
Ibu Bayu begitu terkejut melihat Alisia datang. Bahkan wanita itu tak pernah menginjakkan kakinya di rumah sang mertua, ini kali pertama menantunya itu datang setelah menikah dengan Bayu itu pun sudah berstatus cerai.
"Kamu kenapa, Alisia?" tanya ibu Bayu pada menantunya itu.
"Bu, tolong Alisia. Aku tahu aku salah, Bu." Alisia tersungkur di kaki mertuanya itu. "Maafkan aku," sesalnya.
"Sudahlah, Al. Mungkin sudah bukan jodoh." Kata ibu Bayu sembari mengusap pucuk rambutnya. Ibu Bayu memang terkanal ramah, tapi semuanya ia serahkan pada putranya itu.
Tahu sang anak memiliki kekurangan ia tak pernah ikut campur akan rumah tangganya. Toh mereka cukup mengerti dengan masalah mereka sendiri.
"Bu, tolong bujuk Mas Bayu agar dia mau kembali padaku," pintanya dengan air mata yang terus berderai.
"Terus, apa maksudmu membawa koper kemari?" tanya ibu Bayu, ia melihat koper tergeletak di ambang pintu.
"Bolehkah aku tinggal di sini sementara waktu?" pinta wanita itu. "Mas Bayu tidak menerima kehadiranku kembali, Bu." Alisia berharap ibunya Bayu mau membantunya.
Ibu Bayu nampak bingung harus menjawab apa, ia tahu kalau anaknya dan menantunya itu sudah berakhir. Apa kata tetangga nanti? Apa lagi tetangganya itu mulutnya begitu pedas tak terkira. Keadaan rumah orang tua Bayu nampak sederhana, ia takut Alisia tidak betah di sini.
Akhirnya ibu Bayu menghubungi anaknya, mengatakan akan keberadaan Alisia di rumah.
"Kamu tunggu dulu di sini, Ibu buatkan minum." Padahal itu hanya akal-akalan ibu paruh baya itu membohonginya. Di dapur, ia menghubungi Bayu, anaknya.
***
"Ada apa, Mas?" tanya Jihan. Melihat ekspresi suaminya seperti ada sesuatu yang sudah terjadi. Apa ibunya itu kenapa-kenapa? Pikir Jihan.
Bayu meraih tangan istrinya, menggenggamnya begitu erat.
"Apa pun yang terjadi kita hadapi sama-sama. Aku memang belum mengenalkanmu pada Ibu, tapi Ibu sudah tahu hubungan kita, bahkan pernikahan kita." Bayu seolah meyakinkan istrinya akan perasaannya, ia tak ingin Jihan beranggapan bahwa mertuanya masih menerima Alisia.
"Ada apa sih, Mas? Aku gak ngerti."
"Alisia ada di rumah Ibu. Maaf, Mas tidak jujur padamu. Kemarin Alisia datang ke rumah dan meminta kembali."
"Lalu apa tanggapanmu? Apa kamu akan kembali padanya?" Tubuh Jihan mulai bergetar, ia takut suaminya akan kembali pada mantan istrinya itu. Ia juga tahu kalau Bayu begitu mencintai wanita itu, bahkan disaat Alisia selingkuh pun ia masih bertahan.
"Apa, kamu menikahiku karena anak yang aku kandung? Apa persaanmu hanya sebatas itu?" tanya Jihan akan perasaan suaminya padanya.
__ADS_1
"Jangan pernah berpikir seperti itu! Aku mencintaimu! Dan jangan pernah beranggapan bahwa kehamilanmu hanya sebagai alasanku untuk menikahimu!" tegas Bayu.
Akhirnya Jihan percaya akan kesungguhan cinta suaminya, dan mereka pun mengakhiri perdebatan itu dengan sebuah pelukkan yang hangat.
"Cukup percaya saja padaku, jika Alisia mengatakan yang tidak-tidak tentangku jangan dengarkan dia. Keutuhan rumah tangga itu yang paling utama adalah kepercayaan."
"Iya, maafkan aku sudah berpikir jelek tentangmu, Mas." Jihan melepaskan diri dari pelukan suaminya. "Lalu apa rencanamu menanggapi mantan istrimu? Aku yakin dia pasti mengganggu kita. Aku gak mau adanya dia dalam hubungan kita!" Cukup sekali Jihan merasakan kehilangan sesorang, ia akan perjuangkan suaminya apa pun dan siapa pun yang mencoba memisahkannya.
***
"Bu, kapan Mas Bayu pulang? Sebenarnya dia kemana?" Tak ada satu orang pun yang memberitahukan keberada Bayu padanya, bahkan pihak dari kantor tempatnya bekerja pun tak ada yang bilang.
Hingga Alisia nekat datang menemui ibunya Bayu. Ibu dari mantan suaminya.
