
"Ini, Pak. Berkas yang harus Bapak tandatangani," kata Mawar. Gadis itu meletakan berkasnya di atas meja. Tak terasa sudah tiga hari Mawar ikut bekerja membantu Dion di kantor.
Dion melihat wajah Mawar sekilas, lalu mengambil map yang berwarna biru tersebut dari meja. Dengan cepat ia menandatanganinya.
Mawar langsung kembali ke mejanya. Sedangkan Dion, ia pun kembali bekerja. Hingga hari semakin siang, Mawar menyudahi pekerjaannya. Ia akan makan siang bersama teman-teman yang mulai akrab dengannya.
Teman kantor Mawar seorang pria, dan pria itu bernama Agus. Sama-sama pendatang dari Bandung, dan mereka terlihat lebih akrab. Karena Mawar dianggap adik oleh Agus.
"Mawar, ayok ke kantin?" ajak Agus.
Mawar pun beranjak dari tempat duduknya. Karena Mawar baru di sini, jadi Mawar hanya mengandalkan Agus untuk mengenali seisi kantor di sana. Mawar pergi tanpa pamit pada Dion.
Dion yang tidak tahu bahwa Mawar tidak ada di tempatnya, pria itu menghubungi Mawar lewat via telepon. Namun tak kunjung ada jawaban dari Mawar, Dion kembali meletakkan teleponnya. Lalu ia berniat menemui Mawar.
"Sedang apa, Mawar? Sampai aku telepon dia tidak mengangkatnya," gerutu Dion. Dion hendak menyuruh Mawar untuk membawakan makan siang untuknya.
Pas Dion melihat meja Mawar, meja itu terlihat kosong. Dion melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya. "Pantas wanita itu tidak ada, Mawar pasti pergi makan siang," kata Dion sendiri.
Biasanya, Mawar selalu menyiapkan makan siang untuk bosnya. Tapi hari ini Mawar sengaja tak melakukannya, entah kenapa apa yang dilakukan Mawar selalu salah di mata Dion. Sehingga Mawar merasa bahwa ia hanya jadi bahan pelampiasan. Mawar tak merasa melakukan kesalahan sedikit pun, ia bekerja sesuai prosedur. Hanya kali ini ia melakukan kesalahannya, yaitu tak menyiapkan makan siang untuk atasannya.
Sampai jam makan siang pun selesai, Mawar sudah kembali ke mejanya untuk bekerja kembali. Ia melihat seorang OB keluar dari ruangan Dion, sudah dipastikan OB itu habis mengantarkan makan siang untuk bosnya tersebut.
Meski pun begitu, Mawar merasa bersalah pada Dion. Karena jam makan siang masih ada waktu beberapa menit lagi, Mawar menemui Dion. Ia melihay Dion tengah makan di mejanya. Dan kebetulan, pas Mawar sudah berada di dalam sana, Dion tersedak.
Mawar buru-buru menghampiri Dion dan memberikan gelas yang berisikan air minum pada Dion. Bukannya berterimakasih, Dion malah menyingkirkan tangan Mawar.
Mawar tak habis pikir, kenapa Dion semakin membencinya. Apa salahnya? Pikir Mawar.
"Mas, apa aku melakukan kesalahan?" tanya Mawar tiba-tiba. "Kalau aku punya salah, tolong kasih tau di mana letak salahku?" tanya Mawar.
Dion juga sempat berpikir, kenapa sudah beberapa hari ini sering uring-uringan tidak jelas. Apa hanya karena sebuah postingan Jihan yang membuat Dion seperti ini? Bukankah Dion juga tahu kalau Jihan hanya menganggapnya sebagai teman. Jihan selalu memberi jarak pada Dion.
__ADS_1
"Sudahlah, Mawar. Sebaiknya kamu keluar saya tidak mau diganggu!" ujar Dion.
Tanpa penjelasan dari Dion kenapa ia sering marah pada Mawar, Mawar pun keluar dari ruangan Dion. Mawar duduk di kursi kerjanya, ia melihat kalender yang tepajang di atas meja.
Mawar baru sadar kalau hari ini hari terakhir ia magang. Dan itu artinya, ia tidak akan bersama Dion lagi. Walau pun begitu, Mawar tetap menyelesaikan pekerjaannya. Mawar sampai lembur hari ini.
Dion mulai keluar dari ruang kerja, ia melihat Mawar masih bekerja. Hingga Dion punya pemikiran bahwa Mawar tengah mencari perhatian darinya. Pria itu pun berlalu begitu saja, Mawar yang fokus pada pekerjaannya, gadis itu tidak tahu kalau Dion sudah keluar dari ruangannya.
