Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 53


__ADS_3

Khanza ditarik paksa oleh Rosa, ia di bawa ke hotel di mana ia akan menjalani hukuman yang direncanakan Rosa hari ini.


"Masuk!" Rosa mendorong tubuh Khanza sampai ia terjerembab di atas kasur. Rosa berbalik langsung meninggalkan Khanza seorang diri. Rosa juga mengunci pintu dari luar.


"Jaga kamar ini, jangan sampai ada yang masuk!" ucap Rosa pada anak buahnya yang berjaga di depan pintu.


Sementara Khanza, ia langsung beranjak dari kasur hendak menyusul Rosa yang ia kira ibu kandungnya. Tapi sayang, pintu langsung tertutup begitu saja. Khanza terus menggedor pintu.


"Ma ... Buka, Ma." Khanza terus memutar handle pintu sembari berteriak. Wanita itu kini terisak, apa salahnya selama ini pada ibunya? Bukannya rindu, Rosa malah langsung mengurungnya di tempat yang sama sekali ia tak mengenalinya.


Tubuh Khanza merosot, ia bersandar di balik pintu. Apa omongan Rosa kemarin benar? Bahwa ia harus memuaskan ***** seseorang. Khanza menggelengkan kepalanya, ia tak boleh lemah. Ia harus bisa kabur dari sini.


Khanza bangun dari posisinya, ia menghampiri jendela kamar itu. Lagi-lagi, jendela tertutup rapat dengan sempurna. Khanza kembali menangis.


"Mas ... Tolong aku." Hanya pada Rubby ia berharap.


Khanza berjalan ke arah kasur, ia dudukkan tubuhnya di sana. Lalu wanita itu meringkuk bagaikan anak kucing yang kehilangan induknya sembari menyentuh perutnya yang masih rata, ia berharap kondisi janinnya baik-baik saja. Lama-lama, Khanza tertidur dengan sendirinya.


***


Wira dan anak buahnya sudah siap, ia akan kembali ke club waktu itu. Kali ini ia tidak sendirian, Wira mengajak anak buahnya.


Anak buah Wira masuk ke club seperti pelanggan biasa agar tidak dicurigai, ia mengerahkan anak buahnya terlebih dulu. sedangkan ia berjaga di luar.


Disaat Wira sedang ada di dalam mobil, tiba-tiba seorang wanita menghampirinya. Wanita itu mengetuk kaca jendela mobil Wira. Wira pun akhirnya membuka jendela itu, karena ia mengenalinya.


"Tuan," panggil wanita itu yang tak lain adalah Meli.


"Meli." Wira keluar dari mobilnya. Sepertinya wanita ini bisa membantunya, pikir Wira.


"Apa Mami Rosa ada di dalam?" tanya Wira pada Meli.


"Mami tidak ada, pagi-pagi dia sudah pergi," jawab Meli.


"Pergi ke mana wanita itu?" tanya Wira.


"Tidak tahu, tapi dia bersama seorang wanita. Dan kelihatannya masih sangat muda," jelas Meli.

__ADS_1


"Apa itu Khanza?" Wira tidak tahu rupa Khanza seperti apa orangnya, dari umur saja ia tidak tahu. Masa iya Khanza masih muda? Rubby suka daun muda? Pikir Wira.


Walau begitu, Wira tetap mengerahkan anak buahnya untuk mencari informasi keberadaan mami Rosa. Anak buah Wira mengikuti salah satu anak buahnya mami Rosa. Hingga orang itu bercakap melalui ponselnya.


"Di sini aman, tidak ada laki-laki waktu kemarin itu di sini," ucap pria bertubuh besar pada seseorang di sebrang sana. Siapa lagi kalau bukan mami Rosa orangnya.


"Bagus!" ucap mami Rosa.


"Di hotel xx aman 'kan?" tanya pria tubuh besar itu pada mami Rosa.


"Aman."


Disaat mengucapkan hotel xx, anak buah Wira berkesimpulan bahwa mami Rosa sedang berada di sana. Anak buah Wira langsung melapor pada majikannya itu mengenai mami Rosa.


Di tempat lain


Rubby, pria itu tengah memakai pakaian yang cukup tertutup untuk menutupi tubuh dan wajahnya. Rosa tak boleh mengenalinya, ia takut Khanza dibawa lebih jauh lagi oleh wanita itu. Ia tak boleh kalah kali ini.


