
"Rubby, nama suamimu Rubby?" tanya Zira.
Khanza mengangguk mengiyakan pertanyaan mamanya.
"Aku ingin bertemu dengannya, Ma. Mas Rubby pasti khawatir padaku." Khanza memohon pada Zira. Tatapan Khanza membuat Zira ingin mempertemukan anaknya dengan suaminya.
"Pa." Zira menatap pada suaminya. Zira hanya takut kembali berpisah dengan anaknya.
"Siapa nama lengkap suamimu?" tanya Hazel pada Khanza.
"Rubby Anggoro," jawab Khanza sembari melihat ke arah papanya.
Hazel memejamkan matanya, bagaimana bisa anaknya itu menikah dengan pria beristri? Hazel tahu siapa Rubby, pria itu pernah menjadi rekan bisnisnya sewaktu dulu.
"Kenapa, Pa? Apa Papa kenal dengan Mas Rubby?" tanya Khanza penasaran, karena ia melihat ekspresi papanya sedikit berbeda setelah mendengar nama Rubby.
Hazel mengangguk, memang benar ia mengenal pria itu. Tapi bukan berarti dia langsung merestui hubungan anaknya, bukan? Mempunyai menantu seperti Rubby bukan perihal yang mudah baginya menerimanya sebagai menantu.
Akan ada omongan dari orang lain yang akan menjadi gunjingan bagi keluarganya.
"Apa pernikahan kalian pernikahan siri?" tanya Hazel.
Lagi-lagi Khanza mengangguk, yang ia tahu suaminya itu memang belum meresmikan pernikahannya.
"Kenapa mau menikah siri? Papa tak habis pikir bagaimana cara pemikiranmu, Khanza." Hazel kecewa dengan pernyataan Khanza.
Khanza juga diam, ia memang tak bisa berbuat apa-apa. Jihan 'lah yang berhak atas suaminya. Yang dipikirkan Khanza sekarang, bagaimana caranya agar ia bisa bertemu dengan suaminya. Melihat ekspresi orang tuanya, mereka terlihat kecewa dengannya.
Khanza tidak ingin membangkang pada orang tuanya. Ia akan menemui suaminya jika orang tuanya sudah menerima Rubby sebagai menantu orang tuanya.
"Sayang, sebaiknya kamu istirahat ini sudah terlalu malam. Ingat janin yang ada dalam perutmu," kata Zira. Mereka belum bisa menerima kenyataan bahwa Khanza sudah menikah, tapi bukan berarti ia tak menerima calon cucunya. Anak yang dikandung Khanza adalah anugerah, mereka tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Tuhan pada Khanza.
Khanza pun menuruti perintah orang tuanya. Ia membaringkan tubuhnya di kasur.
Sementara Hazel, ia menghampiri anaknya terlebih dulu. Pria itu duduk di samping anaknya dan mengusap lembut pucuk rambut Khanza.
"Papa akan atur rencana untuk mempertemukanmu dengan suamimu," kata Hazel.
Khanza beranjak dari posisinya, ia tak percaya kalau papanya akan mengabulkan permintaannya yang ingin bertemu dengan suaminya.
__ADS_1
"Terimakasih, Pa." Khanza memeluk Hazel. Pelukan yang tak pernah ia rasakan dari seorang ayah, kini ia merasakan kasih sayang orang tua kandungnya.
"Tapi kamu sabar ya? Papa akan atur itu, sekalian akan mengumumkan pada publik bahwa Khanza anak Papa dan Mama." Ucap Hazel sembari mengusap lembut punggung anaknya.
"Iya, Pa. Khanza akan sabar untuk itu," jawab Khanza yang masih berada di pelukan papanya.
"Pa, ayok?" ajak Zira. "Biarkan Khanza istirahat," sambungnya lagi.
Hazel pun melepaskan pelukkannya. Hazel mencium kening Khanza, setelah itu baru ia pergi meninggalkan putrinya. Hazel menarik selimut untuk menutupi tubuh Khanza, dan mematikan lampu. Setelah itu ia pun benar-benar pergi.
Keesokan harinya.
Di rumah sakit.
Rubby kembali terkapar di ruang rawat, pasca kejadian semalam membuat pria matang itu sampai saat ini masih belum sadarkan diri. Pukulan di bagian kepala cukup keras sampai meninggalkan bekas di dalam sana.
Rubby mengalami luka dalam di bagian kepala, dokter belum bisa memastikan keadaan Rubby selagi pria itu belum sadarkan diri.
Laras nampak begitu khawatir, kondisi Rubby memang cukup memprihatinkan. Wanita paruh baya itu menangisi keadaan anaknya yang terbaring di atas branker. Kenapa nasib anaknya jadi seperti ini?
