Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 66


__ADS_3

Jihan mendongakkan wajahnya, ia melihat kearah orang yang telah menarik tubuhnya. Kedua mata mereka bertemu. Seorang lelaki yang berhasil mendekap tubuhnya disaat Jihan terpuruk, siapa lagi kalau bukan Dion.


Dion tadi mengikuti Jihan, ia tak bisa membiarkan Jihan begitu saja. Lama mereka saling berpelukan, sampai-sampai Dion tak menghiraukan pasang mata yang memandangnya. Jihan cukup dikenal orang, bahkan ada yang mengabadikan momen ini.


Jihan, si janda kembang, walau ia tak muda lagi Jihan masih terlihat cantik. Seorang model tentu pintar merawat diri meski umur memang tidak bisa dibohongi.


Dion melihat mata Jihan yang masih menyisakan air mata, ia pun menyeka air mata itu. Apa yang ditangisi oleh Jihan? Sampai Dion penasaran.


Jihan melepaskan pelukkan Dion, kala ia melihat gadis yang sedari tadi bersama.Dion. Dion pun mengenalkan Jihan pada Mawar, karena Jihan terus melihat ke arah Mawar.


"Ji, kenalin. Ini Mawar, anak magang di perusahaanku," ucap Dion.


Jihan pun mengulurkan tangannya ke arah Mawar. Mawar antusias sekali berkenalan dengan Jihan yang dikenal sebagai artis itu.


"Kakak itu model yang sedang naik daun itu 'kan?" tanya Mawar. "Gosipnya juga jadi tranding topik," sambung Mawar lagi.


"Ssttt ..." Dion meletakkan jari telunjuknya di bibirnya ke arah Mawar.


Seketika, Mawar membekap mulutnya sendiri. Ma'lum gadis seusia Mawar memang selalu bercakap sesuai pakta.


"Maaf, Mas. Aku gak bermaksud-," ucap Mawar terputus karena Dion kembali meletakkan karinya di bibirnya.


"Dion, maaf ya? Aku memang harus pergi." Jihan membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Dion. Lalu mulai melangkahkan kakinya.


"Nanti malam aku ke rumah," kata Dion sedikit


berteriak.


Jihan membalikkan tubuhnya, lalu mengangguk ke arah Dion.


"Yes," ucap Dion dengan girang.


"Mas Dion suka ya sama Kakak itu?" tanya Mawar.


"Kepo," jawab Dion sembari mengacak rambut gadis belia itu.


Sedangkan Mawar, gadis itu mengerucutkan bibirnya karena kesal. Sering kali Dion bersikap seperti itu pada Mawar. Meski pun kesal, Mawar suka. Tapi ia sadar diri, Mawar hanya sebagai karyawan magang. Sebentar lagi ia selesai dari magannya.


Karena hari semakin sore, Dion pun mengajak Mawar pulang. Dion putuskan untuk menginap di rumah kakaknya.


***

__ADS_1


Rubby dan Khanza tiba di rumah baru mereka. Khanza melihat semua ruangan demi ruangan. Rumah itu begitu indah, tidak perlu ada yang di renovasi, semuanya masih terlihat bagus. Karena rumah itu memang belum ada penghuninya.


"Mas, rumah ini pasti mahal, iya 'kan?" tanya Khanza.


Bagi Rubby, berapa pun harganya ia tak jadi masalah. Asal orang uang dicintainya bahagia, ia rela menghabiskan semua uangnya. Karena uang bisa dicari, tapi kebahagian ... Belum tentu ia dapatkan.


Rubby tak menjawab pertanyaan istrinya, ia malah langsung membopong tubuh Khanza ala bridel style.


"Mas!" Khanza terkejut karena tiba-tiba suaminya menggendongnya.


Sayang, aksi Rubby terciduk oleh kedua orang tuanya Khanza yang lebih dulu sampai di rumah mereka.


Dengan kikuk, Rubby menurunkan tubuh istrinya secara perlahan.


"Mama, Papa ... Kok, kalian ada di sini?" tanya Khanza bingung. Pasalnya, lewat pintu mana orang tuanya masuk? Sedangkan kuncinya saja ada di tangan suaminya.


"Jangan heran jika, Mama sama Papa ada di sini! Mendapatkan kunci rumah ini bagi Papa kecil." Kata Hazel sembari menjentikkan jarinya.


"Za, Mama sudah menyimpan kopermu di kamar," kata Zira. "Rumah ini sangat bagus, Mama juga suka," sambungnya lagi.


"Oh iya, Papa sudah menyuruh seseorang untuk membantumu di sini, Za," kata papa Khanza.


