
Rubby langsung bangun dan mendudukkan tubuhnya, Jihan pun langsung duduk. Namun duduknya bukan di sofa, wanita itu duduk tepat di pangkuan Rubby.
Jihan mengalungkan tangannya di pundak suaminya, walau terasa risih dengan selang infus yang sedikit mengganggu namun itu tak menyulitkan Jihan.
Jihan menciumi wajah Rubby, dan itu membuat Rubby sedikit risih. Perasaan Rubby yang terkikis karena sikap Jihan, ia tak begitu menginginkan ini kembali dari Jihan. Rubby sudah memiliki tangan lembut Khanza yang bisa menghangatkan malam-malamnya yang dulu terasa dingin tanpa adanya Jihan.
"Kenapa, Mas?" tanya Jihan kala Rubby memalingkan wajahnya menghindari ciuman dari istrinya sendiri.
"Mas cape," keluh Rubby. "Mas ingin istirahat, sebaiknya kamu juga istirahat, Jihan! Kamu lagi 'kan sakit!" Terang-terang, Rubby menolak sentuhan istrinya. Sakitnya Jihan ia jadikan itu untuk alasan.
Jihan mengepalkan tangan, tentu itu tanpa sepengetahuan Rubby. Siapa yang telah berani mengusik rumah tangganya? Diamnya Jihan, bukan berarti ia menerima kekalahan wanita itu tidak akan memperkeruh keadaan dengan sikapnya sendiri.
Perlahan, Jihan turun dari pangkuan Rubby. Mendapat penolakan Jihan merasa terhina. Ia tak sadar diri, bagaimana waktu ia menolak suaminya yang ingin selalu tidur dengannya? Dan sekarang ia rasakan itu sekarang.
Rasanya sakit bukan mendapat penolakkan dari orang yang kita cintai? Jihan terlalu santai menyikapi itu, dan sekarang sudah terjadi ia harus menerima kenyataan pahit. Cinta itu tak selamanya ada, cinta akan hilang dengan seiringnya waktu apa lagi jika cinta itu tidak jaga dan dirawat.
Seperti cinta Rubby yang mulai menghilang pada dirinya. Terpaksa Jihan kembali ke atas branker, membaringkan tubuhnya di sana. Hatinya berkecamuk, ia akan mencari siapa gerangan yang sudah mencuri hati suaminya.
Sedangkan Rubby, pria itu sama sekali tidak terpancing akan sentuhan Jihan. Pria itu cukup setia, bahkan selama lima tahun terakhir ia pendam hasrat dan cintanya. Hanya pada Khanza si gadis polos yang sudah berhasil membangkitkan Rubby dalam keterpurukan rumah tangganya dengan Jihan.
***
Malam-malam Khanza sendiri tiada yang menemani, namun hanya satu keyakinannya bintang 'kan bersinar menerpa hidupnya bahagia 'kan datang.
Larut dari itu, ia pun tertidur dengan sendirinya. Khanza bisa tidur dengan nyenyak karena sang suami sudah memberikan kepastian akan rumah tangganya. Semoga dilancarkan segala sesuatunya.
Hingga hari esok pun tiba, Khanza terbangun. Gadis itu menggeliat, perlahan ia turun dari kasur dan langsung membersihkan diri. Selesai itu semua, Khanza bergegas ke dapur. Ia akan membuatkan sarapan untuk suaminya seperti biasa.
Selesai masak, Khanza pun bersiap-siap. Pagi ini ia akan pergi ke kantor Rubby untuk mengantarkan makanan untuk suaminya. Pagi ini, Khanza terlihat cantik, ia sudah mulai bisa bermake up.
Khanza sudah ada di depan apartemen, dengan sebuah paper bag di tangan. Ia melambaikan tangannya untuk menyetop taxi dan taxi pun berhenti. Khanza langsung masuk dan mobil pun melaju.
"Kemana, Non?" tanya supir.
"Jalan kenanga, Pak," jawab Khanza pada sang supir.
__ADS_1
Karena masih pagi, jalanan belum terlalu macet. Sehingga Khanza sampai dengan cepat. Gadis manis itu turun dari mobil taxi setelah membayarnya terlebih dulu.
Khanza berjalan masuk ke dalam gedung. Ini ke tiga kalinya ia ke kantor suaminya. Para karyawan melihat kebarah Khanza, semua menatapnya dengan tidak suka. Apa lagi karyawan di bagian receptionis itu sudah pernah melihat Khanza sebelumnya.
