Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 63


__ADS_3

Sementara Rubby, ia merasa diledek oleh istri kecilnya itu. Rubby pun akhirnya merajuk.


"Mas tetep ganteng kok." Khanza mencoba berdamai, ia tahu suaminya itu marah padanya. Ekspresi Rubby terlihat jelas kalau pria itu marah.


Rubby tak menggubris, pria itu langsung duduk dan bersedekap tangan di dada. Khanza mendekati suaminya dan memeluknya dari belakang.


"Mas lucu kalau lagi marah. Jangan marah dong, Mas ... Nanti cepet tua loh." Ups, Khanza keceplosan. Rubby, bukannya senyum ia malah tambah cemberut.


"Iya, Mas sudah tua. Bahkan tua sebelum waktunya, punya anak juga belum tapi udah jadi Bapak-Bapak. Itu 'kan maksudmu?"


Duh ... Sepertinya salah lagi yang diucapkan Khanza, jadi Rubby malah tambah marah.


"Gak kok, Mas. Bukan itu maksudku!" Khanza tidak tahu lagi harus berbuat apa agar suaminya itu tidak marah lagi padanya.


Memang masih polos, Khanza jadi cuek-cuek saja jadinya. Abisnya bingung juga punya suami gampang marah begitu, pikir Khanza.


Dengan lahap, Khanza kembali memakan kuenya tanpa menghiraukan suaminya yang sedari tadi cemberut. Sampai Khanza menghabiskan kuenya, ekspresi Rubby tidak berubah.


"Mas, udah dong, Mas. Jangan cemberut terus! Lagian cemberutin apa sih? Mas tidak suka sama bajunya? Aku cari baju yang lain ya?" Khanza hendak turun dari kursi yang ia duduki tapi keburu Rubby mencegahnya.


"Gak usah, baju ini juga gak apa-apa kok."


"Gak apa-apa dari mana? Muka juteknya saja masih kelihatan," celetuk Khanza.


"Gak sayang ... Mas gak marah." Rubby menunjukkan senyum palsunya pada istrinya.


"Senyum tuh yang ikhlas, Mas ... Jangan dibuat-buat seperti itu!"


Sadar dengan kelakuannya yang seperti anak kecil, Rubby pun akhirnya mengakhiri perdebatan yang tidak ada artinya itu. Dari pada ngeributin penampilan lebih baik ia mengajak istrinya itu keliling komplek, siapa tahu saja mereka menemukan rumah yang cocok sesuai keinganan mereka.


Tanpa bicara, Rubby langsung menarik tangan istrinya dan mengajaknya keluar. Khanza yang masih merasa kesal terhadap suaminya itu tidak bertanya sama sekali akan kemana suaminya itu mengajaknya.


Khanza mengikuti kemana langkah suaminya itu pergi, sampai ia baru tersadar kalau suaminya itu tengah memandangi rumah satu persatu dari deretan rumah elit di kawasan itu. Mata Rubby tertuju pada sebuah rumah berwarna cat putih yang terlihat sangat megah, dan di sana juga terlihat jelas dipasang spanduk 'Rumah ini dijual.'


"Za, sepertinya rumah ini cocok untuk kita," kata Rubby.

__ADS_1


Khanza juga tengah mengamati rumah tersebut.


"Apa tidak kebesaran, Mas?"


"Nanti 'kan ada anak kita, lihat deh. Tamannya juga luas, jadi tidak perlu keluar rumah jika anak kita merasa bosan. Rumah ini tidak jauh dengan rumah Papa dan Mama, iyakan?"


Kata Rubby ada benarnya juga, akhirnya Khanza putuskan untuk menerima tawaran suaminya. Mereka akan jadikan rumah ini istana mereka.


"Kalau ada yang tidak kamu suka, tinggal direnop saja," kata Rubby.


"Baiklah, Mas. Aku terserah kamu saja."


Setelah merasa rumah itu cocok, Rubby tinggal memikiran pembayarannya. Dan ia serahkan ini kepada Bayu sekretaris sekaligus tangan kanannya.


"Ya udah, kita pulang sekarang. Ini sudah siang, kasian anak Papa kepanasan," kata Rubby sembari menyentuh perut Khanza.


Mereka pun pulang jalan kaki, jari jemari mereka saling bertautan. Khanza sungguh bahagia. Begitu pun dengan Rubby, ia tak menyangka sama sekali. Menikah dengan wanita yang sempat ia benci. Bahkan sudah bikin rusuh di kantornya malam-malam.


