Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 72


__ADS_3

"Siapa dia?" tanya Rubby pada mamanya.


"Mawar, dia anak magang di perusahaan cabang Bandung," jawab Laras.


"Wah, wah ... Bawa anak magang bermalam di sini. Modus ini," kata Rubby sembari mengarahkan wajahnya pada Dion.


"Apa maksudmu modus? Aku tidak sepertimu menjalin hubungan dengan karyawan sendiri. Apa lagi sampai menikahinya," cibir Dion.


"Hati-hati dengan ucapanmu, Om Dion. Nanti ke makan omongan sendiri tau rasa," timpal Khanza.


"Kamu sudah berani ya?" kata Dion sambil melotot.


"Ish ... Kalian ini, ngapain bertengkar di sini? Buat malu saja! Jangan macam-macam kamu pada Khanza!" ancam Laras pada Dion. Seketika Dion langsung tertunduk, mana berani dia macam-macam. Dion tidak serius, apa lagi dia tahu siapa orang tuanya Khanza.


"Masuk, yuk?" ajak Laras pada menantu kesayangannya itu. "Ayo Mawar, kamu juga masuk," ajak Laras pada Mawar.


Yang kini hanya menyisakan Dion dan Rubby di luar sana.


"Kamu yakin dia cuma hanya anak magang?" tanya Rubby mengenai Mawar.


"Iya dia anak magang," jawab Rubby.


"Sekretarismu kemana sampai harus mengajak anak magang?"


"Cuti," jawab Dion singkat.


"Alasanmu boleh juga," kata Rubby.


"Kamu pikir aku berbohong, hah? Apa untungnya aku berbohong?"


"Gadis itu cukup cantik loh, lama-lama bisa tumbuh cinta tahu." Rubby berkata sembari melengos pergi ke dalam rumah.


***


"Ma, aku titip istriku ya? Ada urusan di kantor yang gak bisa aku tinggalkan, sekalian mau bilang pada Bayu kalau aku mau pergi beberapa hari ke depan. Dion yang akan menggantikan aku di sana." Rubby mencium kening istrinya di depan semua orang, sampai wajah Khanza bersemu merah merona.


Rubby pun pergi, dia mengajak Dion ke kantor.


"Ayok ikut?" ajak Rubby pada Dion.

__ADS_1


Dion bawahan Rubby, mau tak mau ia harus ikut. Dion cukup propesional dalam urusan pekerjaan, walau masih nampak kesal pada keponakannya itu dia pun ikut bersama Rubby.


"Mawar, saya pergi dulu. Kamu tunggu di sini saja bersama mereka," ucap Dion pada Mawar. Mawar pun mengangguk.


Setelah kepergian Rubby dan Dion, ketiga wanita itu berbincang. Mawar yang kurang mengerti akan pembicaraan Laras dan Khanza hanya jadi pendengar setia. Sesekali ia ikut tersenyum kala ada omongan yang dimengerti olehnya.


"Sepertinya umur kita gak jauh beda ya?" tanya Khanza pada Mawar.


"Hmm, sepertinya begitu. Aku juga masih magang, belum jadi karyawan beneran," jawab Mawar.


"Eh, dari pada ngerumpi mending kita bikin kue, yuk?" ajak Laras pada kedua wanita itu.


"Wah ... Aku belum bisa Ma bikin kue, Mama ajarin aku ya?" kata Khanza.


"Tentu, ayok Mawar, kamu juga harus bisa bikin kue biar bisa membuatnya," ajak Khanza.


Ketiga wanita itu sudah berada di dapur sedang membuat kue.


Sementara di kantor.


Rubby dan Dion baru sampai. Para kayrawan wanita menatap takjub pada Dion, karena baru kali ini Dion berkunjung ke pusrasahaan pusat. Dion hanya mengelola cabangnya saja di kota Bandung.


Rubby dan Dion pun sampai di ruangan. Tahu atasannya ada di ruangannya, Bayu langsung menghampiri Rubby di dalam.


"Pagi, Tuan," sapa Bayu.


"Pagi juga. Oh iya, kenalkan ini Dion. Untuk sementara, dia yang akan menggantikanku," ucap Rubby pada Bayu. "Saya akan pergi beberapa hari, kalau butuh tanda tangan kamu bisa minta tanda tangan Dion," sambungnya lagi.


"Iya, Tuan," jawab Bayu. Bayu terlihat murung, dia tidak bersemangat seperti biasanya.


