Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 35


__ADS_3

Sang mama memicingkan matanya ke arah wanita yang kini berada di samping anaknya. Sedangkan Khanza, gadis itu berlindung di belakang tubuh suaminya. Melihat tatapan mertua membuat Khanza sedikit takut.


Tapi tidak dengan papa mertuanya, laki-laki paruh baya itu tersenyum, ternyata anak laki-lakinya ada ketertarikan pada gadis belia. Papa Rubby pun menggelengkan kepalanya.


Perlahan, Rubby menghampiri kedua orang tuanya. Dan mengenalkan Khanza kepada mereka.


"Ma, Pa. Kenalin, ini Khanza istri baru Rubby."


Kedua orang tua Rubby nampak terkejut, selama ini yang mereka tahu bahwa Rubby hanya mencintai Jihan. Buktinya Rubby masih bertahan dengan pernikahannya, pikir kedua orang tua Rubby.


"Kamu serius, Rubby?" tanya mama. "Kamu tidak menjadikannya sebagai pelampiasankan?" Sang mama hanya takut anaknya itu mempermainkan anak orang. Dilihat dari wajah gadis itu masih sangat kecil.


"Aku serius, Ma. Usia pernikahan kami sudah satu Minggu," jelas Rubby. "Rubby kesini ingin menitipkan Khanza di sini."


"Kamu pikir barang dititip!" celetuk mama.


Papa Rubby hanya menyimak, ia tak ingin ikut campur rumah tangga anaknya. Selagi Rubby bisa adil, papa ngikut saja.


"Kamu tahu kalau suamimu ini sudah punya istri?" tanya mama kepada Khanza.


Khanza mengangguk pelan, ia takut sangat takut. Gadis itu kembali bersembunyi.


"Sini, jangan sembunyi terus," titah mama.


Rubby pun menarik tangan Khanza, agar istrinya menampakkan diri di hadapan sang mertua.


"Kamu tidak salah, Rubby? Dia masih kecil, apa dia bisa jadi istri yang baik? Mama takut kamu salah pilih. Jihan saja yang sudah dewasa kamu tidak becus mengurusnya." Benar apa kata Rubby, mama Laras mulutnya sangat pedas. Apa Khanza bisa mengambil hati ibu mertuanya.


"Ma, jangan samakan Khanza dengan Jihan. Jihannya saja yang susah diatur, dia keras kepala, Ma," balas Rubby.


"Memang kamu mau kemana menyuruh istrimu tinggal di sini? Apa kamu tidak menyediakan rumah untuknya?" tanya sang papa.


"Aku ada urusan di luar kota, Pa, Ma. Jihan sudah tahu aku menikah lagi, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada istriku."


"Jihan belum bisa menerima kenyataan," bisiknya kemudian pada sang mama. Akhirnya mama pun mengerti, ia tahu betul rumah tangga yang dijalani anaknya itu seperti apa.


"Ya sudah kalau begitu, biar Khanza di sini sama kita. Ya, Ma," timpal papa.


Tak ada pilihan, mama pun mengangguk.


Rubby pun bernapas lega, orang tuanya menerima Khanza.

__ADS_1


"Za, Mas pergi dulu ya? Kamu baik-baik di sini. Nurut sama mereka, ya?"


Khanza mengangguk dan mengiyakan. Sebisa mungkin ia akan nurut dengan mertuanya itu. Ia juga harus nurut sama suaminya, apa pun itu keputusan Rubby itu pasti yang terbaik bagi keluarga kecilnya.


Rubby mengecup kening Khanza sebagai perpisahan. Khanza mengantar Rubby sampai depan rumah.


"Mas," panggil Khanza di ambang pintu.


Rubby pun membalikkan tubuhnya yang hendak masuk mobil. Khanza berlari menghampiri.


Bugh


Khanza memeluk Rubby. "Mas hati-hati ya di sana, selalu kasih kabar ke aku."


Rubby tak menyangka istri kecilnya itu akan merasa kehilangan. Rubby mengeratkan pelukkannya.


"Iya, Mas pasti sering menghubungimu." Dan Rubby pun melepaskan pelukkan istrinya. Rubby menangkup kedua pipi Khanza.


Sedangkan Khanza menangis, kenapa ia jadi melow begini. Apa Khanza sudah benar-benar mencintai suaminya?


Pemandangan itu di saksikan oleh kedua orang tua Rubby.


"Hmm, sepertinya begitu, Pa. Mama senang melihat Rubby bahagia."


