Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 58


__ADS_3

Khanza dan Rubby malah terlelap, padahal tamu undangan masih meramaikan acara mereka. Hingga kedua orang tua masing-masing kebingungan, di mana anak mereka berada?


"Pa Rubby ke mana, Pa? Acara udah mau selesai juga dia malah ngilang!" Laras sudah ke sana kemari mencari Rubby.


"Ah, Mama ni. Rubby pasti lagi sama Khanza 'lah, Ma. Mama lihat saja, orang tua Khanza juga tengan mencari anaknya." Tunjuk Anggoro ke arah Hazel dan Zira.


Dan benar saja, Laras melihat kedua orang tua menantunya itu tengah berpencar mencari anaknya. Di menit berikutnya, kedua orang tua Khanza dan Rubby bertemu. Hazel menanyakan di mana menantunya itu pada Anggoro.


"Apa kalian tahu di mana Rubby dan Khanza?" tanya Hazel.


Laras dan suaminya hanya mengangkat kedua pundak mereka sebagai jawaban, bahwa mereka tidak tahu akan keberadaan anak-anaknya. Hazel terlihat gusar, baru ketemu sama Rubby, Khanza langsung di bawa ngilang entah kemana.


"Sudahlah, Pa. Biarkan saja mereka, paling mereka sedang melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu," kata Zira.


Hezel yang berpisah belasan tahun juga gak gitu-gitu amat. Ini, baru juga beberapa minggu. Pikir Hazel. Karena acara hampir selesai, para tamu undangan satu persatu pun mulai pamit undur diri kepada sang pemilik rumah. Hingga beberapa saat kemudian, semua tamu yang hadir pun benar-benar pulang.


Hanya menyisakan Laras dan suaminya di sana. Karena sudah larut, akhirnya Laras dan Anggoro pun pamit pada besan mereka.


"Tuan Hazel dan Nyonya Zira, kami pamit pulang," kata Laras.


"Oh iya, Jeng," jawab Zira. "Panggilnya jangan Nyonya dan Tuan, kurang enak di dengernya. Kita 'kan sudah jadi besan," sambung Zira lagi.


Laras tersenyum menanggapi besannya itu, pantas Khanza baik, ternyata ibunya juga baik dan sopan, pikir Laras. "Ya sudah kalau begitu, kami pamit sekarang." Laras dan Zira cium pipi kanan dan kiri, di wajah masing-masing. Setelah itu, Anggoro pun pamit pada Hazel.


"Saya permisi, terimakasih sudah mempersatukan Rubby dan Khanza. Maaf, kami bukannya tidak mencari Khanza waktu penculikan kemarin, soalnya Rubby juga masuk rumah sakit karena Rubby berkelahi dengan anak buah Rosa." Anggoro sengaja mengatakan itu semua karena ia tidak ingin Hazel berpikir selama hilangnya Khanza Rubby tak mencarinya.


Hazel menepuk bahu Anggoro, ia bisa memahami itu. Suami mana yang tidak khawatir akan hilangnya sang istri. Di sini Hazel melihat Rubby, pria itu sudah membuktikan cintanya pada Khanza dengan cara, Rubby menceraikan istri pertamanya demi mempertahankan Khanza.


"Sudahlah, yang penting sekarang mereka sudah kembali bersatu. Kita sebagai orang tua hanya mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita," jawab Hazel. Ia mencoba ikhlas dengan takdir anaknya yang berjodoh dengan pria matang seperti Rubby. Hazel hanya berharap, semoga Rubby bisa jadi panutan untuk anak dan cucunya kelak.


Karena sudah larut, Laras dan Anggoro pun pulang dengan pikiran yang tenang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dengan rumah tangganya Rubby. Tidak ada lagi orang ketiga di rumah tangga mereka.

__ADS_1


***


Pasutri yang tengah bergelung di dalam selimut itu nampak nyenyak. Mereka sampai melupakan acara yang telah dibuat orang tuannya. Khanza menelusupkan wajahnya di ketiak suaminya, ia merasa nyaman berada di samping suaminya.


Rubby yang merasa geli pun terjaga dari tidurnya. Ia membuka matanya, melihat sang istri tengah merapatkan tubuhnya dengan tubuhnya, Rubby pun membenamkan sebuah kecupan di pucuk rambut Khanza.


