Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 82


__ADS_3

"Aku sudah kenyang," kata Mawar. Gadis itu benar-benar aneh melihat tingkah pria itu.


"Mas, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Mawar.


Dion pun meletakkan piring yang ia pegang, lalu menatap wajah Mawar.


"Apa? Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Sikap Mas aneh, Mas kenapa tiba-tiba baik padaku?"


Jleb.


Pertanyaan Mawar begitu sulit untuk ia jawab. Dion menelan ludahnya secara kasar, harus jawab apa dia dengan pertanyaan Mawar? Dion hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa? Bahkan sikap Mas kemarin membuatku takut." Mawar terus menggali isi hati pria itu, Mawar hanya takut pria itu mempermainkan hatinya, Mawar juga tahu kalau Dion mencintai seseorang.


"Mas ... Mas hanya-," ucap Dion menggantung kala pintu ruangannya ada yang mengetuknya.


"Masuk," sahut Dion.


Dimas datang menghampiri, pria itu hanya ingin mengatakan bahwa di luar ada yang ingin bertemu dengannya.


"Di luar ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan, Bapak," kata Dimas.


"Suruh dia masuk," jawab Dion dengan santai. Pria itu merasa lega karena ia belum siap menyatakan perasaannya pada Mawar. Bukan cara seperti ini ia menyatakan cintanya pada Mawar. Dion ingin memperlakukan Mawar dengan cara yang berbeda, mesti dia tidak bisa bersikap romantis setidaknya pas ia menyatakan cintanya pada Mawar ada kesan terindah bagi wanita itu.


"Baik, kalau begitu saya permisi," ucap Dimas, sekilas Dimas melihat ke arah Mawar. Dimas sendiri begitu penasaran, apa gadis itu kekasih bosanya? Atau baru tahap pendekatan? Lalu, siapa tamu yang berkunjung? Pikir Dimas. Dimas pun berlalu setelah mendapat izin dari Dion.


Belum disuruh masuk, tamu itu sudah ada di ambang pintu.


"Hai Dion?" panggil tamu itu, tamu itu adalah Jihan. Jihan sengaja berkunjung, wanita itu kembali ke propesinya sebagai model dan kebetulan ia ada pemotretan di kota kembang itu.


Dion pun berdiri menyambut kedatangan Jihan.


Sedangkan Mawar, ia tahu bahwa wanita itu wanita yang dicintai Dion. Tidak ingin mengganggu, Mawar beranjak dari tempatnya. Dengan cepat, Dion menahannya dengan cara meraih tangan Mawar.


"Kamu mau kemana?" tanya Dion. "Tetap di sini jangan ke mana-mana!"


Mawar mendengus kesal, hanya akan jadi obat nyamuk jika ia berada di sana, pikir Mawar. "Aku mau ke kamar mandi," jawab Mawar.

__ADS_1


Mau tak mau, Dion membiarkan wanita itu pergi. Mawar melangkahkan kakinya, lalu menoleh ke arah Dion dan Jihan sejenak. Setalah itu, ia benar-benar pergi.


Sementara Jihan, ia melihat kejadian itu secara langsung. Jihan juga melihat dari sudut pandang matanya bahwa Dion sepertinya menyukai gadis itu.


"Gadis itu, gadis yang kemarin bersamamu 'kan?" tanya Jihan. Memang pada dasarnya Jihan tidak mencintai Dion, wanita itu bersikap biasa saja. Bahkan Jihan mendukung Dion dengan gadis itu, setidaknya Dion tidak lagi mengejarnya.


"Hmm, ada apa kamu ke sini?" tanya Dion. Perasaan Dion juga sepertinya mulai pudar pada Jihan, Dion hanya terobsesi dengan model cantik itu.


"Aku hanya mampir saja, kebetulan aku ada pemotretan di sini," jawab Jihan. Jihan juga memperlihatkan gaya-gaya pemotretan pada Dion lewat ponsel milik Jihan.


"Lihat deh, menurutmu bagus yang mana?" tanya Jihan, Posisi Jihan jadi lebih dekat dengan Dion karena ia duduk di sebalah Dion.


Disaat itu pula Mawar datang, dan itu membuat Mawar jadi salah paham. Namun dengan begitu, Mawar tetap melanjutkan langkahnya. Ia kembali menghampiri Dion, bukan untuk mengganggu, gadis itu mengambil piring yang ada di atas meja dan membawanya piring kotor itu ke dapur.


