
Bayu tersentak, pria itu begitu terkejut mendapati Alisia yang tiba-tiba datang menarik tangannya agar terlepas dari sang istri. Bayu sendiri langsung melindungi Jihan dengan tubuhnya, hingga posisi Jihan berada di belakangnya.
"Mas, kamu bawa wanita lain kesini?" sentak Alisia seraya ingin meraih tubuh Jihan yang berada di belakang Bayu.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Sadar Lisia, sadar!" Bayu menghadang Alisia yang nampak brutal, ada apa dengan wanita ini? Kenapa Alisia jadi seperti orang tidak waras? Pikir Bayu.
Mendengar keributan di luar, ibu Bayu pun datang menghampiri suara itu. Ia terkejut melihat aksi Alisia, wanita itu kenapa tidak bisa menahan emosinya? Diliriknya ke arah belakang Bayu, terlihat seorang wanita di sana.
"Apa dia menantuku?" Takut Alisia menyakiti wanita yang ada di belakang Bayu, sang ibu pun mencoba menenangkan Alisia. Ia menarik tubuh wanita yang sedang meronta-ronta itu.
"Bu? Kenapa Ibu tidak bilang ada Alisia di sini?" tanya Bayu setelah ibunya berhasil menjauhkan Alisia darinya.
"Lepas, Bu!" teriak Alisia. "Aku harus memberi pelajaran pada wanita itu, dia sudah berani menyentuh Mas Bayu!" Alisia mencoba melepaskan diri dari cekalan wanita paruh baya itu. Karena tenaganya lebih kuat, Alisia berhasil lepas, ia kembali menghampiri Bayu.
"Hentikan Lisia! Apa yang akan kamu lakukan pada istriku?" sentak Bayu.
Wanita yang tidak bisa mengontrol dirinya itu langsung terdiam, dan menatap wajah Bayu dengan linangan air mata.
"Istri," ulang Alisia. "Dia istrimu? Kapan kalian menikah?" Alisia mengguncangkan tubuh Bayu, wanita itu tidak percaya bahwa mantan suaminya itu sudah menikah, apa lagi ia tahu wanita itu adalah mantan istri dari bos-nya.
Seketika, Alisia tertawa dengan terbahak lalu setelah itu ia menangis sampai tubuhnya merosot ke tanah. Sedangkan Jihan, ia nampak takut melihat Alisia, sepertinya wanita itu tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia tetap berlindung di balik tubuh suaminya.
Bayu menoleh ke arah Jihan dan berkata. "Sebaiknya kamu masuk, Mas mau menyelesaikan ini dengannya."
"Tapi, Mas-."
"Percaya saja sama, Mas. Dia membahayakan, Mas takut dia menyerangmu," bisiknya.
Akhirnya, Jihan terlepas dari tubuh itu. Dan menghampiri ibu paruh baya yang tak lain adalah ibu dari suaminya yang kini sudah menjadi ibu mertuanya.
"Bu, ajak dia masuk," titah Bayu pada sang ibu.
Sang ibu pun mengangguk, ia mengajak menantunya masuk ke dalam dengan tergesa. Tanpa ia sadari siapa wanita yang ia ajak masuk itu.
Kini hanya menyisakan Bayu dan mantan istrinya, posisi Alisia masih terduduk di atas tanah sembari menangis. Bayu meraih tubuh yang sedang terduduk itu.
"Bangun Lisia, apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan? Kamu hampir menyakitinya tadi."
__ADS_1
Alisia berdiri seraya menatap tajam wajah mantan suaminya itu.
"Hidup kita sudah berbeda, kamu pulang ya? Biarkan Mas hidup bahagia dengan kehidupan Mas sekarang." Begitu lembut tutur bahasa yang diucapkan Bayu padanya.
"Aku masih mencintaimu, Mas." Alisia pun tidak seberontak tadi, cuma Bayu yang bisa menenangkannya.
Entah kenapa Bayu pun merasa bingung, kenapa mantan istrinya itu ingin kembali padanya? Apa ada masalah dengan kekasihnya itu?
"Apa yang terjadi padamu Lisia? Kemana kekasihmu?"
"Dia bukan kekasihku, Mas. Dia pria beristri, yang mencoba membujukku melepaskanmu." Dan akhirnya hasutan pria itu berhasil memisahkan mereka, Alisia terus dihasut bahwa ia tak akan bahagia hidup bersama pria impoten seperti suaminya. Rayuan manis pria itu cukup membuat hati Alisia goyah dan menceraikan Bayu tanpa memikirkan perasaan mantan suaminya itu.
