Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 86


__ADS_3

Sementara di tempat lain.


Di tengah derasnya air hujan, seorang wanita tengah menghembuskan napasnya. Ia terjebak di dalam mobilnya sendiri, mobil yang tiba-tiba mogok membuatnya bingung sendiri.


"Kenapa mesti mogok sih," kesal wanita itu sembari memukul stir mobilnya.


Wanita itu adalah Jihan, ia pulang sehabis pemotretan. Kini wanita itu tak mengandalkan uang yang setiap bulannya dikirim dari mantan suaminya, ia tidak ingin menggantungkan hidupnya pada orang lain.


Jihan berubah delapan puluh derajat. Wanita itu kini tak lagi menerima uang sepeser pun dari Rubby. Rubby berjanji pada dirinya sendiri, ia akan membiayai hidup Jihan selama wanita belum menikah. Tentu itu izin dari Khanza, dan Khanza pun setuju akan hal itu.


Jihan terus menunggu hujan reda, hingga beberapa menit kemudian. Mobil yang ia tumpangi ternyata ada yang mengetuknya, seorang pria datang menghampirinya.


Pria itu berniat membantunya, karena si pria itu mengenali mobil yang ia tumpangi. Dulu, hampir tiap hari ia melihat mobil itu terparkir di area parkir tempatnya bekerja.


Jihan pun membuka jendela kaca mobilnya.


"Bayu," ucap Jihan.


Ternyata Bayu yang menghampirinya, sekretaris mantan suaminya. Bayu menggunakan payung sebagai alat pelindung dari guyuran air hujan. Jihan pun keluar dari mobilnya, mereka berpayung berdua.


"Ada masalah dengan mobilnya, Bu?" tanya Bayu.


"Iya, mobilnya mogok," jawab Jihan.


Sebagian tubuhnya basah karena payung itu tak cukup melindunginya. Apa lagi berdua dengan Bayu, pakaian Bayu pun ikut basah.


"Saya coba cek," kata Bayu. Lalu pria itu memberikan payung itu pada Jihan, sementara ia mengecek mesin mobilnya. Akibat keteledoran Jihan ia tak mengecek bahan bakarnya, sehingga mobilnya tak dapat menyala.


"Kondisi mobilnya dalam keadaan baik, Bu." kata Bayu sembari menatap wajah Jihan, wanita itu terlihat begitu cantik terkena cipratan air hujan. "Sepertinya kehabisan bahan bakar," sambung Bayu lagi.


"Oh begitu ya? Tadi buru-buru soalnya," kata Jihan. "Ya sudah kalau begitu, ini payungnya. Saya masuk ke mobil sambil menunggu hujan reda, siapa tahu nanti ada taksi lewat." Jihan memberikan payung itu pada Bayu, tapi pria itu tak menerimanya.


"Sebaiknya saya antar pulang, ayok?" ajak Bayu.

__ADS_1


Jihan terdiam sejenak, awalnya ia menolak ajakan Bayu karena tidak ingin adanya gosip di antara mereka. Tapi Bayu tidak membiarkan itu, ia khawatir karena tempat di sini lumayan cukup rawan.


Bayu pun berhasil membujuk Jihan masuk ke dalam mobil miliknya. Setelah berada di dalam mobil, Bayu melihat ke arah Jihan. Melihat bajunya yang basah, pria itu pun meraih jas yang berada di jok belakang, lalu memberikannya pada wanita itu.


"Tidak usah, Bayu. Ini tidak terlalu basah kok," tolak Jihan secara lembut.


Tidak basah dari mana? Bahkan lekuk tubuh Jihan begitu terlihat karena baju basahnya mengakibatkan baju itu begitu melekat pada bagian dadanya. Bayu hanya menelan ludahnya secara kasar. Ada sesuatu yang aneh pada dirinya.


Tidak ingin memikirkan yang aneh-aneh, Bayu langsung mengemudikan mobilnya dan mengantar wanita itu ke rumahnya. Bayu tidak menanyakan alamat rumah wanita itu, karena ia sering bolak-balik sewaktu dulu.


Akhirnya, mereka pun sampai di rumah Jihan. Jihan langsung turun dari mobil Bayu, wanita itu tak mengajaknya mampir terlebih dulu. Ia tahu kalau Bayu memiliki istri. Semua beranggapan bahwa Bayu menjalin keharmonisan dalam rumah tangganya.


Pria itu memendam masalahnya sendiri.


