
Perlahan Khanza membuka pintu yang memang pintunya tidak tertutup dengan sempurna. Ia melihat wanita yang telah melahirkannya itu menangis sampai tersedu-sedu. Khanza kira papanya yang sudah membuat ibunya menangis. Ternyata bukan, ucapan Zira terdengar jelas di pendengarannya.
"Ma ..." Khanza menghampiri ibunya lebih dekat lagi. Wanita yang dipanggilnya pun melihat ke arahnya.
Zira langsung menghapus air matanya, ia tak ingin Khanza tahu mengapa ia menangis. Tapi Khanza terlanjur tahu akan hal ini, apa Zira jujur saja akan ketidak inginannya bahwa ia tidak ingin pisah rumah dengan anaknya?
"Mama jangan menangis." Ucap Khanza sembari menghapus air mata yang sudah membasahi kulit pipinya yang mulus. Khanza menatap wajah ibunya dengan sendu, bahkan mata Khanza juga ikut mengeluarkan air matanya.
Zira juga menghapus air mata anaknya, lalu menangkup kedua pipi Khanza. Zira begitu menyayanginya.
"Anak Mama juga kenapa ikut menangis?" tanya Zira.
Belum Khanza menjawab, Hazel lebih dulu mengeluarkan suaranya.
"Khanza?" panggil Hazel, ayah Khanza juga berada di sana karena ia tak meninggalkan istrinya sedetik pun.
Mendengar papanya memanggilnya, Khanza pun menoleh ke arah papanya. Tatapan mereka saling beradu, Hazel inginnya melarang anaknya itu untuk pergi, tapi Zira tidak ingin menghancurkan kepatuhan anaknya terhadap suaminya.
"Apa, Pa?" Khanza serasa berada di kursi panas, wajahnya nampak tegang karena kedua orang tuanya terlihat begitu serius.
Meski Zira melarang Hazel berkata demikian, Hazel tetap mengatakannya.
"Tidak bisakah kamu untuk tidak pindah dari rumah ini? Apa kamu tega meninggalkan Mamamu sendirian di sini?" Pertanyaan Hazel membuat Khanza tidak bisa berpikir.
"Pa ...," protes Zira.
"Kenapa, Ma? Bukankah Mama memang tidak ingin anak kita pisah rumah?" kata Hazel.
Zira terdiam, itu memang benar adanya. Tapi ia juga tidak bisa egois, Khanza tidak bisa memutuskan semua ini tanpa berunding dengan suaminya.
Khanza merubahkan posisinya, kalau tadi ia berada di hadapan ibunya, namun sekarang ia duduk di tengah-tengah Zira dan Hazel. Khanza menggenggam kedua tangan orang tuanya itu, lalu menyatukan tangan itu dengan tangannya.
"Ma, Pa. Meskipun aku tidak tinggal di sini lagi, aku tetap anak kalian. Tidak ada yang bisa memisahkan anak dengan orang tuanya, termasuk Mas Rubby. Aku sama suamiku sudah sepakat untuk pindah dari sini," kata Khanza.
__ADS_1
"Aku akan cari rumah dekat-dekat sini biar tetep bisa ketemu kalian tiap hari. Aku juga tidak bisa membantah keinginan Mas Rubby, dia suamiku. Bukankah seorang istri harus patuh pada suaminya?" tanya Khanza kepada orang tuanya.
Ucapan Khanza memang benar, surga istri ada pada suaminya. Zira juga tahu itu, bahkan Zira lebih pengalaman dari putrinya. Meski Zira pernah dikhianati oleh suaminya, ia tetap patuh pada suaminya bahkan bertahan sampai sekarang. Zira juga menyesal sudah berbuat kasar pada suaminya sewaktu dulu, di mana waktu Khanza diculik. Disitu Hazel tersadar bahwa keluarga nomor satu.
"Biarkan aku membina keluargaku bersama Mas Rubby." Khanza begitu memohon kepada orang tuanya untuk tidak melarangnya hidup berdua dengan suaminya.
"Jika Rubby kebahagiaanmu, Mama izinkan, Za. Tapi jika suamimu berulah, pintu rumah ini terbuka lebar menerimamu kembali," kata Zira
Khanza tersenyum mendengarnya, ia bernapas lega sudah mendapat izin dari orang tuanya.
"Terimakasih, Ma." Khanza menyandarkan kepalanya di pundak Zira, lalu bergantian di pundak Hazel.
"Berbahagialah kamu dengan suamimu," timpal Hazel.
Asyik berbincang, Khanza sampai lupa dengan kedatangannya ke kamar orang tuanya. Khanza langsung menepuk keningnya sendiri.
