Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 109


__ADS_3

Seketika Khanza menganggukkan kepalanya cepat. Sedangkan Rubby, pria itu mengerutkan alisnya. Tumben sekali istrinya itu pengen rujak.


"Kamu gak lagi ngidam 'kan?"


Khanza terdiam sejenak, ia juga berpikir tumben sekali ia ingin rujak. Padahal, ia tak begitu menyukai buah masam.


"Sayang, kamu hamil?" tanya Rubby untuk yang kedua kalinya karena sedari tadi Khanza hanya termenung


"Apa mungkin? Aku 'kan KB, Mas. Mana mungkin aku hamil," jawabnya sedikit ragu, ia juga merasa aneh.


"Dulu juga begitu, mual, pusing, iyakan?" jelas Rubby. "Bulan kemarin, Mas gak antar kamu ke rumah sakit untuk KB. Lalu, kamu ikut KB apa?" tanyanya kemudian.


"Pil, aku beli di apotik. Nitip sama Bibi," jawabnya.


"Coba periksa ke Dokter. Mas kira sepertinya kamu hamil, deh."


"Itu sih maunya kamu, Mas."


"Ya gak apa-apa dong, Mas seneng kalau kamu hamil," ucapanya antusias.


"Jadi mau beliin rujak gak nih?"


"Iya, Mas beliin. Kamu tunggu sebentar, Mas beli dulu." Rubby pun akhirnya turun dari mobilnya dengan bersemangat, semoga saja dugaannya benar. Tak lama, ia pun kembali membawa dua kantong kresek di tangan.


"Nih." Rubby memberikannya pada sang istri.


Tak sabar, Khanza langsung membukanya dan memakannya. Rubby yang melihatnya langsung bergidik, membayangkan buah mangga yang begitu terlihat sangat muda.


Mata Khanza langsung berbinar, seolah rasa pusing itu hilang seketika.


"Mas, mau?" tawarnya sembari melahapnya kembali.


"Tidak, itu untukmu dan calon anak kita," ujarnya seraya menyentuh perut istrinya yang masih rata.


"Jangan pegang-pegang!" Khanza menepis tangan itu, entah kenapa ia tak suka disentuh oleh suaminya.


"Ish ...," desis Rubby. "Galak banget sama suami." Rubby yang tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Khanza langsung cemberut.


"Maaf, Mas. Aku kaget," alasannya. "Dah yuk, kita pulang."


"Gak jadi periksa?"


Khanza menghela napas, ia tak mau diperiksa sebelum ia benar-benar yakin. Mungkin saja ini kebetulan ia menginginkan rujak itu.


"Lain kali saja ya, Mas. Masa balik lagi, aku mau pulang saja. Kangen Putra." Karena Putra ia titipkan pada mamanya.


"Ya sudah kalau begitu."

__ADS_1


Mobil pun kembali melaju.


"Nanti, Mas jemput Putra ya? Aku langsung ke rumah," ucap Khanza kemudian.


"Iya."


Setengah jam kemudian, mereka pun sampai. Khanza lebih dulu turun dari mobil, sedangkan Rubby ia kembali melajukan mobilnya untuk menjemput Putra yang berada di rumah ibu mertuanya.


"Hallo, sayang ...," sapa Rubby pada Putra yang tengah bermain bersama sang nenek.


"Khanza mana?" tanya Zira.


"Udah di rumah, Ma. Aku kesini jemput Putra," jawab Rubby.


"Duh ... Anak Papa lagi main apa sih?" tanya Rubby dengan gemas, ia langsung menggendong anaknya dan memutarnya di udara.


"Jangan digituin, nanti pusing dia!" oceh Zira.


Rubby hanya cengengesan seraya meletakkan Putra kembali duduk di tempatnya. "Aku titip Putra dulu, Ma. Udah gak kuat, kebelet." Ia bergegas ke toilet buang air kecil. Tak lama, ia pun kembali.


"Oh ya, Gimana Mawar? Apa dia sudah melahirkan?" tanya Zira langsung pada Rubby.


"Sudah, Ma. Anaknya laki-laki, lucu deh. Aku jadi pengen punya anak lagi, biar Putra ada teman." Seketika, ia teringat akan tingkah istrinya yang menurutnya seperti orang ngidam.


"Ma, masa Khanza tadi beli rujak. Dia 'kan tidak suka buah masam, kecuali sewaktu hamil Putra dulu. Apa mungkin Khanza hamil, Ma?"


