
Di rumah sakit.
"Dok, apa istri saya sudah bisa pulang?" tanya Bayu pada dokter yang kini tengah memeriksa Jihan.
"Harusnya sih di rawat dulu, tapi itu tergantung kondisi pasien. Jika pasien sudah tidak merasa sakit, hari ini sudah bisa pulang," jawab dokter.
"Saya sudah merasa baikan, Dok. Saya juga tidak merasakan sakit lagi," sahut Jihan. Ia memang menginginkan pulang, ia tidak betah lama-lama berada di rumah sakit.
"Ya sudah, Tuan bisa mengurus administrasi terlebih dulu kalau begitu," kata dokter. "Tapi ingat! Istri Anda tidak boleh kecapean. Dan kalau bisa jangan berhubungan dulu," sambung dokter kemudian.
Jantung Bayu seakan terhenti saat itu juga, padahal pria itu sudah berharap akan menikmati malam panjang bersama sang istri. Wajahnya langsung ditekut, terlihat jelas di mata Jihan. Ia juga merasa kasihan pada suaminya itu.
"Sus, tolong lepas jarumnya," suruh dokter pada suster untuk melepas jarum yang masih menempel di tangan pasien. Suster pun melepas inpusan.
Sementara Bayu, pria itu mengurus administrasi terlebih dulu. Dan kini, ia pun selesai dengan urusannya di sana dan langsung kembali menemui istrinya. Setibanya di depan Jihan, ponsel miliknya berbunyi.
Bayu melihat ID pemanggil di layar.
"Ngapain dia menghubungiku?" Tanpa mengangkat atau mematikannya sambungan itu, ponsel miliknya kembali ia masukkan ke dalam saku celananya.
Jihan pun melihatnya, dan wanita itu menjadi penasaran siapa yang sudah menghubungi suaminya itu? Meski penasaran, untuk saat ini Jihan masih mengabaikan ponsel yang terus berdering di dalam saku celana suaminya.
Dan sepertinya, Bayu juga merasa sedikit risih pada ponselnya itu.
"Kenapa gak diangkat, Mas? Siapa tahu penting," seru Jihan yang hendak beranjak dari branker.
"Gak penting," jawab singkat. Bayu malah membantu istrinya untuk duduk.
"Alisia?" tebak Jihan seraya mendongakan wajahnya ke arah suaminya.
Bayu tidak menjawab, ia tidak ingin membuat mood istrinya kecewa. Karena ponselnya terus bergetar terpaksa ia mengangkatnya tanpa melihat si pemanggil di layar.
"Hubungan kita sudah berakhir, aku mohon jangan menggangguku lagi."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Tu-tuan." Bayu memejamkan matanya, ia sudah salah orang. Ia kira itu Alisia, karena yang mencoba menghubunginya sedari tadi adalah mantan istrinya. Menahan malu, wajahnya memerah bak tomat yang sudah matang. Apa lagi, sang istri tengah menertawakannya.
Bayu meletakan jari telunjuknya, meminta agar Jihan berhenti dari tertawanya. Karena sang bos tengah menghubunginya. Seketika, Jihan pun terhenti.
"Maaf, Tuan. Sepertinya saya salah orang."
Rubby tak menghiraukan itu, ia tak ingin ikut campur dengan urusan pribadi karyawannya itu. Ia fokus pada intinya.
"Di mana kamu meletakkan berkas hasil pertemuan dengan Pak Abraham? Saya sudah ada di kantor cabang."
"Maaf, Tuan. Berkasnya ada di hotel tempat saya bermalam. Tapi saya masih ada di rumah sakit, nanti setelah pulang dari sini saya langsung mengantarnya ke kantor."
"Tidak, tidak perlu ke kantor. Saya ambil ke hotel saja." Rubby mengerti akan kedaan Bayu, dan ia tak mempermasalahkan itu karena Jihan butuh bantuannya. Tak lama panggilan itu pun berakhir.
"Kita pulang sekarang?" tanya Bayu. Diangguki oleh Jihan.
***
"Mas, kalau Mas memang harus ke kantor hari ini, berangkat saja. Aku gak apa-apa sendirian di hotel," kata Jihan yang kini sudah dalam perjalanan pulang. "Maafkan aku ya, Mas. Belum apa-apa sudah merepotkanmu."
"Oh iya, Mas tidak ke kantor hari ini. Karena Tuan Rubby sendiri yang menangani proyek dengan Tuan Abraham," jelas Bayu pada sang istri.
