
Mawar yang sudah mandi gadis itu pun keluar, ia muncul dari balik pintu. Gadis itu mengenakan jubah handuk, wanginya begitu menyeruak dalam ruangan itu.
Dion yang masih berada di dalam kamar, pria itu mencium aroma sampo. Pandangannya teralihkan dari ponsel miliknya, kini pria itu melihat ke arah Mawar. Mawar yang tidak tahu akan Dion masih berada di dalam kamarnya. Dengan santainya, gadis itu memilih baju dan dalaman yang akan ia gunakan dari dalam koper.
Sedangkan Dion, pria itu sudah berpikiran yang tidak-tidak ketika ia melihat Mawar melayangkan ke udara segitiga berwarna merah miliknya. Mawar membalikkan tubuhnya, untung jubah handuk yang ia kenakan masih melekat di tubuhnya.
Betapa terkejutnya gadis itu melihat sang kekasih masih berada di kamarnya. Karena ia kira laki-laki itu akan menunggu di luar kamarnya.
"Aaaa ...," teriak Mawar.
Dion langsung berlari ke arah gadis itu dan membekap mulutnya, bisa gawat kalau gadis itu masih berteriak. Bisa-bisa tetangga di sana mendengarnya, untuk keadaan rumah sepi. Anggoro pun entah kemana, padahal tadi Dion tak melihat keberadaan kakaknya itu di rumah anaknya.
"Mas ngapain masih di sini?" tanya Mawar setelah Dion melepaskan tangannya dari mulutnya. Gadis itu merapatkan jubah handuk yang kini ia kenakan.
Bukannya menjawab, Dion malah mengendus leher jenjang Mawar. Aromanya begitu memabukkan, pria itu menghirup dalam-dalam wangi yang ditimbulkan dari tubuh kekasihnya.
"Mas," lenguh Mawar, gadis itu merasakan hembusan napas calon suaminya itu.
Dion langsung terkesiap, lalu pria itu sedikit menjauh dari Mawar. Ia takut tak bisa mengendalikan diri, ia takut ada bisikan setan yang membuatnya goyah. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ah, maaf Mawar," kata Dion. "Mas tunggu di luar, kamu dandan yang cantik malam ini, ya?" Setelah mengatakan itu, Dion segera meninggalkan Mawar.
Sedangkan Mawar, gadis itu benar-benar dibuat merinding oleh sikap Dion barusan. Ini kali pertama baginya, jangan ditanya dengan jantungnya, dekat-dekat dengan pria itu jantung Mawar selalu tak karuan. Belum apa-apa Mawar sudah dibuat jantungan.
Dengan cepat Mawar pun memakai bajunya, sebisa mungkin ia memoles wajahnya dengan make up yang ia punya. Hanya mengandalkan lipstik dan bedak, karena ia memang jarang menggunakan make up. Lagian gadis itu tak memiliki alat untuk mempercantik diri.
Mawar melihat pantulan dirinya di cermin, sedikit memutarkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, menggeraikan dres yang ia kenakan. Dres berwarna hijau botol itu begitu melekat di tubuhnya, baju tanpa lengan itu memperlihatkan tangan jenjang putih mulus miliknya. Kini gadis mengulas senyum, merasa puas dengan hasil dandannya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Dion, pria itu sedari tadi melirik jam yang menempel di pergelangan tangannya. Kaki yang sedari tak bisa diam, ia terus menghentak-hentakan kakinya di lantai, karena terlalu lama menunggu. Hingga pada akhirnya, sang gadis keluar dari dalam kamar.
Tap, tap, tap.
Langkah itu terdengar di pendengaran Dion. Dion langsung berdiri, ia melihat Mawar malam ini begitu berbeda.
"Cantik." Satu kata itu terucap ketika melihat Mawar.
Mawar langsung tersipu malu mendengarnya. Kini gadis itu tepat berada di hadapan Dion, ia sudah siap. Terserah pria itu akan kemana ia membawanya. Dion ingin kencan pertamanya itu berkesan. Bahkan ia sudah menyiapkan sesuatu untuk gadis itu.
"Ayo, Mas. Nanti keburu malam?" ajak Mawar. Karena jika menunggu Dion yang mengajaknya sampai subuh pun Dion tidak akan mengajaknya, karena pria itu seakan terkesima melihat gadis pujaannya. Ia hanya mematung sembari menatap Mawar tanpa berkedip.