"Kamu kenapa, Bayu? Apa kamu sakit?" Rubby melihat ada yang berbeda pada Bayu, bukankah seharusnya dia ceria karena Bayu masih pengantin baru.


Bayu menggelengkan kepalanya, dia memang selalu memendam masalah apa pun yang terjadi dalam hidupnya. Tidak ingin terlalu ikut campur, Rubby menyuruh Bayu kembali ke ruangannya. Rubby pun mulai mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Dan dia juga mulai memberi arahan pada Dion, apa saja pekerjaannya di perusahaan itu.


Dion mengerti apa yang diucapkan Rubby, mereka berdua tengah menatap layar laptop dengan serius. Karena Dion sudah mengerti, Rubby mulai menyerahkan pekerjaannya mulai hari ini pada Dion.


"Sebaiknya aku pulang cepat hari ini, Yon. Aku akan mempersiapkan keberangkatanku besok." Rubby pamit pada Dion, dan Dion membiarkan keponakannya itu pergi dari perusahaan.


Sebelum pergi, Rubby masuk ke ruangan Bayu. Dia menyuruh Bayu untuk menyiapkan pasport untuk Khanza, karena Khanza belum memiliki pasport. Setelah urusannya selesai dengan Bayu, akhirnya Rubby pulang ke rumah orang tuanya untuk menjemput istrinya.

__ADS_1


Di perjalanan, Rubby tak sengaja melihat Alisia. "Itukan istrinya Bayu," kata Rubby sendiri. Rubby menepikan mobilnya, ia melihat istri Bayu bersama laki-laki lain. "Apa ini yang membuat Bayu terlihat tidak semangat?" Rubby sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Karena Alisia sudah masuk ke dalam mobil bersama laki-laki yang tidak dikenal, Rubby pun melanjutkan perjalanannya. Hingga tak terasa, ia pun sampai di kediaman orang tuanya.


Pas Rubby sampai di sana, Rubby mencium aroma kue. Wanginya membuat Rubby ingin segera menyantapnya. Rubby langsung ke dapur, dan kebetulan di sana hanya ada Khanza seorang diri. Yang lain entah ada di mana.


Khanza tidak tahu kalau suaminya sudah pulang, sampai ia terkejut karena ada sebuah tangan melingkar di pinggangnya dengan tiba-tiba.


"Lagi buat apa? Serius sekali sampai suami pulang tidak tahu," bisik Rubby di telinga Khanza.


"Mas, kamu buatku kaget." Khanza membalikkan tubuhnya sampai mereka berpelukan saling berhadapan.


"Yang lain kemana, kok kamu sendirian di sini?"


"Mama ke dapur sebelah, sedangkan Mawar ke kamar mandi. Katanya kebelet. Oh iya, Mas. Aku buatkan kue spesial buat kamu." Khanza melepasakan pelukannya, ia meraih piring yang sudah ada kue di atasnya. Lalu memberikannya pada suaminya.


"Kamu cobain, deh. Enak gak kuenya?" Khanza menyuapinya, Rubby sampai merem melek merasakan kenikmatan dari kue itu.


"Istri, Mas pinter banget sih," puji Rubby. Khanza senang dapat pujian itu dari suaminya.


"By, kamu sudah pulang?" tanya Laras tiba-tiba. Untung Rubby tidak sedang bermesraan dengan Khanza.


"Sudah, Ma. Di kantorkan ada Dion, aku pulang saja," jawab Rubby.


Tak lama dari situ, Mawar datang. Karena ia melihat suami Khanza sudah pulang, Mawar mengira Dion juga sudah pulang. Tapi ternyata, ia tak melihat keberadaan Dion di sana. Mawar terus celingak-celinguk mencari keberdaan Dion.


"Om Dion belum pulang," ujar Khanza ketika melihat Mawar seperti tengah mencari seseorang.


"Siapa juga yang nyariin Mas Dion," jawab Mawar bohong.


Padahal, dalam hati Mawar mengakui itu. Karena ia ingin memberikan kue hasil buatannya pada Dion.


Sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul dua belas, sudah waktunya makan siang.


"Mawar, kamu antarkan makan siang untuk Dion ke kantor ya?" kata Laras. "Sekalian, itu kue hasil buatanmu berikan pada Dion," sambungnya lagi.


Karena Laras sudah menyiapkan semuanya, Mawar pun segera berangkat ke kantor membawakan makan siang untuk Dion.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2