Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 39


__ADS_3

Jihan terkejut mendengar suara tiba-tiba. Akhirnya ia pun menoleh ke arah Niko.


"Kamar ini kosong, ya?" tanya Jihan kemudian.


Niko sedikit curiga, tahu pria yang bersama Khanza sudah dewasa, ia pun berpikir jangan-jangan wanita ini istri pertama dari suami Khanza?


Tidak ingin terjadi sesuatu pada Khanza, Niko pun akhirnya berbohong untuk melindungi Khanza. Banyak yang suka dengan gadis itu membuat siapa saja ingin melindunginya termasuk Niko.


"Ini ada penghuninya tidak?" tanya Jihan kembali dengan sedikit emosi.


"Kamar itu kosong sudah beberapa hari," jawab Niko.


Jihan mengepalkan kedua tangannya, sepertinya suaminya itu mulai pandai bermain petak umpet. Tidak ada informasi mengenai selingkuhan sauminya, Jihan pun pergi tanpa mengucapkan terimakasih kepada pemuda tersebut.


"Ngeri banget si Mbaknya, pantas saja suaminya berpaling," celetuk Niko.


Sayang, Jihan yang belum jauh ternyata mendengarnya. Jihan semakin emosi saja mendengarnya. Kalau bukan bocah mungkin sudah Jihan bejek-bejek tuh si Niko.


Jihan berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya, wanita itu begitu kesal. Kenapa ia selalu gagal? Akhirnya ia kembali pulang, lebih tepatnya ia akan mengunjungi mertuanya mencoba meminta bantuan agar Rubby tidak menceraikannya.


Jihan sudah berada dalam mobil, tanpa menunggu lama lagi, ia langsung melajukan mobilnya.


Jiiuuusss ...


Mobil langsung melaju dengan cepat, dalam perjalanan ia melihat temannya yang sedang berada di dalam mobil. Kini mobil mereka sama-sama berhenti di rambu-rambu lalu lintas yakni di lampu merah.


Jihan membuka kaca jendela mobilnya dan meneriaki nama temannya itu.


"Feby," panggil Jihan.


Wanita cantik yang berprosi sama-sama model itu pun membuka kaca mobilnya, wanita itu melambaikan tangan ke arah Jihan.


"Mau kemana?" tanya Jihan.


"Ke studio, ada pemotretan," jawab Feby. "Kamu ngapain di sini? Lagi gak sibuk?" tanyanya kemudian.


Jihan menggelengkan kepalanya.


Karena lampu merah sudah berubah menjadi hijau, obrolan mereka pun terhenti. Mobil mereka pun melaju secara bersamaan.


Jihan pun berubah pikiran, niatnya mau ke rumah mertua, eh malah ngikut si Feby ke studio. Emang udah dasarnya cinta sama dunia model, ia malah tidak jadi ke rumah mertuanya. Padahal Rubby ada di sana, mungkin memang bukan jodoh, Jihan selalu salah jalan.


Mobil si Feby lebih dulu sampai diarea parkir, lalu disusul oleh mobil Jihan. Jihan dan Feby turun dari mobil masing-masing secara bersamaan.


Dari pada pusing, lebih baik Jihan mencari hiburan di luar sana. Mana yang katanya cinta sama suami? Gak ada suami, Jihan tak menyia-nyiakan kesempatan.

__ADS_1


"Aku pikir kamu gak mengikutiku," ujar Feby.


"BT di rumah juga, Mas Rubby lagi di luar kota," jelas Jihan. Karena Rubby tidak mengabarinya jadi Jihan tidak tahu kalau Rubby sudah kembali


"Oh ... Ya udah, ayok masuk," ajak Feby.


Di dalam studio sudah ada Zifan sang manager, Jihan dan Feby masih satu manajement. Zifan yang melihat Jihan langsung tersenyum.


"Ji, aku pikir kamu beneran mau fakum dari dunia model," ucap Zifan.


"Aku tetep berhenti, kesini hanya main saja. BT di rumah sendirian," jawab Jihan.


"Sayang loh, Ji. Kariermu lagi bagus-bagusnya," timpal Feby.


"Aku gak mau kehilangan Mas Rubby, Feb."


"Hmm, iya sih, secara suamimu 'kan tajir melintir. Aku juga bakal memilih suami dari pada harus bekerja," kata Feby lagi.


Mendengar perkataan Feby, Jihan jadi menyesal. Kenapa ia tak melakukannya dari dulu, sudah begini Jihan baru takut kehilangan suaminya.


