Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 54


__ADS_3

Rubby langsung memutar arah. Tapi sayang, ia kehilangan jejak. Kemana harus ia mencari istrinya, Rubby memukul strir mobilnya sendiri.


"Aarrggghhh." Rubby merasa tidak becus menjaga istrinya, siapa lelaki yang membawa Khanza? Pikir Rubby. Lama ia berada ditepi jalan, hingga keberadaan Rubby diketahui oleh anak buah mami Rosa.


Rosa pun akhirnya turun dari mobil yang ia tumpangi. Bonar, anak buah mami Rosa menggedor pintu mobil Rubby, hingga Rubby terkejut. Ia pun langsung turun dari mobilnya, dan ...


Bugh, bugh, bugh.


Bonar langsung memukul Rubby hingga Rubby terjerembab di atas aspal. Bonar bukan tandingan Rubby, Rubby terus dipukuli hingga kucuran darah keluar dari hidung dan mulut Rubby. Pria itu terkapar karena tak sempat melawan.


Rubby terjatuh tubuhnya sudah tak berdaya tergeletak di aspal. Mami Rosa langsung menghampiri Rubby, bahkan ia menyentuh tubuh Rubby dengan kakinya.


"Di mana Khanza?" tanya Rosa "Kamu jangan macam-macam denganku!" Mata Rosa menyalak marah karena ia kira, Rubby 'lah yang sudah berhasil membawa kabur istrinya.


Rubby tak bisa menjawab, karena ia tak bisa menggerakan tubuhnya sama sekali. Karena Rubby tak berguna, mami Rosa langsung pergi bersama anak buahnya dan meninggalkan Rubby yang sudah tak sadarkan diri.


***


Mobil yang ditumpangi Khanza mendarat dengan sempurna di kediaman Zira, istri Hazel. Ya, yang menyelamatkan Khanza adalah Hazel, meski Hazel belum yakin yang ditolongnya adalah anaknya, bahkan ia belum tahu siapa nama gadis itu tapi Hazel langsung membawanya ke hadapan Zira.


Hazel rindu dengan istrinya, karena belasan tahun ia berpisah hanya karena anak mereka hilang. Dan Zira menuntut suaminya sendiri, sebelum Hazel menemukan anaknya, Zira tak mengizinkan suaminya itu kembali padanya.


Dan sekarang, Hazel kembali. Ia membawa seseorang sebagai alasannya untuk kembali. Kedatangan Hazel disambut oleh pelayan di sana. Ia pun dipersilahkan masuk karena Hazel sudah menghubungi Zira lebih dulu.


Hazel membopong tubuh Khanza, karena Khanza masih belum sadarkan diri. Disaat Hazel sudah ada di dalam, Zira datang. Wanita itu melihat ke arah suaminya dari arah tangga. Zira juga melihat suaminya tengah mempobong seseorang, seorang wanita yang dipastikan seumuran dengan anak mereka yang hilang.


"Apa dia anak kita, Pa?" tanya Zira yang kini sudah berada di hadapan Hazel. Zira menyentuh pipi Khanza, bahkan Zira menitikan air matanya. Wanita itu masih hapal bentuk hidung anaknya.


"Pa, apa dia Khanza?" tanya Zira lagi.


"Aku belum tahu pasti, tapi aku menemukannya bersama Rosa," jawab Hazel.


"Tapi dia kenapa?" tanya Zira lagi.


"Dia pingsan, karena tadi sempat bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya."


"Bawa dia ke kamar, Pa," ajak Zira.


Hazel membawa Khanza ke dalam kamar, lalu menyuruh Zira untuk mengambilkan minyak angin agar wanita itu tersadar dari pingsannya. Zira sudah kembali dan membawa minyak angin. Hazel mencoba menyadarkan Khanza, tapi Khanza tak kunjung sadar.


"Pa, hubungi Dokter," titah Zira.

__ADS_1


Hazel pun langsung menghubungi dokter yang biasa menangani keluarganya. Setengah jam kemudian dokter datang dan langsung memeriksa Khanza.


"Bagaimana, Dok?" tanya Zira, wanita itu sangat khawatir akan keadaan gadis kecil itu.


"Kondisinya baik-baik saja, dia hanya shock. Sebentar lagi juga sadar, tapi ..." Dokter mneggantung ucapannya.


"Tapi apa, Dok?" tanya Zira lagi.


"Sepertinya wanita itu sedang hamil, itu sebabnya dia pingsan karena kandungannya sedikit lemah," jelas dokter.


"Hamil." Zira mengulangi ucapan dokter. Jadi Rosa sudah menjadikan wanita ini pela*ur? Pikir Zira.


