Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 97


__ADS_3

Tidak ada jawaban dari Jihan, wanita itu malah memeluk tubuh Bayu. Hati pria itu merasa tenang, inikah akhir dari semuanya? Hidup bersama orang yang tak pernah hadir dalam benaknya sedikit pun.


"Ji, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


"Apa?"


"Perasaanmu pada Tuan Rubby?"


"Perasaanku sudah tenggelam, terbawa dengan air mataku. Aku tidak ingin terus mengenang masa lalu, yang lalu biarlah berlalu. Aku sudah ikhlas dengan semuanya, yang aku pikirkan sekarang adalah dia." Jihan menyentuh perutnya yang mulai membesar. "Dia hadir menjadi Malaikat bagiku, mempertemukanku denganmu menjadi sebuah hubungan yang lebih serius."


Mereka masih berpelukkan, hingga keduanya pun melepaskan diri masing-masing dari pelukkan itu.


"Kamu belum makan," ucap Bayu. "Kamu mau makan apa? Biar aku suruh Mira membuatkannya," sambungnya lagi.


Jihan menggelengkan kepalanya, bukan itu yang ia mau. Sebenarnya sudah lama ia menginginkan sesuatu, tapi ia tak berani mengatakannya pada pria itu.


"Lalu, apa yang kamu inginkan? Apa tidak ada yang bisa aku lakukan untuknya?" tanya Bayu seraya menyentuh perut Jihan.


"Ada, sebenarnya aku sudah lama menginginkannya," ujar Jihan.


"Apa? Apa yang kamu inginkan? Aku gak mau punya anak ileran."


Jihan memukul dada bidang Bayu, harusnya sejak dulu ia menanyakan apa yang diinginkannya, wajah Jihan terlihat kesal setelah Bayu mengatakan kata ileran.


Bayu meraih dagu wanita itu.


"Aku akan mengabulkannya, sampai ke ujung dunia pun," yakin Bayu.


"Benar?" tanya Jihan dengan mata berbinar.


Bayu mengangguk.


"Aku mau lolipop, dan belinya di pasar malam."


Sesederhana itu keinginannya? Jihan sudah benar-benar berubah. Setahu Bayu, dulu Jihan selalu menuntut lebih pada Rubby. Bahkan dulu, ia sering dibuat repot olehnya karena keinginannya.


"Baiklah, kita berangkat sekarang?" ajak Bayu.


Jihan langsung melingkarkan tangannya di tangan Bayu dengan manja. Bayu tersenyum dibuatnya, pria itu pun sedikit mengacak rambutnya dengan gemas.


***

__ADS_1


Di tempat lain.


Rubby dibuat repot oleh anak pertamanya, bayinya itu enggan tidur dalam keranjangnya. Yang diinginkannya adalah tidur dalam pangkuannya.


"Sayang, Putra tidak mau tidur di sana." Tunjuk Rubby pada kereta bayinya.


"Mungkin lagi manja, Mas. Sudah ah, aku mau tidur dulu. Nanti gantian saja," kata Khanza.


"Hmm, baiklah. Kamu tidur saja," kata Rubby.


Rubby merasa kasihan pada istrinya itu, sering kali ia terbangun karena harus menyusui sang bayi. Mereka juga tidak memakai jasa baby siter, karena Khanza yang menginginkannya. Ia ingin menjaga anaknya, mungkin ia akan membutuhkan baby siter jika memang kewalahan.


Karena anaknya masih bayi dan belum terlalu aktif ia masih bisa menanganinya berdua dengan sang suami. Bahkan Jira sudah pernah membawa baby siter, namun diusir oleh Khanza sendiri.


Akhirnya, Rubby yang menjadi korban. Sering kali ia tertidur di kantor karena harus menemani anaknya yang terjaga di tengah malam. Baru jam delapan malam, Rubby sudah menguap, dan akhirnya ia pun tertidur di sofa sembari menggendong Putra.


Bantal sebagai penopang tubuh sang bayi, mereka pun sering tidur terpisah semenjak lahirnya anak pertama mereka.


***


"Mas, aku mau naik itu." Tunjuk Mawar pada wahana yang ada di pasar malam tersebut.


Ya, Dion dan Mawar tengah berada di pasar malam. Menikmati malam minggu mereka di sana.


Seketika wajah Mawar langsung cemberut. Bumil itu merajuk dan pergi meninggal Dion yang sedari tadi terus melarangnya ini, itu. Hingga akhirnya Mawar marah padanya.