"Mas," panggil Khanza, ia pun merasakan kecupan itu. "Acara di luar pasti sudah selesai ya, Mas?" tanya Khanza tiba-tiba.


Mendengar itu, Rubby jadi teringat akan orang tuanya. Ah ... Kenapa ia sampai lupa? Rubby jadi merasa bersalah, setidaknya tadi ia pamit dulu kepada orang tuanya. Bukan malah begini, Rubby merutuki dirinya sendiri.


"Mas, kamu dengerkan aku ngomong?" tanya Khanza kembali.


"Hmm, Mas denger."


"Terus kenapa diam saja? Kenapa gak jawab pertanyaanku?" Khanza merubahkn posisinya menjadi memeluk Rubby dari samping.


Sedangkan Rubby, pria itu mengusap lembut punggung istrinya yang mulus. Mereka masih sama-sama polos.


Akhirnya mereka kembali tidur, melanjutkan mimpi mereka.


Sedangkan di luar kamar.


Hazel dan Zira tengah berada di ruang tamu. Selama berpisah sekian lamanya, Hazel belum lagi menyentuh istrinya. Hingga beberapa menit kemudian.


"Ma ...," panggil Hazel.


"Hmm." Zira masih sedikit cuek jika sedang berdua.


"Mama masih marah sama Papa?" tanya Hazel sembari merapatkan tubuhnya dengan tubuh Zira.


Zira sudah tidak marah lagi semenjak Khanza kembali dalam pelukkannya. Hanya saja, pengkhiatan yang dilakukan Hazel masih ia ingat. Dan itu menyisakan luka yang teramat dalam, sakit tapi tidak berdarah. Itulah yang dirasakan Zira.

__ADS_1


Karena tidak ada respon dari Zira, Hazel merubahkan posisinya ia menghadap ke arah Zira. Hazel meraih tangan istrinya, baru Hazel alan mendaratkan kecupan di tangan istrinya, Zira lebih dulu menarik tangannya. Melepaskan dari genggaman suaminya.


"Kamu masih belum bisa memaafkanku?" tanya Hazel dengan lirih.


Zira masih tak bergeming, Zira mencoba melupakan kejadian lalu. Di mana Hazel sempat berpaling darinya dan hampir meninggalkannya dalam keadaan mengandung Khanza sewaktu dulu.


"Aku minta maaf, Zira. Apa yang harus aku lakukan supaya kamu memaafkanku?"


"Tidak adak yang perlu kamu lakukan, cukup menjadi Ayah yang baik bagi Khanza saja sudah cukup bagiku." Ucap Zira sembari memalingkan wajahnya.


Hazel meraih dagu istrinya, tatapan mereka bertemu. Hazel menatapnya begitu dalam, ia tak bisa rumah tangganya seperti ini terus. Sikap Zira selama suaminya kembali, ia bersikap cukup baik. Hanya satu yang belum bisa Zira lakukan, yaitu kembali tidur bersama dalam satu ranjang bersama suaminya.


"Tolong! Maafkan aku?" kata Hazel, pria itu begitu memohon pada istrinya. Tak akan lagi ia ulangi kesalahannya yang dulu.


"Aku sudah memaafkanmu, Pa. Jadi berhentilah berpikir kalau aku belum memaafkanmu," kata Zira meyakinkan suaminya itu.


"Kalau sudah memaafkanku kenapa kamu selalu menghidar disaat aku ingin tidur bersamamu?"


"Butuh waktu untukku bisa kembali seperti dulu." Jawab Zira seraya bangkit dari duduknya.


"Sudah malam, tidurlah," titah Zira pada Hazel. Setelah mengatakan itu, Zira pun berjalan hendak meninggalkan suaminya.


"Aku ingin tidur bersamamu malam ini, Zira. Beri aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik untukmu." Hazel sedikit berteriak karena Zira sedikit jauh darinya.


Zira menghentikan langkahnya, sejenak ia menoleh ke arah Hazel. Tak lama, Zira kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamarnya dan meniggalkan Hazel seorang diri.


Kata maaf memang mudah untuk diucapkan, akan tetapi hati yang merasakan semuanya.


Tubuh Hazel merosot, Zira begitu pandai menyembunyikan perasaannya bila di hadapan orang lain seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Begitu sulit meluluhkan hati Zira.


Malam ini, Hazel kembali gagal untuk menjadi suami yang baik bagi Zira.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2