
Di hotel, tepatnya pagi hati pukul 06.00. Bayu terbangun sejak tadi, namun pria itu enggan beranjak dark tempatnya. Ia malah asyik memandang model cantik yang kini menjadi istrinya. Istrinya yang kini menjadi idola sang ibu.
Ibunya pasti sangat senang, yang idolakannya kini menjadi menantunya. Dan Ia pun menyibak rambut sang istri dan menyelipkannya di daun telinganya, menatap wajah cantik nan teduh itu. Sayang sekali sang bos telah menceraikannya, ah ... Itulah jodoh, siapa yang tahu. Ia tak pernah berpikir akan menjadi suami dari mantan istri bosnya tersebut.
Bayu terus mengganggu istrinya, dari mulai menyentuh rambut, memainkannya. Ah ... Aromanya begitu membuatnya meronta. Namun, sang istri tetap terlelap dari tidurnya. Ia malah menelusupkan kepalanya di ketiak dang suami, mencari kehangatan dan kenyamanan di dalam sana.
Bayu begitu gemas melihatnya, ia pun menarik tubuh itu dan mengeratkannya dalam pelukkannya.
"Tidurlah dengan nyenyak, sayang." Beberapa kali ia membenamkan kecupannya di pucuk rambut istrinya, dan ia pun ikut terlelap kembali.
Beberapa menit kemudian, suara alaram berbunyi dari ponsel milik Bayu. Ia pun meraih ponselnya dan melihat jam yang tertera di layar.
"Ah, sial. Aku kesiangan." Pria itu bangkit dari tidurnya, dan ia pun tak melihat sang istri berada di tempatnya. Medengar gemircik air dari dalam kamar mandi, ia pun berpikir. Pasti Jihan yang berada di dalam sana.
Karena waktu sudah mepet, ia pun menyusul ke kamar mandi. Untung pintunya tidak dikunci, jadi dengan mudah ia bisa masuk ke dalam sana. Pemandangan yang sangat indah, ia tak bisa mengedipkan matanya sama sekali. Mulut menganga dan mata membulat sempurna seakan terhipnotis.
Disaat itu pula, Jihan menyudahi ritual mandinya, pas ia membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya ia melihat sang suami tengah menatapnya dengan nanar. Sontak, ia langsung meraih handuk untuk menutup tubuhnya.
Sayang seribu sayang, Bayu mengambil cepat handuk itu.
"Mas ... Kembalikan, aku malu." Ucapnya sembari menutup bagian tubuhnya yang sensitif.
"Ish ... Kenapa mesti malu? Semalam saja kamu membuat Mas tak memakai pakaian."
Jihan menghentakkan kakinya dengan manja, lalu menghampiri suaminya. Mencoba mengambil handuk yang di pegang suaminya itu. Menjinjitkan kakinya meraih handuk yang diacungkan Bayu, ia sengaja melakukan itu agar ia bisa menahan istrinya keluar dari dalam sana.
Ia sendiri sampai lupa bahwa ia tengah dikejar waktu. Bahkan ponselnya terus berdering sedari tadi, ponsel yang kini tengah tergeletak di atas kasur, sang bos sudah menghubunginya berkali-kali. Sang bos tengah menghembuskan napasnya dengan kasar di sebrang sana. Karyawannya itu sedang dimabuk cinta.
__ADS_1
"Bisa telat kalau begini caranya," ujar Rubby. Padahal ia hanya ingin menanyakan kontrak yang diajukkan pada tuan Abraham, masa iya dia harus ke hotel hanya sekedar bertanya. Seperti orang bodoh saja. Rubby terus menggerutu di kantornya.
Sedangkan Bayu, pria itu sama sekali tidak tahu akan kekesalan sang bos terhadapnya. Ia malah asyik bermain dengan mainan barunya.
"Sampai kapan begini terus?" tanya Bayu yang sudah dibuat terkapar oleh istrinya. Ini juga nikmat, tapi ia menginginkan yang lebih dari ini.
"Tunggu satu Minggu lagi ya, sayang," bisik Jihan sembari menggigit telinga suaminya. Bayu langsung bergidik mendesir.
