
"Ma ... Bukannya itu mobil Jihan?"
Mata Laras sudah hampir copot melihat siapa yang datang.
"Pa, gawat Pa! Bisa perang dunia ke tujuh nih, Pa." Tadinya Laras ingin kembali ke dalam untuk memberitahukan kedatangan Rubby, tapi sayang Jihan keburu turun dan memanggil ibu mertuanya itu.
"Sore, Ma ..." Sapa Jihan yang baru saja turun dari mobil.
Laras senyum dengan kaku, hatinya malah ikut berdebar tak menentu, wajahnya pun ikut pucat.
"Mama kenapa? Mama sakit, wajah Mama pucat begitu?" tanya Jihan
Seperti dapat ide, mama langsung pura-pura sakit. Papa yang tidak mengerti kode dari istrinya malah ikut panik.
"Mama sakit apa? Barusan Mama gak apa-apa?" tanya Anggoro.
Laras dibuat dongkol oleh suaminya itu, Laras pun langsung saja mencubit pinggang suaminya sampai papa Rubby mengaduh.
"Sakit, Ma," keluh papa Rubby.
Jihan yang merasa aneh itu terus memperhatikan kedua mertuanya.
"Ish ... Bukannya papa mau ambilin obat Mama di dalam," kata Laras sembari mengerlingkan matanya.
Akhirnya, papa Rubby pun mengerti apa maksud istrinya, pria itu langsung berlari masuk ke dalam.
Sedangkan Laras, wanita paruh baya itu terus berakting. Ia menahan Jihan masuk ke dalam. Mendengar ribut-ribut di dalam, Jihan semakin penasaran. Secara perlahan, Jihan masuk ke dalam rumah. Ia tak menghiraukan ibu mertuanya yang terus memanggil namanya.
"Papa ngapain?" tanya Jihan, ia melihat papa mertuanya sedang berjongkok di bawah meja makan.
"Ini ... Obat Mama jatuh, papa lagi coba nyari." Padahal itu hanya alasan papa Rubby saja.
"Oh ... Sini aku bantu cari." Jihan yang hampir berjongkok dan menyikabkan alas meja yang panjangnya sampai menutup kaki meja tersebut keburu di cegah ibu mertuanya.
"Sudah jangan repot-repot, Jihan. Obatnya sudah ketemu," kata Laras dari arah belakang sembari menunjukkan botol kecil yang dimaksud itu obatnya.
"Kok, aneh sih. Bukannya jatuh obatnya ke kolong meja, kenapa sekarang malah ada sama Mama obatnya," ujar Jihan.
"Iya, tadi jatuhnya memang ke arah bawah meja. Tapi gak tahu juga, bisa saja botolnya menggelinding ke arah sana," kelit papa Rubby.
"Sudahlah ngapain juga ngeributin obat. Kamu tumben ke sini, Jihan. Ada apa?" tanya Laras mengalihkan perhatian Jihan yang sedari tadi melihat ke arah meja makan.
"Maen aja, Ma. Memang gak boleh?" Kini Jihan menghampiri meja makan.
__ADS_1
Sedangkan papa Rubby hatinya sudah dag, dig, dug. Takut Jihan mengetahui keberadaan Rubby dan Khanza yang bersembunyi di bawah kolong meja makan.
Laras dan suaminya saling pandang, Papa Rubby menunjuk ke arah bawah meja dengan telunjuknya, memberitahu istrinya kalau Rubby dan Khanza ada di bawah meja sana.
Mama Rubby menepuk keningnya sendiri. Ia juga ikut panik, panik takut ketahuan.
Sedangkan Jihan, wanita itu terus melangkahkan kakinya, bahkan ia sudah duduk di kursi meja makan.
Rubby dan Khanza yang berada di kolong meja, mereka berdua pun takut terciduk oleh Jihan. Khanza memejamkan matanya karena takut, sedangkan Rubby menutup mulutnya rapat-rapat agar tak menimbulkan suara.
"Ini masakan Mama?" tanya Jihan sembari menyicipi makanan hasil buatan madunya sendiri. "Lihatnya aneh, tapi rasanya enak," ucap Jihan di sela-sela kunyahannya.
"Aku ikut makan deh, Ma. Boleh ya? Kebetulan aku belum makan. Si Bibi mana, Ma?" tanya Jihan. "Bi, Bibi ...," teriak Jihan memanggil asisten rumah tangga di sana.
Muncul 'lah bi Nani lari dengan tergopoh.
"Iya, Nyonya," kata bi Nani.
"Ambilin piring, Bi," titah Jihan kembali.