Di studio, Jihan hanya melihat Feby pemotretan. Sejenak ia melupakan permasalahan yang ada.


Beberapa jam kemudian, pemotretan pun selesai. Jihan pamit lebih dulu, sekarang ia akan ke rumah mertuanya mencari informasi tentang Rubby. Siapa tahu Jihan tahu tentang suaminya dari mertuanya, karena Rubby cukup dekat dengan ibunya.


***


"Mas, bangun ..." Khanza mengguncangkan tubuh suaminya.


Rubby bukannya bangun, ia malah menarik tubuh Khanza kembali.


"Apa sih? Mending tidur lagi," ajak Rubby.


"Ini sudah sore, Mas. Aku gak enak sama Mama, Papa."


Akhirnya Rubby pun melepaskan tubuh Khanza, lalu ia pun terbangun. Dilihatnya jam yang menempel di dinding dan benar saja ini sudah sore, sampai mereka melewatkan jam makan siang mereka.


"Ya udah, kamu mandi duluan. Mas mau ke dapur, ngambil minum." Rubby turun dari kasur lalu memakai bajunya kembali.


Sementara Khanza, ia langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Rubby yang sedang mengambil minum di kulkas, ia terkejut karena sang papa mengejutkannya dari belakang.


"Haus ya habis tempur?" ledek papa Rubby

__ADS_1


Sedangkan Rubby, malah cengengesan tidak jelas. Ia malu 'lah sudah di ledek oleh ayahnya sendiri.


"Oh ya, Pa. Di mana Dion?" tanya Rubby mengalihkan topik pembicaraan.


"Nyari hotel, dia gak mau bermalam di sini," timpal Laras yang baru saja muncul dari arah ruang tamu. "Mana istrimu? Jangan ngeram aja di kamar, udah kaya ayam aja," celetuk mama.


"Ish ... Mama ni, nanti Khanza denger, Ma. Nanti menantu Mama sakit hati lagi," ucap Anggoro.


"Iya, Ma. Mama saring sedikit ucapan Mama itu, Mama mau Khanza ninggalin Rubby karena dia takut sama Mama."


Ketika mereka sedang berbincang, Khanza pun datang dengan rambut yang masih basah. Rubby yang tahu kedatangan istrinya, langsung saja menghampirinya.


"Za, Mas laper. Kamu masakin ya? Mas rindu masakanmu," pinta Rubby setelah berada di hadapan istrinya.


Khanza mengangguk lalu menyuruh suaminya mandi terlebih dulu. Setelah Rubby pergi, Khanza menuju dapur, di sana ada kedua mertuanya.


"Emang kamu bisa masak, Za?" tanya mama.


"Sedikit, Ma. Masih belajar," jawab Khanza.


Khanza membuka kulkas dan mengambil beberapa sayuran di sana. Sedangkan papa Rubby tidak mau mengganggu, pria itu pun ke depan rumah duduk santai di taman.


"Tapi, Mas Rubby suka masakanku. Aku seneng membuatkannya," ucap Khanza sembari tersenyum.


Laras pun ikut tersenyum, semoga saja mereka cepat diberi keturunan. Namun ia juga berpikir, bagaimana dengan Jihan? Wanita itu pasti murka kalau Khanza ada di sini bersama Rubby.


Akhirnya, Larah meninggalkan Khanza yang sedang memasak. Ia lebih memilih menyusul suaminya.


"Za, Mama ke depan dulu," pamit Laras.


"Iya, Ma." Khanza pun melanjutkan acara memasaknya.


Beberapa menit kemudian, Bi Nani datang menghampiri Khanza.


"Non sedang apa? Inikan kerjaan Bibi. Non itu tamu, masa tamu masak sendiri," kata bi Nani, ia hanya takut saja pada majikannya, karena bi Nani tidak tahu bahwa Khanza itu istri kedua Rubby.


Disaat bi Nani melarang Khanza. Disaat itu pula Rubby datang.


"Biarkan saja, Bi. Dia memasak untuk suaminya," kata Rubby


Bi Nani pun terkejut dengan penuturan Rubby. Karena tidak mau ikut campur, bi Nani pun melipir pergi.


Rubby menemani Khanza, tepatnya bukan menemani. Pria itu hanya mengganggu.


Di depan rumah.

__ADS_1


Laras yang baru saja tiba di depan rumah, ia langsung melihat mobil masuk ke dalam area parkir.


Bersambung


__ADS_2