Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 106


__ADS_3

Ya, itu memang omong kosong, mana mungkin Bayu kembali pada mantan istrinya itu? Bayu mengatakan itu hanya agar Alisia melepaskan pisau tersebut biar tidak menyakiti istrinya.


Jihan mentap tajam pada Bayu, sungguh! Ia terkejut dengan penuturan suaminya. Hingga akhirnya, Bayu mengedipkan sebelah matanya memberi kode pada wanita yang kini menjadi tawanan Alisia.


Alisia mulai lengah, disaat itu pula ia mereih pisau dari tangan wanita itu. Pisau terlempar ke sembarang arah, Jihan pun di tarik oleh Bayu. Sang istri berhasil diraih dan kini berada di dalam pelukkannya. Bahkan Bayu sendiri menyingkarkan tubuh Alisia dengan sekejab. Wanita itu tersungkur, terjerembab ke lantai.


Wanita itu berteriak histeris, ia merasa sudah gagal dalam misinya. Matanya terus memindai mencari pisau yang terjatuh tadi. Alisia bangkit dari posisinya hendak mengambil pisau yang sudah ia temukan akan keberadannya.


Wanita itu kembali murka dan menyerang Jihan yang berada dalam pelukan Bayu. Seketika, Bayu membalikkan tubuhnya, ia melihat bayangan Alisia yang mendekat ke arahnya. Pisau itu hendak di tusukkan oleh Alisia, tapi sayang ... Bayu yang tahu akan aksinya, ia langsung mencegahnya. Hingga keributan itu terjadi dengan hebatnya.


Jleb ... Pisau tertancap sempurna di tubuhnya.


"Mas ..," ucapnya lirih. Alisa meredupkan pandangannya, hingga menit berikutnya wanita itu pingsan karena darah yang di keluarkan dari bagian perutnya terus mengucur dengan derasnya. Senjata makan tuan, Alisia tergeletak bersimpuh darah. Seketika, lantai berubah berwarna merah.


Jihan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.


"Mas, kamu membunuhnya," ucap Jihan.


"Tidak! Kamu lihat sendiri, Mas sama sekali tidak menyentuh pisau itu. Dia sendiri yang melakukannya," bela Bayu. "Mas hanya mencoba menghindar," sambungnya kembali.


Ya, memang. Pisau itu masih tergenggam oleh Alisia, tak ada yang berani mendekati wanita itu. Ibu Bayu langsung menghubungi ambulans, dan polisi. Tak lama, ambulans datang dengan beberapa polisi secara bersamaan.


Ibu Bayu tidak ingin anaknya menjadi tersangka. Malam itu juga, ia ingin semuanya selesai tanpa ada yang dibawa ke kantor polisi. Untung, pisau itu masih tergenggam oleh Alisia.


Bayu pun akhirnya dibawa ke kantor polisi sebagai saksi akan kejadian itu. Sementara, Ibu dan Jihan ikut ke rumah sakit, menamani Alisia. Wanita itu tak sadarkan diri. Sesampainya di sana, Alisia dibawa masuk ke ruang UGD.


Ibu Bayu dan Jihan menunggu di luar tepat di depan pintu UGD. Hati Jihan gelisah, takut suaminya jadi tersangka.


Sementara di kantor polisi, Bayu diintrogasi akan perkara. Pisau yang menjadi bukti pun ada tepat di depannya, terus menyelidiki apa pisau tersebut tersidik dengan jari-jari Bayu di sana. Untung pria itu tak menyentuh sedikit pun pisau tersebut. Hingga akhirnya, polisi menyimpulkan bahwa pria yang ada di kantor tidak bersalah. Tidak ada bukti akan laki-laki itu sudah membunuhnya.


Saat itu juga, Bayu keluar dari kantor dan menyusul sang istri ke rumah sakit. Wanita itu pasti sangat shock akan kejadian ini. Sampailah Bayu di rumah sakit, ia langsung menemui ruang UGD di sana.


"Mas," ucap Jihan yang melihat Bayu berlari ke arahnya.


"Jangan takut, ada Mas di sini." Bayu memeluk istrinya, tubuh Jihan seakan tak bertenaga dan lemas. Bayu pun menuntun istrinya untuk duduk.

__ADS_1


"Bagaimana, Bu?" tanya Bayu mengenai Alisia.


"Dokter belum keluar," jawab sang ibu. "Sebaiknya kamu hubungi keluarganya," titah ibu pada Bayu.


Bayu pun menghubungi orang tuanya Alisia.


