Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 43


__ADS_3

"Mas ...," ucap Khanza setelah membalikkan tubuhnya ke arah belakang. "Kok, Mas di sini?" tanya Khanza kemudian.


Karena penasaran, Khanza pun mendudukkan tubuhnya menghadap suaminya. Kenapa bisa suaminya ada di sini? Lalu, bagaimana dengan Jihan? Apa urusan mereka sudah selesai? Tapi sayang, itu hanya ada dalam pemikiran Khanza. Gadis itu tidak berani bertanya mengenai rumah tangga suaminya dengan istri pertamanya.


"Mas bingung, Za. Jihan tidak mau bercerai," lirih Rubby.


"Lalu, Mas meninggalkan Mbak Jihan sendirian di sana tanpa kejelasan?"


"Dia gak tahu Mas pergi, karena Jihan sudah tidur. Jihan sempat pingsan pas Mas bilang kalau Mas tidak bisa lagi membahagiakannya."


Khanza pun jadi ikut kasian kepada madunya itu. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Kenapa belum tidur? Ini sudah malam, tidurlah." Rubby menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, ia putuskan untuk tidur bersama Khanza malam ini. Mungkin akan seterusnya tidur bersama istri kecilnya.


***


Sewaktu Rubby masih berada di rumah utama, tepatnya sesudah menerima telepon dari Dion. Rubby kembali menemui Jihan di kamar, ia menghampiri Jihan lebih dekat. Mengusap lembut pucuk rambut istrinya itu, sebelum talak terucap Jihan masih istri sahnya.


Bahkan Rubby mencium kening Jihan, mungkin itu ciumannya yang terakhir bagi Rubby. Tidak ada dendam bagi Rubby untuk Jihan. Kesalahan Jihan tidak terlalu besar, ia hanya menunda momongan tapi sayangya Rubby tidak bisa menunggu itu lebih lama, karena kesibukan Jihan membuat Rubby melepaskan diri dan berpaling ke wanita lain. Yaitu, Khanza.


Setelah mencium Jihan, Rubby mengemas baju-bajunya ke dalam koper, ia putuskan untuk pergi malam ini juga. Disaat Rubby sedang mengemas baju-bajunya, Jihan pun terbangun. Namun ia tak bisa mengeluarkan suaranya, mulutnya terasa terkunci.


Bahkan sampai Rubby pergi pun ia masih terdiam, hanya deraian air mata yang mampu mewakili perasaannya. Tidak ada lagi harapan bagi Jihan untuk hidup bersama suaminya.


Lelah dirinya mencoba mempertahankan penghiatan cinta yang telah dilakukan suaminya, namun terkadang diri rendah terhina dengan sikapnya sendiri.


Cinta akan hancur dengan sendirinya jika ada keterpaksaan di dalam sana. Namun tetap saja dalam hati Jihan tak menerima kenyataan pahit ini. Merasa tidak tenang dan tidak bisa tidur, Jihan pun bangkit. Ia mengambil obat di dalam laci, lalu meneguknya. Entah berapa biji yang ia telan, sampai Jihan bisa teridur dengan cepat.


Keesokan harinya.


Mbak Santi yang mulai bekerja di rumah besar milik Jihan dan Rubby, wanita itu bekerja hanya paruh waktu, bila pagi datang, ia kembali ke rumah Jihan untuk bekerja dan pulang bila sore sudah tiba.


Santi tidak tahu apa yang terjadi semalam, dengan santai ia bekerja seperti biasa, menyapu semua ruangan yang ada di rumah itu. Karena sudah biasa menyapu kamar utama, Santi pun menyelonong masuk ke dalam.


Karena rumah ini sepi, Santi mengira tidak ada orang di dalam sana. Setibanya di dalam, Santi begitu terkejut melihat kondisi majikannya, mulutnya mengeluarkan busa, mungkin efek minum obat semalam.

__ADS_1


Panik, Santi langsung berlari. Ia mencoba menghubungi tuannya, yaitu Rubby. Santi menghubungi Rubby dengan telepon rumah, tapi ponsel Rubby tidak aktif. Hanya suara operator yang terdengar.


Santi mencari pertolongan, ia pun keluar rumah mencari bantuan.


Di luar pagar rumah Jihan terdapat mobil berwarna silver. Ya, mobil itu mobil Dion yang ia pinjam dari kakaknya, Dion memang sengaja memarkirkan mobilnya di sana. Ia hanya sekedar ingin melihat penampakan Jihan, tidak lebih.


