
Mawar yang baru sampai di kantor merasa bingung. Gadis itu celingak-celinguk sendirian, karena ini jam makan siang tentu orang kantor pada istirahat. Hingga Mawar pun berpikir bahwa Dion pasti tidak ada di ruangannya.
Mawar melihat ke arah tangannya sendiri, melihat sebuah paper bag tangan. Tak lama dari situ, ada security lewat. Security itu pun bertanya pada Mawar.
"Maaf, Nona. Nona mau bertemu dengan siapa?"
"Saya mau bertemu Pak Dion, apa dia ada di sini?" tanya Mawar.
"Pak Dion yang mana ya, Nona?" Security itu nampak berpikir, setahunya tidak ada yang bernama Dion di sini.
"Ituloh, Pak. Yang tadi pagi ke sini sama Pak Rubby. Bapak kenalkan sama Pak Rubby?"
"Ya kalau Pak Rubby saya kenal, Non. Non mau ke ruangan Pak Rubby?" tanya security itu lagi.
Mawar mengangguk mengiyakan.
"Non baru ke sini ya?"
"Iya, Pak."
"Ya udah, ayok saya antar," ajak security itu pada Mawar.
Mawar pun mengekor dari arah belakang, hingga mereka pun sampai di ruangan Rubby.
"Ini, Non ruangannya." Kata security itu sembari menunjuk pintu ruangannya.
"Terimakasih ya, Pak," kata Mawar.
Setelah itu, security itu pun pergi. Kini hanya ada Mawar di sana. Mawar nampak ragu mengetuk pintu, ia takut kalau Dion tidak ada. Karena kedatangan Mawar tidak diketahui oleh Dion sendiri.
Tapi di sisi lain, Mawar penasaran. Akhirnya ia mengetuk pintunya. Tak ada sahutan dari dalam, Mawar pun masuk begitu saja. Ternyata, Dion sedang menatap layar laptop.
"Mas," panggil Mawar.
Dion pun menoleh, lalu menutup laptopnya.
__ADS_1
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Dion kemudian.
"Ini, Mas. Saya hanya mengantarkan ini, disuruh oleh Mbaknya, Mas." Mawar melangkahan kakinya ke arah meja dan meletakan sebuah paper bag itu. di hadapan Dion.
Karena penasaran, Dion pun membuka paper bag itu. Ternyata isinya adalah makanan.
"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot, Mawar. Di sini juga banyak makanan," kata Dion. Dion seperti tak menghargai kedatangan Mawar yang sudah jauh-jauh datang ke sini. Dan itu membuat Mawar merasa tidak enak sudah mengganggu Dion akan kedatangannya.
"Maaf, Mas. Saya tidak bermaksud mengganggu Mas. Ya sudah kalau begitu, saya permisi." Tanpa mendengar jawaban dari Dion, Mawar pergi begitu saja.
Dion terheyak mendengar jawaban Mawar, bukan itu maksud Dion. Dion tidak sempat menjelaskan pada Mawar, ia tidak merasa terganggu akan kedatangannya. Hanya saja, Dion tidak ingin merepotkan Mawar.
***
"Loh, mana mobilnya? Tadi mobilnya parkir di sini kok." Mawar kebingungan sendiri di sana. Padahal, Laras yang menyuruh supir langsung kembali setelah mengantar Mawar. Karena Laras kira Mawar akan pulang bersama Mawar. Tapi nyatanya tidak, ini di luar ekspektasi Laras.
Akhirnya, Mawar berjalan kaki. Ia mencari taksi, tapi ia tak kunjung jua mendapatkan taksinya. Hingga hujan kembali turun, Mawar sampai basah kuyup karena hujan turun begitu deras.
Akhirnya, ia mencari tempat untuk berteduh. Hujan tak kunjung reda, hujan semakin deras. Sampai Mawar merasa pegal lama berdiri, ingin duduk, tempat duduknya dipenuhi oleh orang yang ikut berteduh di sana. Mawar mulai kedinginan.
***
Makan pun telah usai, Dion kembali bekerja. Sampai tak terasa, waktu menunjukkan pukul empat sore. Dion pun menyudahi pekerjaannya, ia akan pulang sekarang juga. Setelah Dion berada di luar, ternyata hujan masih melanda ibu kota.
