
Disaat Dion mendudukkan tubuhnya di kursi, ia melihat meja kerjanya masih berantakan. Bahkan kopi bekas kemarin saja masih tersimpan di atas meja kerjanya.
"Kemana si Mawar, tidak biasanya tempat kerjaku kotor begini." Dion mulai kesal kembali pada Mawar.
Tak lama kemudian, seseorang masuk ke ruangan Dion. Dion yang mengira itu Mawar, tanpa menoleh ke arah pintu ia langsung mengeluarkan ucapan yang mungkin akan menyakiti hati Mawar jika Mawar mendengarnya. Tapi sayang, belum Dion berucap sang OB lebih dulu mengeluarkan suaranya.
"Permisi, Pak. Saya di suruh membersihkan ruangan ini oleh Pak Bayu," kata OB tersebut.
Dion tidak mengizinkan siapa pun membereskan ruangnnya selain Mawar. Sampai Dion melarang OB itu untuk masuk lebih dalam lagi ke ruangannya.
"Sudah, sebaiknya kamu pergi," titah Dion. "Biar nanti Mawar yang akan membereskan semuanya," sambungnya lagi.
Sang OB tidak bisa membantah, akhirnya OB itu pun kembali keluar dari ruangan Dion. Tak lupa ia membawa kembali alat-alat pembersih yang ia bawa.
Setelah kepergian OB, Dion menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia pun terpaksa membereskan meja kerjanya sendiri yang terlihat begitu berantakan. Ketika Dion sedang membereskan mejanya, tak lama ada yang masuk kembali ke ruangan itu hingga Dion langsung mengomel.
"Kemana saja kamu, Mawar!" geram Dion, Dion mengira Mawar 'lah yang masuk ke ruangannya. Lagi-lagi Dion salah orang.
"Maaf, Pak. Saya bukan Mawar, saya OB baru di sini yang disuruh mengantarkan kopi ke ruangan Bapak," kata OB tersebut.
OB itu langsung saja meletakkan kopinya di atas meja kerja Dion, pekerja baru itu langsung melipir pergi setelah meletakkan kopinya. OB itu nampak takut melihat wajah merah Dion.
Hidung Dion sudah kembang kempis menahan amarah, bisa-bisanya Mawar menyuruh orang lain membuatkan kopi untuknya, pikir Dion. Hingga menit berikutnya, pintu ruangannya terdengar ada yang mengetuknya.
"Masuk," kata Dion menjawab ketukan pintu itu.
Ternyata Bayu yang datang, Bayu sudah kembali bekerja seperti biasa dan pria itu kembali menggatikan posisi Mawar di sana.
"Kemana Mawar? Bukankah ini pekerjannya?" tanya Dion.
"Untuk Mawar, saya kurang tahu, Pak," jawab Bayu. "Saya hanya disuruh Tuan Rubby untuk menggantikan Mawar kembali." Karena kedatangan Bayu ke ruangan Dion hanya mengantarkan berkas, Bayu pun keluar setelah meletakkan file tersebut.
"Rubby, apa Rubby juga yang menyuruh Mawar untuk tidak membereskan ruang kerjaku?" duga Dion. "Kalau itu benar, keterlaluan sekali si Rubby, Mawar 'kan karyawanku," gerutu Dion.
***
Di Bandara.
__ADS_1
Rubby dan Khanza yang baru saja turun dari awak pesawat terus saja melangkahkan kakinya menepi ke arah mobil yang di dalamnya sudah ada Zira. Zira sengaja menjemput putrinya dan menantunya, betapa rindu seorang ibu terhadapnya, rasa rindu itu tak lagi dapat terbendung.
"Mama," sapa Khanza yang baru saja tiba di depan mobil milik Zira, Zira yang masih di dalam langsung keluar ketika anaknya memanggilnya. Zira sengaja menunggu di dalam mobil karena cuaca di luar cukup panas.
Zira memeluk dan mencium putrinya itu, tak lupa ia juga menyentuh perut Khanza yang semakin hari semakin membesar.
"Bagaimana liburan kalian?" tanya Zira kepada Rubby dan Khanza.
"Happy, Ma. Aku seneng, Mas Rubby begitu memperlakukanku seperti putri," jawab Khanza sembari melirik ke arah suaminya.
Mendengar pujian dari sang istri membuat Rubby terharu, betapa besarnya cinta Khanza terhadapnya begitu pun sebaliknya.
"Syukur kalau Rubby bersikap demikian, Awas saja kalau Rubby tidak berbuat baik padamu! Mama akan jemput paksa putri Mama," kata Zira.
