Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 36


__ADS_3

Melihat keberadaan Khanza membuat papa Rubby jadi tidak enak hati, bagaimana pun gadis itu kini sudah menjadi menantunya. Dan mereka harus saling menghargai.


Laras pun akhirnya melihat ke mana arah mata suaminya. Ia melihat menantu barunya, Rubby menyayangi gadis itu. Dan ia pun harus menyayangi pilihan anaknya.


Rubby berhak mendapatkan kebahagian, siapa pun yang menjadi sumber kebahgaiaan anaknya, Laras ikut bahagia.


"Sini, nak." Laras melambaikan tangan ke arah Khanza.


Sedikit ragu, tapi Khanza akhirnya ikut bergabung dengan mertuanya.


"Sini, duduk." Laras menyuruh Khanza duduk di sampingnya, ibu paruh baya itu harus mengenal menantunya itu lebih dekat.


"Berapa usiamu?" tanya papa.


"De-delapan belas, Om." Sadar dengan ucapannya, Khanza langsung membekap mulutnya sendiri.


"Kok, Om sih! Papa dong, khanza ... Awas salah sebut sama Mama juga. Kami orang tua suamimu, berarti kami juga orang tuamu," jelas Laras.


"I-iya, Ma. Maaf, Khanza belum terbiasa," jawab Khanza dengan sopan.


"Masih kecil ya? Gimana ceritanya kalian bisa nikah? Apa sebelum menikah kamu tahu kalau Rubby sudah punya istri," tanya papa kemudian. "Papa cuma takut, anak Papa itu membohongimu," sambungnya kemudian.


"Tahu, awalnya Khanza bekerja sebagai asisten di apartemen Mas Rubby. Lalu, karena Mas Rubby sering bermalam jadi akhirnya Mas Rubby mengajak menikah. Khanza merasa kasihan sama Mas Rubby, mungkin emang dasar jodoh, Khanza pun menerima ajakan Mas Rubby." Khanza mengatakan itu secara gamlang. Walau masih ada yang ditutupi tentang orang tuanya yang sudah menggelapkan uang, Khanza tidak ingin menghancurkan nama baik orang tua angkatnya itu.


"Lalu, di mana orang tuamu?" tanya mama.


"Ada, rumah kami tidak jauh dari kantor Mas Rubby. Papa sempat bekerja di perusahaan Mas Rubby, tapi sekarang sudah berhenti."


"Ya jelas harus berhenti dong, Za. Masa Papamu bekerja di perusahaan menantu sendiri, Rubby sudah benar tidak mengizinkan Papamu bekerja di sana," terang papa. "Mungkin Rubby inginnya, Papamu punya usaha sendiri."


"Apa kamu tulus menikah dengan anak Mama? Tidak ada niat apa-apa 'kan? Mama tidak mau kamu punya pikiran ingin mendapatkan hartanya Rubby saja, apa lagi memanfaatkan Rubby yang ingin punya anak," celetuk mama.


Huh ... Khanza emang harus tahan berada di sini. Tuduhan ibu mertua membuat Khanza harus bisa bertahan menyelamatkan pernikahannya. Untung Khanza tulus, jadi ia santai saja menyikapi itu.

__ADS_1


"Tidak, Ma. Awalnya Khanza juga tidak cinta sama Mas Rubby," jawab Khanza polos.


Dan itu membuat Papa Rubby tertawa. Khanza malah semakin bingung kenapa papa mertuanya itu tertawa, apa ada yang lucu dengan jawabannya? Pikir Khanza.


"Papa, kok malah ketawa sih! Kita lagi serius nih." Mama memicingkan mata kearah suaminya.


Sang suami langsung merapatkan mulutnya, karena tatapan sang istri membuatnya sedikit takut. Apa papa Rubby dari sebaian suami takut istri? Mungkin saja begitu.


Percakapan kembali diteruskan, kali ini mama bertanya mengenai Khanza sudah siap apa belum jika ia hamil muda? Mama hanya tidak ingin Khanza seperti Jihan, belum siap untuk hamil.


"Kamu siap hamil muda?" tanya mama serius.


Khanza mengangguk mantap, bukankah semua pernikahan harapannya mendapatkan keturunan. Pikir Khanza.


"Bagus kalau begitu, jadilah istri yang baik, jangan kecewakan kami," timpal papa Rubby.


Karena semuanya sudah jelas, Khanza akhirnya bernapas lega. Gadis itu serasa duduk di kursi panas saja. Hatinya dag, dig, dug. Orang tua Rubby membuatnya panas dingin sampai keringat bermunculan di area wajah manis itu.