"Mana mungkin aku memberitahukan keberadaan anakku padanya. Sudah cukup dia menghina Bayu, aku tidak akan membiarkannya kembali menghina anakku."
"Bu, Ibu kenapa melamun? Apa Ibu juga tidak akan memberitahukan keberadaan Mas Bayu padaku?"
"Ibu tidak tahu di mana Bayu, Sa. Semenjak berpisah denganmu, Bayu jarang menemui Ibu. Bahkan dia juga jarang di rumah," jelas ibu. "Terakhir kali dia menghubungi Ibu, Bayu bilang kalau dia sekarang sudah sembuh."
"Oh iya, Sa. Ibu tidak bisa mengizinkanmu tinggal di sini, mungkin untuk malam ini kamu bisa menginap. Ibu tidak mau tetangga di sini membicarakan kalian, status kalian sudah berbeda."
"Ibu benci padaku, ya?"
"Untuk apa Ibu benci? Kalau Ibu benci sudah dari tadi Ibu mengusirmu. Sudah malam, sebaiknya kamu tidur."
***
Di hotel.
Bayu, sedari tadi terus mencari posisi, mencari kenyamanan dalam tidurnya. Namun ia tak bisa memejamkan matanya, tak bisa tidur karena melihat pemandangan indah di depan matanya.
Punggung putih mulus, itu nampak begitu menggairahkan jika menyentuhnya. Yang ia bisa lakukan hanya menelan ludahnya sendiri.
"Kenapa ini begitu menyiksa, ya Tuhan ..." Bayu mengusap wajahnya dengan kasar. Merasa prustrasi sendiri, ia terus membolak-balikkan tubuhnya. Hingga orang yang tadinya terlelap kini terbangun karenanya.
Jihan memang sudah biasa tidur dalam keadaan bajunya yang sangat terbuka, apa lagi kini ia sedang hamil. Wanita itu tidak suka baju tertutup, bawaannya gerah.
__ADS_1
"Mas, kamu belum tidur?"
"Belum, Mas belum ngantuk." Padahal pria itu sedang menahan sesuatu, sesuatu yang sudah bangkit namun dengan terpaksa ia menyuruhnya kembali tertidur.
"Ah sial ... Giliran sudah sembuh aku harus menahannya." Bayu mencoba meredam gejolak yang sudah mencuat sedari tadi.
"Apa kamu menginginkannya?" tanya Jihan tepat di telinganya, hingga hembusan napas wanita itu semakin membuatnya meronta-ronta.
"Tidak, Mas tidak mau menyakitimu dan juga calon anak kita. Mas bisa menahannya," jawabnya bohong.
"Kamu tidak pandai berbohong, Mas. Mulutmu bisa mengelak, tapi dia tidak." Ucapnya sembari menyentuh kepemilikannya.
"Ah, sayang ...," rintih laki-laki itu.
"Aku bisa memuaskanmu tanpa kamu menyakiti anak kita?"
"Maksudnya?" Saking penasaran, Bayu langsung beranjak dan melihat ke arah wajah istrinya yang masih terbaring.
Jihan tak tega melihat suaminya tersiksa, itu pasti membuatnya menderita. Ingin menjadi istri yang baik dan bertanggung jawab pada kewajibannya dan dikarenakan ia tak bisa melayani suaminya karena sesuatu hal, maka yang ia bisa lakukan hanya dengan cara ini.
Jihan pun beranjak dari posisinya, mensejajari tubuhnya dengan tubuh suaminya.
"Sayang," panggil Bayu, ia tak percaya jika Jihan akan melakukan ini.
"Kamu cukup diam saja, Mas. Biarkan aku yang bekerja." Wanita hamil itu kini duduk tepat di pangkuan suaminya dan menyambar bibir yang sedari tadi membutuhkan belaian darinya. Menciumnya dengan lembut, hingga Bayu merasakan nikmat.
Kepemilikkannya semakin menegang, tak hanya di situ, Jihan memaikan tangannya di bawah sana. Meremas sesuatu sampai suaminya itu mendesah. Beda dengan waktu lalu, ia melakukan itu tanpa sadar.
"Sayang, Mas sudah tidak tahan. Apa kamu bisa melakukannya?"
"Tentu, baby." Karena Jihan cukup pengalaman, ia mencoba memuaskan suaminya dengan caranya. Perlahan, ia melucuti semua baju yang dikenakan suaminya, hingga tubuh itu polos tanpa sehelai benang pun.
"Ini sungguh nikmat, sayang." Bayu tak mampu lagi berucap, entah apa yang dilakukan istrinya itu terhadapnya. Bayu menikmati setiap sentuhannya, tak lama, ia pun mengerang.
Bersambung.
Nah loh, apa yang dilakukan Jihan🤔🤔🤣🤣
__ADS_1