
Setelah menempuh waktu hampir dua jam akhirnya mereka pun sampai di kota metropolitan itu.
Kedatangan Mawar disambut oleh Laras dengan antusias sekali. Dion sudah memberitahukan pada kakak iparnya tersebut bahwa ia sudah menjalin hubungan dengan Mawar. Gadis cantik nan pintar itu akan menjadi iparnya.
"Mawar," sapa Laras.
Mawar mencium punggung tangan Laras lalu mereka berpelukan melepas rindu. Sedangkan Dion hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua wanita itu.
Karena mendengar kebisingan, Khanza dan Rubby pun menghampiri ke arah sumber suara. Rubby mengerutkan kedua alisnya, pasalnya pria itu belum tahu akan hubungan yang sudah dirajut pasangan baru itu.
Khanza juga merasa aneh melihatnya, sejak kapan Mawar dan Dion terlihat begitu akrab. Apa jangan-jangan mereka pacaran? Pikir Khanza. Si perjaka tua itu sepertinya kemakan omongan sendiri, bahkan Khanza ingat betul apa yang diucapkan Dion waktu dulu. Dion tidak mungkin seperti Rubby, menikah dengan karyawannya sendiri. Ingatlah, ucap itu adalah doa.
Khanza dan Rubby menghampiri Dion lebih dekat. Pria itu langsung menanyakan perihal Mawar yang berada di sini bersamanya.
"Kalian kok ada di sini?" tanya Rubby. "Bukankah kamu sudah bukan karywannya lagi?" tanya Rubby pada Mawar kemudian.
"Hmm, sepertinya Mawar bukan karyawan biasa, Mas. Sudah ada sesuatu di antara mereka," timpal Khanza.
"Wah ... Sepetinya ada yang kemakan omongan sendiri nih," cibir Rubby.
"Maksdunya?" tanya Mawar.
"Katanya dia anti pacaran sama karyawan sendiri," ucap Rubby lagi.
"Ya emang anti pacaran, aku akan segera menikahinya," elak Dion.
Wajah Mawar langsung merona ketika Dion akan segera menikahinya di depan keluarga calon keluarganya itu.
"Sudah ah, kita masuk sekarang," ajak Laras. Sehingga mereka pun menuruskan perbincangannya di dalam.
Mawar melihat dekoran rumah itu bukan seperti akan mengadakan tujuh bulanan, melainkan seperti akan ada resepsi pernikahan. Orang-orang berlalu lalang di dalam sama, semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
__ADS_1
Mereka pun sudah duduk di sofa ruang tamu, Mawar yang baru pertama kali ke rumah Khanza sangat takjub akan seisinya, gadis yang sangat beruntung, pikir Mawar. Mawar pun tidak tahu kalau ternyata Khanza memang kalangan dari orang kaya, bahkan orang tua Khanza jauh lebih kaya dari keluarga suaminya.
Dion terus memperhatikan Mawar yang sedang mengarahkan pandangannya ke arah sekitar. Pria itu seakan tahu apa yang ada dalam pikiran wanita itu, Mawar hanya seorang wanita biasa keluarganya pun dari keluarga sederhana. Semoga calon istrinya itu tidak minder akan keadaannya.
"Acara ini tidak seberapa dengan pesta pernikahan kita nanti," bisik Dion di telinga Mawar.
Mawar yang mendengarnya pun langsung menoleh ke arah Dion. Ia tidak minta pesta mewah, ia tidak mengharapkan itu semua. Pesta sederhana pun tak apa bagi Mawar, asal rumah tangganya bahagia. Itu tujuan dari pernikahan yang akan dijalaninya kelak bersama suaminya. Gadis itu hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan calon suaminya itu.
Tak terasa waktu menjelang sore.
Dion dan Mawar pun pamit dari rumah Rubby, ia akan kembali ke sini besok malam karena acara syukurannya akan dilaksanakan ba'da isya. Sementara Laras, wanita paruh baya itu tidak pulang. Ia akan bermalam di sini bersama besannya Zira.
"Mbak aku bermalam di rumah Mbak saja bersama Mawar," kata Dion.
"Hmm, sebaiknya memang harus di sana" jawab Laras. "Awas! Jangan tidur sekamar!" bisik Laras di telinga Dion.
