
Hari-hari pun berlalu. Kini saatnya Rubby dan Khanza menghadiri undangan Bayu sekretarisnya Rubby, Bayu akan menikah dengan wanita yang bernama Alisia.
Setelah kejadian kemarin, Rubby tak lagi pulang ke rumah utama. Ia selalu pulang ke rumah orang tuanya, karena Rubby masih sibuk ia belum sempat mencari rumah untuk dihuni bersama Khanza.
Bahkan Rubby sudah melayangkan surat gugatan cerai untuk Jihan. Mereka tinggal menunggu panggilan sidang yang akan dijalani mereka berdua.
"Mas ....Coba bantu ini." Khanza hendak memakai gaun yang dibelikan Rubby waktu itu, Khanza nampak kesusahan karena baju itu mengecil.
"Bajunya kenapa jadi menecil seperti ini?" tanya Rubby yang kini sedang membantu Khanza menaikan res sleting yang terletak di bagian belakang.
"Ishh ... Bukan bajunya yang mengecil, Mas. Aku yang gemuk," keluh Khanza. Semenjak hamil, Khanza banyak makan akhirnya tubuhnya sedikit melar.
"Tapi tetep cantik, kok," goda Rubby.
"Gombal!" kata Khanza.
"Siapa juga yang ngegombal? Aku serius! Lihat deh." Rubby memutar tubuh Khanza ke arah cermin, kini terlihat bayangan mereka dicermin itu. Rubby dan Khanza pun tersenyum melihat bayangannya sendiri.
Rubby mencium pipi Khanza dari samping, Khanza pun pun menyentuh pipinya sendiri. Wajahnya merah merona, bumil itu nampak bahagia. Rubby memberikan seluruh perhatiannya pada istri keduanya itu.
"Ayo, sebaiknya kita berangkat sekarang?" ajak Rubby.
Rubby dan Khanza pun turun ke bawah, dilihatnya orang tua Rubby pun sudah siap. Mereka berangkat bersama-sama ke acara pernikahan Bayu. Mereka pergi menggunakan mobil masing-masing.
Jiiuuusss ...
Mobil mereka melasat membelah jalanan ibu kota. Lampu kerlap-kerlip di sepanjang jalan menambah keindahan malam ini. Khanza suka melihat pemandangan itu dari dalam mobil.
Sedangkan Rubby, sesekali ia melihat ke arah Khanza sembari tersenyum.
"Kamu suka dengan lampu-lampu itu?" tanya Rubby. Khanza langsung mengangguk.
"Aku suka, Mas. Lampunya indah," jawab Khanza tanpa menoleh, ia tetap fokus melihat jalanan.
Tak lama mereka pun sampai di hotel, di mana Bayu menggelar resepsinya di sana. Mobil Rubby sudah terparkir begitu juga dengan mobil yang ditumpangi Laras dan suaminya.
Mereka turun dari mobil secara bersamaan.
__ADS_1
Rubby langsung meraih tangan Khanza, mereka berjalan bergandengan tangan. Sedangkan Laras yang berjalan dari arah belakang anaknya, melihat pemandangan itu. Ia ikut bahagia, akhirnya Rubby menemukan kenyamanan dalam rumah tangganya.
Tiba di ruangan pesta, kedatangan Rubby serta keluarganya di sambut oleh keluarga Bayu. Karena Rubby adalah atasannya si pengantin jadi jamuan itu sedikit berbeda dari tamu yang lain.
Kalangan pembisnis ikut memeriahkan pesta pernikahan Bayu, Rubby dan Khanza naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat pada pengantin.
"Selamat ya, Bayu," ucap Rubby. "Semoga kalian berbahagia," sambungnya lagi.
Pengantin wanita melihat ke arah Khanza, siapa wanita yang hadir dengan bos suaminya itu? Setahu Alisia, bukan perempuan ini istri dari Rubby. Hingga Aliasia berbisik pada Bayu.
"Siapa wanita itu?" tanya Alis kepada Bayu.
"Istri kedua Tuan Rubby, istri pertama sedang dalam proses percerain," jawab Bayu dengan nada pelan.
Rubby pun akhirnya turun dari panggung. Kini mereka berdua berpisah dengan orang tua Rubby. Duduk di kursi masing-masing. Khanza melihat kesekeliling, pestanya sangat meriah.
Dan Rubby melihat itu, ia jadi teringat kalau pernikahannya dengan Khanza tanpa adanya pesta. Rubby meraih tangan istrinya.
"Maafkan Mas belum bisa menggelar resepsi pernikahan kita. Mas janji, setelah urusan dengan Jihan selesai, Mas akan membuat resepsi pernikahan kita bahkan lebih dari ini pestanya," kata Rubby sembari menatap wajah Khanza.