Jam menunjukkan pukul 17.30, Mawar masih bekerja. Karena ia kira Dion juga belum keluar dari ruangannya. Karena Mawar setiap harinya selalu pulang bersama Dion. Itu semua tentu Laras yang menyuruhnya. Laras terus mencoba mendekatkan Dion pada Mawar, tapi rasanya itu sia-sia.
"Mawar, kamu belum pulang?" tanya Agus yang ikut lembur.
"Belum, Mas. Sekalian nunggu Pak Dion," jawab Mawar.
"Loh, bukannya Pak Dion sudah pulang ya dari tadi," ujar Agus kembali.
Mawar pun melongo, kenapa Dion tak mengajaknya pulang? Tahu atasannya sudah pulang, Mawar pun membereskan pekerjaannya. Padahal pekerjaannya sudah selesai dari setengah jam yang lalu.
"Pulang bareng saya saja," kata Agus.
"Kita searah, kok. Ayok berangkat sekarang?" ajak Agus.
Akhirnya, Mawar pulang diantar oleh Agus. Tak terasa, Mawar pun sampai di kediaman Anggoro. Agus membukakan helm yang digunakan Mawar, dan kejadian itu dilihat langsung oleh Dion.
"Cih." Dion berdecih melihat adegan Agus dengan Mawar.
"Terimakasih, Mas. Atas tumpangannya," ucap Mawar.
"Sama-sama, Mawar." Tanpa berkata apa pun lagi, Agus langsung pulang. Pria itu tulus mengantarkan Mawar.
Mawar pun masuk ke pekalangan rumah, ia melihat Dion tengah berdiri dan menatap ke arahnya. Bahkan Mawar melewati tubuh Dion tanpa menyapanya, gadis itu benar-benar takut salah ucap dan menimbulkan kemarahan Dion kembali.
__ADS_1
Dan akhirnya, Mawar berhasil melewati tubuh Dion. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan perasaan mereka masing-masing. Apa mungkin Dion mulai menyuaki Mawar tanpa ia sadari. Bahkan ketika ia melihat Mawar barusan dadanya terasa bergemuruh. Amarahnya meletup-letup, ingin marah, tapi marah kenapa? Bahkan mereka tak ada hubungan apa-apa.
Mawar langsung masuk ke dalam kamar tanpa bertemu dengan Laras. Laras juga tidak tahu kalau Dion pulang lebih dulu dan meninggalkan Mawar. Setibanya di kamar, Mawar langsung membersihkan diri. Setelah itu ia memakai baju dan langsung mengemas baju-bajunya. Karena masa magangnya sudah berakhir, Mawar kembali ke Bandung esok pagi.
Hingga sebuah ketukan pintu terdengar di pendengar Mawar. Mawar pun membuka pintu, dilihatnya ada Laras di sana.
"Kamu sedang apa?" tanya Laras. Laras melongokkan wajahnya ke dalam kamar, wanita paruh baya itu melihat sebuah koper yang tergelatak di atas kasur. Karena penasaran, Laras pun masuk tanpa permisi.
"Kamu mau ke mana, Mawar. Kenapa baju-baju di masukkan ke dalam koper?"
"Maaf, Tante. Malam ini malam terakhir Mawar di sini. Aku lupa tidak melihat tanggal, ternyata hari ini hari terakhir aku magang," jawab Mawar.
"Dion tahu kalau hari ini hari terakhirmu?" tanya Laras.
Mawar menggelengkan kepalanya. Ia juga tak berniat pamit pada pria itu, Mawar benar-benar takut.
"Sebaiknya kamu bilang pada Dion, biar dia tahu." Laras tidak tahu kalau selama ini sikap Dion tidak baik pada Mawar, jadi ia hanya mengusulkan bahwa Mawar harus bilang pada Dion untuk masalah ini. Setidaknya, Mawar masih di sini sampai Rubby dan Khanza kembali.
"Mawar takut, Tante," ucap Mawar.
"Takut sama siapa? Siapa yang kamu takuti?"
Akhirnya, Mawar menceritakan semua pada Laras. Laras nampak terkejut mendengarnya. Akhirnya, Laras pun mendukung Mawar yang tidak akan pamit pada Dion. Biar pria itu tahu rasa bagaimana rasanya kehilangan.
Laras yakin kalau Dion suka pada Mawar, hanya saja pria itu cukup gengsi untuk mengakuinya.
"Aku akan berangkat pagi-pagi," kata Mawar
"Ya sudah kalau begitu, sekarang kita makan malam dulu, ayok?" ajak Laras.
Bersambung.
__ADS_1
Silahkan mampir di novel Author yang lain.