"Tuh, Putra saja sampai girang," ucap Zira.


"Putra mau punya adek?" tanya Rubby sambil meraih tubuhnya dan menggendongnya. Lagi-lagi Putra tertawa. "Ah ... Sepertinya keinginan kita sama, sayang." Ia mencium anaknya dengan gemas.


"Ma, aku pulang dulu ya?" pamit Rubby.


"Sini-sini, cium peluk Mama dulu." Zira mengambil alih Putra, memeluknya dan menciumnya penuh kasih sayang. "Jika Mamamu hamil, Putra tinggal sama Mama Zira ya, sayang," ucapnya pada balita itu.


"Ya, By. Putra Mama yang urus?" pintanya penuh harap. Rubby tidak menjawab, ia malah mengambil alih anaknya.


"Sebaiknya aku pulang sekarang ya, Ma?" Rubby mencium punggung tangan mertuanya.


Mau tak mau, Zira melepas cucunya itu. Karena sudah cukup umur, Zira tak mungkin mengandung resikonya cukup besar jika ia melahirkan kembali. Satu-satunya harapannya adalah mengurus sang cucu, bahkan ia tak ingin dipanggil nenek. Ia mau dipanggil mama seperti Khanza memanggilnya.


Rubby dan Putra pun kini sudah menghilang dari pandangannya, semoga Khanza bener hamil kembali, doanya dalam hati.


***


"Sayang, aku pulang," teriak Rubby sesampainya di rumah. Tak ada sahutan dari sang istri ia pun mencoba mencarinya. Hingga ia menemukan sang istri tengah berada di dapur, melahap kembali rujak yang sempat ia beli tadi.


"Sepertinya kamu memang lagi ngidam," celetuk Rubby yang baru saja tiba.

__ADS_1


"Lagi pengen saja, Mas," elaknya.


"Itu sampai habis rujaknya, 'kan dimakan berdua ya?" Rubby tetep kekeh mengira istrinya itu sedang hamil.


Khanza pun sama seperti dirinya, tetep kekeh bahwa ia berkata tidak hamil. Karena ia yakin itu, apa gunanya ikut KB? Pikirnya yang tak mempedulikan dugaan suaminya.


"Bibi kemana, sayang?" tanya Rubby pada istrinya.


"Ke pasar, baru saja berangkat."


"Tumben ke pasar siang-siang."


"Aku yang suruh, aku lagi pengen makan udang. Pasti enak makan malam pake udang."


"Kamu tuh bener-bener kaya orang ngidam tahu, gak?" Ucapnya seraya mendudukkan Putra di kursi khusus miliknya. "Dah, ah. Mas ke kamar dulu, gerah mau mandi."


"Iya, Mas. Mandi yang bersih biar gak bau."


Rubby berjalan sembari mengendus-endus bagian ketiaknya sendiri.


"Mana ada aku bau," gumamnya.


****


Di rumah sakit.


Akhirnya, penantian Bayu membuahkan hasil. Hasil yang begitu memuaskan baginya, kedua orang tercintanya selamat. Anaknya pun terlahir dengan sempurna. Bayi berjenis kelamin perempuan itu terlihat begitu cantik dan menggemaskan.


Tapi sayang, Jihan masih belum sadar pasca operasi karena ia bius total. Hanya tinggal menunggu tersadarnya Jihan baru ia bisa bernapas lega. Sang bayi sudah dipindahkan ke ruangan khusus, Bayu hanya bisa melihatnya dari luar setelah ia selesai mengadzaninya tadi.


Melihatnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dulu, sempat tak terpikirkan bahwa ia akan memeliki buah hati, namun kehendak Tuhan yang maha kuasa, ia pun kini memiliki seorang putri. Putri yang begitu cantik, mirip seperti mamanya.


"Tuan Bayu," panggil suster.


Bayu menoleh kearahnya seraya mengusap sudut matanya.


"Iya, Suster?"


"Istri Anda sudah sadar," ucap suster kembali.


Mendengar itu, Bayu langsung tersenyum. Dengan segera, ia langsung menemui istrinya.


Setibanya di sana, ia melihat sang istri tengah makan, disuapi sang mama. Berarti, ia sudah terlalu lama meninggalkan istrinya.


"Mas," panggil Jihan


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2