Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 25


__ADS_3

Jihan dituntun masuk ke dalam rumah oleh mamanya. Di dalam sana sudah ada papanya Jihan yang sedang membaca koran di pagi hari. Sang papa pensiunan PNS dan kini ia tinggal menikmati hari tuanya bersama sang istri.


Papa Jihan tidak suka dengan keluhan Jihan mengenai rumah tangganya. Karena semua berpihak pada Rubby sang menantu.


"Duduklah, Jihan. Mama buatkan minuman dulu untukmu?"


Sedangkan sang papa tengah menatap ke arahnya sembari membenarkan kaca matanya lalu meyeruput teh miliknya.


"Kamu jangan bawa masalahmu kesini, dari dulu Papa dan Mama sudah mewanti-wanti bukan? Berhenti menjadi model dan fokuslah pada suamimu." Papa seolah tahu apa yang dirasakan Jihan sekarang, karena ia tadi sempat mendengar Jihan menyebut-nyebut nama suaminya. Apa lagi kalau bukan sedang ada masalah dengan Rubby?


"Pa ... Ngmong apa sih kamu ini? Bukannya menenangkan Jihan, ini malah memanas keadaan," sahut mama yang baru saja tiba dari dapur.


"Lah ... Itu memang benar keadaanya 'kan, Ma? Pria mana yang tahan berada diposisi Rubby? Papa juga pasti melakukan hal yang sama," celetuk papa tanpa perasaan.


Tak ada yang mengerti dengan perasaan Jihan sekarang, semua menyudutkan dirinya. Kedatangannya kemari ingin mencari ketenangan, ini malah mendapat teguran yang membuat ia semakin merasa bersalah.


Tak ada gunanya mengadu dengan masalah ini. Ia putuskan untuk diam saja, Jihan meminum minuman buatan sang mama. Mama mengusap lembut punggung Jihan.


"Kamu sabar ya? Semoga ada jalan keluar untuk rumah tanggamu. Kamu jangan menyerah meminta maaf pada suamimu jika kamu masih ingin rumah tanggamu utuh. Semuanya belum terlambat," kata mama.


Mereka tidak tahu saja bahwa Rubby kini sudah menikah. Apa Jihan akan menerima kenyataan bahwa ia dimadu oleh Rubby?


"Sebaiknya kamu istirahat saja, Ji. Mama lihat kamu sangat pucat." Mama menyuruh Jihan untuk istirahat, dan Jihan pun menurut apa kata sang mama.


Jihan sudah ada di dalam kamar, ia memainkan ponselnya. Melihat poto-poto sewaktu bersama suaminya.


"Maafkan aku, Mas. Aku janji akan memperbaiki diri. Aku juga akan memaafkanmu kesalahanmu yang sudah mengkhianati pernikahan kita, Mas."


Jihan akan mengulang semuanya dari nol, ia harap suaminya akan memaafkannya yang sudah egois selama ini. Begitu pun dengan Jihan, ia akan menghilangkan rasa sakit yang ia terima dari Rubby.


Larut dalam lamunan membuat Jihan tertidur, hingga waktu semakin siang. Kini sudah waktunya makan siang. Mama Jihan mengetuk pintu, ia mengajak anaknya untuk makan siang bersama.


"Ji, bangun nak. Kita makan siang dulu," ajak Mama Jihan yang kini berdiri di depan pintu kamar anaknya.


"Aku gak laper, Ma. Mama duluan saja, nanti kalau laper aku makan sendiri," sahut Jihan.


Akhirnya sang mama pun pergi meninggalkan Jihan, kini ia makan berdua saja dengan suaminya.

__ADS_1


"Mana Jihan, Ma? Apa dia marah pada Papa karena Papa tidak memihak padanya?"


"Katanya gak laper, Papa jangan terlalu keras sama Jihan, dia butuh dukungan, Pa! Papa malah terus memojokkan Jihan. Jihan sudah menyesal, dia pasti memperbaiki dirinya dan menjadi istri yang baik buat Rubby."


"Ya kalau, Rubby-nya masih mau. Kalau dia sudah mendapatkan wanita yang membuatnya lebihnya nyaman bagaimana, Ma?"


"Papa ..." protes mama. "Papa jangan punya pikiran begitu dong, Pa! Papa kaya ngedoain anak kita kalau begitu caranya." Mama jadi kesal sendiri karena suaminya sampai sebegitunya pada Jihan.


