Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 79


__ADS_3

Disaat nenek sedang berbincang dengan Khalid, ternyata Mawar menguping pembicaraan sang nenek dengan sepupunya itu. Karena memang Mawar tidak ingin dijodohkan, gadis itu kembali menemui neneknya.


"Aku sudah bilang 'kan, Nek. Aku gak mau dijodohin, ini bukan jamannya Siti Nurbaya!" Mawar menghentakan kakinya secara bergantian, gadis itu menggerutu bahkan bibirnya terlihat cemberut.


"Nurut saja apa kata Nenek," timpal Khalid.


"Diam! Jangan ikut campur!" kesal Mawar. Sepupunya itu memang menyebalkan, bisa-bisanya pria itu jadi kompor meledug. Mawar menatap tajam pada Khalid.


"Pokoknya Mawar gak mau dijodohin! Mawar sudah punya calon." Teriak Mawar sembari melenggang pergi. Dalam batin Mawar berpikir, calon dari mana? Itu membuatnya ngenes.


Mawar mengganti bajunya yang basah, setelah itu ia merebahkan tubuhnya di kasur. Kamar yang berukuran 2x3 itu menjadi tempat peristirahatannya, lalu gadis itu meraih benda pipih miliknya. Menyalakan ponsel itu dan ditatapnya poto seorang pria di sana, yang tak lain adalah Dion, ia tersenyum miris melihatnya. Haruskah ia mengubur perasaan itu dalam-dalam? Mawar juga tidak tahu, kenapa perasaan itu bisa muncul begitu saja secara tiba-tiba.


Mawar tidak tahu apa artinya itu jatuh cinta, tapi melihat Dion ia merasa bahagia dan ingin selalu dekat bersamanya, larut dalam pemikirannya, Mawar tertidur dengan memeluk ponsel miliknya.


Di tempat lain.


Dion terus berjalan di derasnya air hujan, pria itu terus memikirkan siapa pria itu? Tidak bisa tinggal diam, Dion akan menyuruh seseorang untuk mencari informasi mengenai Mawar. Kini pria itu sampai di tempat ke ramain, ada sebuah toko pakaian di sana. Ia pun memasuki toko itu untuk mengganti bajunya yang basah.


Setelah selesai dengan semua itu, ia menyuruh karyawannya untuk mengurus mobilnya yang masih berada di sana. Dion juga meminta supir kantor untuk menjemputnya, karena Dion tinggal sendiri di Bandung, ia hanya mengandalkan karyawan di kantor jika ia sedang butuh bantuan.


Sang supir sudah datang untuk menjemputnya, pria matang itu langsung menaiki mobil tersebut.


Jiuuuss ... Mobil itu membelah jalanan di ibu kota. Ketika Dion berada di dalam mobil, ia langsung menghubungi seseorang untuk memata-matai gadis yang kini ia incar. Dion tak ingin lagi kehilangan orang yang dicintainya, pria itu sadar akan perasaannya terhadap Mawar.


Ia tak boleh kalah dengan pria itu, jika dibandingkan, ia jauh lebih unggul, umurnya memang sudah cukup matang apa lagi jika disandingkan dengan Mawar sungguh sangat jauh dari umurnya. Melihat karisma Dion, siapa pun tak menyangka kalau pria itu berumur tiga puluh empat tahun.


Dion pun sampai di rumahnya, ia akan mengatur strategi untuk Mawar. Gadis itu harus kembali bekerja di kantornya, apa pun caranya.


Tak terasa hari pun berganti. Dion kembali ke kantor cabang ANGGORO GROUP. Pria itu berjalan memasuki area perkantoran yang kini ia kelola.


"Ke ruanganku sekarang," ucap Dion pada sambungan telepon. Pria itu menyuruh sekretarisnya yang bernama Dimas untuk segera menemuinya.

__ADS_1


Kini Dimas pun sudah di hadapan Dion.


"Iya, Pak. Saya sudah melaksanakan perintah, Bapak," kata Dimas setibanya di hadapan bosnya tersebut. Dimas cukup cekatan menanggapi pekerjaannya.


"Bagus," ucap Dion. "Jangan sampai lengah, saya mau informasi itu segera saya dapatkan," sambung Dion kembali.


"Kamu atur untuk pemanggilan gadis magang itu. Saya mau dia bekerja di sini." Dimas mengangguk, pria yang sudah berkeluarga itu cukup mengerti. Dimas pun undur diri dari ruangan Dion.