"Gak apa-apa, Mas. Kamu sudah membuktikan ucapanmu saja aku sudah bahagia," jawab Khanza dengan senyum manisnya.
"Diundang, harusnya mereka sudah datang."
Khanza arahkan pandangannya kesekeliling, tak lama pandangannya menangkap sesosok yang dicarinya.
"Itu Papa, Mas." Khanza beranjak menghampiri Seno dan meninggalkan Rubby. Setibanya di sana Khanza langsung memeluk papa angkatnya itu.
"Pa," kata Khanza. "Papa kesini sama Mama 'kan? Mama mana, Pa?" tanya Khanza.
"Tuh, Mama." Seno menunjuk istrinya yang sedang mengambilkan makanan.
Ketika Khanza sedang bersama orang tuanya, Rubby pun duduk sendirian di kusri. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya, seorang wanita ikut mendudukkan tubuhnya di samping Rubby.
Jihan datang ke pesta hanya untuk menemui suaminya, Jihan masih bernegoisasi bahwa ia tetap tak ingin berpisah dengan Rubby.
"Mau apa lagi kamu menemuiku, Jihan? Apa gugatan cerai itu belum cukup untukmu? Perasaanku sudah pudar, aku minta padamu biarkan aku bahagia dengan istriku!" Rubby sedikit kesal dengan kedatangan Jihan menemuinya.
__ADS_1
Jihan tak henti-hentinya menganggu Rubby. Bahkan hampir setiap hari Jihan menghubunginya hanya untuk meminta agar tidak bercerai.
Rubby pun langsung beranjak dari tempatnya, disaat itu pula, Jihan mencekal tangan Rubby. Meminta Rubby untuk tidak meninggalkannya.
"Apa yang kamu lakukan, Jihan? Lepaskan tanganku!" kata Rubby dengan sorot mata tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya.
"Mas .. 'Kumohon." Jihan menunjukkan wajah sendunya, wanita itu masih sangat mencintai Rubby.
Rubby langsung melepaskan tangan Jihan, ia tak ingin Khanza melihat pemandangan ini. Hingga suasana menjadi gaduh karena sikap Jihan yang tak melepaskan Rubby begitu saja.
Dari kejauhan Khanza melihat itu, ternyata Jihan tak menerima kenyataan bahwa suaminya itu akan menceraikannya. Akhirnya Khanza menghampiri Rubby yang sedang bersama Jihan.
"Mas," panggil Khanza.
Mendengar suara Khanza, Rubby langsung melepaskan tangan Jihan secara paksa, hingga Jihan mersakan sakit di pergelangan tangannya.
"Aww," pekik Jihan. "Kamu tega Menyakitiku karena perempuan murahan itu!" Mata Jihan melotot ke arah Khanza.
"Jaga ucapanmu, Jihan!" Rubby tak kalah menatap tajam wajah Jihan. Hidung Rubby sudah kembang kempis menahan amarah.
"Kenapa kamu marah, Mas? Apa kamu tidak bisa menerima kenyataan bahwa istrimu memang terlahir dari wanita murahan!" Dengan bangga Jihan bisa membuka jati diri Khanza, bahwa memang benar Khanza terlahir dari seorang germo yang kini masih berpropesi sebagai wanita penghibur.
Semua para tamu undangan yang hadir melihat kejadian di mana Rubby dan Khanza dipermalukan oleh Jihan.
"Puas dengan ucapanmu yang sudah mempermalukanku?" Kesal Rubby langsung meninggalkan pasta Bayu, bahkan ia tanpa pamit kepada pengantin. Rubby pergi dan mengajak Khanza keluar dari gedung.
Semetara Laras dan Anggoro pun menyaksikan itu, mereka sangat shock mendengar penuturan Jihan yang membuka jati diri menatunya itu.
Jihan melihat ada mertuanya di sana, tanpa malu ia langsung menghampiri orang tua Rubby.
"Apa kalian masih menerima menantu kesayangan itu setelah tahu siapa dia sebanarnya?" tanya Jihan dengan nada yang sedikit kesal. Karena orang tua Rubby lebih memilih Khanza dan mendukung Rubby untuk bercerai dengannya.
Mendengar Khanza terlahir dari wanita hina, bukan berarti Khanza juga menjadi wanita hina. Tak semua anak mewarisi sipat ibunya, Laras tak sependapat dengan Jihan. Siapa pun Khanza, yang ia tahu wanita itu wanita baik-baik.
Bahkan Laras malah menampar Jihan, hingga wajah Jihan menunduk kearah lantai. Pipi Jihan terasa kebas mendapat tamparan dari ibu mertuanya.
"Mama ..." Jihan tak percaya bahwa ibu mertuanya menamparnya.
__ADS_1
Bersambung.