Meraka akui, ini semua memang salah anaknya. Karena Rubby begitu sabar menghadapi sikap Jihan, namun kesabaran itu ada batasnya. Pada akhirnya Rubby berpaling dari istrinya sendiri.


***


"Mas sudah baikan belum?" tanya Khanza pada Rubby.


"Memangnya kenapa? Apa kamu ingin pergi jalan-jalan?" tebak Rubby.


Khanza mengangguk, namun ia masih ragu karena takut suaminya itu memaksakan diri demi untuk menemaninya.


"Tapi kalau Mas masih kurang enak badan, sebaiknya Mas istirahat saja. Aku temani Mas di sini."


"Mas mau apa?" tanya Khanza ketika Rubby memajukan wajahnya mendekati wajah Khanza.


"Mas mau yang kemarin terulang," bisik Rubby.


Sedangkan Khanza, ia memukul ringan dada suaminya.


"Mas mulai mesum, ini masih sakit, Mas," keluh Khanza.


"Sakit karena belum terbiasa. sayang." Rubby mencium Khanza dengan gemas. Bersama Khanza ia mampu menciptakan kebahagiannya.


Sepertinya Rubby sudah menjatuhkan pilihannya, ia tak akan kembali memaksa Jihan untuk mengandung benihnya. Kini sudah ada Khanza yang bakal menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.


Ia akan menceraikan Jihan dan membebaskan pilihan hidupnya yang ingin menjadi model.


Rubby dan Khanza kembali menyatukan tubuhnya, ia menyelami lautan. Menikamati indahnya surga dunia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Semoga dia cepat tumbuh ya, sayang," ucap Rubby yang masih terus menggerakan bagian tubuhnya di bawah sana.

__ADS_1


"Mas ..." Khanza sepertinya akan mencapai puncaknya, kini tidak ada lagi rasa perih. Yang ada ia merasakan kenikmatan yang tiada tara.


"Ehmmm," desah Khanza. "Mas ... Aahhhh." Khanza meremas seprai kuat-kuat.


"Sebentar lagi Mas menyusul," kata Rubby. Dan benar saja beberapa detik kemudian, Rubby mengerang hebat. Ia kembali menanamkan benih cintanya di rahim istri kecilnya.


Rubby mencium kening Khanza begitu dalam.


"Terimakasih, sayang." Rubby menarik diri dan merebahkan tubuhnya di samping Khanza.


Siang-siang sudah mandi keringat, mereka terlelap bersama. Hingga dua jam kemudian mereka pun secara bersamaan.


"Mas," pekik Khanza ketika Rubby tiba-tiba terbangun dan langsung menggendongnya membawanya ke kamar mandi.


Rubby benar-benar tidak menyia-nyiakan waktu. Pria itu kembali menikmati tubuh istrinya di kamar mandi, lama berada di kamar mandi membuat Khanza menggigil.


Rubby pun menyalakan shower air hangat. Mereka mandi bersama sambil menyelami indahnya cinta. Mereka pun selesai dengan mandinya.


Rubby kembali membopong tubuh mungil itu, dan meletakkannya di atas kasur. Rubby mengambilkan baju untuk istrinya dan memakaikannya layaknya seorang balita.


"Mas, kita pulang hari ini ya?" pinta Khanza setelah Rubby selesai memakaikan bajunya.


Rubby mengangguk mengiyakan keinginan istrinya. Lalu, Khanza dan Rubby pun bersiap-siap. Mereka akan pulang ke apartemen sekarang juga.


Waktu menunjukkan pukul 15.00. Di dalam perjalanan, Khanza meminta Rubby untuk menghentikan laju mobilnya. Dan Rubby pun menepikan mobilnya di pinggir jalan, ia kira ada apa. Tahunya, Khanza turun hanya membeli permen gulali dan itu membuat Rubby terkekeh sembari geleng-geleng kepala.


Khanza kembali masuk ke dalam mobil, sementara Rubby, ia melihat istrinya dan tak henti-hentinya menipiskan senyumannya yang mengembang di bibirnya.


"Mas mau tidak?" tawar Khanza.


Rubby menggeleng sebagai jawaban.


"Ini enak, Mas. Cobain deh." Khanza menyuapi suaminya. Tidak ingin membuat Khanza kecewa, Rubby yang tidak pernah lagi memakan yang manis-manis ia terima suapan itu. Hingga di dalam mobil begitu menghangat.


Rubby benar-benar bahagia hidup dengan Khanza. Beberapa menit kemudian mereka sampai di apartemen. Setibanya di sana, ponsel Rubby berdering.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2