Karena Dion terus mengarahkan matanya ke arah pagar, hingga pagar itu terbuka. Ia kira Jihan yang muncul, tapi nyatanya bukan. Seketika, Dion lemas.


Tapi, Dion merasa aneh di sini. Kenapa dengan wanita yang baru saja keluar dari pagar itu? Wanita itu telihat panik.


"Jangan-jangan terjadi sesuatu di dalam sana." Dion pun turun dari mobil dengan tergesa.


Tahu ada orang di sebrang sana, Santi langsung meminta pertolongan meski Santi tidak mengenalnya ia tak peduli. Tak peduli jika itu rampog, yang ia pikirkan, Santi ingin menyelamatkan majikannya.


"Mas, tolong Mas," seru Santi.


"Ada apa, Mbak? Apa terjadi sesuatu di rumah itu?" tanya Dion.


Santi mengangguk cepat. "Mas cepat ke dalam, di dalam ada orang pingsan," kata Santi dengan panik.


"Di sana, Mas." Santi menunjuk lantai atas, tepatnya di kamar utama.


Dion kembali berlari menaiki anak tangga, Dion sangat terkejut melihat kondisi Jihan.


"Jihan," ucap Dion.


Di sini Santi bingung, dari mana orang ini tahu nama majikannya?


Dion membopong tubuh Jihan, ia akan membawanya ke rumah sakit.


"Mbak, ayo ... Jangan bengong saja!" ajak Dion.


Santi pun mengekor dari arah belakang Dion. Dion membawa Jihan ke dalam mobilnya.


"Mbak duluan masuk," titah Dion kepada Santi. Setelah Santi di dalam, baru Dion merebahkan tubuh Khanza. Paha Santi dijadikan bantal sebagi penopang kepala Jihan.

__ADS_1


Dion langsung masuk ke dalam mobil, tanpa lama-lama ia menyalaka mesin mobilnya dan langsung menancapkan gasnya. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, sampai Santi ketakutan di dalam sana.


"Mas ... Jangan ngebut-ngebut, saya belum siap mati."


"Mbak mau dia mati!" kesal Dion.


Tanpa menghiraukan perasaan Santi, Dion menambahkan kecepatannya lagi. Ia tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada wanitanya.


Tak lama dari situ mereka sampai di rumah sakit terdekat. Kebetulan, di rumah sakit itu banyak wartawan. Tanpa di sengaja, para wartawan itu melihat model yang sedang naik daun tengah di gendong oleh seorang laki-laki yang tak dikenal. Semua awak media tahu siapa suami model cantik itu.


Karena wartawan itu menghalangi jalan Dion, Dion pun sedikit membentak para wartawan. Setelah diberi jalan, Dion langsung membaringkan tubuh Jihan di atas branker.


Para wartawan terus mengambil gambar dari segala arah, hingga wajah Jihan terexpos jelas di camera. Tentu iini akan menjadi berita terhangat pagi ini.


Karena Jihan sudah dibawa ke dalam UGD, wartawan pun satu persatu mulai menghilang. Kini hanya menyisakan Dion dan Santi di sana. Mereka berdua duduk di kursi tunggu.


Sadar tidak ada Rubby di rumah tadi, membuat Dion penasaran.


"Mbak, suami Jihan kemana?" tanya Dion kepada Santi.


"Setahu saya, Tuqn Rubby sudah beberapa hari tidak pulang. Nyonya selalu sendirian di rumah," jawab Santi, hanya itu yang diketahui asistennya.


Dion jadi berpikir, lalu kemarin siapa yang dimaksud kakaknya ketika Rubby sedang melepas rindu? Bahkan Jihan selalu ada di rumah. Apa kejadian ini ada sanngkutannya dengan Rubby?


***


Di kediaman Anggoro.


Pagi-pagi Laras sudah menonton tv, ia biasa melihat gosip terkini. Awalnya, ia tidak menyimak berita karena sedang sibuk bersama Khanza.


Mendengar nama Jihan di layar kaca, Laras langsung fokus ke arah tv. Ia terkejut melihat Jihan di layar kaca, begitu juga dengan Khanza.


"Rubby ... Rubby ...," teriak Laras memanggil nama anaknya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2