
Wanita itu kini sendirian, Jihan melihat kepergian suaminya. Betapa pedulinya Rubby pada madunya itu, Jihan kembali menitikkan air matanya. Sungguh malang nasibnya, jika berakhir seperti ini, kenapa ia tak mati saja sekalian. Lebih baik Jihan mati dari pada harus menyaksikan suaminya bahagia dengan wanita lain.
Sementara Rubby, ia lari dengan tergopoh. Kenapa istrinya pingsan? Apa wanita itu juga tertekan dengan keadaan ini? Pikir Rubby. Dalam perjalanan menuju ruangan yang di tempati oleh Khanza, Rubby bertanya.
"Kenapa Khanza sampai pingsan, Ma?" Rubby berjalan masih tergesa-gesa.
"Mama gak tahu, Khanza pingsan begitu saja. Dokter belum sempat menjelaskan, setelah Khanza di tangani Dokter Mama langsung menemuimu." Laras juga tak kalah panik dengan Rubby, mungkin pemikirannya juga sama seperti Rubby. Ia takut Khanza kenapa-kenapa.
Akhirnya, mereka pun sampai di ruangan yang di mana ada Khanza di dalamnya. Ia melihat Dion, lagi-lagi Dion yang membantu istri-istrinya.
Tahu kakak iparnya dan keponakannya ada di sini, berarti Jihan sendirian. Dion langsung saja pergi tanpa pamit terlebih dulu kepada dua orang yang baru saja sampai itu.
Rubby pun melihat kepergian Dion begitu saja, ada apa dengan Dion? Kelihatannya dia begitu marah pada diri Rubby. Tentu Dion marah, ia tak rela wanita yang dicintainya secara diam-diam itu disakiti oleh suaminya sendiri.
Kalau Rubby tidak bisa lagi membahagiakan Jihan, Dion siap untuk membahagiakannya. Tak peduli Jihan yang masih berstatus istri dari keponakannya yang bermana Rubby itu. Yang penting sekarang, bagaimana caranya agar Jihan mau menjadi miliknya? Hanya itu yang ada dalam pikiran Dion sekarang.
Setelah kepergian Dion, dokter pun keluar dari ruangan yang di tempati Khanza.
"Bagaimana kedaan pasien, Dok?" tanya Rubby yang nampak khawatir.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas dokter. "Kalau bisa saya ingin bertemu dengan suaminya?" Dokter pun khawatir, takut gadis itu belum menikah karena dilihat dari usianya wanita itu masih belia.
"Saya suaminya, Dok," jawab Rubby.
Dokter pun dibuat terkejut mendengar penuturan dari Rubby. Maruk sekali pria ini! Pikir dokter. Pasien kamar sebelah juga istrinya, kebetulan dokter itu juga yang menangani Jihan.
"Saya belum bisa memastikan secara detail, tapi dilihat dari gejalanya istri Anda sepertinya hamil, kalau ingin lebih jelas lagi bawa ke ruangan bagian obygin.
Seketika senyum itu tersumpul di bibir Rubby, lelaki itu sangat bahagia mendengar penjelasan dari dokter.
"Ma, Khanza hamil, Ma ..." Mata Rubby berbinar-binar.
__ADS_1
Mama Rubby juga ikut bahagia, akhirnya ia akan mempunyai cucu. Cucu yang selama ini dinantikan dari pernikahan Rubby dan Jihan, namun sekarang malah mendapatkan cucu dari wanita lain. Tapi itu tak mengapa, dari rahim siapa pun Laras pasti menerima kehadiran cucunya.
"Saya boleh masuk, Dok?" tanya Rubby. Dokter pun mengangguk, ia mengizinkan Rubby masuk ke dalam.
Setelah itu Rubby langsung masuk ke dalam, sementara Laras, ibu paruh baya itu tidak ikut masuk. Ia akan menemani Jihan, bagaimana pun Jihan masih menantunya. Wanita itu pasti akan lebih terpukul jika mendengar kabar madunya sudah hamil.
Rubby masuk menemui Khanza, ia melihat Khanza sudah sadar di dalam sana di temani oleh suster. Tahu ada yang datang, suster pun langsung keluar.
"Mas," lirih Khanza yang masih terasa pusing.
"Kamu gak apa-apa 'kan? Ada yang sakit?" tanya Rubby. Pria itu langsung duduk di sisi branker dan langsung memeluk Khanza, karena posisi Khanza sedang duduk bersandar.