Sedangkan Jihan hanya manggut-manggut. Entah kenapa, mendengar nama Rubby, ia sudah tidak merasakan apa-apa, apa karena seiringnya waktu perasaan itu menghilang? Apa lagi sekarang ia sudah menikah dengan pria yang menurutnya jauh lebih baik dari mantan suaminya. Ia sendiri merasa beruntung menjadi istrinya.
Tak terasa, mereka pun sampai di hotel. Tak di sangka ternyata Rubby sudah menunggunya di lobi.
Ketika Jihan berjalan masuk ke dalam hotel dan di bantu oleh sang suami, Jihan melihat mantan suaminya di sana. "Mas, itukan Mas Rubby," kata Jihan.
Bayu pun menoleh ke arah di mana ada sang atasan di sana, mereka pun menghampiri ke arahnya.
"Tuan," sapa Bayu.
Rubby pun menoleh, dilihatnya Bayu sedang memapah Jihan. Wajah cantik Jihan terlihat begitu pucat di matanya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rubby, mereka memang sudah menjadi mantan, tapi bukan berarti mereka saling bermusuhan.
__ADS_1
"Keadaanku baik, Mas," jawab Jihan dengan nada biasa. Ia langsung melingkarkan tangannya di tangan sang suami, mencoba memahami isi hati suaminya. Bagaimana pun, Bayu pasti merasakan sesuatu di hatinya, entah apa itu? Yang jelas, Jihan tidak ingin membuat suaminya cemburu. Dan suasana terdiam sejenak.
"Berkasnya ada di kamar, Tuan." Bayu memecah keheningan yang tercipta diantara mereka.
"Ah iya, sebaiknya berkas itu harus cepat berada di tangan saya, Bayu."
Dan mereka pun berjalan secara bersamaan. Jihan dan Bayu berada di depan, sedangkan Rubby mengekornya dari belakang.
"Semoga kebahagiaanmu adalah Bayu, Jihan."
***
Rubby sedikit terkejut sesampainya di kamar hotel, apa mereka tidur dalam satu kamar? Pikir Rubby. Bukankah mereka juga belum melakukan ijab qobul? Apa Jihan menjadi wanita hangat yang selalu menemani malam-malam Bayu? Pikiran itu bermunculan dalam benaknya dan ia melihat gerak-gerik mereka yang seperti sudah menjadi sepasang suami istri.
Bayu membantu Jihan untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur, lalu mengambil berkas yang diminta tuannya itu.
"Ini, Tuan. Berkasnya." Bayu menyodorkan map berwarna hijau pada bosnya. Namun, sepertinya sang tuan malah melamun. Hingga menit berikutnya, Rubby pun terkesiap.
"Ah iya, Bayu. Terimakasih," ucap Rubby. Dan Rubby pun segera pergi dari sana. Bayu pun mengantarnya sampai depan pintu.
"Sebaiknya kalian cepat menikah, tidak baik tidur satu kamar tanpa ada ikatan pernikahan," kata Rubby sebelum pergi.
"Saya sudah menikah tadi malam, Tuan. Itu sebabnya Jihan sampai masuk rumah sakit karena kecapean akibat perjalanan yang cukup melelahkan," jelas Bayu.
"Syukurlah kalau begitu, selamat menempuh hidup baru ya, Bayu," ucapnya kemudian. Pria itu pun menepuk bahu Bayu sebelum ia pergi dari sana. Ia harus memberi kado pada karyawan teladanannya itu. Dan ia pun berlalu dari hadapannya.
Setelah bosnya pergi, Bayu kembali menemui sang istri, berjalan seraya tersenyum ke arahnya. Ia harus menjaga istrinya lebih ekstra lagi kali ini, takut kejadian semalam terulang. Terpaksa ia juga harus menahan rasa inginnya untuk melakukan hubungan suami istri.
Baru saja pria itu duduk di samping istrinya, ponselnya berbunyi kembali. Mengganggu saat-saat kebersamaanya bersama istrinya.
"Angkat, Mas. Takutnya penting," kata Jihan.
Bayu merogoh ponselnya, melihat ID pemanggil di layar.
"Ibu, ya Bu ada apa?" Bayu membulatkan matanya tak percaya setelah mendengar apa yang ibunya katakan padanya.
__ADS_1
Bersambung.