Khanza pun melepas suaminya, Rubby masuk ke dalam mobil dan mulai meninggalkan area taman rumah orang tuanya. Setelah mobil Rubby sudah tidak terlihat, Khanza pun di panggil oleh mama Laras.


"Khanza, ayok masuk! Jangan berdiri terus di sana, di sana panas." Karena matahari sedang berada di tengah-tengah permukaan langit.


Khanza pun masuk ke dalam secara perlahan, gadis itu masih takut akan sang mama.


Khanza mengekor kedua mertuanya.


Mama Laras memanggil bi Nani.


"Bi, bawakan koper ini ke kamar atas. Kamar Rubby."


Bi Nani lari tergopoh, ia pun menyeret koper milik Khanza.


"Ikut sama Bi Nani, kamu istrirahat saja dulu," ucap ibu mertua Khanza. Lagi-lagi Khanza hanya mengangguk.


Bi Nani pun mengajak Khanza, wanita paruh baya itu belum tahu kalau Khanza itu masih majikannya. Hingga mereka berdua sampai di lantai atas, di mana bi Nani mengantar Khanza ke kamar Rubby.

__ADS_1


Bi Nani masuk ke dalam lebih dulu, ia meletakkan koper di sudut ruangan.


"Maaf, Non. Bibi permisi dulu, kalau ada apa-apa bisa panggil Bibi. Jangan sungkan ya, Non." Setelah pamit bi Nani pun undur diri.


Kini hanya ada Khanza di sana, ia melihat kesekeliling kamar Rubby. Kamar yang sangat luas dan nyaman. Namun, Khanza melihat poto pengantin yang di pasang di dinding, tiba-tiba matanya merasa perih. Khanza mulai cemburu melihat suaminya bersanding dengan Jihan, tak terasa bulir air mata jatuh membasahi pipinya.


Khanza merenungi nasibnya yang menjadi madu, pernikahan yang tersembunyi membuat Khanza tidak bisa gerak bebas, ia selalu dihantui merasa bersalah. Bagaimana pun Khanza seorang wanita, tentu ia tahu perasaan istri pertama suaminya.


Di sini, Rubby menitipkannya. Khanza takut sewaktu-waktu Jihan datang dan mengetahui keberadaannya di sini. Karena poto itu menganggu pemandangannya, Khanza pun menurunkan poto itu agar tidak lagi terpajang di kamar suaminya.


Setelah berhasil menurunkan poto itu, kini ia bingung mau di simpan di mana potonya? Hadir sebuah ide, Khanza meletakkannya di kolong ranjang.


Lalu, karena merasa gerah, ia pun membersihkan diri. Ingat juga belum menunaikan shalat dzuhur.


***


"Ma, bagaimana kalau Jihan berkunjung ke sini?" tanya papa.


"Mana mungkin dia ke sini, Pa. Apa lagi tidak ada Rubby, makin mustahil Jihan datang kemari." Karena Jihan memang jarang berkunjung, dunia modelnya melupakan segalanya.


"Bisa saja 'kan, Ma. Tiba-tiba dia datang, mengadu pada kita akan pernikahan Rubby. Oh iya, bukannya kemarin dia masuk rumah sakit ya?"


"Iya, dia itu bodoh, suami selingkuh dia malah ingin mengakhiri hidupnya. Kalau Papa jadi Rubby, apa yang akan Papa lakukan?"


"Lakukan apanya, Ma?" tanya papa bingung. Karena papa tidak tahu apa-apa mengenai rumah tangga Rubby dan Jihan.


"Ish ... Papa ini. Papa pikir apa alasan Rubby menikah lagi?" Papa menggelengkan kepalanya.


"Jihan itu wanita normal, jelas Rubby meminta keturunan pada Jihan, tapi Jihan malah tidak ingin punya anak!"


"Lah ... Mana boleh begitu, Ma. Kita 'kan ingin cucu, biar ada penerus perusahaan."


"Ya, itu dia, Rubby menikah lagi karena itu. Umur Rubby semakin tua, Pa. Masa iya dia mau bekerja terus! Mama harap Rubby segera punya anak dari gadis kecil itu."


"Tapi, apa Mama yakin kalau Khanza bisa menjadi ibu? Melihatnya saja wanita itu sepertinya manja."


Dibalik percakapan kedua orang tua itu ternyata di dengar oleh Khanza, apa Khanza akan kuat dengan keadaan ini? Untung Rubby sudah pasang kuda-kuda, menyuruh Khanza kuat. Apa pun yang didengarnya jangan di masukin ke hati.


Papa Rubby pun melihat Khanza yang sudah berdiri di ambang pintu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2