Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 38


__ADS_3

Lama berpelukan, membuat Rubby menuntut lebih. Rubby langsung saja membopong tubuh istrinya ke arah kasur. Perlahan, ia menurunkan tubuh mungil itu.


"Za, kamu terlihat beda," bisik Rubby di telinga Khanza. Gadis itu mendesir, bulu kuduknya serasa pada berdiri. Karena posisi Khanza di bawah kungkungan suaminya, memudahkan bagi Rubby untuk menyambar bibir istrinya.


Ciuman yang awalnya lembut, kini mulai memanas. Khanza yang kini mulai bisa mengimbangi permainan suaminya, ia pun tahu akan berakhir seperti apa ciuman itu.


Rubby terus mengexplor rongga mulut Khanza tanpa celah. Khanza mendorong wajah Rubby dengan lembut, ia kehabisan napas. Sekali dorongan, tautan itu terlepas.


"Beri aku waktu untuk bernapas," keluh Khanza, karena Rubby berpengalaman, ia bisa menahan napas sedikit lebih lama dari Khanza.


Rubby mengusap lembut bibir yang kini menjadi candu itu dengan ibu jarinya. Ia suka dengan Khanza yang kini malu-malu tapi mau. Lama Rubby menatap wajah Khanza.


Sampai wajah istrinya bersemu merah merona. Khanza memejamkan matanya, menandakan ia siap menerima serangan dari suaminya kembali.


Rubby tak menyia-nyiakan kesempatan, pria itu langsung saja menyerang Khanza. Khanza melenguh, karena Rubby benar-benar memperlakukan Khanza dengan lembut.


Rubby menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang sama-sama sudah polos. Entah dari kapan pakain itu terlepas. Di dalam selimut itu mereka bermandikan keringat.


Rubby tidak memberi celah sedikit pun sampai Khanza sedikit kewalahan. Entah apa saja yang mereka lakukan di dalam selimut itu? Yang jelas, Khanza dibuat melayang ke awan-awan oleh suaminya.


Siang ini udara tambah panas saja di dalam kamar itu, padahal ac sudah dinyalakan. Namun tak kunjung meredakan hawa panas dalam tubuh Rubby juga dengan Khanza.


Permainan yang semakin memanas, membuat tubuh mereka ambruk secara bersamaan. Napas yang terdengar ngos-ngosan seperti sudah lari maraton yang jauhnya puluhan meter. Rubby menarik diri dari tubuh Khanza, ia menyibak selimut karena pergelutan itu sepertinya sudah selesai.


Rubby menarik tubuh Khanza agar istrinya itu berada dalam dekapannya. Beberapa kali ia benamkan bibirnya di kening Khanza, karena lelah mereka pun terlelap bersama.


***


"Rubby mana, Pa? Mama dari tadi tidak melihatnya, kemana anak itu?" tanya mama kepada suaminya.


"Ah, Mama ini. Kaya gak tahu saja, Rubby pasti sedang melepas rindu," jawab papa.

__ADS_1


Sedangkan Dion, pria itu langsung berwajah masam. Ia bisa membayangkan sedang apa Rubby dan Jihan sekarang. Dion masih berpikir bahwa Jihan yang kini sedang bersama Rubby.


"Mas, sebaiknya Dion pamit. Dion akan mencari hotel untuk bermalam," ucap Dion kepada kakak dan kakak iparnya.


"Loh, ngapain harus repot-repot cari hotel, Yon. Di sini 'kan banyak kamar kosong," kata Anggoro.


"Iya, Yon. Untuk apa harus bermalam di hotel? Apa kamu mau mengajak perempuan tidur bersamamu? Apa begitu?" duga Laras.


"Mama," proter suaminya. "Dijaga dong, Ma mulutnya," sambungnya lagi.


"Kenapa memangnya, Pa? Apa omongan Mama ada yang salah?" Laras memang tidak tahu sikon, ia tidak tahu saja kalau Dion tengah merasakan tubuh dan otaknya terasa memanas.


Tak ingin berlama-lama di sini, akhirnya Dion pun pamit. Ia belum siap mendengar kabar bahwa Rubby sedang menikmati surga dunia. Karena Rubby selalu menceritakan pertempurannya dengan sang istri.


