sumringah. Ia memang perkasa dari dulu, pikirnya sendiri.


Rubby dan Khanza melangkahkan kakinya menuju ruangan obygin, mereka sudah tak sabar ingin melihat calon bayinya. Akhirnya mereka pun sampai di ruang kandungan. Karena sepi, Rubby dan istrinya langsung masuk ke dalam.


Seorang dokter wanita ada di dalam sana tengah terduduk, tahu ada pasien yang masuk dokter langsung beranjak dan mempersilahkan Rubby dan Khanza duduk di kursi yang ada di hadapannya.


"Silahkan duduk," ucap dokter.


Rubby tersenyum, sedangkan Khanza ia malah gemeteran. Belum diperiksa saja ia sudah takut duluan, belum tahu seperti apa pemeriksaan dokter obygin. Ia tahunya, ibu hamil itu diperiksa ke bidan biasa. Apa ada sesuatu yang aneh dengan kandungannya? Pikir Khanza.


"Ini istri Anda, Tuan?" tanya dokter.


Rubby pun mejawab. "Iya, Dok. Ini istri saya, saya mau tahu berapa usia kandungannya."


Tahu tujuan mereka datang ke sini, dokter langsung menyuruh Khanza berbaring di atas branker. Dibantu oleh perawat, perawat itu menyikabkan baju Khanza dan memberikan jel di atas perut Khanza. Khanza sedikit tertawa karena geli.


Tawanya langsung ia tahan, pikirnya ini bukan lelucon. Khanza fokus pada layar monitor yang ditunjuk dokter.


"Calon bayinya masih kecil, lihat ini! Baru sebesar biji kacang. Usianya baru dua minggu," jelas dokter.


Khanza pun sudah beranjak dan kini ia sudah duduk di kursi kembali bersama Rubby.


"Apa ada larangan untuk istri saya selama hamil?" tanya Rubby, karena ini pertama kali bagi Rubby. Ia harus tahu segala sesuatunya, mana yang boleh dikerjakan dan mana yang tidak boleh.


"Kemahilannya masih sangat muda jadi masih rentan, sebaiknya banyak istirahat. Jangan kerja yang berat-berat," jelas dokter lagi.


"Apa boleh nganu, Dok?" tanya Rubby tanpa basa-basi.


Khanza yang tidak mengerti mengerutkan kedua alisnya. Nganu apa yang dimaksud suaminya itu? Pikir Khanza.


"Untuk sementara ditunda dulu ya, Tuan. Tunggu sampai kandungannya kuat."


"Sampai usia berapa bulan Dok menunggu janinya kuat?" tanya Rubby lagi.


"Tunggu sampai tiga bulan, Tuan," jawab dokter.

__ADS_1


Seketika Rubby langsung lesu, wajahnya kembali masam. Lama sekali ia menunggu janinnya kuat. Disaat itu juga, Khanza mengerti dari kata 'nganu' itu. Ia pun langsung tertawa, menertawakan nasib suaminya yang harus berpuasa.


Karena sudah selesai, Rubby dan Khanza pun pamit pada dokter, setelah pamit mereka langsung keluar dari ruang obygin itu.


"Mas, kita langsung pulang 'kan? Aku tidak tahan dengan baunya." Khanza mual dan pusing mencium aroma obat, jadi ia minta pulang cepat. Lagi pula, Khanza merasa ia tidak apa-apa.


Namun, Rubby tak merespon. Ia malah kepikiran selama tiga bulan, ia akan berpuasa. Khanza yang tahu suaminya diam saja, langsung saja menggodanya.


"Mas masih kepikiran nganu?" tanya Khanza. "Kan masih ada Mbak Jihan yang menemani malam-malammu, Mas." Ucap Khanza sembari melihat ke arah suaminya.


Rubby malah melototkan matanya, ia tak suka dengan ucapan Khanza. Walau Jihan masih istrinya, Rubby sudah putuskan untuk tidak menyentuhnya. Cukup sekali, Rubby mengkhianati istrinya. Ia tak akan melakukan itu pada Khanza, apa lagi Rubby sudah berniat menceraikan Jihan.


"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud-," ucap Khanza terputus karena Rubby meletakan jari telunjuknya di bibirnya. Karena posisi mereka sedang ada di jalan menuju parkiran, Khanza langsung meraih tangan suaminya, ia malu dilihat orang sekitar.


"Jangan bicara yang tidak-tidak, Khanza!"


"Tapikan Mbak Jihan memang istrimu, Mas! Mas belum-," ucap Khanza terputus kembali kala Rubby langsung menarik tangannya namun masih ada kelembutan di sana, Rubby ingin segera pergi dari rumah sakit. Akhirnya mereka pun keluar dari rumah sakit.


Sementara di tempat lain


Jihan marah pada Dion, gara-gara Dion Rubby tambah murka padanya.


"Sebaiknya kamu pergi, Dion! Jangan menggangguku lagi!" Bahkan Jihan mengucapkan itu dengan membelakangi tubuh Dion.


"Jihan, harusnya kamu itu sadar. Rubby tidak lagi mencintaimu. Kamu jangan memaksakan diri untuk mendapatkan cinta Rubby kembali!"


"Pergi! Aku bilang pergi!" Tubuh Jihan merosot, kakinya terasa tak berpijak.


Dion yang tidak patah arang, pria itu kembali menolong Jihan, ia membatu Jihan untuk berbaring di branker. Tubuh Jihan masih lemas karena pengaruh obat semalam.


Akhirnya, Jihan pun terbaring kembali.


"Suatu saat nanti, kamu pasti jadi milikku!" batin Dion.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2