Tubuh babak belur, istri hilang entah kemana? Laras benar-benar terpukul dengan kejadian ini. Semoga anaknya itu cepat pulih dan Khanza cepat ditemukan.
Anggoro tidak bisa ikut menemani Laras di sini. Ia harus berada di kantor untuk mengurus perusahaan yang kini di pimpin oleh Rubby, untung Bayu sudah mulai bekerja. Jadi Anggoro tidak terlalu repot mengurus perusahaanya.
Akhirnya, Anggoro pun sampai di rumah sakit. Pria itu langsung bergegas menuju ruangan anaknya. Dilihatnya ada sang istri yang selalu setia mendampingi Rubby, karena Rubby anak satu-satunya membuat Laras takut akan kehilangan anaknya itu.
"Ma, bagaimana kondisi Rubby?" tanya Anggoro yang baru saja tiba.
Laras menggelengkan kepalanya, belum ada tanda-tanda Rubby akan sadar. Laras melah kembali menangis.
"Pa, kenapa semuanya jadi begini? Mama takut, Pa. Mama takut kehilangan anak kita." Tangis Laras pecah.
Anggoro langsung memeluk istrinya, mencoba menenangkan Laras.
"Kita berdoa saja, semoga Rubby melewati masa kritisnya." Anggoro mengusap air mata yang terjatuh dari mata istrinya. "Sudah, Mama jangan menangis terus."
Laras melepaskan pelukkan suaminya.
"Apa ada kabar dari Wira, Pa?" tanya Laras mengenai Khanza. Karena Anggoro menyuruh Wira dan anak buahnya terus mencari keberadaan Khanza.
__ADS_1
Anggoro menggelengkan kepalanya, karena keberadaan Khanza masih belum bisa ditemukan. Bahkan Rosa saja yang pernah menculik Khanza sudah mendekam di penjara karena sudah membuat Rubby masuk rumah sakit. Belum ada titik terang akan keberadaan menatunya itu.
Waktu terus berjalan, sudah dua hari ini Rubby masih belum sadarkan juga. Laras masih setia menemani anaknya, hingga kini posisi Laras tengah menatap wajah Rubby dan tanganya ia genggamkan pada tangan Rubby.
Hingga ada gerakan kecil di sana, Laras langsung menyadari itu.
"By?" panggil Laras. "Kamu sadar, nak?" Laras melihat mata Rubby mengerejap.
Perlahan Rubby membuka matanya, Laras langsung tersenyum melihat Rubby sudah sadar. Ia langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan anaknya itu.
Tak lama dari situ, dokter datang bersama seorang suster untuk memeriksa keadaan pasien.
"Maaf, Nyonya. Anda bisa menunggunya sebentar di luar, biarkan Dokter memeriksa keadaan pasien," ucap suster pada Laras.
Akhirnya Laras pun keluar, membiarkan dokter memeriksa Rubby. Laras terus menunggu hingga beberapa saat kemudian, dokter pun keluar dari ruangan. Dokter mengajak Laras untuk kembali masuk untuk menemui Rubby.
Laras langsung menghampiri Rubby, mengusap lembut kepala Rubby yang masih diperban.
"By, ini Mama," kata Laras.
Laras melihat Rubby diam saja, tak ada respon dari Rubby. Rubby terlihat bingung, di mana ia berada sekarang?
"Aku di mana?" tanya Rubby.
"Kamu di rumah sakit," jawab Laras. "Ini Mama, sayang," kata Laras lagi.
"Mama," Rubby mengulang perkataan Laras. "Lalu namaku siapa?" tanya Rubby sendiri.
Pertanyaan Rubby membuat Laras bingung di sini. Kenapa Rubby tidak tahu namanya sendiri?
"Dok, apa yang terjadi pada Rubby?"
Dokter kembali memeriksa Rubby, sepertinya Rubby hilang ingatan. Belum dokter selesai memeriksa Rubby, Rubby kembali berucap.
"Jihan di mana, Ma?" tanya Rubby.
Laras kembali dibuat bingung oleh anaknya.
"Dok, apa yang terjadi pada anak saya? Kenapa dia ingat nama Jihan? Sedangkan dengan namanya sendiri ia tidak ingat?"
__ADS_1
"Sepertinya anak Anda hilang ingatan, tapi hanya sebagian yang dia ingat. Biasanya kejadian ini tidak akan lama, Tuan Rubby akan sembuh. Saya hanya minta jangan memkasanya untuk mengingat semuanya dalam waktu dekat," jelas dokter.
Bersambung.