Satu jam kemudian, muncullah orang tua Alisia.


"Bayu, bagaimana keadaan Alisia?" tanya papa Alisia setibanya di sana.


Sudah satu jam ini, dokter belum juga keluar. Mungkin luka yang dialami Alisia sangat serius. Tak lama kemudian, dokter pun keluar dan langsung menghampiri keluarga pasien.


"Keluarga pasien?" panggil dokter.


Papa Alisia menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana, Dok?"


Dokter menggelengkan kepalanya, ia sudah pasrah. Darah yang dikeluarkan pasien terlalu banyak dan dalamnya tusukan itu mengenai sesuatu di bagian perutnya, hingga wanita itu tak terselamatkan.


Bayu sendiri tidak percaya, mantan istrinya telah tiada.


"Mas, Alisia," ucap Jihan dengan lirih.


"Hmm, Alisia meninggal. Kamu tidak perlu takut."


"Tapi-."


"Semuanya akan baik-baik saja. Mas tidak terbukti bersalah." Bayu tahu akan kekhawatiran istrinya itu.


"Kasian sekali nasibmu, nak," ucap ibu Bayu.


Sauasa menjadi haru, tangis papa Jihan pun terdengar oleh Bayu, ia mengelus punggung papa Alisia. Ia tahu laki-laki paruh baya itu pasti menyesal, karena ia tak pernah memikirkan anaknya. Hidupnya terlalu sibuk dengan dunianya, Bayu yang selalu menghibur Alisia sewaktu dulu.


Keluh kesah Alisia ditumpahkan pada Bayu, hingga kenyamanan tercipta di diri mereka. Jalinan hubungam yang cukup lama membuat Bayu pun terpukul akan meninggalnya sang mantan. Nasi sudah menjadi bubur, ia pun akhirnya pasrah.

__ADS_1


***


Keesokan harinya.


Jasad Alisia sudah di makamkan, tangis papa Alisia kembali berderai. Tubuhnya yang tersungkur di batu nisan anaknya.


Bayu berjongkok seraya mengusap punggung papa mertuanya.


"Yang ikhlas, Pa. Alisia sudah tenang di sana. Papa jangan menangis terus, kasian dia," ucap Bayu.


Papa Alisia pun berhenti menangis, ia mengusap sudut matanya, menghapus air matanya. Lalu, ia pun beranjak dan pergi dari pemakaman itu. Kini hanya menyisakan Bayu dan Jihan di sana, yang lain sudah pulang sedari tadi termasuk ibunya Bayu.


"Mas, kita pulang sekarang?" ajak Jihan. Ia memahami isi hati suaminya itu. Ia tahu, dari lubuk hatinya yang terdalam perasaan itu pasti ada. Tidak mudah melupakan seseorang, apa lagi dengan jalinan kasih yang cukup lama seperti Bayu dan Alisia.


"Maafkan aku, Al. Maaf untuk semuanya," lirih Bayu sebelum beranjak.


Akhirnya, pria itu pun beranjak dan langsung menggenggam tangan istrinya. Mengajaknya untuk pulang, matahari sudah mulai menyengat. Ia kasihan pada istrinya itu, ini pasti melelahkan baginya.


Dan mereka pun pulang. Semua kejadian pasti ada hikmahnya, ketiadaan Alisia membuat rumah tangga Bayu dan Jihan bebas gangguan. Semoga ke depannya tidak ada lagi masalah di keluarga kecilnya.


Sampailah mereka di rumah, Bayu pulang ke rumahnya sendiri dan menetapkan untuk tinggal di sana. Jihan langsung istirahat, karena ia memang kelelahan. Inginnya, ia pergi cafe sudah lama ia tak menemui kedua karyawannya, namun dilarang oleh suaminya.


"Sabaiknya istirahat dulu, kasian anak kita pasti dia juga lelah," ucap Bayu setibanya di rumah.


Jihan pun nurut, ia langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di sana. Kamar yang dulu sempat membuatnya takut, hingga dalam posisinya terus menatap kearah langit-langit kamar.


Bayu datang, dan melihat sang istri.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Bayu.


"Ingat waktu malam itu di sini," jawab Jihan.


"Maafkan aku sudah membuatmu takut." Bayu pun memeluk tubuh istrinya, memberikan kenyamanan pada sang istri.


"Hmm, aku hanya ingat, Mas. Tidak menyalahkanmu." Jihan membalas pelukan itu dengan hangat, hingga mereka beristirahat tidur siang bersama.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2