"Kita mandi sekarang ya, aku sudah laper," sambung Jihan. Diangguki oleh Bayu
Dan mereka pun mandi bersama untuk yang pertama kalinya. Mandi pun selesai, Jihan mengeringkan rambut dengan handuk. Sementara Bayu, ia mengecek ponselnya. Pria itu menepuk keningnya sendiri, melihat layar ponselnya begitu banyak panggilan tak terjawab dari sang bos.
"Gawat." Bayu menghubungi balik tuannya. Dan langsung tersambung, sambungan itu pun terangkat. "Ada apa, Tuan? Maaf, tadi saya sedang di kamar mandi."
"Ya, saya cukup mengerti denganmu. Pasti kalian ..."
"Tidak, lagian sudah terlambat," dengus sang bos.
"Ya, maaf. Lain kali tidak akan terjadi," ujarnya penuh penyesalan.
"Sudahlah, Bayu. Saya harus menyelesaikan pekerjaan ini. Saya sampai ingkar janji pada Khanza." Rubby berjanji tidak anak bermalam, tapi berhubung Bayu ada halangan, ia sendiri harus turun tangan sendiri.
Dan kini percakapan itu pun selesai, karena Rubby mengakhirinya ia akan kembali hari ini juga ke Jakarta, dan mulai besok, Bayu yang akan menangani perusahaan itu di sana.
"Ada apa, Mas?" tanya Jihan setelah suaminya itu meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Mas merasa bersalah pada Tuan Rubby, gara-gara asyik tadi di kamar mandi," ledeknya pada sang istri, dengan menaikturunkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Terus? Kamu nyalahin aku gitu?" Jihan pun tak terima dengan itu.
Hingga terciptalah mereka saling bercanda dan bersendau gurau. Jihan semakin bahagia menjadi istri Bayu, dan mereka tengah menikmati manisnya masa pengantin baru mereka. Dan entahlah apa yang akan terjadi jika mereka kembali ke Jakarta nanti.
***
Dua hari kemudian.
Bayu tengah berada di kantor cabang bersama Jihan, ia ikut menemani sang suami. Dan ini hari terakhir mereka di kota Bandung, mereka akan kembali sore nanti ke ibu kota Jakarta. Memulai hidup mereka di sana.
Sementara di rumah Bayu, tepatnya di kediaman sang ibu.
Alisia nampak sedang memasak di temani oleh ibunya Bayu di sana, membantu memasak untuk menyambut kedatangan Bayu. Pria itu sendiri sudah memberitahukan akan kedatangannya pada sang ibu. Dan Alisia, wanita itu tetap kekeh pada pendiriannya, pantang mundur, ia ingin bertemu dengan Bayu dan mengajaknya rujuk kembali. Sempat ibu Bayu menyuruhnya untuk pulang namun ia tak menggubrisnya, sepertinya ada yang tidak beres dengan wanita itu.
Meski sering kali sang ibu mengatakan bahwa mereka sudah tidak berjodoh. Disaat itu juga, Alisia nampak histeris, ia ingin suaminya itu kembali padanya.
Disaat mereka sibuk di dapur, tak lama dari situ mereka mendengar suara deruman mesin mobil. Seketika, Alisia menyudahi aktivitasnya di dapur. Dengan cepat ia berlari ke depan rumah, wanita itu tersenyum sumringah melihat pria yang ditunggu-tunggunya kini sudah datang.
"Mas Bayu."
Ia kira, Bayu akan langsung berjalan menghampirinya, namun nyatanya tidak. Pria itu malah mengitari mobil, membuka pintu sebelahnya. Nampaklah sesosok wanita dengan pakaian dres bermotif bunga-bunga dan di bagian perutnya terlihat membuncit.
Alisia penasaran, siapa wanita itu. Hingga akirnya, ia mengenali wanita itu. Wanita yang sudah tidak asing lagi baginya, awalnya ia bersikap biasa saja karena ia tahu wanita itu, tidak mungkin jika mereka memiliki hubungan khusus.
Senyum itu tersimpul kembali dari bibir Alisia, ia menghampiri mantan suaminya. Lalu, langkahnya terhenti kala ia melihat, Bayu menggandeng tangan wanita itu.
"Apa-apaan ini?" teriak Alisia sembari mendekat dan melepaskan pegangan tangan Bayu dari tangan Jihan.
__ADS_1
Bersambung.