***


Mawar yang sedang asyik bercocok tanam bersama neneknya di halaman belakang, disaat itu pula, ada tamu yang berkunjung. Sang nenek sudah tahu siapa tamu tersebut. Nenek Mawar langsung menyuruh cucunya untuk membersihkan diri, gadis itu harus terlihat cantik di keluarga calon suaminya itu.


"Mawar, cepatlah mandi. Di luar ada tamu," kata nenek.


Mawar langsung menoleh ke arah neneknya. Gadis itu memiliki pirasat tidak enak di sini.


"Jangan bilang kalau tamu itu calon Mawar, Nek!" cetus Mawar.


"Cucu Nenek pintar sekali, itu memang calon suamimu," jawab Nenek.


Mawar bergegas untuk membersihkan diri sesuai perintah sang nenek. Tanpa ada rasa curiga pada Mawar, nenek pun tersenyum melihat cucunya patuh dengan perintahnya.


Nenek Mawar segera menemui tamu, dan benar saja tamu itu calon suami Mawar. Nenek memang sengaja mengundang calon suami dan calon mertua Mawar datang ke rumah, nenek tidak ingin cucunya itu terus memikiran bosnya. Pria yang belum jelas mencintai cucunya tersebut.


Dan Mawar pun tidak tahu kalau ternyata Dion menaruh hati padanya.


Tamu dipersilahkan masuk, dan tamu itu sudah mendudukkan tubuhnya di kursi yang terbuat dari kayu. Rumah yang sangat sederhana, namun cukup membuat tamu nyaman bila berada di sana. Rumah itu terlihat begitu rapi, jejeran poto Mawar sewaktu kecil terpajang di dinding.


Calon suami Mawar pun melihat poto-poto itu, bibirnya mengulas senyum ketika melihat poto anak kecil yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Pria yang bernama Alan itu sudah tidak sabar ingin segera melihat calon istrinya.


Nenek pamit undur diri dari hadapan tamu, ia akan membuatkan minuman terlebih dulu.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, saya buatkan minuman dulu sekalian menyuruh Mawar untuk segera ke sini," kata nenek.


"Iya, Bu. Silahkan," jawab ibu Alan.


***


Tok, tok, tok.


"Mawar, temui calon suamimu," kata nenek yang berdiri di depan pintu kamar Mawar.


"Iya, Nek. Sebentar," sahut Mawar dari dalam kamar.


Mawar sedang bercermin, ia melihat bayangannya di sana. Mawar sudah siap bertemu dengan calon mertuanya itu. Semoga dengan ini, mereka membatalkan perjodohanya, pikir Mawar.


Kini, Mawar pun keluar dari kamarnya. Menemui calon yang akan menjadi keluarga barunya. Mawar sudah menampakkan dirinya di hadapan Alan, Mawar masih terlihat menunduk, jadi Alan dan keluarganya belum melihat wajah Mawar.


Sehingga sang nenek pun datang dengan membawa cangkir yang berisikan air minum menggunakan nampan. Sang nenek belum menyadari penampilan Mawar.


Alan terus memperhatikan penampilan Mawar, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Namun pria itu begitu penasaran ingin melihat wajah Mawar.


"Nak, Alan. Kenalin, ini Mawar cucu Nenek," kata nenek memperkenalkan cucu kesayangannya kepada pria yang dulu sempat menolongnya. Itu sebabnya nenek Mawar ingin menjodohkan Mawar pada pria itu. Karena nenek berpikir, Alan cocok untuk Mawar.


Mawar pun mengulurkan tangannya, tangan yang putih mulus itu tersentuh oleh Alan. Alan melihat wajah Mawar dimulai dari tangan, perlahan terus menelusurinya hingga tatapannya tertuju pada wajahnya.


Seketika, Alan langsung melepaskan tangannya dan menggeserkan tubuhnya sedikit menjauh dari tubuh Mawar. Pria itu menggelengkan kepalanya, apa lagi saat ia melihat gadis itu terenyum padanya.


Penampilan Mawar jauh dari kata sempurna. Gigi yang dibuat jelek dan hitam, serta mata yang dibuat juling. Sampai pria itu langsung menolak perjodohan tersebut.


"Bu, yang benar saja wanita seperti Mawar Ibu tawarkan untuk menjadi istri Alan," kata ibu Alan.


Nenek nampak shock mendengar ucapan itu, nenek pun melihat ke arah Mawar.

__ADS_1


"Ya Allah ...," ucap nenek.


Bersambung.


__ADS_2