"Kamu kenapa, Za?" tanya Hazel ketika ia melihat putrinya menepuk keningnya sendiri.
"Lupa, tadi kesini itu cuma mau ambil baju, Papa. Kasian Mas Rubby belum ganti baju," jawab Khanza.
"Ini." Zira memberikan bajunya kepada Khanza.
"Ya udah, aku temui Mas Rubby dulu." Khanza segera keluar dari kamar orang tuanya, ia juga sadar kalau ia terlalu lama meninggalkan suaminya.
Disaat Khanza keluar dari kamar orang tuanya, tiba-tiba ada seseorang yang menarik lengannya Khanza, Khanza langsung terkejut.
"Mas ...," ucap Khanza. "Mas ngapain di sini?" tanya Khanza sembari menyentuh dadanya saking terkejutnya.
"Ssttt ..." Rubby meletakkan jari telunjuknua di bibirnya sendiri, isyarat agar Khanza tak bersuara. Setelah itu Rubby langsung mengajak Khanza ke kamar, ada sesuatu yang harus ia bicarakan pada istrinya.
***
"Maafkan, Mas. Mas gak bermaksud menguping. Tadi itu kamu lama sekali, tadinya hanya sekedar ingin menyusul, tapi tak sengaja mendengar pembicaraan kalian," ucap Rubby setibanya di kamar. Khanza merasa bingung di sini, kenapa suaminya itu minta maaf padanya?
__ADS_1
"Maaf, mungkin gara-gara Mas, kamu jadi terpisah lagi dengan kedua orang tuamu," lirih Rubby.
"Mas tidak perlu minta maaf, itu memang seharunya bukan? Aku harus ikut kemana pun Mas pergi" kata Khanza. "Sudah ah, aku gak mau bahas masalah ini lagi, lagian Mama sudah mengizinkan, mending sekarang Mas ganti baju. Setelah itu kita cari rumah deket-deket sini, siapa tahu ada rumah yang akan dijual."
Rubby pun mengambil baju yang diberikan Khanza, dengan cepat ia memakainya. Bahkan ia membuka bajunya di hadapan sang istri. Khanza langsung menutup mata kala Rubby membuka baju dan celananya begitu saja.
"Kamu kenapa, Za? Kaya yang belum melihat saja," cibir Rubby. Dengan iseng, Rubby menghampiri istrinya bahkan Rubby belum memakai bajunya. Rubby meraih tangan Khanza dan langsung menyentuhkan tangannya di area kepemilikkannya sampai Khanza menjerit karena terkejut.
Kenyal tapi tak bertulang, itulah yang dirasakan Khanza. Khanza langsung menarik tangannya sendiri agar terlepas dari kepemilikkan suaminya itu.
"Mas iseng banget sih!" celetuk Khanza. "Cara becandamu itu ke arah itu terus, Mas mesum." Khanza mendelikkan matanya ke arah Rubby.
"Emmm, bilang aja pengennya lebih dari ini," goda Rubby. Khanza langsung bergidik ngeri, bisa-bisanya suaminya itu punya pemikiran seperti itu.
"Udah cepet! pakai bajunya."
"Iya-iya ... Tapi nanti malam, ya?" pinta Rubby sembarai menaikturunkan kedua alisnya. Khanza tak menghiraukan itu, ia malah pergi meninggalkan suaminya begitu saja.
Tahu istrinya sudah tidak ada, dengan cepat Rubby memakai bajunya dan menyusul istrinya yang pergi entah kemana.
***
Khanza sedang di dapur, ia sedang menikmati kue bikinan ibunya. Wanita hamil itu cepat merasakan lapar, mungkin karena janin yang di kandungnya. Asyik sedang memakan kue, Khanza langsung tersedak melihat suaminya yang mengenakan baju papanya.
"Uhuk, uhuk."
"Kamu kenapa? Pelan-pelan dong makannya." nasehat Rubby. Rubby langsung mengambilkan minum untuknya, dan Khanza pun langsung minum.
Setelah minum, Khanza melihat suaminya dari ujung kaki sampai ujung rambut, dengan senyum yang terukir di bibirnya yang mungil.
Sementara Rubby, ia pun melihat dirinya sendiri. Sebenarnya ia sendiri tidak PD dengan pakainnya. Rubby jadi terlihat seperti bapak-bapak, pikirnya.
"Mas terlihat aneh ya?" tanya Rubby. Khanza menggelengkan kepalanya, mau jujur takut marah. Al hasil, ia malah ketawa.
__ADS_1
Sementara Rubby ...
Bersambung.