Dion pun mengejar istrinya, hingga Mawar tak sengaja menabrak seseorang di sana.


"Mbak Jihan," kata Mawar.


Dion yang melihat Jihan pun langsung menghentikan langkahnya. Tak lama Bayu datang dengan membawa lolipop di tangan.


"Sayang, ini lolipopnya." Bayu terkejut melihat keberadaan Mawar di sana.


"Sayang." Dion mengulangi apa yang diucapkan Bayu seraya menghampiri mereka.


"Kalian ... Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Dion bingung, dan yang lebih bingung lagi dengan panggilan Bayu pada Jihan dengan sebutan sayang.


"Bisa kalian jelaskan?" pinta Dion kemudian.


Akhirnya, mereka berempat duduk di taman yang dekat dengan pasar malam tersebut. Bahkan Bayu menjelaskan semuanya pada Dion dan Mawar apa yang sudah terjadi antara ia dan Jihan.

__ADS_1


Awalnya Dion tak percaya, tapi setelah Jihan ikut meyakinkan ucapan Bayu, Dion pun percaya.


"Semoga kalian berdua bahagia," ujar Dion. Semenjak menikah, Dion pun akhirnya melupakan Jihan sebagai cinta pertamanya.


Dan mereka pun akhirnya jadi double date. Wanita itu ternyata ngidam yang sama, usia kehamilan mereka pun sama. Bedanya, Mawar blak-blakan dengan keinginannya.


Tidak dengan Jihan, ia tak berani karena Bayu bukan suaminya. Ia lebih memilih memendam semuanya, ia berani karena ia sudah tahu akan perasaannya Bayu padanya.


"Kapan rencana kalian menikah?" tanya Dion kemudian.


"Aku sih terserah Jihan saja," jawab Bayu.


"Lebih cepat lebih baik, Mbak," ujan Mawar.


"Hmm, mungkin dekat-dekat ini," jawab Jihan.


Mereka cukup lama berada di taman, hingga kini saatnya mereka berpisah. Mereka pun pulang dengan mobil masing-masing.


Dalam perjalanan, tepatnya di mobil Dion.


"Mas, aku gak nyangka loh, ternyata Ayah yang di kandung Mbak Jihan adalah Mas Bayu. Gimana reaksi Mas Rubby, ya?" tanya Mawar.


"Mereka 'kan sudah tidak ada hubungan apa-apa. Mas rasa reaksi Rubby akan biasa saja," jawab Dion dengan santainya, seperti dirinya yang santai saat tahu akan kehamilan Jihan.


"Iya juga sih, setidaknya Mas Bayu 'kan sekretaris Mas Rubby, apa mereka tidak canggung nantinya?"


"Sudah ah, kita tidak perlu ikut campur. Biarkan saja." Tak lama, mereka pun sampai di rumah mereka. Akhirnya Dion dan Mawar menetap di Jakarta karena Dion tak lagi memegang cabang yang ada di kota Bandung, kini ia memulai bisnis properti. Bisnis yang ia rintih sendiri, dan akhirnya ia pun mulai mengembangkan bisnisnya itu.


***


"Tidurlah," kata Bayu sesudah mereka sampai di tempat tinggalnya, tepatnya di kamar Jihan. Karena ini malam Minggu, cafe pun masih ramai dengan pengunjung. Bayu tidak ingin, Jihan membantu Mira dan Anan. Karena ini sudah larut.


"Besok aku akan kembali, sekalian membahas pernikahan kita," ujarnya lagi.


"Aku ingin pernikahan kita diadakan dengan cara sederhana saja, cukup ke KUA," pinta Jihan.


"Hmm, aku serahkan semuanya padamu. Sekiranya itu membuatmu nyaman, aku setuju saja."


Bayu menuntun Jihan untuk merebahkan tubuhnya di kasur miliknya. Menyelimutinya sampai wanita itu merasa nyaman. Ia juga mengusap lembut pucuk rambutnya, agar Jihan lebih cepat terlelap dari tidurnya.


beberapa menit kemudian, terdengar dengkuran halus dari si pemilik tubuh yang kini sudah tertidur. Bayu pun mencium kening Jihan sebelum ia pergi dan akan kembali besok.

__ADS_1


Bayu pun akhirnya pulang. Setibanya di depan rumahnya, ia mengucek kedua matanya. Apa matanya sudah tidak beres, hingga ia melihat seseorang di sana dan melihat koper besar di samping orang itu.


Bersambung.


__ADS_2