Rubby menyusul Wira, tapi Wira lebih dulu menghubunginya lewat ponsel.


"Ada apa, Wira?" jawab Rubby pada sambungan ponselnya.


"Ok!" Rubby langsung meluncur ke hotel xx.


***


Hari semakin larut, Khanza yang sedang tertidur pun terbangun karena mendengar sesuatu dari arah jendela. Khanza pun mengerjapkan kedua matanya, kamar yang di tempati Khanza gelap karena Rosa memang sengaja tak menyalakan lampu. Ada bayang-bayang seseorang dari luar jendela sana.


Penasaran, Khanza langsung menghampirinya. Khanza berharap ada seseorang datang menolongnya. Awalnya ragu, tapi ia beranikan untuk menyikab gorden jendela itu. Seseorang datang hendak menolong Khanza.


Jendela itu berhasil terbuka, seorang pria berhasil membuka jendela itu dengan cara paksa.


Khanza mundur beberapa langkah, siapa orang itu? Pikirnya.


Tanpa aba-aba, pria itu langsung menarik tangan Khanza agar Khanza bisa keluar dari kamar itu. Pria itu nekad membawa Khanza hanya menggunakan seutas tali untuk turun dari gedung hotel xx.


"Cepat turun! Kita tidak ada banyak waktu!" kata pria itu.

__ADS_1


Khanza takut, ia tak berani turun dari ketinggian beberapa meter hanya mengunakan tali. Khanza menyentuh perutnya, ia taku terjatuh lalu mati.


Tak ada waktu lagi, pria itu langsung mengikat tubuh Khanza dengan tubuhnya. Pria itu bener-bener nekad. Dan akhirnya Khanza turun dari gedung itu.


Sementara di luar hotel.


Rosa sedang menunggu orang yang akan tidur malam ini dengan Khanza. Rosa menjual Khanza pada seseorang. Dan akhirnya, orang yang ditunggu-tunggu datang. Tanpa menunggu waktu lagi. Rosa langsung mengajaknya untuk menemui Khanza.


"Buka pintunya," pinta mami Rosa pada anak buahnya.


Tak lama, pintu pun terbuka.


Rosa langsung masuk ke dalam kamar, disusul oleh pria yang akan tidur dengan Khanza. Rosa menyalakan lampu, ia tak melihat Khanza di kamar itu.


"Kemana anak itu?" ucap Rosa sendiri. Lalu Rosa melihat jendela yang terbuka. "Sial!" rutuk Rosa. Ia menghampiri jendela itu, lalu melihat ke arah bawah. Dilihatnya Khanza bersama seorang pria yang sedang turun, bahkan mereka sudah sampai dengan selamat.


"Bonar ..." teriak mami Rosa.


Bonar si pria tubuh besar itu langsung menghampiri Rosa.


"Kejar mereka, jangan sampai mereka lolos!" titahnya pada anak buahnya. Rosa marah, wanita tahanannya berhasil kabur.


Khanza yang sudah sampai di bawah, tubuhnya gemetar. Barusan ia menaruhkan nyawanya, tiba-tiba Khanza merasa pusing, ia hampir oleng. Pria yang bersamanya melihat Khanza dan langsung menangkap tubuh Khanza yang hampir pingsan. Menit berikutnya wanita itu benar-benar tak sadarkan diri.


Pria itu langsung membawanya masuk ke dalam mobil, ia harus gerak cepat agar anak buah Rosa tidak lagi menangkapnya.


Jiusss ...


Mobil yang ditumpangi Khanza berhasil pergi jauh. Pria itu terus manancap gasnya, ia takut anak buah Rosa mengejarnya. Karena sudah merasa aman, pria itu mengurangi kecepatannya. Dilihatnya ke arah Khanza, wanita itu masih pingsan.


Mobil pria itu berhenti karena mobilnya tepat berada di lampu merah. Bahkan mobilnya bersebrangan dengan mobil Rubby dan berlawanan arah.


Disaat lampu akan berubah menjadi hijau, Rubby melihat ke arah mobil sebelahnya. Ia terkejut melihat wanita yang ada di dalam mobil itu.


"Khanza."


Tapi sayang, mobil itu melaju karena lampu sudah berubah menjadi hijau.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2