Tapi Dion tetap pulang, ia menggunakan mobil kantor untuk pulang. Di perjalanan pulang, Dion terlalu fokus pada benda pipih miliknya. Ia tak melihat keberadaan Mawar yang masih berteduh dan berdesak-desakan dengan orang yang berteduh di sana.
Hingga mobil itu melaju begitu saja. Dion masih asyik dengan benda pipih itu, ia memandangi potret Jihan di media sosial milik Jihan, hingga ada postingan Jihan dengan seorang teman lelakinya. Dion mulai nampak kesal dan memilih menutup ponselnya.
Dion sampai di rumah, Laras yang melihat Dion pulang sendirian pun bertanya.
"Mawarnya mana, Dion?" tanya Laras tiba-tiba.
Sampai Dion menghembuskan napasnya. Baru juga sampai, dan Dion juga lelah. Tanpa menjawab pertanyaan kakak iparnya Dion masuk ke dalam, ia ingin cepat-cepat mandi menghilangkan rasa lelahnya dengan cara berendam di air hangat.
Laras beranjak dari tempatnya, mungkin Mawar masih di belakang Dion. Tapi tetap saja Laras tak melihat keberadaan Mawar. Laras mulai khawatir, tak bisa membiarkan ini. Laras menggedor pintu kamar mandi yang ia yakini ada Dion di dalam sana.
__ADS_1
"Dion ..., Mawar di mana? Apa kamu meniggalkannya!" teriak Laras di depan pintu sembari terus menggedor pintu.
Dion yang ada di dalam kamar mandi mendengar ucapan kakak iparnya itu, ia juga merasa aneh. Kenapa Laras terus menanyakan Mawar padanya, apa Mawar belum pulang? Dion beranjak dari bath up. Ia menyudahi aktivitasnya yang sedang berendam.
Dion melingkarkan handuk di pinggang, lalu keluar dari dalam kamar mandi. Ia melihat Laras masih berada di depan pintu bahkan bersedakap tangan di dada.
"Kamu meninggalkan Mawar?" cetus Laras yang tak habis pikir akan sikap Dion. Ok, Laras bisa menerima jika Dion tidak menyukai Mawar. Tapi bukan berarti, adik iparnya itu bisa meninggalkan Mawar begitu saja.
"Mbak kenapa terus menanyakan Mawar padaku? Dia sudah pulang dari tadi," jawab Dion. Pria itu juga tidak terima jika Laras terus menyudutkan dirinya akan Mawar yang tak kunjung pulang.
"Lalu di mana, Mawar? Ini sudah hampir gelap, apa kamu tidak khawatir padanya, hah?" sergah Laras.
"Dia 'kan sudah besar, Mbak. Mungkin di ngelayab dulu," tuduh Dion.
"Kamu tuh ya, bukannya khawatir malah nuduh Mawar yang tidak-tidak. Apa dia hapal daerah sini? Mbak tidak yakin kalau Mawar bisa sampai sini. Bisa saja dia kesasar!" Laras yang merasa kesal pada Dion langsung pergi meninggalkannya dan berniat mencari Mawar.
Untung masih ada Rubby, jadi Laras mencari Mawar bersama anaknya.
"Za, Mama pinjam Rubby sebentar ya? Mama mau cari Mawar," izin Laras pada Khanza. Laras langsung mengajak Rubby tanpa mendengar jawaban Khanza, karena Laras yakin kalau Khanza pasti mengizinkan.
"Sayang, Mas cari Mawar dulu ya?" pamit Rubby pada istrinya.
"Iya, Mas. Mas hati-hati," jawab Khanza.
Dion yang melihat Laras dan Rubby pergi, ia mun ikut mencari Mawar. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Mawar ia pasti merasa bersalah.
Dion terus menelusuri jalan menuju kantor, ia yakin kalau Mawar terjebak hujan. Meski tadi sempat berpikir yang tidak-tidak terhadap Mawar. Dion juga bisa menilai wanita seperti apa Mawar itu. Karena selama bersamanya, Mawar tak seperti gadis lain yang selalu menggodanya.
***
Mawar menggosok-gosokan tangannya dengan tangan yang satunya, ia benar-benar kedinginan. Hingga ada sebuah tangan yang menariknya dan langsung memakaikan jaket padanya. Lalu mengajaknya ke dalam mobil.
Bersambung.
Nah loh, siapa yang menarik tangan Mawar?
__ADS_1