Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 90


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan?" Jihan terus menghindar dari Bayu. Wanita itu berlari kesana kemari agar Bayu tak menjamahnya.


Tapi sayang, meski pun mabuk Bayu bisa mengejar wanita yang ia sangka adalah istrinya sendiri. Jihan keluar dari kamar sampai menuju ruang tamu, wanita itu terus mencoba membuka pintu depan. Sayang pintu terkunci rapat, ia sudah tak bisa lagi berkutik. Jalan sudah buntu.


Bayu menyeringai berjalan dengan sempoyongan. Pria itu langsung menarik tangan Jihan, Jihan gemeteran, wanita itu benar-benar ketakukan. Bayu menghempaskan kembali tubuh itu di sofa ruang tamu.


Kaki Jihan terbentur sehingga ia tak dapat lagi menghindar, kakinya terasa sakit.


"Kamu tidak bisa lari lagi dariku, Al."


"Bayu, 'kumohon jangan lakukan itu! Aku bukan Alisia! Aku bukan istrimu!"


Bayu tak menghiraukan ucapan wanita yang kini tengah terlentang di sofa. Bayu menarik baju Jihan sampai baju itu robek di bagian dadanya.


Jihan langsung menutup bagian dadanya yang terekspos karena bajunya yang robek. Wanita itu menangis histeris. Apa malam ini ia akan ternoda oleh laki-laki beristri? Ya, Tuhan. Jerit wanita itu dalam hati.


Dengan rakus pria itu ******* habis bibir Jihan, Jihan hanya mampu menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan menghidari ciuman itu dan tangan yang terus memukul tubuh pria itu. Kesal karena Jihan tidak bisa diam, Bayu melepaskan sabuk celananya dan mengikat tangan wanita itu agar tak lagi memberentok.


Sekejap, hasrat laki-laki itu membuncah. Ia melihat belahan dada wanita itu begitu sungguh menggoda. Kepemilikannya menegang untuk yang pertama kalinya. Karena di bawah sadarnya, Bayu tak menyadari akan hal itu. Dulu, pria itu tidak bisa menggerakan kepemilikannya sama sekali.


Namun seringnya berobat dan terapi, akhirnya ia sembuh dari penyakitnya. Sayang, ia harus melakukan itu dengan Jihan. Bukan dengan istrinya.


Jihan terus menangis, wanita itu begitu ketakutan. Mendengar tangisan Jihan, Bayu mengambil sapu tangan dari saku celananya dan menyumpal mulut wanita itu.


Setelah berhasil melakukannya dan Jihan tak lagi memberontak dan menjerit, ia langsung menyesap ujung dada wanita itu. Deraian air mata Jihan terus mengalir, ia menerima serangan Bayu karena terpaksa.

__ADS_1


Pria itu mencumbunya begitu dalam, baju yang sudah robek tambah hancur karena dengan paksa ia menarik baju itu agar terlepas dari si empunya. Melihat kemolekan model cantik itu Bayu menelan salivanya, setengah sadar pria itu melakukannya.


Tanpa permisi, kepemilikan pria itu menerobos masuk ke dalam inti wanita itu. Pria itu terus memajukan pinggulnya maju mundur hingga ia merasakan nikmat yang luar biasa, ini kali pertama bagi Bayu merasakan kejantannya berdiri.


Satu jam sudah berlalu, Jihan sudah tidak berdaya. Ia merasakan pedih di bawah sana, karena Bayu melakukannya tanpa jeda. Gesekan itu menimbulkan rasa sakit bagi Jihan, tidak ada kelembutan dalam melakukannya.


Bayu benci Alisia yang sudah mengkhianatinya secara terang-terangan. Menit berikutnya, akhirnya pria itu pun mengerang hebat dan langsung ambruk di atas tubuh wanita itu tanpa melepasakan pautan di bawah sana.


Tangis Jihan pecah, namun tak menimbulkan suara karena sumpalan itu masih berada di mulutnya, hanya deraian air mata yang mewakili perasaan wanita itu. Hidupnya hancur berkeping-keping, lambat laun tangis itu mulai menghilang air mata tak lagi mengucur karena wanita itu memejamkan matanya karena mengantuk.


Menyusul mimpi si pria yang kini masih berada di atasnya.


Keesokan harinya.