"Heh, kamu. Kesini?" Panggil Mita yang tak lain adalah orang yang dulu pernah bertemu dengannya waktu dulu.
Khanza pun datang menghampiri, tak lupa ia sematkan senyumnya pada gadis yang sudah berumur itu.
"Cari siapa kamu ke sini?" tanya Mita sedikit ketus.
"Cari Mas Rubby," jawab Khanza.
"Mas Rubby? Saya tidak salah dengar, kamu menyebut bos kami dengan sebutan itu?" tanya karyawan yang lain.
"Kamu simpanannya ya?" bisik Mita.
Sungguh, Khanza merasa tidak nyaman berada di situ, andai mereka tahu siapa Khanza sebenarnya. Tentu mereka tidak akan berani dengan Khanza, apa lagi sampai ada yang berpikir bahwa Khanza adalah simpanan Rubby.
Khanza menangis, umurnya yang belum genap sembilan belas tahun itu belum cukup berani melawan para wanita yang bekerja di bagian receptionis itu.
Khanza pun akhirnya keluar, dan ternyata memang benar. Rubby tidak ada di kantor, mobilnya saja tidak terlihat di area parkir khusus pejabat tinggi seperti Rubby.
***
Di rumah sakit.
Rubby sedang membujuk Jihan untuk segera memakan sarapannya. Sakitnya ia jadikan sebagai menahan kepergian Rubby, segala cara akan ia lakukan. Jihan tidak akan melepaskan Rubby begitu saja.
"Ayolah Jihan, aku harus ke kantor. Kamu jangan manja seperti ini!" Rubby pun mulai kesal.
Sedangkan Jihan tetap tidak membuka mulutnya, ia lebih memilih sakit dari pada harus ditinggalkan suaminya.
"Ok! Kalau kamu tidak mau makan, terserah kamu Jihan!" Rubby meletakkan piring itu ke tempat semula. Bahkan Rubby sudah beranjak, ia sudah siap akan pergi ke kantor pagi ini.
Melihat suaminya akan pergi, Jihan meraih pisau yang ada di piring buah. Tanpa sepengetahuan Rubby, wanita itu mengarahkan pisau pada urat nadinya. Sepertinya Jihan akan melakukan percobaan bunuh diri. Dia seakan tahu kalau dia sembuh Rubby akan meninggalkannya.
__ADS_1
Akibat penolakkan semalam membuat jiwa Jihan sedikit terguncang.
"Awww," pekik Jihan, dan pisau pun terjatuh.
Rubby yang mendengar itu langsung membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya Rubby melihat darah segar mengucur dari urat nadi istrinya.
"Apa yang kamu lakukan, Jihan?" Rubby langsung memanggil dokter.
Dan kebutalan, suster datang karena memang akan mengecek keadaan pasien. Melihat itu, suster langsung memanggil dokter. Dokter datang langsung menangani pasien.
Sedangkan Rubby, pria itu menunggu di luar. Ia mondar-mandir di depan ruangan Jihan.
"Apa kamu sudah gila, Jihan! Kenapa menyakiti diri kamu sendiri." Rubby jadi pusing sendiri.
Tak lama dari situ, dokter pun keluar. Sepertinya sudah selesai menangani Jihan.
"Bagaimana, Dok?" tanya Rubby.
"Lukanya tidak terlalu dalam, kalau boleh saya tahu kenapa pasien sampai melakukan itu? Sepertinya Nyonya Jihan mengalami depresi ringan, kalau boleh saya kasih saran, jangan membuatnya tertekan."
Rubby jadi gusar, bagaimana kalau ia menceraikannya? Jihan pasti berbuat lebih dari ini. Pikir Rubby.
"Saya boleh masuk, Dok?"
"Boleh, pasien tidak pingsan kok."
Rubby pun langsung masuk menemui Jihan. Jihan yang melihat Rubby langsung memalingkan wajahnya, wanita itu membuat Rubby menjadi merasa bersalah sendiri. Seolah semua ini salah suaminya.
Rubby menghampiri Jihan, pria itu kali ini bersikap tegas pada istrinya.
"Jihan, apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?" Jihan masih tak bergeming.
"Kalau kamu mati itu sama saja kamu memberikanku peluang bisa hidup bersama wanita yang mau memberikanku keturunan."
Rubby tidak akan kepancing dengan permainan Jihan. Wanita itu memang dari dulu selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
__ADS_1
Bersambung.