Sebelum bi Nani mengambil piring, ia melihat ke arah majikannya terlebih dulu. Laras meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi kode pada bi Nani untuk tidak banyak bercakap mengenai keberadaan Rubby.
Bi Nani mengangguk, lalu mengambil piring sesuai permintaan istrinya Rubby. Tak lama bi Nani kembali membawakan piring dan meletakkannya di atas meja, lebih tepatnya di hadapan Jihan.
"Mas, sakit," bisik Khanza pada Rubby.
Tangan Khanza terinjak oleh kaki Jihan, Rubby panik. Ia tak tega melihat Khanza meringis kesakitan. Perlahan ia menarik tangan Khanza, tapi sayang itu tak membuat tangan Khanza terlepas.
Akhirnya mereka berdua pasrah, hanya bisa bersembunyi di balik kolong meja.
Beberapa menit kemudian Jihan selesai makan, ia merasa aneh kenapa mertuanya masih setia di posisinya.
"Mama sama Papa kenapa berdiri terus di situ, sini duduk! Apa gak pegel itu kaki?" tanya Jihan.
"Kamu sudah makannya?" tanya Laras. "Sebaiknya kita ngobrol di ruang tamu saja, ayok?" ajak Laras kemudian.
Jihan pun bangkit dari tempat duduknya, dan menyusul ibu mertuanya. Setelah kepergian Jihan, Rubby dan Khanza pun keluar dari bawah meja.
"Sudah aman, sebaiknya kalian cepat-cepat ke kamar," titah papa Rubby.
Rubby dan Khanza mengangguk, ia juga harus mengobati tangan Khanza yang lecet kena sepatu Jihan.
"Ayo, sayang?" Ajak Rubby sembari menggenggam tangan istrinya dan membawa Khanza ke kamar.
__ADS_1
Setibanya di kamar, Rubby langsung mengambil salep untuk mengobati tangan Khanza. Setelah mengambil obat, Rubby menarik tangan Khanza agar wanita itu ikut dengannya.
Rubby mulai mengobati luka Khanza, mereka duduk di sofa yang tersedia di kamar itu.
"Maafin, Mas ya? Gara-gara Mas, kamu jadi terluka begini," sesal Rubby sembari meniup-niup luka di tangan Khanza.
"Gak apa-apa, Mas. Luka ini tak sebara dengan luka Mbak Jihan. Kita sudah membohonginya mentah-mentah, Mas. Sebaiknya Mas pulang ya? Temani Mbak Jihan malam ini. Kasian dia, Mas." Walau tidak rela, Khanza harus bisa membagi suaminya.
"Tapi, Za ..."
"Sudahlah, Mas ... Kasian Mbak Jihan. Kamu harus adil, Mbak Jihan masih istrimu, Mas."
Ada benarnya juga apa kata Khanza, bagaimana pun Jihan masih istri sahnya. Sebelum ketok palu ia harus tetap adil dengan kedua istrinya.
Rubby menghela napas, walau berat ia harus tetap melakukannya.
***
"Kamu ngapain ke sini, Jihan?" tanya ibu mertuanya.
"Aku ke sini mau tanya, apa Mas Rubby menghubungi kalian? Aku sudah beberapa kali menghubunginya tapi Mas Rubby tetap tidak mau mengangkat teleponku, Ma." Jihan yang merasa sedih karena diabaikan suaminya pun mengeluarkan air matanya.
Laras merasa kasihan pada menantunya itu, tapi jika di ingat beberpa tahun terakhir, sikap Jihan lebih parah dari sikap Rubby yang sekarang.
"Mungkin ini karma bagimu, Jihan," celetuk mama.
"Ma ... Jangan begitu," bisik papa Rubby pada istrinya.
Tapi mama Rubby tidak mengubris omongan suaminya, ia malah mengingatkan Jihan akan kesalahan-kesalahan menantunya itu pada Rubby suaminya.
"Harusnya kamu introfeksi diri, Jihan. Suamimyu begitu karena dia sudah tidak nyaman denganmu, makanya Rubby sampai berpaling pada wanita lain."
Jihan pun terkejut mendengar perkataan terakhir ibu mertuanya, ia tak menyangka bahwa mertuanya sudah tahu akan Rubby yang sudah menduakannya.
"Jadi, Mama tahu Mas Rubby sudah menikah lagi?"
Duh ... Sepertinya Laras keceplosan. Mamu tak mau Laras mengiyakan.
"Sebaiknya kamu pulang, Mama coba bujuk Rubby untuk pulang, ya?" pinta mama.
Akhirnya, Jihan pun pergi. Tak ada lagi tempat berlindung untuknya, suaminya pun sudah tidak peduli lagi dengannya.
Bersambung.
__ADS_1