Dion melihat ke arah Mawar, ia takut Mawar marah padanya sampai Mawar pun berlalu pergi meninggalkannya.


"Sepertinya kedatanganku tidak tepat," ucap Jihan. "Aku pergi saja ya, Dion." Jihan beranjak dari sofa, ia pamit pada Dion.


Setelah kepergian Jihan, Dion menyusul Mawar ke dapur. Ia mendengar ucapan Mawar yang sedang menggerutu.


"Pria labil, dasar pria tak berperasaan," ucap Mawar.


"Siapa yang tak perberasaan?" tanya Dion. Mawar langsung membalikkan tubuhnya, gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat.


Mawar yang terciduk hanya bisa terdiam tanpa kata, mana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya bahwa kata 'tidak berperasaan' itu memang untuk pada pria itu.


Dion terus mendekati Mawar. Semakin Dion mendekatkan diri, Mawar pun mundur menjauhi pria itu. Terus dan terus seperti itu sampai Mawar tak bisa lagi mundur karena tubuhnya sudah tidak bisa lagi berkutik karena tubuhnya sudah terjerembab di dinding.


Hingga posisi Mawar berada dalam kungkungan pria itu. Dion meraih pinggang Mawar dan merapatkan tubuhnya dengan tubuhnya sendiri.


"Mas, Mas mau apa?" tanya Mawar.


"Kamu cemburu dengan kedatangan Jihan ke mari?"


"Cemburu! Cemburu untuk apa? Mas bukan siapa-siapa aku, jadi untuk apa aku cemburu?" elak Mawar.


"Jangan bohong! Kamu mencintaiku 'kan?" desak Dion. "Jujur saja," sambung Dion.


Pria itu sengaja melakukan itu, agar Mawar mengakui perasaan padanya. Kalau Mawar jujur akan perasaannya, Dion pun akan mengatakan perasaannya sekarang juga. Mesti ini bukan yang diharapkan Dion, pria itu tidak ingin membuat Mawar kembali jauh darinya.

__ADS_1


"Kalau iya kenapa?" Mawar pun akhirnya jujur, ia juga takut kembali dijodohkan oleh neneknya.


Dion menyeringai, pria itu akhirnya mendapatkan jawaban dari Mawar.


"Saya akan melamarmu," jawab Dion.


Mata Mawar terbelalak, bukannya pria itu mencintai wanita tadi?


"Maksudmu apa, Mas?" tanya Mawar tak percaya.


"Aku juga menicntaimu, Mawar. Aku tidak ingin kamu kembali meninggalkanku." Kata itu lolos begitu saja, Dion tidak ingin membuang waktu. Umur yang sudah cukup untuk membina keluarga ia akan segera melamar gadis pujaannya.


"Lalu wanita tadi, bukannya Mas mencintainya?"


"Dulu, sebelum mengenalmu," jawab Dion.


Posisi mereka begitu dekat, tanpa aba-aba Dion mengecup bibir mungil Mawar.


Cup.


Satu kecupan mendarat dengan sempurna. Mawar langsung menyentuh bibirnya sendiri setelah Dion melepaskan bibirnya.


"Manis, bibirmu manis," ucap Dion.


"Ciuman pertamaku," ucap Mawar.


Dion tersenyum kala mendengar itu, pria itu sangat beruntung mendapatkan daun muda sekaligus ciuman pertama yang ia dapatkan dari Mawar.


Dion kembali mencium Mawar, bahkan sedikit bermain di sana. Namun Mawar terdiam, gadis itu tak membalas karena ia tidak tahu harus apa. Ciuman itu cukup lama, hingga Dion menggigit bibir Mawar.


Gadis itu membuka mulutnya, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dion pun menjelajahi seisi ruang mulut Mawar dengan lidahnya.


Mawar menangkup wajah Dion, ia melepaskan tautan itu karena kehabisan oksigen.


Napas Mawar tersengal begitu juga dengan Dion. Dion langsung menarik tubuh Mawar ke dalam pelukkannya.


"Aku akan segera menikahimu, Mawar," ucap Dion dengan suara ngos-ngosan akibat ciuman tadi.


Mawar tidak bisa menjawab apa-apa, gadis itu hanya membalas pelukan Dion.

__ADS_1


"Ajak aku menemui keluargamu," imbuh Dion kemudian.


Bersambung.


__ADS_2