Setelah Jihan masuk ke rumah, Bayu pun langsung meninggalkan halaman rumah itu. Dalam perjalanan, Bayu memikiran kejadian tadi. Kenapa rasa itu muncul tiba-tiba? Bayu bingung sendiri. Pria itu tak bisa berpikir jernih.


"Aarrgghh." Pria itu membanting stir mobilnya ke kiri, ia menepikan mobilnya lalu menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.


***


Saking asyiknya nonton drama korea, Dion sampai tak menyadari bahwa kekasihnya tengah tertidur dalam dekapannya. Mawar tidak terlalu menyukai film-film romantis, gadis itu lebih suka film action. Berbanding dengan Dion.


"Yang," panggil Dion. Karena sudah dapat restu dari pihak keluarga masing-masing, Dion pun mulai memiliki panggilan sayangnya pada gadisnya itu.


Tak ada jawaban dari sang kekasih, Dion pun menengokkan wajahnya ke arah Mawar, pria itu sedikit mengguncangkan tubuh Mawar, gadis itu tetap saja tidur dengan pulasnya. Karena kasihan, Dion pun mematikan tv yang masih menyala itu.


Lalu ia bangkit dari posisinya dan langsung mengangkat tubuh ramping Mawar. Membopongnya ala bridel style. Ia merebahkan tubuh itu secara perlahan di atas kasur. Lalu menarik selimut untuk menutup tubuhnya, ia tahu kalau ternyata Mawar memiliki alergi udara.


Ketika Dion membalikkan tubuhnya, disaat itu pula terdengar suara petir menyambar sampai Mawar terjaga dari tidurnya.


"Mas," panggil Mawar. "Aku takut," sambung wanita itu kembali.


Akhirnya Dion duduk di tepi ranjang. Pria itu menemani Mawar sampai ia tertidur, niatnya begitu. Namun rasa kantuk pun menyerang disaat Mawar belum terlelap.

__ADS_1


Karena tidak bisa menahannya, akhirnya pria itu pun tertidur di samping gadis itu. Mereka terlelap bersama dalam satu tempat tidur.


Keesokan harinya.


Mawar yang terbangun lebih dulu, tubuhnya terasa kaku. Begitu sulit untuk digerakan.


Perlahan, gadis itu meraba perutnya sendiri. Namun yang ia dapat malah sebuah tangan yang menimpa tubuhnya. Dion tengah memeluk dirinya.


"Aaaa ...., " teriak Mawar. "Mas kenapa tidur di sini?" Gadis itu bertanya seraya membangunkan kekasihnya itu dengan cara memukul-mukul tubuh pria itu.


Sontak membuat Dion terbangun dengan cara tiba-tiba sehingga membuat kepalanya terasa pusing. Ia memijat kepalanya sendiri.


Sedangkan Mawar, ia kira pria itu tengah beracting. "Mas, Kenapa tidur di sini!" desak Mawar kembali "Jangan mentang-mentang sudah ada restu, Mas seenaknya bisa tidur denganku." Mawar marah pada pria itu.


Dion masih memijat keningnya, pria itu benar-benar pusing tak terkira. Sedangkan Mawar ia tidak tahu sama sekali, Mawar terus menyalahkan Dion padahal ia sendiri yang meminta Dion untuk menemaninya malam tadi.


Beberapa menit kemudian, Mawar menyadari bahwa Dion tengah sakit kepala, karena pria itu terus memijat-mijat keninganya bahkan sampai di tengkuk lehernya ia pijat sendiri.


"Mas, kamu sakit?" tanya Mawar. Gadis itu membantu memijat kepalanya Dion yang terasa begitu berat. "Maaf, Mas," sesalnya kemudian. Gadis itu menyadari bahwa barusan ia tengah mengomel.


"Mas perlu sesuatu?" tanya Mawar kemudian.


"Antar Mas ke kamar," pinta pria itu.


Akhirnya, Mawar pun membantu pria itu berjalan dengan cara menopang sedikit tubuh kekasihnya untuk mengimbangi rasa pusing yang diderita Dion.


Dion keluar dari kamar itu, disaat itu pula ada Anggoro di sana. Pria paruh baya itu terkejut mendapati Dion dan Mawar keluar dari dalam satu kamar. Apa jangan-jangan ... Anggoro memikirkan yang tidak-tidak terhadap mereka.


Bersambung.


Ada apa dengan Bayu ya?


Penasaran? Ikuti cerita mereka di sini ya? Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen dan vote bila perlu. Terimakasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2