
"Biasa aja, Ma ekspresinya. Aku sudah putuskan untuk membeli rumah di komplek yang sama dengan rumah orang tuanya Khanza," kata Rubby.
"Kenapa gak di daerah sini saja, By. Kalau daerah sini 'kan Mama nanti bisa tiap hari maen bareng sama cucu." Laras kurang setuju akan hal itu, karena ia juga menyayangi Khanza. Laras sudah mengganggap Khanza seperti anak bungsunya.
"Kasian Khanza, Ma ... Sejak kecil dia sudah terpisah dengan orang tuanya. Aku gak tega memisahkan mereka!" kekeh Rubby.
"Apa sih, pagi-pagi sudah ribut?" sahut Anggoro dengan khas suara serak bangun tidur.
"Ngeributin iler Papa, tuh ...," celetuk Laras.
Papanya Rubby langsung menyentuh area bibirnya, masa iya sudah bangkotan begini masih ileran, pikir Anggoro.
"Iler Mama kali nempel di sini!" kata Anggoro pada istrinya.
"Ish ...," desis Laras. "Gak lucu!" kesal Laras. Bisa-bisanya suaminya itu membuka kejadian semalam, 'kan Laras jadi malu sama putranya. Pasti Rubby berpikir yang tidak-tidak, pikir Laras.
Sementara Rubby, ia hanya menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah orang tuanya yang seperti itu ia jadi senyum-senyum sendiri. Mambayangkan ia dan Khanza hidup sama-sama sampai akhir tua. Pasti lucu.
Melihat Rubby senyum-senyum sendiri, mama Laras jadi berpikir jangan-jangan anaknya itu memikiran tentangnya yang tidak-tidak. Akhirnya Laras memukul pundak anaknya itu.
"Ih ... Mama!" protes Rubby yang tidak terima akan sikap mamanya.
"Sudah sana kerja!" bentak mamanya.
Akhirnya Rubby pun undur diri, ia merasa mamanya sedikit aneh hari ini. Tidak mau ambil pusing ia tak menghiraukan kedua orang tuanya. Dengan santai ia ke kamar, lalu mengganti bajunya. Setelah itu ia pun berangkat ke kantor.
Di ruang tamu, Rubby kembali bertemu mama dan papanya. Rubby mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Ma, Pa. Aku berangkat dulu," pamit Rubby.
"Ajak Khanza kemari," kata Laras ketika anaknya mulai menjauh dari hadapannya.
"Iya, Ma," sahut Rubby sembari berjalan menuju mobilnya.
***
__ADS_1
Khanza sedang mengemas barang-barangnya sesuai perintah suaminya, Zira juga ikut membantu memasukkan baju-baju anaknya ke dalam koper.
"Mama sama Papa nanti ikut 'kan?" tanya Khanza pada mamanya.
"Iya tentu Mama pasti ikut. Lagian, rumahnya deket. Mama nyusul saja nanti sama Papa, nunggu Papa pulang."
"Hmm, baiklah," jawab Khanza.
Karena dibantu ibunya, Khanza jadi lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya.
"semuanya sudah beres dan rapi," kata Khnza sembari menghela napasnya. Wanita itu sedikit letih dengan akrifitasnya.
Sementara Zira, ia pun undur diri setelah membantu anaknya. Khanza mengistrirahatkan tubuhnya sejenak di atas kasur, merebahkan tubuhnya di sana.
Karena hari sudah mulai siang, Khanza berinisiatif membuatkan makan siang untuk suaminya, Khanza beranjak dari tempatnya. Karena barang-barang miliknya sudah rapi dikemas, Khanza pun segera ke dapur untuk segera menyiapkan bahan makanan yang akan dimasaknya.
Ketika Khanza sedang di dapur, Zira menemui anaknya. Melihat Khanza memasak menyiapkan makanan untuk suaminya, Zira jadi teringat akan waktu masa-masa pengantin baru bersama Hazel. Khanza sama persis seperti dirinya, selalu ingat kapan waktunya makan. Dengan cekatan Khanza menyelesaikan masakannya.
Khanza tidak menyadari kalau Zira terus memperhatikan dirinya. Khanza sampai bersenandung menyusun makanan di rantang.
"Ehem ...," Deheman Zira mengejutkan Khanza, merasa malu, Khanza langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Mau dibawa kemana rantang itu?" tanya Zira.