"Ini obat yang harus kalian tebus, dia harus cukup istirahat. Wanita hamil jangan banyak pikiran, pastikan dia harus selalu happy," saran dokter. Karena urusannya sudah selesai, dokter pun langsung pamit.


Setelah kepergian dokter, Zira menghampiri Khanza. Melihat wajah itu lekat-lekat, wajahnya mengingatkannya pada anak kecil yang hilang tiga belas tahun silam. Ia yakin kalau gadis ini adalah anaknya.


"Mas, aku yakin dia Khanza, Mas," ucap Zira dan tatapannya masih pada wajah Khanza.


Tak lama kemudian, Khanza pun sadar, ia mengerejap-ngerjapkan kedua matanya. Bahkan ia langsung beranjak dari tempatnya.


Zira langsung membantu Khanza duduk, setelah Khanza duduk, ia melihat seorang wanita yang umurnya sudah matang namun masih terlihat cantik.


"Kamu ada di rumah kami," jawab Zira. Karena sudah tidak sabar tentang siapa wanita ini yang sebenarnya, Zira langsung bertanya mengenai namanya.


"Namamu siapa, nak?" tanya Zira.


"Namaku Khanza," jawab Khanza sendiri.


Mendengar nama Khanza, Zira tidak ragu lagi. Wanita ini adalah anaknya yang hilang. Zira langsung memeluk tubuh Khanza sampai Khanza sendiri merasa bingung.


Zira menangis, betapa ia merindukan anaknya.


"Kamu Khanza anakku," kata Zira.


Khanza terdiam, ia tak bisa berkata apa pun. Bagaimana ceritanya ia adalah anak dari wanita yang kini sedang memeluknya.


Sementara Hazel, pria itu ikut menangis. Anak yang ia cari selama ini ada di hadapannya. Lalu, Hazel ikut memeluk kedua wanita itu.


"Kamu anak Papa, Khanza." Kata Hazel sembari memeluk mereka berdua.


Tak lama pelukan mereka terlepas, Zira penasaran akan cerita bagaimana suaminya menemukan Khanza.

__ADS_1


"Pa, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Khanza?" Zira begitu penasaran.


"Setiap hari Papa selalu mengawasi Rosa. Mama melarang Papa kembali sebelum membawa Khanza. Dan tadi pagi, Papa melihat Rosa membawa seorang gadis. Papa terus mengikuti mereka, tapi terpisah karena lampu mereh," jelas Hazel.


"Untung Papa pasang GPS pada mobil Rosa, sampai Papa tahu keberadaannya. Dari situ Papa tahu, di mana Khanza disembunyikan," jelas Hazel lagi.


Sedangkan Khanza yang tidak mengerti dan belum paham apa yang sebenarnya terjadi anatara Zira, Hazel dan Rosa, ia hanya menjadi pendengar setia.


"Za, Mama seneng sudah bertemu denganmu." Zira kembali memeluk anaknya. Tak lama, Zira melepasakan pelukannya.


Zira menatap Khanza dari wajah sampai sekarang ia melihat perut Khanza, Khanza yang menyadari itu pun langsung menyentuh perutnya sendiri.


"Apa benar kamu hamil?" tanya Zira.


Perlahan Khanza mengangguk dalam keadaan menunduk menatapa perutanya, ia jadi teringat pada suaminya. Sudah dua hari ia tidak bertemu dengam suaminya itu.


"Siapa ayah dari anak yang kamu kandung, Khanza? Apa Rosa berperilaku buruk padamu sampai kamu hamil?" tanya Hazel.


Khanza tidak mengerti dari pertanyaan Hazel mengenai Rosa yang berperilaku buruk padanya. Bertemu dengan Rosa saja baru kemarin.


"Aku sudah menikah, untuk masalah mama Rosa, aku baru bertemu denganya kemarin," jawab Khanza.


"Menikah? Kamu masih kecil, Khanza! Bagaimana ceritanya sampai kamu menikah?" tanya Zira.


"Ceritanya panjang," jawab Khanza. "Apa kalian benar orang tuaku?" tanya Khanza kemudian.


"Tentu, kamu anak kami yang hilang selama Tiga belas tahun. Mama senang kita bisa berkumpul lagi," kata Zira.


"Apa kamu boleh minta tolong?" kata Khanza.


"Apa? Apa yang kamu inginkan?" tanya Hazel.


"Aku ingin bertemu dengan suamiku."


"Siapa suamimu?" tanya Zira.


"Mas Rubby," jawab Khanza.


Mendengar nama Rubby, Hazel membulatkan matanya, semoga saja suami Khanza bukan Rubby Anggoro, karena nama Rubby banyak. Pikir Hazel.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2