"Siapa, Pa?" tanya Zira kepada suaminya, karena Zira saja tidak kepikiran akan hal ini.


"Bi Inah yang dulu pernah membantu Mama merawat Khaza waktu masih bayi?" tanya Zira. Hazel pun mengangguk.


"Lalu, di mana Bi Inahnya?" tanya Zira lagi.


"Mungkin masih di jalan," jawab Hazel.


Sementara Rubby dan Khanza hanya menyimak obrolan kedua orang tuanya. Malah, Rubby merasa gagal ketika akan mencoba kamar barunya. Orang tua Khanza sepertinya tidak rela jika anaknya itu dipersunting pria matang seperti Rubby, Hazel selalu mengganggu menantunya itu.


"Ma, aku sama Mas Rubby istirahat dulu, ya?" pamit Khanza.


"Jangan tidur, sebentar lagi magrib. Kita shalat berjamaah," ajak Hazel kepada keluarganya.


Rubby dan Khanza pun mengangguk.


Ketika Rubby dan Khanza sampai di dalam kamar, Khanza melihat kamar itu dengan takjub. Kamar itu begitu luas, Khanza merebahkan tubuhnya di kasur yang berukuran king size itu. Di susul oleh Rubby, Rubby hendak mencium bibir istrinya. Tapi, tiba-tiba ponsel Rubby bergetar. Aksinya pun gagal total.


"Siapa sih, ganggu saja!" geram Rubby. Mau tak mau Rubby pun menjawab panggilan itu..Ia melihat ID pemanggil, ternyata mama Rubby yang menghubunginya.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Khanza sebelum Rubby mengangkat teleponnya.


"Mama," jawb Rubby, Rubby pun menjawab. "Iya, Ma. Ada apa?" tanya Rubby pada papa dan mamanya itu.


"Khnaza mana? Mama mau bicara padanya," kata Laras, bahkan Laras tak menjawab pertanyaan dari anaknya.


Rubby langsung memberikan ponselnya kepada Khanza. Khanza pun menerimanya dan langsung menempelkan benda pipih itu di telinganya


"Iya, Ma. Ini Khanza," kata Khanza sendiri.


""Kamu di mana? Kapan pulang ke sini? Mama kangen tahu, Za ..."


"Mama ke sini saja, aku dan Mas Rubby ada di rumah baru kami, letaknya tidak jauh dengan rumah orang tuaku, Ma."


"Ya udah, Mama otw kesana sama Papa." Laras langsung mengajak suaminya ke rumah anaknya. Sebenarnya, suaminya itu baru pulang, tentu ia ingin istirahat lebih dulu. Tapi Laras tetap memakasanya. Mau tak mau, Amggoro pun mengiyakan.


Laras dan Anggoro pun bersiap-siap, setelah merasa siap, meraka pun langsung pergi diamtar oleh supir mereka.


Pas mobil yang ditumpangi Laras dan suaminya keluar dari gerbang mobil Dion masuk. Jadi Laras tidak tahu kalau adik iprnya itu berkunjung ke rumab mereka.


Mobil Laras sudah melaju pergi menjauh.


Sementara, Dion dan Mawar langsung masuk ke dalam rumah milik kakaknya tersebut. Di sana terlihat sangat sepi.


Sedangkan Mawar, ia bertanya pada dirinya sendiri, rumah siapa ini? Kenapa sepi sekali. Mawar lanngsung merinding disco. Apa jangan-jangan ... Mawar langsung mengelengka. kepalanya keras-keras, menepis isi dalam otaknya.


"Kamu kenapa?" tanya Dion ketika melihat aksi Mawar yang menggelengkan kelapanya.


"Tidak, aku tidak apa-apa, Mas." Mawar penasaran denga. rumah besar itu, ia pun melihat ruangan demi ruangan. Hingga Mawar merasa ingin ke arah kolam renang, ia pun menghampiri kolam tersebut.


Entah kenapa, Mawar ingin menyentuh air kolam tersebut, sampai Dion kehilangan jejak Mawar.


Mawar begitu asyik memainkan air sampai ia lupa akan keberadaannya. Dion yang ada di dalam rumah mencari kakaknya, tapi tak kunjung bertemu, hingga ada asisten yang mengatakan kepergiam majikannya.


Padahal, Dion ingin menginap di sana. Tapi si pemilik rumah malab tidak ada. Akhirnya ia memanggil Mawar dan ingin mengajaknya pergi dari sana.


"Mawar, Mawar," panggil Dion.


Mawar yang mendengar langsung berdiri, tapi yang terjadi malah ....


Byuurr, suara air terdengar di pendengaran Dion.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2