"Ke kantor Mas Rubby, Ma." Ucap Khanza dengan tersenyum ceria.
"Hati-hati di jalan, kamu diantar sama supir 'Kan?"
"Iya, ya udah, Ma. Aku berangkat dulu." Sebelum pergi, Khanza mencium pipi mamanya. Setelah itu, baru ia berangkat diantar supir pribadi Zira.
***
Di kantor.
Rubby sedang berbincang dengan Bayu mengenai rumah yang akan dibelinya. Semuanya sudah beres diselesaikan oleh Bayu, Bayu selalu mengerjakan pekerjaannya dengan cepat. Rubby pun bernapas lega, karena urusannya sudah selesai mengenai rumah yang akan dihuninya.
__ADS_1
Karena urusannya sudah selesai, Bayu pun akhirnya pamit pada bosnya itu. Setelah kepergian Bayu, Rubby merasa perutnya perih. Karena ini waktunya jam makan siang. Baru Rubby mau menyuruh OB untuk mengantarkan makanan untuknya, tapi telepon lebih dulu berdering.
"Iya, ada apa?" jawab Rubby pada sambungan itu. Yang menghubungi Rubby adalah karyawan bagian receptionis, mengabarkan bahwa istri dari atasannya itu ada di lobi. Rubby langsung mengukir senyum di bibirnya karena tahu sang istri datang menemuinya.
"Suruh langsung ke ruangan," kata Rubby. Tak lama sambungan telepon pun berakhir.
Lima menit kemudian, Khanza muncul di bali pintu. Sedangkan Rubby ia langsung tersnyum melihat istrinya datang, pria itu pun beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri istrinya, membantu meletakan paper bag yang di bawa istrinya.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Rubby.
"Mas gak suka aku datang ya?" Khanza sepertinya salah paham dengan pertanyaan suaminya itu. Karena hormon kehamilannya yang tidak stabil, mood Khanza langsung hilang. Wanita itu langsung cemberut.
Karena Rubby belum pengalaman, jadi ia kira istrinya itu tidak apa. Rubby langsung meraih paper bag yang ia letakan di atas meja tadi.
"Kamu bawa apa, sayang?" tanya Rubby. Tapi Khanza tak kunjung menjawab, bumil itu malah diam saja. Bahkan sedari tadi Khanza masih berdiri.
Rubby melihat ke arah istrinya tapi tangannya sembari membuka isi dari paper bag tersebut.
"Kamu kenapa sih cemberut terus?" tanya Rubby, pria itu masih belum peka akan terhadap Khanza yang kini sedang merajuk padanya. Rubby menghela napasnya sejenak, lalu menghampiri istrinya dan mengajaknya untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangannya.
Setelah duduk di sofa, Rubby meraih tangan istrinya. Lalu mengecup tangan istrinya.
"Maaf, kalau ucapanku ada yang menyinggungmu." Rubby benar-benar tidak tahu mood ibu hamil, ia juga belum konsultasi akqn kehamilan Khanza. Suami macam apa dirinya? Istri hamil sampai lupa mengecek kandungan istrinya.
"Setelah ini kita ke Dokter ya? Mas mau tahu kondisi anak kita." Rubby mencoba mengalihkan hati Khanza yang sedang marah padanya.
Mendengar suaminya mengajaknya ke dokter, Khanza pun tersenyum kembali. Ia sudah tidak merajuk lagi pada suaminya itu, bahkan Khanza langsung duduk di pangkuan suaminya. Mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Dan menempelkan hidungnya dengan hidung Rubby dengan gemas.
Rubby sendiri merasa aneh, bentar-bentar marah, bentar-bentar manja. Rubby jadi gemas sendiri dengan tingkah istri kecilnya itu.
Karena Khanza sudah tidak marah lagi padanya, Rubby langsung bertayya mengenai bawaan istrinya tadi.
"Apa yang kamu bawa tadi? Makanan 'kah?" tebak Rubby, Khanza pun mengangguk. Bumil itu turian dari pangkuan suaminya dan mengeluarkan isi dari paper bag yang ia bawa tadi.
Khanza menyusun makanan itu di meja. Sementara Rubby, ia sudah sangat lapar. Mereka pun makan siang bersama.
__ADS_1
Setelah makan siang selesai, Rubby dan Khanza bergegas keluar dari kantor. Mereka akan ke rumah sakit untuk mengecek kandungan Khanza.
Bersambung.