Tak lama, Rubby dan Khanza pun sampai di rumah Hazel. Khanza sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya. Dan kebetulan, Zira ada di depan rumah. Sedang menikmati udara sejuk di sana.


"Jalan-jalan sekitar komplek," jawab Rubby.


"Ma, kita sudah menemukan rumah yang pas untuk kita. Mama tahukan rumah sebelah yang berwarna putih itu? Ternyata rumah itu dijual." Dengan antusias Khanza mengatakan itu, Zira pun ikut senang.


"Oh ya? Bagus dong, Mama jadi bisa tiap hari menemanimu jika Rubby sedang di kantor," jawab Zira. "Kapan rencana kalian pindah?" tanyanya kemudian.


"Secepatnya, setelah pembayaran selesai kita langsung pindah, iyakan sayang?" ucap Rubby pada istrinya. Khanza pun mengangguk, mengiyakan sebagai jawaban.


"Ya sudah, sabaiknya kalian istirahat," ucap Zira kepada anak dan menantunya itu.


Akhirnya, Khanza dan Rubby pun mengistirahatkan tubuh mereka di kamar, Khanza merebahkan tubuhnya di atas kasur, di susul oleh suaminya. Mereka tidur siang bersama.


Hari pun berganti


Rubby sudah siap-siap menjalani aktifitasnya seperti biasa. Ia akan ke kantor hari ini dan mengurus rumah yang akan dibelinya.

__ADS_1


"Sayang, aku ke kantor dulu, ya?" pamit Rubby pada Khanza.


"Ini masih pagi, Mas. Mas ngapain pagi-pagi begini sudah berangkat?" tanya Khanza.


"Mas mau pulang dulu ke rumah, baru setelah itu ke kantor. Kamu kemas saja baju-bajumu, Mas sudah menyuruh Bayu untuk mengurus semuanya.


Setelah itu, Rubby pun berangkat. Bahkan kedua orang tua Khanza pun masih terlelap, ia sengaja tak membangunkan mereka. Karena Rubby tahu, pasangan itu lagi kasmaran. Bayangkan saja, tiga belas tahun lebih mereka berpisah, tentu kedua orang tua Khanza sedang dimabuk cinta. Kalau menurut Rubby sih puber kedua.


Khanza mengantar suaminya sampai depan rumah, matahari juga belum menampakkan dirinya.


"Mas hati-hati ya?" ucap Khanza pada suaminya yang kini hendak menaiki mobilnya. "Jangan lupa sarapannya di makan," sambungnya lagi. Meski pun begitu, Khanza selalu ingat akan perut suaminya. Ia tidak pernah membiarakan suaminya pergi dalam keadaan perut kosong.


Di dalam mobil, sedari tadi, Rubby melihat ke arah kotak makanan yang dibuatkan istri kecilnya itu. Ia bersyukur mendapatkan pengganti Jihan yang jauh lebih baik dari istri pertamanya.


Larut dalam pikiran Rubby, sampai tak terasa ia sudah sampai di rumah tepat pukul enam pagi. Rumah terlihat nampak sepi. Begitu beda ketika waktu Khanza tinggal di sini. Jam segini istrinya sudah sibuk di dapur, membantu para asisten membuatkan sarapan untuk mereka.


Hingga Rubby kini sudah masuk ke dalam, karena lapar, ia pun menikmati bekal istrinya. Hanya sebuah nasi goreng dengan telor mata sapi, namun sangat terlihat mengugah selera. Sampai aromanya begitu tercium oleh penciuman Laras yang baru saja bangun tidur dan langsung menuju dapur. Ia mendapati Rubby, anaknya.


"By, kapan kamu pulang?" tanya Laras sambil mengambil minum di dapur.


"Baru saja, Ma," jawab Rubby. Melihat anaknya sedang makan dan makannya sangat lahap, Laras pun merasa lapar.


Laras kira makanan yang dimakan Rubby hasil masakan asistennya, nyatanya bukan. Di atas meja tidak tersedia makanan seperti yang Rubby makan.


"By, Mama coba dong!" Laras menarik piring yang ada di hadapan anaknya, tapi sayang makanan itu sudah habis. Jadi Laras tidak mencoba masakan menantunya itu.


Akhirnya, Mama kecewa karena tidak kebagian. "By ... Mama kengen masakan Khanza. Kapan kamu ajak istrimu tinggal di sini lagi?"


"Khanza tidak akan tinggal di sini, Ma," jawab Rubby.


Mata Laras sudah melotot, apa maksud dari kata anaknya itu? Jangan-jangan terjadi sesuatu diantara mereka, pikir Laras.


_


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2