"Kamu tidak pernah membicarakan masalah ini pada Mas. Dan sekarang sudah terlambat Lisia, Mas sudah menikah bahkan istri Mas sedang mengandung."
Mendengar kata mengandung, berarti Bayu sudah menikah sejak lama. Itu artinya, bukan dia yang mengkhiantinya tapi suaminya yang berkhianat? pikir Alisia.
"Kamu tega, Mas. Kamu tega melakukan itu padaku? Selama ini, kamu juga membalas perbuatanku selingkuh dengan wanita itu?" tuduh Alisia. "Janda sialan!" Alisia pergi dari hadapan Bayu, ia pergi menuju rumah dan masuk ke dalam mencari wanita itu.
Bayu pun mengejar Alisia, ia takut wanita itu berbuat nekat. Karena Alisia bukan Alisia yang dulu. Wanita itu hilang kendali, ia pergi ke dapur mencari sebuah pisau. Tak ada yang boleh memiliki Bayu sealin dirinya.
"Bu, Alisia mana?" tanya Bayu, pria itu malah bertemu dengan sang ibu. "Lalu, di mana istriku?"
"Istrimu di kamar, ada apa, Bayu? Mana Alisia? Apa kamu sudah berhasil membujuknya untuk pulang?"
"Tidak, Bu. Aku sedang mencarinya, tadi dia masuk ke sini, dia hilang kendali, Bu. Aku takut dia mencelakai istriku."
Brang ...
Suara itu begitu nyaring hingga mengnudang pendengaran Bayu juga ibunya, suaranya terdengar dari kamar, kamar yang sering digunakan Bayu di sana.
"Jihan, dia dalam bahaya, Bu!"
Bayu berlari menghampiri kamarnya, disusul oleh sang ibu dari arah belakang. Bayu dan ibunya sudah berada di depan pintu kamar itu, disaat ia memutar handle pintu, pintunya tidak terbuka. Pintu itu terkunci dari dalam.
Brang ...
Suara itu kembali terdengar.
__ADS_1
"Alisia buka pintunya?" teriak Bayu, ia yakin bahwa wanita itu ada di dalam sana bersama istrinya.
Di dalam kamar, Jihan mendengar suaminya di luar sana.
"Mas ... Tolong aku, Mas," sahut Jihan.
Bayu terus memutar-mutar handle tetap tidak bisa dibuka, hingga ia mundur beberapa langkah ke belakang, mengancang-ancang akan mendobrak pintu itu. Sekali ia mencoba namun gagal, ia kembali mundur ke belakang. Mendorong pintu itu kuat-kuat dengan tubuhnya hingga akhirnya pintu itu pun terbuka.
Dilihatnya di dalam sana, Alisia tengah menodongkan sebuah pisau pada Jihan. Jihan yang berada di atas kasur karena sedang menghidar dari amukan wanita itu.
"Lisia! Lepaskan pisau itu. Itu membahayakan, Lisia!"
Alisia malah tertawa, melihat ketakutan di diri mantan suaminya itu.
"Kamu takut kehilangannya? Dia tidak akan bisa memilikimu, Mas. Hanya aku yang akan memilikimu, dia harus mati di tanganku!" Alisia lebih mendekatkan diri pada Jihan.
Jihan yang sudah ketakutkan hanya bisa menangis, wanita itu tidak bisa melakukan apa-apa selain menghindar dari wanita itu. Jihan membanting bantal ke arah Alisia, sampai Alisia semakin tertawa lepas, karena serangan Jihan tidak kena sasaran.
"Alisia, Ibu mohon lepaskan pisau itu. Kamu tidak boleh melakukan yang akan merugikan dirimu sendiri, nak!"
"Ibu sama Mas Bayu sama saja! Ibu tak menyayangiku, bahkan Ibu merahasiakan pernikahan mereka dariku!"
Alisia terus mendekati Jihan, Bayu pun terus mendekat ke arah Alisia. Terus mencoba menjauhkan pisau dari tangan Alisia.
"Mas," rintih Jihan yang semakin bergetar ketakutan.
"Menjauh!" ucap Alisia yang berhasil menguasi tubuh Jihan, dan menodongkan pisau di leher wanita hamil itu.
"Kamu mau pilih yang mana, Mas? Ini apa ini?" Alisia menunjuk leher dan perut Jihan.
"Sa, Mas mohon jangan lakukan itu. Ok, Mas akan kembali padamu. Tapi tolong, lepaskan pisau itu."
Alisia menggelengkan kepalanya.
"Bohong! Kamu bohong!" teriaknya, Alisia malah menodongkan pisau itu ke arah perut Jihan.
Bersambung
__ADS_1