"Kamu jangan takut sama Mama, Mama emang sedikit garang. Tapi hatinya lembut," bisik papa pada Khanza.


"Gak, Ma. Papa gak ngomong apa-apa, iyakan, Za?" Papa mengerlingkan matanya ke arah sang menantu, semoga Khanza bisa diajak bekerja sama dengannya.


"Bicara apa Papamu, Za?" tanya mama, Laras tidak percaya begitu saja pada suaminya itu. Karena perempuan itu pernah dibohongi oleh suaminya, jadinya Laras tidak gampang percaya pada suaminya itu.


Khanza menggelengkan kepala dengan cepat.


***


Rubby kini sudah sampai di kota tujuan. Bandung yang menjadi tujuannya, cabang perusahaan Rubby turun drastis. Bahkan para karyawan masih berdemo, menuntut kenaikan upah. Rubby sampai bertanya kepada Dion sang pimpinan di sana. Dion diutus untuk memimpin perusahaannya. Dion adalah adik dari papanya Rubby yang umurnya tak jauh dari Rubby sendiri.


"Om, kanapa bisa begini? Bulan kemarin aman-aman saja, bahkan waktu meeting masalah kenaikan gaji sudah dibahas dengan jelas. Kenapa sekarang jadi kacau begini."


"Iya, By. Karyawan tidak percaya karena ada gosip katanya gaji tidak akan naik tahun ini. Pihak perusahaan sudah menjelaskan, sepertinya ada propokator, By," jelas Dion.

__ADS_1


"Kenapa tidak diselidiki," ujar Rubby.


"Ini lagi tahap pencarian. Tapi karyawan ingin bertemu langsung dengan pimpinan utama. Om mau kamu klaripikasi semuanya, kalau upah sudah di pastikan akan naik."


Akhirnya, Rubby adakan meeting dengan serikat pekerja. Ia juga tidak ingin berlama-lama di sini, perusahaannya yang ada di Jakarta pun ia serahkan pada Yuna yang menjadi pengganti Bayu, Yuna orang baru, Rubby takut meninggalkan perusahaannya lama-lama.


Akhirnya Meeting langsung di mulai. Serikat pekerja sudah berkumpul di ruang Meeting. Rubby menegaskan, upah sudah disesuaikan dengan pemerintaj. Jadi para karyawan dimohon untuk bekerja seperti biasa.


SPSI langsung menanggapi penuturan Rubby sang pimpinan utama, akhirnya Rubby sudah berhasil menyelesaikan masalah ini. Dan meeting pun selesai.


Karena hari mulai larut, ia putuskan untuk bermalam di kota Bandung. Rubby mencari hotel untuk menginap, sebelumnya, Dion mengajak Rubby menginap di apartemen milik omnya. Tapi Rubby enggan, omnya itu suka ingin tahu akan masalah pribadi keponakannya itu. Karena Dion masih single jadi Rubby putuskan tidak bermalam di tempat omnya itu.


Rubby pun akhirnya menemukan hoyel yang nyaman. Setibanya di hotel, Rubby langsung menghubungi istri kecilnya lewat vidio call.


"Sedang apa kamu, Za? Kok ga diangkat sih!" Rubby khawatir apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Khanza.


Karena tidak tenang, Rubby menghubungi papanya. Dan sang papa menjawab panggilan Rubby.


"Pa, Khanza di mana?" tanya Rubby tanpa basa-basi.


"Khanza kabur, By."


"Papa jangan bohong! Ini gak lucu, Pa. Mana mungkin Khanza kabur, kecuali kalian menyakitinya?" Rubby tahu papanya itu iseng, tua-tua masih bisa becandain anaknya, pikir Rubby.


Terdengar gelak tawa sang papa, di telinga Rubby.


"Segitu cintanya pada gadis belia itu, apa dia lebih hot dari Jihan?" celetuk papa. Papa Rubby memang sedikit konyol jika sudah mengenai anaknya, papa itu kadang suka usil pada Rubby. Sang papa hanya mengetes anaknya, apa Rubby begitu mencintai gadis kecil itu. Mendengar Rubby agak takut jika istrinya pergi, papa jadi yakin bahwa Rubby memang mencintai istri barunya itu.


"Di mana Khanza, Pa? Aku coba menghubunginya tapi gak diangkat."


"Khanza lagi sama Mama, di kamar. Papa gak tahu apa yang mereka lakukan di sana. Jangan khawatir, dia baik-baik saja di sini."


Rubby pun bernapas lega, setidaknya ia bisa tidur dengan nyenyak malam ini.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2