Ucapan itu sebuah ancaman bagi Dion, ia pun tidak mungkin tidur satu kamar dalam hubungan yang belum sah. Tapi jika keadaan mendesak apa boleh buat, pikir Dion. Sampai ia sendiri pun menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya punya pikiran kotor seperti itu.
"Mawar, kamu hati-hati di rumah ya? Kunci pintu kamarmu," titah Laras. Sampai Mawar mengerutkan kedua alisnya, apa maksud ucapan wanita itu? Mawar sungguh tidak menegrti, hingga pada akhirnya ia menoleh ke arah Dion. Kini ia pun tahu apa maksud dari wanita paruh baya itu.
"Ya udah, Tante. Aku pamit ya?"
Setalah mereka pamit, Dion dan Mawar pun segera pergi.
***
Mereka sampai pada jam tujuh malam, di rumah Laras nampam sepi sekali. Asisten pun tidak ada satu orang pun, padahal Dion akan menyuruh asisten di sana menyiapkan makan malam untuknya dan Mawar.
"Sebaiknya kamu bersihkan dulu tubuhmu," kata Dion. "Aku juga mau mandi," sambungnya kembali.
Setelah mengatakan itu, Dion segera naik ke lantai atas. Ia akan mandi di kamar yang biasa di gunakan Rubby. Sementara Mawar ia masuk ke dalam kamar yang sempat ia gunakan di sana.
__ADS_1
Mawar melihat kamar itu, tidak ada yang berubah di sana. Ia pun melihat ke arah kasur di mana ia dulu pernah tergeletak tak berdaya di sana, bibirnya mengulas senyum ketika teringat Dion menemaninya waktu itu dikala ia sedang sakit.
Gadis itu bukannya mandi, ia malah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Gadis itu merasakan lelah akibat perjalanan tadi, tak terasa Mawar terlelap dengan sendirinya.
Di kamar lain, Dion sudah terlihat sangat tampan. Pria itu akan mengajak Mawar jalan-jalan karena ini malam minggi, tentu ia ingin menghabiskan waktu malam ini bersama kekasihnya. Setelah puas melihat bayangannya di cermin, ia pun keluar kamar berniat menemui Mawar. Gadis itu pun pasti sudah mandi, pikir Dion.
Setibanya di lantai dasar, Dion melihat pintu kamar Mawar terbuka. Tanpa mengetuknya lebih dulu, pria itu menyelonong masuk. Tidak terlihat adanya Mawar di sana, Dion belum melihat ke arah kasur.
Setelah melihat ke arah kasur, pria itu menghembuskan napasnya. "Kok malah tidur sih." Dion mendekati gadis itu yang tengah tertidur, duduk di tepi ranjang. Ia melihat wajah gadis yang kini tengah terlelap begitu dalam.
Dion menyentuh pipi Mawar yang begitu mulus seperti jalan tol. Putih, bersih, cantik. Paket lengkap bagi wanita itu. Hingga Dion terbawa suasana, ia memajukan wajahnya ke arah wajah gadis itu.
Dion mengecup kening Mawar, hingga si pemilik raga itu terjaga dari tidurnya. Mawar mencium aroma parfum yang selalu dipakai Dion, gadis itu sudah hapal dengan baunya.
Perlahan tapi pasti, Mawar membuka matanya, ia melihat wajah Dion begitu dekat dengannya. Hanya menyisakan beberapa senti saja.
Melihat Mawar membuka matanya, Dion sedikit menjauh. Ia menarik diri memposisikan duduknya.
Karena ketahuan akan aksinya, pria itu malu tak terkira. Bisa-bisanya mencuri kesempatan dikala Mawar sedang tidur. Mawar pun beranjak dari tempatnya, ia duduk dan bersandar di sandarang ranjang.
Tidak ingin membuat calon suaminya malu akan kelakuannya, Mawar merasa tidak terjadi sesuatu dengan barusan. Ia malah melihat Dion, melihat penampilannya yang sudab rapi dan terlihat tampan.
"Mas mah kemana?" tanya Mawar.
Dion menoleh ke arah Mawar sembari menjawab.
"Mau pergi keluar, tapi kamu malah tidur. Kamu mandi sekarang ya? Mas mau mengajakmu jalan-jalan malam ini."
Mawar pun mengangguk, lalu turun dari kasur. Ia akan membersihkan diri.
Bersambung.
__ADS_1