Mawar melingkarkan tangannya di tangan Dion. Pria itu baru menyadari saat Mawar mengajaknya melangkahkan kakinya. Dion pun ikut berjalan, ia menyentuh dadanya yang bergemuruh hebat. Pria itu merasa ini kencan pertama dalam hidupnya.
Sayang seribu sayang, ketika mereka berdua sudah berada di ambang pintu, hujan pun turun dengan lebatnya. Tanpa permisi terlebih dulu pada mereka, sehingga mereka berdua terlihat menghembuskan napasnya dengan berat. Kecewa karena hujan menggagalkan rencana pria itu. Bahkan Dion sendiri sudah membooking tempat dan menyiapkan acara lamaran untuk gadis itu.
Cincin yang sedari tadi sudah menghuni dalam kantong jas yang ia kenakan, terpaksa Dion mengundurnya.
Dion yang kecewa hanya tersenyum tipis. Bahkan Mawar sendiri menyadari akan sikap Dion yang sepertinya memang sangat kecewa.
"Mas marah ya?"
Dion menggelengkan kepalanya, lalu ia berbalik dengan gontai ia melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Pria itu duduk di sofa, padahal ia sudah membayangkan betapa romantisnya nanti mereka berdua.
Tidak ingin membuat Dion terus cemberut, Mawar menghampirinya dan ikut duduk di sampinganya. Gadis itu langsung menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dan melingkarkan tangannya di pinggang pria tersebut.
Dion mengusap lembut pucuk rambut kekasihnya. Mawar pun mendongakkan wajahnya ke arah Dion. Melihat wajah itu dari samping sehingga keduanya saling menatap. Dion yang gemas akan wajah gadis itu, ia langsung mengecup bibir Mawar tanpa aba-aba lebih dulu.
__ADS_1
Sontak membuat Mawar terkejut, Mawar memukul dada bidang kekasihnya. Pukulan ringan yang didapatkan Dion sama sekali tak menggoyahkannya. Pria itu terus mengeksplor rongga mulut Mawar, karena ternyata gadis itu bisa mengimbangi.
Tautan itu terlepas kala keduanya kehabisan napas. Dion mengusap bibir Mawar dengan ibu jarinya. Pria itu berpikir, masa kencannya harus begini? Kalau hanya begini dari mana sisi romantisnya? Bisa-bisa kebablasan kalau begini terus. Hingga pada akhirnya, Dion memiliki ide, ia ingin kencan ala-ala anak muda. Nonton, makan bareng, itu yang Dion inginkan.
Tak lama, pria itu pun merogoh ponselnya. Ia memesan makanan untuk melengkapi kencan gagalnya, meski hujan pria itu tetap ingin melanjutkan kencan pertamanya itu. Mawar hanya bisa terdiam, ia menerima apa pun yang dilakukan Dion.
Kini Dion menyalakan televisi, ia akan memutar film romantis untuk ia tonton bersama Mawar.
"Mas mau putar film apa?" tanya Mawar, gadis itu tahu apa yang dilakukan Dion.
"Film romantis, itung-itung kamu belajar nanti jika sudah menjadi istriku."
Mawar mengerutkan keningnya, film seperti apa yang akan diputar Dion? Otak Mawar jadi traveling, jangan-jangan film dewasa. Pikir Mawar.
"Mas, jangan film yang aneh-aneh ya?" pinta Mawar.
"Film aneh bagaimana maksudmu?" Dion tak mengerti.
"Film aneh yang ada begituannya."
"Itu bukan film romantis, sayang. Nonton begituan nanti sesudah kita menikah, biar kamu tahu caranya memanjakan suami." Dion begitu santai dengan ucapannya, ia ingin istrinya itu peka akan keinginan suaminya.
Film baru akan dimulai, makanan yang dipesan Dion pun sampai. Dion ke luar rumah mengambil makanan pesanannya, lalu kembali ke dalam setelah membayarnya.
Mawar dan Dion pun akhirnya berkencan di rumah dengan mengandalkan layar yang membuatnya sedikit berkesan. Saat Mawar serius dengan tatapannya melihat laya tv, tiba-tiba Dion meraih tangan Mawar dan memasangkan sebuah cincin di jari manisnya dan langsung mengecup tangan kekasihnya itu.
"Jadilah Ibu dari anak-anakku."
__ADS_1
"Mas." Mawar menangis bahagia.
Bersambung.