Tapi ucapan Zira ditanggapi sebuah senyuman dari Rubby. Karena Rubby tidak mungkin berbuat seperti itu. Ketika Rubby sedang asyik berbincang dengan ibu mertuanya, tiba-tiba saja ponsel milik Rubby berdering. Rubby pun mengangkatnya di hadapan Khanza dan Zira.
"Siapa, Mas?" tanya Khanza.
"Dion." Jawab Rubby sembari memperlihatkan layar ponselnya.
"Ada apa, Yon?" jawab Rubby pada panggilan itu.
"Iya, sudah. Memangnya kenapa? Aku masih di Bandara," jawab Rubby.
"Kesini cepat! Aku tunggu, Gak pake lama!" kata Dion.
Belum Rubby menjawab, Dion sudah menutup teleponnya. Rubby hanya bisa menghembuskan napasnya secara kasar sambil mengelus dada. Ada apa dengan Dion? Pikir Rubby.
"Ada apa, Mas?" tanya Khanza.
"Mas disuruh ke kantor, kamu pulang duluan saja sama Mama, ya? Sepertinya ada yang penting, Mas harus segera ke sana," jawab Rubby. "Ya sudah, Mas duluan." Rubby mencium kening Khanza, lalu setelah itu ia langsung menyetop taksi dan segera berangkat.
Sementara Khanza dan Zira, mereka pun langsung pulang ke rumah.
Ketika Rubby di dalam perjalanan menuju kantor, Dion tak henti-hentinya menghubungi Rubby, takut Rubby tidak langsung ke kantor untuk menemuinya. Sampai Rubby merasa geram sendiri, punya om tidak sabaran sekali.
"Ini lagi otw," jawab Rubby pada ponsel yang terus berdering. Dengan geram, pria calon ayah itu langsung menutup ponselnya. "Tolong, Pak. Cepat sedikit," pinta Rubby kepada sang supir taksi tersebut.
__ADS_1
"Iya, Tuan," jawab supir taksi.
Jiuuusss ....
Mobil taksi itu langsung melesat dengan kecepatan penuh sesuai perintah Rubby, hingga tak membutuhkan waktu lama bagi Rubby sampai di kantor. Rubby menapakkan kakinya, dengan tergesa pemilik perusahaan ANGGORO GROUP itu memasuki area kantornya.
Semua karyawan yang berpapasan menunduk memberi hormat padanya. Sebelum Rubby ke ruangannya, ia lebih dulu menemui Bayu. Ia ingin menanyakan ada masalah apa di kantor.
Klek, Rubby langsung membuka pintu ruangan Bayu. Bayu yang tidak tahu akan kedatangan bosnya merasa terkejut, pria yang sedang di landa masalah dengan istrinya itu langsung beranjak dari tempatnya.
"Tuan," sapa Bayu. "Sejak kapan Tuan kembali?" tanya Bayu kemudian.
"Tadi, baru sampai di Bandara Dion sudah menyuruhku datang kemari, apa ada maslah?" tanya Rubby.
"Tidak, semuanya baik-baik saja," jawab Bayu.
"Lalu, untuk apa Dion menyuruhku datang kemari?"
Bayu hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. "Sebaiknya Tuan temui saja Pak Dion, tadi juga Pak Dion sempat marah pada saya."
Rubby menyatukan kedua alisnya, kenapa omnya itu marah pada sekretarisnya. Penasaran apa yang sudah terjadi, Rubby langsung menemui Dion dan meninggalkan Bayu.
Di ruangan Dion.
Perjakan tua itu terus mondar-mandir, gelisah karena Mawar tidak ada di kantor. Pria itu sudah ingin mengeluarkan amarahnya pada keponakannya itu. Karena Rubby Mawar tidak ada. Dion masih beranggapan hilangnya Mawar ada sanguktannya dengan Rubby.
Dion langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu, ia melihat Rubby muncul dari sana. Tanpa basa-basi Dion langsung menanyakan karyawanannya yang tak lain adalah Mawar sendiri.
"Kamu sembunyikan Mawar di mana?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Dion.
Rubby yang tidak mengerti merasa bingung, siapa juga yang menyembunyikan Mawar? Pikir Rubby. Dengan santai, Rubby berjalan menghampiri kursi dan duduk di kursi yang beberapa hari ini di tempati oleh Dion dan langsung mengecek laptop.
Dion semakin geram pada Rubby.
"Mawar di mana?" tanya Dion yang kedua kalinya.
"Dia karyawanmu, kenapa menanyakannya padaku? Apa kamu lupa kalau masa magangnya sudah habis? Bos macam apa kamu ini?" cibir Rubby.
__ADS_1
Sejenak, Dion terdiam.
Bersambung