Rubby begitu karena ia ingin omnya itu segera menikah. Usia yang cukup matang bagi Dion untuk melepaskan masa lajangnya . Akhirnya, Laras dan Anggoro pun mengizinkan Dion bermalam di hotel.


"Tidak nunggu Rubby dulu?" tanya Laras.


Laras dan Anggoro pun mengantar adiknya itu sampai depan rumah. Karena tidak membawa mobil, Dion pun meminjam mobil kakaknya.


"Mas, aku pinjam mobil deh," pinta Dion.


"Hmm, pakai saja yang mana yang kamu mau," jawab Anggoro.


Dion pun memilih salah satu mobil yang terparkir di garasi depan. Setelah mendapatkan mobil yang ia inginkan, perlahan Dion menghilang dari pandangan pasutri yang kini tengah berdiri sedang bergandengan itu.


Setalah Dion benar mengilang, Laras dan suaminya pun kembali masuk ke dalam rumah.


Di tempat lain.


Jihan yang sedari tadi mencoba menghubungi suaminya itu sedikit kesal, karena Rubby susah di hubungi. Teleponnya tersambung, tapi Rubby tak kunjung mengangkatnya.

__ADS_1


Jihan tidak bisa membiarkan pernikahannya yang kini sedang berada di ujung tanduk. Ia tidak boleh kalah dari perempuan yang sudah berhasil memikat suaminya itu.


Ingat suaminya sedang berada di luar kota, Jihan kembali ke apartemen waktu itu. Ya, ia harus tahu siapa wanita itu?


Dengan tergesa, Jihan menyambar kunci mobilnya. Hatinya sudah memanas, belum ketemu saja ia sudah emosi duluan. Wanita mana yang berani mengambil suaminya? Secantik apa perempuan itu?


Jihan cantik, kurang apa dia? Pikirnya. Jihan melupakan suatu hal, pria tidak memilih cantik saja. Pria yang sudah berpengalaman seperti Rubby, tentu dia mencari wanita bukan karena cantiknya saja.


Cantik itu relatif, bagi Rubby kenyamanan lebih penting. Untuk apa cantik? Cantik tidak menjamin rumah tangganya bahagia. Rubby sudah cukup sabar menghadapi Jihan.


Karena emosi, Jihan mengendarai mobilnya ugal-ugalan. Hampir saja ia menabrak mobil berwarna silver yang di dalamnya ada Dion. Tapi Jihan bisa menghindari kecelakaan itu, ia membanting stir ke arah kanan. Tanpa merasa bersalah, wanita itu tidak menepikan mobilnya.


Mobil Jihan terus melaju semakin jauh. Sedangkan Dion, pria itu mengelus dada. Hampir saja dia celaka. Dion kembali melajukan mobilnya, ingin memarahi si pengendara tadi pun percuma, karena mobil tadi langsung pergi begitu saja.


Tapi tunggu, sepintas ia seperti melihat Jihan di dalam mobil itu, detik kemudian, Dion menggelangkan kepalanya menepis bayangannya.


Itu tidak mungkin Jihan, Jihan 'kan sedang bersama Rubby. Pikir Dion. Akhirnya Dion pun melajukan mobilnya. Hingga setengah jam kemudian, ia baru sampai di hotel yang paling dekat dari kediaman kakaknya. Sesampainya di sana, Dion langsung chek in.


***


Jihan pun sampai di apartemen yang ia kira ada selingkuhan suaminya di sana. Tanpa melihat kiri kanan, Jihan terus berjalan dengan cepat. Napasnya pun sudah tidak beraturan.


Di depan Rubby bilangnya rela di madu, pada kenyataannya, hati tidak bisa dibohongi. Akhirnya Jihan sampai di tempat kemarin, namun ia masih bingung, pintu mana yang harus ia ketuk.


Ia mengetuk pintu dari mulai yang paling depan, pintu yang diketuknya terbuka. Yang keluar seorang laki-laki. Bukan, bukan itu. Jihan terus menelesuri satu persatu pintu apartemen, yang ke satu gagal, kedua gagal. Ketiga pun ia gagal juga.


Tinggal dua pintu yang tersisa. Jihan kembali mengetuknya, namun kali ini tidak ada respon. Hingga keluar salah seorang pemuda dari apartemen sebelah.


"Cari siapa, Mbak?" tanya pemuda tersebut yang tak lain adalah Niko


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2