
Rubby akhirnya mengantar pulang istrinya ke rumah utama. Jihan merasa sudah bisa membuat Rubby untuk pulang ke rumah lagi. Tapi sayang, setelah Rubby sampai, pria itu langsung menuju ruang kerjanya.
Rubby acuh kembali pada Jihan, ia tak ingin memberikan harapan pada istrinya itu. Entah suka atau tidak dengan Jihan, Rubby benar sudah membulatkan hati untuk menceraikannya. Hanya saja ia menunggu Jihan untuk lebih tenang akan hal ini.
Rubby ingin Jihan tahu bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Ia juga ingin Jihan menyadari akan cinta Rubby yang mulai menghilang.
Jihan melihat suaminya yang langsung ke ruang kerja, ia masih berpikir positif. Suaminya memang sibuk, apa lagi ia tahu bahwa Bayu sedang cuti.
Rubby memang sedang berkerja, pria itu nampak serius dengan layar laptopnya. Sampai ia lupa tidak memberi kabar pada Khanza. Tiba-tiba, ponsel Rubby berdering.
"Iya hallo," jawab Rubby. Rubby terkejut ketika mendengar kabar tentang perusahaannya yang ada di luar kota. Ada masalah di sana, dan itu menyebabkan ia harus turun tangan sendiri.
Ada problem dengan karyawannya yang pada mogok kerja. Berarti ini ada masalah serius.
Rubby menutup telepon, ia harus berangkat sekarang juga ke luar kota.
Rubby sekarang menuju kamar, dilihatnya Jihan sedang membersihkan kuku-kukunya sembari duduk santai. Sudah dipastikan bahwa Jihan sudah sehat.
Rubby meraih koper dan memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper. Jihan yang melihat langsung saja bertanya, ia takut suaminya pergi meninggalkannya.
"Mas, mau kemana? Sudah aku bilang, aku tidak ingin bercerai! Mas jangan pergi!" Jihan merebut baju yang sedang dipegang Rubby, karena Jihan tak tahu bahwa Rubby pergi untuk urusan pekerjaannya.
"Mas ada urusan, Mas harus pergi perusahaan yang di luar kota sedang ada masalah." Rubby melanjutkan mengemas baju-bajunya.
"Kenapa mendadak, Mas?" Jihan masih belum percaya, bisa saja ini akal-akal Rubby untuk bisa keluar dari rumah. Pikir Jihan.
"Mas juga tahunya baru saja, karyawan mogok kerja Mas harus turun tangan sendiri." Setelah mengemas baju, Rubby langsung siap-siap. Ia mandi terlebih dulu dan setelah itu ia benar-benar pergi meninggalkan Jihan.
Dalam perjalanan, Rubby menghubungi Khanza lebih dulu.
"Za, Mas akan ke luar kota. Kamu baik-baik di sana, kalau ada apa-apa hubungi Mas ya?" Rubby bicara lewat via telepon.
Bukannya menjawab, Khanza malah bertanya mengenai semalam. "Kenapa baru mengabari, Mas. Semalam Mas kemana?"
Mendengar pertanyaan Khanza membuat Rubby merasa bersalah, akhirnya ia putuskan untuk menemui Khanza sebelum pergi. Ia takut istri kecilnya itu berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya.
__ADS_1
"Kamu tunggu, Mas sekarang kesana." Panggilan pun ia akhiri.
Rubby memutar arah mobilnya, tanpa ia sadari ada mobil di belakang yang mengikutinya.
"Kenapa dia memutar arah?" ucap seseorang yang ada di dalam mobil. Ya, orang yang kini mengikuti Rubby adalah Jihan. Karena Jihan tidak percaya akan kepergian Rubby. Jihan terus mengikuti Rubby, hingga mobil Rubby kini sudah berhenti di gedung apartemen.
Sementara Jihan, wanita itu bertanya-tanya dalam hati. Mau menemui siapa suaminya itu? Semakin penasaran, Jihan terus mengikuti sampai ke dalam. Bagai penjahat, Jihan terus mengintai target.
Rubby yang sedang berjalan merasa ada yang mengikutinya, ia menghentikan langkahnya sejenak sembari menoleh ke belakang.
Sementara Jihan, wanita itu langsung bersembunyi setelah ia tahu Rubby menghentikan langkahnya, tapi sayang. Jihan yang ceroboh membuat Rubby tahu karena sepatu yang dikenakan Jihan sedikit terlihat.