Khanza pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku hanya pusing, Mas. Gak kuat mencium bau obat di sini, aku ingin pulang," keluh Khanza yang masih berada dalam pelukkan suaminya.
"Kita ke ruangan obygin dulu sebelum pulang, Mas ingin memastikan bahwa kamu benar-benar hamil."
"Apa maksudmu, Mas?"
"Kata Dokter, kamu hamil. Mas hanya ingin memastikan saja, Mas mau kita memeriksa kandunganmu. Mas ingin tahu berapa usia kehamilanmu." Rubby mengeratkan pelukkannya, ia tak menyangka kalau Khanza akan hamil secepat ini.
Mungkin Jihan juga pasti sudah hamil dan bisa saja sudah melahirkan, andai saja Jihan tidak menunda momongan kejadian ini tidak akan ia alami, poligami sangat jauh dari bayang-bayangnya. Keadaan yang mengharuskan ia memiliki istri lagi agar mendapatkan keturunan.
Di tempat lain.
Laras yang akan masuk menemui menantunya itu, kini langkahnya terhenti. Ia mendengar isak tangis Jihan, karena pintu tidak tertutup dengan sempurna hingga suara Jihan terdengar di pendengarannya.
Jihan menangis dalam pelukkan Dion, Laras pun melihat itu. Ternyata benar dugaannya, Dion pasti mempunyai rasa pada menantunya itu, jangan-jangan Jihan wanita yang selama ini dicintai Dion, Dion gagal menikah juga pasti karena Jihan. Jihan penyebabnya.
Tidak ingin mengganggu, Laras pun memilih pergi, Jihan juga berhak bahagia. Siapa pun yang akan membahagiakan Jihan, ia akan merestui hubungan itu. Tapi di sini, Rubby masih suami sahnya. Apa Jihan pantas berada dalam pelukkan lelaki lain.
__ADS_1
Ah, bodo amatlah. Ia tak ambil pusing, Laras tidak mau banyak pikiran, yang ada nanti ia malah ikutan sakit. Pikir Laras.
Dion sedang menenangkan Jihan, ia berikan bahunya untuk Jihan bersandar.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih tenang, aku siap menjadi sandaranmu," kata Dion. Pria itu terus mengusap lembut punggung Jihan.
Jihan masih menangis sesegukkan. Rubby memilih pergi meninggalkannya di sini, padahal ia juga lagi sakit dan membutuhkan suaminya. Tapi Rubby lebih tertarik dengan madunya itu.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Jihan sembari melepaskan diri dari pelukan Dion.
"Aku yang membawamu ke sini, Jihan. Aku yang peduli padamu."
Jihan membulatkan kedua matanya, kenapa Dion berkata begitu padanya? Peduli apa maksudnya? Pikir Jihan.
Tahu sudah begini, Dion tidak lagi memendam perasaannya. Dion ingin Jihan tahu, ada pria lain yang mencintainya. Dion ingin wanita itu berpikir, tidak perlu mengemis cinta dari suaminya, Jihan masih bisa bahagia dengan laki-laki lain.
"Jika Rubby sudah tidak bisa lagi membahagiakanmu, aku yang akan membahagianmu, Jihan." Dion meraih tangan Jihan, ia katakan itu dengan sungguh-sungguh.
"Cerailah dengan Rubby, dan menikahlah denganku!"
Jihan menarik tangannya agar terlepas dari tangan Dion. Tidak semudah itu Rubby bisa tergantikan.
"Maaf, Dion. Aku mencintai Mas Rubby. Mas Rubby kebahagianku," kekeh Jihan.
"Apa kamu akan bahagia setelah Rubby memiliki wanita lain? Apa kamu juga akan bahagia jika harus berbagi cinta? Jangan bodoh kamu, Jihan. Banyak lelaki di luar sana yang siap membahagianmu termasuk aku!"
"Aku mohon! Jangan membuatku tambah pusing dengan ucapanmu." Jihan kembali menangis, sakit rasanya jika teringat bahwa suaminya sudah mengkhianati pernikahannya. Ia masih terus akan mencoba mempertahankan rumah tangganya, kalau tidak kuat baru, Jihan pun pasti akan pergi dengan sendirinya.
Dion kembali memeluk Jihan, ia tak tega melihat Jihan kembali menangis.
Disaat itu pula seseorang melihatnya.
__ADS_1
Bersambung