Tubuh Jihan menggigil karena kedinginan, wanita itu tak menggunakan pakaian. Sedangkan Bayu, pria itu masih tertidur di atasnya. Hanya kemeja yang masih menempel pada tubuhnya, kancingnya yang terbuka lebar hingga kulit mereka saling beradu.


Pria itu mengarahkan pandangannya ke bawah, melihat tubuh bugil itu. Ia langsung terbangun dalam sekejap, membuka kemejanya lalu menutupi tubuh Jihan yang masih dalam keadaan polos.


"Sial!" rutuk Bayu, pria itu langsung mengambil celananya dan langsung memakainya. Setelah itu ia melihat ke arah Jihan, wanita itu masih terpejam dengan tubuh yang menggigil hebat.


"Apa yang sudah terjadi?" Bayu mencoba mengingat kejadian semalam. "Apa itu benar terjadi? Bagaimana bisa?" Bayu masih tak percaya akan hal itu, bukankah kepemilikkannya tidak bisa bergerak dan berdiri? Tak percaya, Bayu melihat ke arah sofa, ia melihat sisa-sisa lendir di sofa tersebut. Mencium aromanya, dan itu bukan cairan biasa.


"Ya, Tuhan ... Jihan." Bayu langsung membuka sabuk yang terpasang di tangannya dan membuka sumpalan yang ada di mulutnya. Bagaimana ini? Bayu sendiri saja tidak percaya apa yang dilakukan semalam padanya.


Pria itu langsung meraih dan membopong tubuh ramping itu dan membawanya ke kamar. Menyelimuti tubuh itu dengan selimut. Tahu akan kondisi Jihan dalam keadaan tidak baik, ia langsung menghubungi dokter yang biasa ia memeriksakan dirinya dan menyuruhnya datang kemari.

__ADS_1


Satu jam kemudian, dokter pun datang.


"Bagaimana, Dok?" tanya Bayu ketika dokter itu selesai memeriksa Jihan.


"Dia hanya demam biasa, sakitnya tidak akan lama."


"Dok, boleh saya tanyakan sesuatu?" Bayu mendeja pertanyaannya sejenak, ia melihat Jihan terlebih dulu, takut wanita itu tersadar dan mendengar pembicaraannya dengan dokter. Karena melihat Jihan masih memejamkan matanya, ia pun meneruskan pertanyaannya.


"Apa mungkin saya sudah sembuh dari penyakit saya, Dok?"


Dokter mengerutkan keningnya, apa dia sudah melakukannya dengan wanita itu? batin dokter.


"Semalam saya mabuk berat, dan saya mengingat kejadian semalam," terang Bayu.


"Iya, mungkin saja Anda sudah sembuh dari impoten yang Anda alami. Karena Anda rutin dengan terapi yang saya anjurkan kepada Anda."


Bayu tersenyum mendengarnya, kini ia sudah sembuh. Apa ia bisa kembali bersama-sama dengan Alisia? Tapi, bagaimana dengan Jihan? Wajah Bayu langsung murung. Alisia memang mengkhianatinya, tapi cinta dan perasaannya masih tersimpan rapi dalam hatinya.


Pikirannya begitu kacau ketika melihat Jihan, Ya Tuhan ... Aku sudah berdosa padanya.


"Ya sudah, kalau Anda masih ragu. Anda bisa kembali membuktikannya dengan pasangan Anda lalu segera ke rumah sakit untuk memeriksanya lebih lanjut." Setelah mengatakan itu dokter pun undur diri dan mengantar dokter sampai depan rumahnya.


Sedangkan Jihan, wanita itu sudah sadar ketika dokter selesai memeriksa dirinya. Bulir air matanya kembali terjatuh, tubuhnya merasakan sakit di mana-mana. Tangannya pun begitu masih sakit. Ia tak percaya bahwa Bayu mengalami impoten, tapi semalam, ia ingat betul Bayu melakukannya begitu perkasa. Tidak bisa dipungkiri, semalam Bayu memang hebat. Jihan sampai kewalahan, durasi yang cukup lama baginya. Sehingga menimbulkan rasa perih di bagian intinya.


Tahu Bayu kembali, Jihan buru-buru memejamkan kedua matanya. Ia belum sanggup menatap wajah pria itu, pria yang sudah berhasil menidurinya dengan cara brutal.

__ADS_1


"Maafkan aku, Jihan. Aku berdosa padamu." Bayu duduk di sampingnya dan menatap wajah cantik itu.


Bersambung.


__ADS_2