Disaat itu pula, Rubby dengan cepat bergegas menghindari intaian istrinya sendiri.
Jihan melongokan wajahnya, ia melihat target. Sayang seribu sayang Jihan kehilangan jejak Rubby.
"Sial," rutuk Jihan kehilangan jejak suaminya. Namun ia terus melanjutkan pencarian kemana suaminya itu pergi. Karena sudah tidak ada jalan Jihan pun menghentikan langkahnya.
Ada beberapa pintu di sana, tapi Jihan tidak tahu kemana Rubby. Salah satu di unit itu pasti ada suaminya di dalam sana. Lama menunggu akhirnya Jihan pergi, ia akan kembali nanti.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Khanza.
Rubby tiba dengan napas tersengal, ia seperti sedang di kejar penjahat. Bahkan ini lebih dari penjahat, Mungkin tempat ini sudah tidak aman bagi Khanza.
Khanza mendekati suaminya yang masih berdiri di belakang pintu.
"Mas, ada apa sih? Kamu kenapa?" Khanza melihat buliran keringat dari kening suaminya, dan ia pun mengusap lembut keringat itu.
"Katanya mau ke luar kota," ucap Khanza kemudian.
"Iya, Mas mau ke luar kota ada urusan di sana. Tapi Mas khawatir meninggalkanmu di sini. Untuk sementara, kamu tinggal bersama orang tuamu ya selagi Mas tidak ada."
"Kenapa harus pergi dari sini, Mas? Aku sudah nyaman ada di sini, Mas tidak perlu khawatir."
"Jihan sudah tahu dengan peenikahan kita, Mas khawatir saja jika kamu sendirian di sini. Kamu ke rumah orang tuamu dulu ya untuk sementara."
__ADS_1
"Tapi, Mas ..." Khanza bukannya tidak mau, ia malah lebih takut pada mamanya ketibang takut sama Jihan. "Aku gak mau, aku takut Mama tidak suka dengan kedatanganku."
Lalu Rubby berpikir, apa Khanza tinggal sama mamanya saja. Tempat itu pasti aman, karena Jihan jarang kesana. Lagi pula, mamanya tidak menyukai Jihan. Semoga saja mamanya itu menyambut kedatangan Khanza.
"Tinggal sama Mama ya, mau 'kan?"
"Mama siapa?"
"Mama mertua, dia baik kok. Beliau pasti menerima kedatanganmu, Mas akan bilang bahwa kita sudah menikah."
Akhirnya Khanza setuju, mudah-mudahan ibu mertuanya itu baik padanya. Rubby mengecek keadaan sekitar, ia keluar dari apartemen terlebih dulu melihat apa ada Jihan di sana? Nampaknya tidak ada siapa-siapa di sana.
Karena sedang dikejar waktu, Rubby membantu mengemas baju-baju Khanza ke dalam koper.
"Sudah siap?" tanya Rubby, dan di angguki oleh Khanza. Wanita itu sedikit gugup, karena ini pertama kali bagi Khanza bertemu sang mertua.
"Mas, apa Mamamu galak?" tanya Khanza terus terang. Jujur ia takut, karena ibu mertuanya katanya garang.
"Mama baik, hanya saja ucapan suka ceplas ceplos. Kalau ada ucapan Mama yang menyinggung perasaan jangan dimasukin ke hati ya?"
Akhirnya mereka berdua pun berangkat menuju kediaman utama sang mama. Di dalam mobil, Rubby menggenggam tangan Khanza dengan sebelah tangan, tangan yang sebalahnya lagi ia pegang kemudi.
"Tanganmu dingin sekali," ucap Rubby. "Jangan takut ya, kamu aman sama Mama, Papa juga baik jadi jangan takut." Rubby menghibur Khanza agar istrinya itu tenang.
Akhirnya Rubby dan Khanza sampai di rumah besar milik orang tuanya. Kedatangan Rubby di sambut oleh para asisten di sana.
"Mama di mana, Bi?" tanya Rubby pada Bi Nani, ibu paruh baya yang sudah setia belasan tahun bekerja di sana.
"Ada di dalam, Tuan."
Rubby pun masuk ke dalam rumah, dilihatnya sang mama sedang duduk santai berdua dengan sang papa.
"Ma, Pa," sapa Rubby.
Orang tua Rubby tersenyum ke arahnya. Namun senyum itu hilang ketika melihat sosok remaja yang berdiri di samping Rubby, apa lagi mereka melihat Rubby menggenggam tangan gadis itu.
__ADS_1
Bersambung.